Bajak Laut Hitam

Bajak Laut Hitam
CH. 135 – Penutup(End)


__ADS_3

Yeah, teman. Itulah cerita. Itulah tulisan yang membentuk kalimat hingga paragraf. Itulah akhirnya. Melambaikan tangan.


Akhir kisah atau akhirnya beginilah sudah. Selama ini telah banyak melewati kejadian dengan berbagai macam ujaran, permintaan maaf pun telah diwakilkan oleh seorang walikota sebelumnya.


Di pinggir pantai desir angin melambaikan dedaunan. Kapal itu bertengger anggun di sana. Beberapa saat berlalu hingga mereka semua tiba di pinggir pantai.


Semuanya telah kembali rukun dan damai dengan wajah bahagia. Petualangan, pencarian harta karun dan semuanya telah berakhir.


Akma Jaya berhasil keluar dari dimensi waktu, usai pesta berakhir saat itu walikota berbaik hati mengabulkan apa pun permintaan yang diinginkan Akma Jaya. Dengan begitu, Akma Jaya meminta agar dia bisa kembali ke alam dunia. Maka dengan sedikit ucapan, walikota mangut-mangut, membuka gerbang.


Cahaya terang muncul, tepat di atas sana. Lubang raksasa. Akma Jaya tersedot hingga menembus langit-langit dimensi waktu. Berakhir. Dia kembali ke alam dunia.


Menatap kesemuaan anak buah yang tengah berada di hutan pegunungan, menghadapi beruang. Yeah, itulah kejadian yang terjadi. Cerita ini telah berakhir di sini mengenai keluh dan penatnya selama ini, telah usai semuanya.


Berakhirlah sudah. Akma Jaya tersenyum dengan gaya memegang topi. Tabra dan Aisha berada di dekatnya. Lautan dan deru angin bercampur ombak, juga cahaya petang di permukaan langit. Terang indah berkilauan.


“Haaah ... syukurlah. Kita bisa menatap kapal lagi, kalian tahu apa yang kusukai hanyalah lautan.” Dasasa menatap seraya mengembuskan napas tenang.


“Iya, sama aku juga!” Dausa balas menatap. Berseru senang. Walaupun semua itu terjadi hanya beberapa hari menelusuri hutan, menanjak pegunungan.


Saat itu perasaan mengatakan sudah berminggu-minggu lamanya. Akma Jaya juga bersyukur seperti mereka. Satu dua Jalbia menghitung dengan jemari.


Mereka telah kembali bersama sebagai kelompok Bajak Laut Hitam. Lega dan terasa semakin ke sana semakin terasa.


“Yeah, Kapten. Kita akan kembali mengarungi lautan. Kita akan kembali menelusuri wilayah ke wilayah.” Boba dengan sikapnya menepuk pundak sang Kapten yang berada di sana menatap lurus ke arah lautan berombak tenang.


Sekarang petang. Suasana petang di langit yang memancarkan cahaya damai. Warna kehidupan yang mulai redup.


Akma Jaya mengingat banyak hal selama berada di dimensi waktu. Tepat cahaya itu di dermaga Sakala, seorang ayah bergumam syair.


Itu kenangan yang tak mungkin bisa ditemui lagi. Menanti dan menyaksikannya dalam keelokkan cahaya petang. Bias lautan dan cakrawala. Rindu, hari itu. Embusan napas yang terasa berbeda.

__ADS_1


Seakan buliran air mata panas menjular ke seluruh tubuh hendak mengalir deras membasahi pipi. Rindu, bukan semata lelah atau karena apa? Itulah perasaan.


Beberapa hal yang hilang saat ditatap, juga mengenai beberapa hal yang muncul bagai tak diundang. Kenangan itu rasanya menyebalkan.


Seorang nelayan di sekian huruf ke huruf. Ejaan lemah terbata-bata melantunkan syair teruntuk keseratus kalinya bait yang dia langitkan. Syukurlah, tepat di hari itu suasana petang datang menyapa. Diisi olehnya dengan kegiatan positif sambil menjala ikan, penuh perahunya hingga kembali ke sanak keluarga. Meramaikan hari-hari sengsara.


Rintangan hidup kadang berbeda, teman. Bajak Laut Hitam kembali berlayar. Lautan luas, bertemu bajak laut lainnya, menghadapi pertarungan demi pertarungan yang terus berlanjut dari waktu ke waktu.


Beda suasana. Siang hari. Di sekian ratusan hari terlewati dari tempat ke tempat. Partikel awan putih menggeremet anggun, menutupi pelayaran mereka dengan teduh.


Angin berembus pelan meniup layar. Kapal bajak laut yang mempunyai ciri khas berlambang wortel dengan bendera hijau itu bertolak dari dermaga Antolagi menuju ke salah satu rute pelayaran yang hendak mereka tuju.


Daerah perairan utara, desa Kaima. Di tempat sanalah, es beku menyelimuti, udara dingin seakan menusuk kulit.


Di dalam kapal, seorang kapten memakai pakaian berlapis tebal, juga para anak buah. Tak lupa di sebelah sang kapten dua orang sahabatnya. Mereka berlayar dengan mempunyai satu alasan ingin mengetahui detail wilayah di bagian sana. Tidak datang untuk merampok, tetapi nama mereka terpampang di setiap sudut ke sudut.


...WANTED! BAJAK LAUT HITAM...


...Wahai sekalian penduduk. Kami para bajak laut sepakat untuk membunuh kelompok beraliran hitam, mereka berlayar mengarungi samudra, singgah ke pulau-pulau dengan rute menyimpang dari para leluhur. Dendam dan benci di masa lalu menjadikan mereka lupa arti nama dari Bajak Laut yang memang membajak lautan....


...____...


...Kapten Atlana....


Begitulah selembaran kertas pengumuman tersebut. Pengumuman yang tersebar dari sudut ke sudut, sudah lama waktu berlalu. Hampir setahun, dua tahun, tiga tahun.


Mereka menjadi buronan. Berlayar mencari perlindungan dari satu tempat ke tempat lainnya. Dunia yang terpampang seperti bola berputar. Di lautan, poros bumi terlihat berbentuk lebar membulat. Lurus di dalamnya. tepat di atas layar, dari sana terlihat hamparan lautan membentuk lengkungan.


Ketika berlayar. Wajah-wajah yang bersimbah air laut kala badai datang menerpa untuk kesekian kalinya guncangan, dilihat dari bawah dan begitulah dari waktu ke waktu yang memelesat dengan banyaknya dihiasi kembang-kembang kenangan. Nama mereka tersebar, kelompok yang menyimpang.


Lautan stabil dan lurus. Pemandangan indah yang terbias menawan seperti ternampak lengkungan samar dari kejauhan. Kapal mereka terus berlayar menuju perairan Kaima.

__ADS_1


“Kapten, pelayaran kali ini, sepertinya kita hanya akan membekukan diri di sana, kabar yang saya dengar mengenai cuaca di sana katanya begitu dingin, mungkin bisa membuat kita patah tulang.” Tabra tertawa.


Dia mencoba bergurau seperti biasanya. Sayang, kali ini tidak lucu. Beberapa ikut tertawa karena sepertinya tertular menatap wajah Tabra yang melebarkan mulutnya, sejatinya memang tidak lucu.


Akma Jaya sekilas tersenyum, menatap ke sekalian mereka. Sesosok wanita berambut pirang berada di dekatnya. “Aisha, jangan lupa persiapkan air hangat. Ketika kita memasuki wilayah di sana, udara terasa amat dingin. Alangkah baiknya kita meminum yang hangat. Minuman yang kusukai sejak dulu.”


“Baik, Kapten.” Aisha menjawab.


Riak ombak menerpa kapal. “Tidak jauh lagi kita akan memasuki wilayah yang diselimuti seluruhnya dengan pemandangan es. Desa Kaima berada tepat di tengah dataran, cukup jauh usai berlayar kita akan berjalan. Semoga kita tidak kesulitan.” Akma Jaya menatap ke arah haluan.


Dan di depan sana terlihat kosong melompong tanpa ada kapal yang melintas ataupun terapung anggun menunggu sasaran.


“Benar, Kapten. Semoga.” Tabra menepuk pundak sang kapten, menyeringai.


Angin bertiup. Kapal terus berlayar bagai membelah lautan. Dengan tiupan angin sejuk. Pelayaran menjadi tentram, hawa-hawa lautan damai yang mampu membuat kantuk bertumpuk dan menguap mulut.


“Ah, entah mengapa aku ingin tidur.” Salah seorang anak buah mengusap mata. Sedikit menguap.


Sejauh ini pelayaran menuju desa Kaima lancar sentosa. Pemandangan lautan membentang kebiruan, cahaya matahari tertutup awan.


“Aku juga.” Salah seorang lainnya ikut mengantuk. Mereka sedang memandang lautan di haluan kapal.


“Kalian beristirahatlah.” Tabra menyahut.


Mereka berdua mengangguk setuju tanpa banyak ucap. Menyisakan sisanya dengan tatapan mata menatap arah depan, lautan yang terpampang menawan. Kepakkan sayap burung pelikan di langit terbang mengikuti kapal mereka, terlihat dihiasi awan putih yang menggeremet, menutupi sinar matahari.


Yeah, kawan—kita akan selalu tahu akhir dari semua ini, bukan? Akhir yang tidak istimewa, tidak seperti yang dikira. Akhir yang ternyata hanyalah coretan sederhana.


Atas dukungan rekan-rekan semuanya selama ini dan yeah kelanjutannya entah mengapa semakin mengarah ke suatu kejadian yang tidak mampu dijelaskan oleh Author sendiri. Semakin aneh, sepertinya inilah akhirnya.


Petualangan Bajak Laut Hitam ini akan terus berlanjut dalam lembaran buku yang terlipat. Dalam buku sederhana tidak tebal.

__ADS_1


Inilah sepanggalan kata penutup.


Terima kasih :")


__ADS_2