
Ashraq berdiam tidak ingin menegah lagi, percuma. Sekali pun ditegah mereka akan terus berdebat, bahkan lebih ngeri menabok tanpa kenal peduli.
Jika didapatkan perdebatan. Sekarang Ashraq punya caranya sendiri, baru beberapa saat lalu dia mendapatkannya. Diamkan saja. Itulah pikirannya.
Biarkanlah mereka berdebat sehabis tenaga dan suara, juga pikiran mereka yang mengeluarkan bentuk kalimat kekesalan diri, juga kesemuaan pendapat yang justeru memusingkan kepala mereka sendiri.
Tabra juga tampak membiarkan. Rasanya kalau dilihat lebih tentram lagi, seru juga justeru dia ingin sekali ikut menabok satu per satu dari wajah mereka yang amat menjengkelkan.
Sudah berapa kali ditegah, tiga kali atau empat? Hanya Tabra yang tahu, satu kesimpulannya adalah kesemuaan tegahan yang Tabra lontarkan tidak didengarkan sama sekali oleh mereka.
Eh, bukan tidak didengarkan, melainkan mereka dengar dengan jelas Tabra menegahnya. Mereka mendengarnya.
Sederhana penjelasan. Inilah ibarat kata pepatah ringkas buat orang yang mendengar, tetapi tidak ada sedikit pun perubahan di dalam diri mereka.
Ibarat kata pepatah zaman Kalboza masih bocah, ucapan yang menerobos masuk ke telinga kanan, eh malah keluar telinga kiri.
Begitulah, sesederhana kalimat diucapkan, ditegah betul-betul mantap, sayang sang pendengar kalimat tidak menerimanya, tidak berbenah diri untuk memperbaiki kesalahan.
Sebatas mendengarkan seakan tidak sudi mendapatkan tegahan, sebatas mangut-mangut setuju berpura-pura berhenti dan mengerti maksud tegahannya, sebatas apa lagi? Banyak.
Suasana masih diliputi rasa ketegangan, rasa yang tak nyaman diutarakan. Keluhan napas dari seseorang anak buah yang bernama Hambala terdengar.
Hambala yang sebelumnya ribut dengan Boba, saling hantam dan berakhir semuanya karena mendengar ucapan Aisha yang terdengar keras menyebut mereka munafik.
Sosok Hambala mengeluh lelah, mengatakan tujuan awal mereka berlayar ke pulau yang sekarang mereka pijak hanyalah untuk mencari harta karun. Dia tidak pernah membayangkan bakal sesulit yang sekarang.
Harta karun itu ada di tengah gunung. Pohon persik di sana pun menggugurkan daunnya. Sekilas pikiran muncul, andaikata sang kapten tidak menghilang tentulah mereka tidak akan susah mencarinya.
__ADS_1
Harta karun itu pun akan didapatkan dengan mudah. Kenyataan yang sekarang mereka dapatkan bukan begitu, surat dari Kapten Zaiya yang semula dibaca Aswa Daula terdiam rapi di dalam saku Akma Jaya.
Akma Jaya sosok kapten yang kini telah tiada di sisi mereka, menghilang entah di mana sekarang dia berada. Jatuh ke dalam jurang? Juga bukan, semua itu hanya sekadar prasangka yang belum tentu kebenarannya.
Tabra punya prasangka yang lebih ganas. Dugaan yang mengatakan bahwa Akma Jaya telah masuk ke dalam portal dimensi waktu. Kemungkinan sosok kapten itu sekarang tengah berada di alam lain. Itulah prasangka Tabra yang mencuat tajam di dalam benak pikirannya sendiri bagai jarum yang menusuk pakaian, membentuk rajutan dalam sangkaan.
Perasaan putus asa kini menghampiri sanubari masing-masing, rasa yang muncul seakan menganggu pikiran. Tidak tentu rasanya, bagaimana mungkin semua ini terjadi? Para anak buah telah lelah berpikir, helaan napas keluar tidak keruan.
Di penghujung duka cita terlerai napas yang berembus cemas. Aisha berkepalan tangan memberikan doa-doa terbaik yang dia bisa teruntuk sang kapten.
“Apakah kita akan tetap diam berada di sini, berdiam diri tanpa tindakan sedikit pun?” Boba memulai basa-basi. Saat dipikir pun kalimat yang diucapkannya memang sudah basi. Kalimat sederhana yang sering didengar kala jalan sudah terasa buntu.
“Boba, kau sering membuat onar. Di antara kita semua hanya kaulah yang tidak tahu caranya bersikap sopan santun.” Hambala memulainya lagi. Sebenarnya mereka semua sama saja.
“Eh. Hambala, kau ingin terkena pukulanku lagi? Daripada kita saling menuduh lebih baik aku pergi, berpisah dari kalian semua.”
“Glosia, kau bergurau di tengah hari seperti ini. Lihatlah matahari, cuaca panas begini lebih baik aku berada di pantai, menikmati udara lautan.” Boba tetap bersikukuh ingin beranjak pergi.
Glosia diam tak mampu menegahnya lagi. Kali ini giliran Jalbia maju menghadang di hadapan. Dia merenggangkan kedua tangan bak burung melebarkan sayap.
Boba terhenti. Wajahnya lantas menampakkan cahaya kemarahan. “Jalbia, minggir kau dari hadapanku!” Dia menatap tajam ke arah orang yang sedang menghadangnya.
Jalbia menelan ludah, mendengar ucapan sahabatnya yang sungguh tidak pernah disangka olehnya.
Ke manakah persahabatan yang selama ini mereka habiskan dalam mengarungi lautan bersama, bersuka ria dari hari ke hari melewati bulan berganti tahun, semua itu seakan telah lenyap dari pandangan hati nurani.
Nada amarah yang baru saja didengarnya seakan telah meruntuhkan istana persabatan di antara mereka.
__ADS_1
“Boba. Cobalah kau mengerti, kita jangan saling berpisah. Glosia sudah benar menegahmu, kita harus tetap bersama.” Jalbia memberikan nada serius, menatap dengan pancaran manik mata peduli.
“Kau tidak mengerti sama sekali apa yang ada di mataku. Jalbia, seharusnya kau mengerti dan aku tidak perlu menjelaskan kepadamu. Kau cukup menatap mataku.” Boba seakan yakin sekali dengan perkataannya. Jalbia membungkam mulut, tidak memahami ucapan Boba.
Apa yang bisa diterjemahkan dari sekadar tatapan? Sepertinya Jalbia tidak tahu jawabannya. Dia tidak mampu menerjemahkan tatapan, diam lebih baik dari bicara. Hatinya terbuka lapang, memikirkan nasib sahabatnya yang dia sangka sedang dikuasai amarah.
Benarlah. Boba sedang marah. “Jalbia, kenapa kau hanya diam tak menjawab ucapanku!” Lagi-lagi nada ucapannya terdengar sangar.
“Itu, aku lupa.” Jalbia tidak mampu menghadapi orang yang sedang marah di depannya. Dia mengenyir. Sedikit mengalihkan pandangan, menjauh pelan.
Boba tak mengerti, menggerakkan alis. Bibirnya bergerak tidak keruan. Ada-ada saja si Jalbia. Dia lupa apa yang hendak dikatakannya sendiri, sedikit tidak masuk akal di dalam pikiran Boba.
Hambala menatap demikian tertawa di dalam batin. Sementara, Ashraq dan sebagiannya tampak tidak memperhatikan malah sibuk dengan dirinya masing-masing. Hanya Jalbia, Hambala dan Glosia yang sedang berhadapan dengan Boba.
Hambala maju. “Boba. Kau tahu kapten telah menghilang entah ke mana. Jika kau pergi berpisah dengan kami, apa kau yakin akan baik-baik saja di sana? Tapi, kalau kau yakin, pergilah.” Dengan bersekedap, raut wajah mantap sepertinya sukses membuat Boba seakan mengurungkan niatnya.
Sekarang, Boba masih merasa ragu sendiri. Hendak pergi atau masih tetap berada di tengah mereka. Tidak diketahui alasan pastinya yang tentu menguras isi pikirannya.
Dengan helaan napas pasti. Boba meredamkan amarah, menatap ke tiga orang yang tadi menegah dirinya. “Hari ini aku tahu, kalian bertiga lebih dari saudara kandungku. Terima kasih.” Boba seakan mendapatkan suatu hal di dalam hidupnya yang terasa amat berarti.
Hambala malah tidak mengerti. Sebelumnya ucapan Hambala sekadar ingin menghinakan, siapa sangka persepsi Boba menangkap pemahaman lain yang menunjukkan rasa persaudaraan di antara mereka berempat.
Glosia dan Jalbia tampak tersenyum mendengarnya. Hanya Hambala yang garuk kepala. Entahlah, mungkin saja dia bingung dan lelah memahami.
Ashraq mencium bau-bau perdebatan lagi. Dia menyangka sesuatu yang lain di dalam benaknya. Lelaki bertubuh besar itu cukup tahu dan mengerti bagaimana sikap Boba yang selama ini bisa-bisa malah memancing keributan lagi.
Walaupun begitu dia tidak lagi risau dan memikirkan apa pun. Dia memilih lebih baik tidak ingin ikut campur, biarkanlah mereka berdebat mengenai masalah yang sama sekali tidak penting. Itulah sekiranya yang dia rasakan. Mungkin dia lelah, tidak berminat terus menegah yang malah menimbulkan perdebatan berkepanjangan.
__ADS_1