Bajak Laut Hitam

Bajak Laut Hitam
CH. 62 – Bab Masa Lalu : Takdir Pertemuan


__ADS_3

Wajah yang terlihat sangar, tidak lain sesosok manusia itu, dia seorang bajak laut, mereka meledakkan bom yang di area pantai. Ikan terkapar mati, bukan mati, tetapi gosong, hancur wujudnya tersisa tulang, bahkan menyisakan sekumpulan abu yang bertebaran.


Air tanah itu berhamburan kemana-mana, lautan berubah warna kecoklatan karena tanah yang tercerai berai.


"Hei, apa yang kau lakukan?" Tabra berseru dengan suara yang lantang.


"Kalian siapa? Dan kau berani-beraninya bertanya kepadaku?" jawab manusia itu dengan wajah yang sinis.


"Kami adalah kelompok Bajak Laut Hitam." Tabra berucap dengan wajah yang santai.


"Oh, begitu. Aku tertarik dengan kalian, namaku Atlana, kelompok Bajak Laut Nikaiya. Senang bisa berjumpa dengan kalian."


Manusia itu membalas perkenalan Tabra disertai wajah yang tersenyum. Namun, sinis, senyuman ciri khas orang-orang sombong, seseorang yang suka merendahkan orang lain, memandang sebelah mata.


"Kalian, jangan mengangguku, wilayah Desa Buana adalah tempat kesukaanku, sekarang aku meledakkan pantainya untuk mencari mutiara," ucap Atlana kepada mereka.


Akma Jaya mengangguk.


"Baiklah, silakan. Kami hanya berkelana dan singgah di Desa ini, kami hanya ingin membuktikan rumor yang beredar dan ingin mengetahui lebih lanjut tentang rumor tersebut!"


Akma Jaya menjelaskan alasan yang terpendam dalam pikirannya, tetapi Kapten Atlana berdecak kesal mendengar penjelasan Akma Jaya.


"Ah, lebih baik kalian pergilah dari desa ini!" Kapten Atlana bersuara sangar, dia memelotot tajam.


Seketika temperamental Tabra kumat mendengarnya.


"Apa hakmu menyuruh kami pergi dari desa ini?" Tabra bertanya sembarangan tanpa berpikir apa akibat dari pertanyaannya itu.


"Lancang! Kau tak tahu posisiku. Aku pemegang gelar Pilar Tujuh Lantai yang keenam."


Kapten Atlana langsung menyebut gelarnya, seperti kebiasaan yang sering terjadi, sifat kesombongan menyebabkan dia memamerkan sebuah gelar, padahal gelar itu hanyalah sementara, dikala tubuh terkena tebasan tajam bertubi, dunia ini tidaklah berarti seperti yang dikatakan oleh Kapten Zaiya.


"Dunia ini hanyalah sementara!"


Akan tetapi, kebutaan jabatan, kekuasaan yang membuat diri lupa keterbatasan sebagai seorang manusia, kematian adalah pemutus segalanya. Dikala nyawa keluar dari badan, apa hendak dikata. Tidak ada.


"Sudah kubilang, kalian pergilah dari desa ini!" Kapten Atlana berujar disertai air liur yang keluar, sesederhana itu, saking kerasnya dia berujar hingga memuncratkan air liur.


DOOR!


Aisha menembak, hanya saja dia menembak anak buahnya. Orang yang terkena tembak itu jatuh sekarat kemudian mati, tembakan Aisha tepat mengenai area kepala, darah segar yang keluar mengalir dan membuat genangan di sekitar tanah.


"Aisha, apa yang kau lakukan?" Akma Jaya terkejut, dia berucap spontan.

__ADS_1


"Kapten, saya sudah muak dengan orang yang menyombongkan diri," jawab Aisha, dia kembali menembak tak menghiraukan apa pun.


DOOR ... DOOR ... DOOR ....


Sepuluh anak buah dari Kapten Atlana tertembak mati, betapa amarah Kapten Atlana meluap-luap tak beraturan.


"Aku bersumpah akan menghabisi kelompok kalian, Bajak Laut Hitam, kemana saja kalian berlayar dan kita bertemu, maka kalian akan aku tebas!" Kapten Atlana berujar dengan sumpah.


Amarah yang membuatnya lepas kendali, hanya saja Aisha terlalu gegabah, dia menembak tanpa berpikir akibat dari perbuataannya, tetapi kendati demikian, Akma Jaya tak bisa menyalahkan Aisha begitu saja.


Daritadi Tabra hanya berdiam, tak bersuara melihat adik perempuannya menembak, dia juga diam tak menghentikan gerakan Aisha. Namun, dilain hal Tabra tak bisa memungkirinya, entahlah.


Adapun bagi Aisha, dia beranggapan itu memang pantas sebagai peringatan karena telah meremehkan orang lain.


"Kau, wanita kurang ajar. Kau tak berpikir, kemampuanmu berada di bawahku!" Kapten Atlana melanjutkan ujaran.


"Kau itu terlalu sombong." Tabra menyahut cepat, bibir itu kini berucap setelah beberapa saat bergeming.


Sebagian anak buah Akma Jaya mengernyit, ada yang ketakutan, gemetar tubuh, bergemeratak gigi. Darah segar yang mengalir di permukaan tanah itu cukup menakutkan bagi sebagian mereka.


Salah satu anak buah pergi meninggalkan barisan, dia berlari ke arah hutan. Kapten Atlana melihat semua itu, dia terbahak menertawakan anak buah Akma Jaya yang kabur dari barisan dan bersembunyi karena ketakutan.


"Kuperingatkan sekali lagi, aku hanya ingin mencari sebuah mutiara, tidak ada maksud menghajar atau membunuh kalian, aku sudah berbaik hati untuk menyuruh kalian beranjak pergi dari desa ini, tetapi kau malah menembak tanpa berpikir!" Kapten Atlana berucap menunjuk Aisha dengan jari telunjuknya.


"Sudahlah, aku tak ingin berdebat, kau tak tahu apapun, tetapi aku akan bermurah hati menjelaskannya, area pantai yang kuledakkan, aku hanya mencari sebuah kesenangan."


"Aku menyukai kesenangan."


"Dan kesenangan adalah mutiara yang sulit didapatkan dalam hidupku, kalian datang mengacaukan segalanya, bahkan menghancurkan kesenanganku."


Kapten Atlana menjelaskan, itu cukup panjang, penjelasan yang menguras pikiran, jari yang menulis, lelah.


Mutiara itulah dimaksudkan, bagi Kapten Atlana kesenangan adalah mutiara baginya. Entahlah, itu jelas membingungkan, hanya saja setiap orang punya argumen sendiri, alasan yang menjadikannya terpandang logis bagi sang pemilik kata, tetapi bagi orang lain pun punya argumen untuk menolaknya.


Kedua hal yang berlawanan, memicu perdebatan yang tak kunjung usai, bahkan perkelahian yang tak berarti apa-apa, kalah jadi abu, menang jadi arang.


"Kau wanita hina, kau merusak kesenangan yang ingin kudapatkan!" Kapten Atlana berujar hanya tertuju kepada Aisha.


Sementara, Aisha terdiam, dia sadar telah melakukan kesalahan, tetapi mau bagaimana, apa yang hendak dikata? Nasi sudah menjadi bubur, kemarahan Kapten Atlana membumbung tinggi ke atas cakrawala.


"Kau akan mati!"


Kapten Atlana memelesat tajam, pedang itu mengkilat tajam tertuju ke arah Aisha.

__ADS_1


"Aishaaa, menghindar!" Tabra berseru sambil menghunus pedang dengan cepat.


Kapten Atlana menebaskan pedang, dengan cepat Tabra menangkis pedang tersebut. Akma Jaya hanya berdiam, tak ada perlawanan yang terlihat.


"Kau cukup berani menangkis tebasanku, apakah kau seorang Kapten dari kelompok Bajak Laut Hitam?" Kapten Atlana berucap, dia berdecak kagum sejenak.


"Dia adalah adikku, aku bukan seorang kapten, sudah tugasku melindunginya!"


Tabra menjawab dengan irama getar yang membuat takjub Kapten Atlana.


"Ha ha ha."


"Kau berbeda dari kebanyakan orang yang kutemui, siapa namamu wahai seseorang yang tak kuketahui?" Kapten Atlana berujar dan bertanya perihal nama.


Tabra tersenyum, dia menggerakkan pedang dan meletakkannya ke bahu.


"Apa itu penting buatmu?" Tabra bertanya menatap ke arah Kapten Atlana.


"Ha ha ha, katakan atau kalian semua kubunuh dengan cepat!" Kapten Atlana mengancam.


Tabra menghela napas.


"Hah, baiklah. Namaku adalah Tabra!"


Kapten Atlana langsung mengembalikan pedangnya ke tempat semula—kompang.


Amarah yang melanda Kapten Atlana memudar, bahkan beberapa orang yang berada disitu tampak berwajah heran.


"Tabraaa? Aku pernah mendengar nama itu, ayahku pernah bercerita tentang dirimu!" Kapten Atlana berbicara.


Tabra langsung berwajah heran setelah mendengarnya.


"Ayahmu? Apa dia mengenalku?"


"Aku dari Desa Enla, ayahku bernama Gaiha. Aku anak bungsu, tak menyangka kau ternyata masih hidup."


Sekarang, Tabra mengingat kembali, tentang Kapten Gaiha yang mengajaknya pergi ke Desa Enla. Akma Jaya tak tahu apa-apa, dia hanya diam dan menyimak, sedangkan Aisha juga menyimak dari pembicaraan kedua orang tersebut.


"Tidakkah ini takdir? Aku tak menyangka akan bertemu denganmu, Tabra," ucap Kapten Atlana mengajak untuk berjabat tangan.


Takdir mempertemukan Tabra dengan anak bungsu dari Kapten Gaiha, jelas Tabra tidak mengenalnya, bahkan mereka tidak pernah bertatapan, Tabra hanya mengenal anak perempuan dari Kapten Gaiha yang bernama Maisya.


Waktu yang berlalu, istri dari Kapten Gaiha melahirkan anak lelaki dan Kapten Gaiha sering menyebutkan nama Tabra, menceritakan semuanya kepada Atlana tentang Tabra yang menghilang dari pandangannya, melarikan diri dari kejaran para bajak laut.

__ADS_1


__ADS_2