Bajak Laut Hitam

Bajak Laut Hitam
CH. 87 – Bab Masa Lalu : Kedatangan Kapten Broboros


__ADS_3

"Jadi, dia berani untuk menuruni menara. Bagus. Ini kesempatan yang bagus." Salah seorang tertawa senang dan mengenai sesuatu di dalam benak pikirannya, hanya dia yang mengetahuinya.


"Sediakan senjata tajam, kita akan menusuknya!" Dia memberi perintah kepada semua kerumunan yang berada di situ, anehnya mereka semua itu mengangguk setuju. Tak ada celah membantah sama sekali.


"Apa-apaan mereka ini?" Aisha bergumam geram, tidak terima dengan keputusan mereka, suara lirih terucap dan mempertanyakan perbuatan mereka yang dipandang olehnya aneh.


Sementara Tabra masih dilema, dia bermaksud hendak mengikuti turun. Namun, dia mengingat perintah Akma Jaya yang menyuruhnya untuk tetap di puncak menara.


Dia seperti menghormati keputusan yang baru saja diambil oleh sang kapten. Memilih untuk mengurungkan niatnya, sejenak melamun seraya menghela napas.


Akma Jaya masih menuruni menara, kerumunan tersenyum bahagia, ada banyak rencana yang terselubung, tersembunyi—tidak diketahui.


Sementara, di tempat lain, di area dermaga, sebuah kapal besar singgah, sebagian anak buah Akma Jaya yang berada di situ menyaksikan dengan jelas, sorotan mata mereka tak berkedip memandang sesosok bajak laut berwajah seperti seekor gurita, wajah yang terbilang menyeramkan.


Dia keluar kapal bersama anak buahnya, jarak yang berdekatan dengan kapal Akma Jaya, anak buah yang berjaga di dalam kapal dan luar memandang takut.


Kapten itu mendengus. "Apa yang kalian lihat?" Ucapan sangar, sekilas permukaan bibirnya terbuka lebar, lantang. Wibawa yang melekat kuat, membuat salah seorang anak buah Akma Jaya yang tak kuat mental, dia jatuh pingsan.


Dia tergolong seorang kapten biasa, tetapi dia adalah sesosok yang memang tampak menyeramkan, dia bernama Broboros.


Kapten Broboros telah dikutuk oleh salah seorang penyihir, akibat kesalahannya mencabut pedang petir tepat di ujung samudera Fotobia.


Kapten Broboros dikutuk oleh salah seorang penyihir, wajahnya berubah menjadi seekor gurita, tetapi dia manusia pada umumnya. Bahkan, kepala gurita itu bernapas layaknya manusia.


Kapten Broboros lekas pergi menuju ke tempat sahabatnya, tak hirau akan anak buah Akma Jaya yang seperti orang ketakutan. Dia berjalan seraya bergumam untuk lekas bertemu dengan sahabatnya itu.


Hampir beberapa saat kemudian, tibalah dia di tempat kerumunan, sesak jalan penuh orang-orang.


"Hei, kalian minggirlah!"

__ADS_1


"Apa kalian tidak melihat, aku adalah Kapten Broboros!" Dia berucap lantang, siapa yang tidak kenal, dia kapten terpandang karena memiliki pedang petir, kekuatan mistik di pedang itu tak pernah dijangkau oleh siapa pun, tak bisa dipegang kecuali pemiliknya.


Kerumunan sontak kaget karena baru mengetahui kedatangan Kapten Broboros


Secara cepat mereka bersegera beratur barisan, kini terbuka jalanan dengan lebar.


Semua kerumunan menunduk memberi hormat, sorotan mata Kapten Broboros tertuju lurus, tak hirau dengan mereka yang berlagak menghormatinya.


Akan tetapi, tak berlangsung lama, Kapten Broboros melirik sekilas ke area kolam—bawah menara, di mana kemerahan warna darah memenuhi permukaan airnya.


Kapten Broboros terperanjat, dia berjalan pelan menghampiri, sedangkan kerumunan mencoba untuk menghalanginya, tetapi Kapten Broboros menunjukkan wibawa sangar dan lantang hingga membuat kerumunan tak kuasa bergerak menghalangi.


Kapten Broboros tetap bersikeras ingin melihatnya. Saat tiba jaraknya, dekat dengan kolam, betapa raut wajahnya tercengang melihat sahabatnya—Kapten Riyuta—terkapar mati, terbunuh oleh tusukan pedang, terlihat jelas di sekitar perutnya menunjukkan tanda bekas tusukan.


Kapten Broboros menggeram, menggenggam tangan, meneriakkan suara lantang. "Siapaaaa diantara kalian yang telah berani melakukan pembunuhan terhadap Kapten Riyutaaa!" Dia berucap ngamuk seketika. Oh, ya ampun, seram, sangat seram. Nada bergetar menggeretak disertai wajah memerah padam tak sedikit pun ada cahaya di sana, raut wajahnya berkerut.


Semua kerumunan mendengarnya, Aisha menelan ludah, Ashraq berjalan menghampiri ke arah tersebut, dia berani dengan gagah, tetapi dia bermaksud untuk melihat lebih detail siapa yang berteriak.


Salah seorang dari kerumunan, dia menunjuk ke arah puncak menara, di mana Akma Jaya masih berusaha menuruninya.


Kapten Broboros mendongakkan kepala.


"Sialan!" Kapten Broboros menggertakkan gigi, menunjukkan kekesalan, dia bersegera menghunus pedang, memelesat cepat tanpa berpikir panjang.


Ketika pedang dihunus, betapa cakrawala memusatkan gumpalan awan hitam berlubang, pedang petir di tangan diselimuti petir. Seperti namanya pedang itu adalah pedang pusaka.


Masih mengenai cakrawala, di atas sana permukaan awan berpaduan, bergesekan, bergerak membentuk kumpulan elektron negatif dan positif, keduanya bertemu, di mana hukum fisika dijelaskan oleh guru pada waktu sd, berkilat tekanan cakrawala memunculkan cahaya kilatan menyambar, walau hanya sesaat, menyilaukan. Luar biasa, tak lama dari itu, ia disusul dengan suara menggelegar guruh, bergemuruh.


Angin bertiup kencang, Tabra berada di puncak menara dia kewalahan berpijak, sedangkan Akma Jaya berpegang erat di permukaan dinding menara.

__ADS_1


Kerumunan di bawah menara menatap geleng-geleng kepala, saat kilatan petir sebelumnya mereka semua memejamkam mata, silau sekali, tak tampak apa pun.


Pandangan memburam sejenak, mereka kembali menatap setelah keadaan normal.


"Asdama, lebih baik kita pergi dari sini, lebih baik kita jaga kedai saja," ucap Asgaha menarik tangan Asdama.


Asdama masih tidak percaya apa yang dilihatnya, sungguh diluar akal sehat, di mana cakrawala mengikuti pergerakan pedang seorang kapten berwajah gurita.


Anak buah Akma Jaya yang tersisa di kapal, mereka semua menyaksikan kilatan-kilatan menyambar.


"Hei, sepertinya kapten dalam bahaya!" Anak buah itu berseru dengan sebatang teropong yang menutupi matanya, fokus melihat, bahkan berucap asal ucap.


"Tidak, jangan memandang rendah kapten, dia pasti bisa mengatasinya!" ucap yang lainnya membela dan tidak suka dengan ucapan rekannya.


Semua ucapan dan penjelasan ini, terjadi pada waktu yang bersamaan. Aisha bergumam sedikit genangan air di sela-sela matanya, dia perlahan menyapunya, berusaha percaya Akma Jaya tidak apa-apa.


Kapten Broboros memelesat cepat, tatapan mata dipenuhi hawa membunuh.


Tepat pada jarak yang dekat, dia menebas Akma Jaya dengan pedangnya, bermaksud mengenainya, tetapi sulit dipercaya, Akma Jaya sigap menangkis tebasan. Anehnya tebasan itu ditangkis dengan mudah.


"Apa? Bagaimana mungkin?" Kapten Broboros bertambah kaget, sejauh ini tak ada siapa pun yang bisa menangkis tebasannya, jika berani menangkis, apalagi tidak tahu, nasib akan sama berubah malang, tersambar petir.


"Tidak mungkin, kau—" Kapten Broboros tak melanjutkan ucapan, dia memelesat ke tepi dinding menara, menghindar dari Akma Jaya.


Akma Jaya tersenyum, tak ada celah takut sedikit pun, kedua kapten itu kini saling memandang, angin masih berembus kencang, di bawah menara kerumunan mencari tempat perlindungan, tetapi masih betah melihat apa yang akan terjadi selanjutnya.


"Jika dia mati di tangan Kapten Broboros, kita tak perlu mengotori tangan, tapi jika Kapten Broboros terbunuh, dia akan menanggung siksaan begitu berat." Bergumam suara seseorang yang sebelumnya ingin menghukum Akma Jaya.


Di sini, di tempat ini, Akma Jaya masih bernapas, bahkan tersenyum lepas, sedangkan Kapten Broboros menatap tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya.

__ADS_1


Di mana flashback. "Akma Jaya, sebelum kau ke wilayah Nanaina, ada seseorang yang perlu kau hindari, seseorang berwajah gurita, dia mempunyai pedang petir menyambar." Adfain menjelaskan pada waktu itu Akma Jaya menyimak.


"Ini benda pusaka bernama Atramata, penangkal kekuatan mistik, pakailah, jika kau terdesak, gosoklah permukaannya sebanyak tiga kali, maka kau akan menyerap energi alam."


__ADS_2