Bajak Laut Hitam

Bajak Laut Hitam
CH. 140 – Rencana itu Mutlak


__ADS_3

Apa, ya. Tidak ada apa-apa. Lelah juga, hentikan saja. Ah, sudahlah. Kau masih saja seperti dulu menggerutu seperti itu.


“Apa kau tidak punya beban pikiran, Kalpra?” Boba bertanya. Jangan lupa mereka sekarang sedang bermain dadu.


Kalpra menggeleng. “Tidak.”


Boba melempar dadu. “Wajahmu itu memang dari dulu kuperhatikan seperti itu, aku selalu menerka kau banyak masalah.”


Kalpra tertawa. “Itu hanya terkaanmu saja.”


Kini giliran Kalpra. Dia melempar dadu secepat mungkin untuk mengalihkan perhatian. Boba cukup paham.


“Tidak usah kau sembunyikan itu dariku, Kalpra. Masing-masing kita pastilah punya masalah, hanya saja kau cukup pandai menyembunyikannya.” Boba mencoba ingin mencari tahu info lebih banyak, sedikit bumbu dimasukannya untuk memancing.


Sayangnya masih sama. Bahkan Kalpra semakin ngakak tertawa bahak. “Boba, kau menuduhku, itu tidaklah baik untuk badan gendutmu yang kurang olahraga.”


Kalpra kembali mengejek badan Boba yang gendut bagai bola karet di pojokan dek kapal sana. Kedua pipi Boba tampak menggelembung bulat oval saat mendengar lawakan se-absurd itu.


Menertawakan kekurangan orang lain?—Dasar, teman seperti apa dia ini. Aneh?


Boba sudah terbiasa. Tapi, tidak enak rasanya terus dikatakan begitu, sebenarnya Boba masih saja mempertanyakan apakah Kalpra mengerti atau tidak mengenai arti teman itu seperti apa? Ya, entahlah. Teman sejati yang katanya selalu bisa memahami perasaan temannya? Perasaan antar perasaan itu seperti apa? Jauh sekali, Boba tidak habis-habis memikirkannya tentang si Kalpra yang ingin ngelawak, tapi tidak lucu.


“Aku tidak menyukai ucapanmu itu. Kau juga sama saja, Kalpra. Kaulah orang yang sering menuduhku akan perkara yang tidak-tidak dan aku tidak menyukainya.”


Boba lanjut bicara, “Sudahi saja pembicaraan kita ini yang aneh ini, kita hentikan segera perdebatan yang tak ada habisnya sebelum melebar. Kau mulai tidak asik dengan menyebutkan kelebihan yang kupunya.”


Apa kelebihan yang dimaksud Boba? Kelebihan itu adalah badan gendutnya. Itulah kelebihan muatan yang dikatakannya.


Kalpra menelan kata asik dirinya dalam berbicara selalu menyambung, tapi tidak dengan ini. Dia selalu begitu ucapannya. Sedikit bantahan olehnya, tidak banyak.


“Kata siapa aku asik, kau semakin lucu, Boba. Kau saja yang kurang mengenalku. Bagaimana sikapku selama ini. Kau hanya pura-pura mengenalku.” Kalpra usai melempar dadu, baru saja dibiarkan menimpa angka dan nahasnya mereka terus saja berdebat.


Boba jelas tidak menyukai badannya disebut gendut. Dia lebih suka disebut berisi, itu lebih nyaman didengar dan memang badannya penuh daging lemak kenyal saat disentuh dan berisi—tidaklah gendut.


Itulah argumen Boba dalam membela diri. Dia sudah sering bilang: tidak gendut, hanya berisi. Itu saja bagi Kalpra malah semakin lucu, dia terpingkal-pingkal.


“Lupakan saja. Sekarang giliranku melempar dadu.” Mood si Boba menjadi buruk karna mendengar tawa Kalpra.


Boba telah salah dalam memilih teman sekedudukan, si Kalpra itu memang dari dulu tabiatnya suka menjadikan Boba sebagai lawakan. Tapi, lawakannya tidak lucu, sama saja seperti Boba.


Permainan dadu itu terus diisi dengan bumbu panas dan terus berlanjut, belum juga diketahui siapa pemenangnya? Dari situlah, Boba semakin bersemangat ingin membuktikan. Untuk membalas dan mengejek Kalpra yang menyebalkan itu dengan sebuah kemenangan dirinya.


“Hah—lelahnya.” Keluhan salah seorang yang sedang berbersih kapal, Hambala.


Dari kejauhan dia sudah daritadi melihat tingkah laku dua orang bermain dadu, tetapi saling mengoceh satu sama lain.


Hambala mencoba menghampiri mereka, dekat di situ dia mendehem. “Kalian ini tampaknya daritadi ribut saja, apa gerangan yang daritadi kalian ributkan?”


Kedua orang yang duduk itu menatapnya. Tentu saja perdebatan mereka berhenti.


“Hambala,” Boba memulai menyapa lebih dulu. “Sepertinya baru saja kau tengah melihat perdebatan di antara kami dan kau penasaran hingga menghampiri kami.”


Kalpra menyebut, “Angka dua dibagi dua, Hambala. Apa kau mengerti?”


“Terus satu dibagi satu.”


“Kalpra, kau ada-ada saja.” Hambala menggeleng, tidak ditanya olehnya.


“Intinya tidak ada yang kami ributkan. Ini hanyalah tentang masalah biasa, apa betul begitu, Boba?” Kalpra mengalihkan pandangan, bermanis ucap memandang ke arah Boba yang duduk tenang.


“Yeah, aku tidak suka mengakuinya.” Boba menyahut apa adanya.


Mereka malas mengakuinya.


Hambala sepertinya mengerti dan tidak tertarik mendengar penuturan mereka. Ya, sudahlah baginya lebih baik memberi makan anak burung, katanya. “Daripada terus ribut begitu, saranku lebih baik kalian berdua membantuku membersihkan kapal.”


Tetap saja yang namanya ribut, ya ribut. Tidak usah mencari pembenaran—batin Hambala mengatakan mereka ribut.

__ADS_1


Hambala memilih pergi dengan sebuah nyanyian. Meninggalkan dua orang itu yang tidak setuju dengan saran tersebut.


“Kau setuju dengannya?”


“Tidaak! Kita lanjut saja main dadu!”


“Hahaha...”


“Tos dulu.”


“Okeee...”


Mereka berdua saling tos, melanjutkan permaian dadu. Hambala sedikit melihat akan hal itu, menggumam. “Mereka itu persis sama aneh dalam perilaku, sekali waktu mudah sekali berdebat. Tetap saja mereka kompak dalam membuat pilihan dan kompak sama-sama pemalas.”


***


Pemalas seperti Author yang menulis cerita ini. Duhai teman yang berhati baik katakanlah tentang cerita ini dengan berterus terang tanpa kebohongan seperti sebuah kaset rusak yang tak ingin didengar, sebut saja kata absurd apa susahnya? Dan tak usah pula menebak alur cerita karena di balik semua ini seorang author pemalas sedang berimajinasi dengan keadaannya.


Duduk terduduk. Terlepas, terpejam. Terlelah dan terkejut. Terkantuk. Eh?


Salah—maksudnya tidak begitu, ini hanyalah cerita absurd. Tentang Raja Hurmosa itu yang disebut pada chapter sebelumnya mempunyai jenggot putih karena suatu penyakit yang diderita olehnya. Terlepas dari janjinya tiga tahun lalu, teman. Rambutnya pun sudah beruban, padahal masih muda. Itulah juga alasan mengapa dia tidak punya pilihan lain, selain bekerja sama dengan mereka.


“Dia orang tua!” bisik Tabra.


“Enak saja, aku masih muda!” Raja Hurmosa mendengar dan menjawabnya. Itu awal pertemuan mereka, memang terdengar lucu tapi menyenangkan. Lucu dan senang.


Heh? Kau bergurau? Tidak, aku sedang serius, juga sedang bergurau di antara kuda dan ruang makan yang dikosongkan.


“Bagaimana kerja sama kita ini bisa terjalin dengan kuat? Karna ini adalah janji di antara laut dan samudera. Di antara tahta dan istana!” Raja Hurmosa mengucapkan janji, mengutip kata luka.


Begini katanya. “Luka dan dendam yang tertinggal akan mengakibatkan sakit hati yang mendalam. Lalu bagaimanakah dengan dirimu. Apa yang akan kau perbuat duhai orang yang mengikat janji denganku.”


Masih panjang kalimat-kalimat janji tersebut. Glosia berbisik ke Jalbia, “Heh, Jalbia. Kau lihat itu, dia aneh!”


Jalbia juga berbisik, “Daripada di sini lebih baik kita ke kapal, makan keripik.”


Kini mereka kompak berjalan menjauh. Boba melihat mereka berdua, cukup memberi isyarat. “Mau ke mana?”


Jalbia dan Glosia balas isyarat menunjuk ke kapal. Makan keripik. Boba melihat isyarat itu menjadi tertarik dan akhirnya ikutan juga sama mereka, yang lainnya tahu akan hal itu tampak membiarkan saja. Ashraq tersenyum melihat mereka. Ada-ada saja mereka bertiga itu—gumamnya dalam hati.


Ketiga sahabat itu tertawa girang, merasa berhasil pergi tanpa ketahuan. Glosia menepuk-nepuk Boba, dia bilang mungkin karena badan Boba gendut seperti sebuah tameng, yang membuat orang di sana tidak bisa melihat kepergian mereka alias tidak tahu. Padahal siapa yang tidak tahu? Lebih tepatnya hanya pura-pura atau memang tidak peduli mereka ada atau tidak ada.


Hari itu duhai temanku kelompok Bajak Laut Hitam tengah terlibat dalam sebuah kerja sama dan kesepakatan mereka. Bekerja sama dengan seikat janji di antara jabat tangan Raja Hurmosa dan Akma Jaya.


Dan sisanya menjadi penonton di teluk itu, dengan menyimak, menonton sebuah perjanjian yang diucapkan oleh dua orang.


Temuan peti jarahan kelompok Jaraya dengan perjanjian itu mutlak. Mereka akhirnya selesai bekerja sama.


Bekerja sama untuk apa? Untuk menguasai dunia. Salah—salah lagi. Maksudnya untuk membalas dendam sihir si penyihir kunti.


Di tangan Akma Jaya ada sebuah cincin yang kalau dimasukkan ke dalam air. Itu airnya diminum akan menjadi penawar.


Absurd sekali. Itu hanya fiksi. Kalau Authornya mau bisa saja ada sebuah gurita raksasa memakan kapal dan orangnya masuk ke dimensi lain. Woow, kali.


“Di antara perjanjianku dan kita tidak mungkin akan terhapus dengan darah. Ini melibatkan hidup dan matiku sebagai seorang raja, tahta dan istana.”


“Bisa saja dia bohong.” Tabra berbisik.


Aisha menyubitnya. “Utttss.. diam kau!”


Juga sama, berbisik dan yang lainnya mendengar itu dan melihat Tabra kena cubitan, hanya bisa menahan tawa. Tabra juga hanya bisa mangut-mangut pasrah sama keadaan, terkena cubitan Aisha rasanya membuat dia tidak bisa berkutik.


***


Di dalam kabin itu mereka bertiga tampak masih membahas satu persoalan yang belum terpecahkan. Ya, terpecahkan. Seperti telur yang belum dipecah, entah ragu atau kenapa? Membangongkan.


“Kapten, jangan melamun.” Tabra mengingatkan, suara Author juga berisik.

__ADS_1


Sumpalan tangan di mulut Kalboza juga dilepas olehnya. Tabra tidak tegaan orangnya melihat Kalboza dalam keadaan derita menahan sesak napas, pengap.


“Ah, leganya aku bisa bernapas kembali.” Kalboza menggumam usai itu.


Tabra ini orangnya sedikit keterlaluan menyumpal mulutku sembarangan. Kalboza menggumam dalam hatinya.


Tatapan mata dibalas Tabra apa? Kau mau berkelahi denganku? Kalboza geleng kepala dan memutuskan berpaling muka.


Terlepas dari itu, syukurlah. Kalboza menjadi leluasa menghirup napas, kasihan juga dia. Tabra memang keterlaluan orangnya, kurang kerjaan sepertinya. Tapi, masih ada rasa iba terhadap orang yang dia sumpal mulutnya.


“Kau tidak perlu khawatir, Tabra. Raja Hurmosa itu masih memegang janji dengan kita. Hari ini kita melakukan pelayaran menembus markas musuh hanya untuk bertemu dengannya di seberang pulau.”


Raja Hurmosa. Ya, saat itu baginda raja menemukan peti jarahan kelompok Jaraya. Mereka bertemu saat itu sepakat menukar sebuah perjanjian. Dan saat ini adalah masa perjanjian itu untuk ditunaikan.


Di mana Akma Jaya sekarang sudah mempunyai cincin dari gunung yang pernah mereka daki. Dari dimensi berbeda pemberian walikota. Bagaimana saat itu wajah walikota. Ya, cukup tertawa bahagia memberikan cincin sakti miliknya.


Sebagai buah tangan untuk kenang-kenangan. Hingga Akma Jaya berterima kasih lalu kembali ke langit dunia dan bertemu dengan anak buahnya yang tengah bersibuk diri menghadapi Beruang. Saat-saat yang mendebarkan, itu kenangan.


Sekianlah cerita itu disebutkan. Cerita tentang masa lalu dan masa kini yang digabung dalam satu kali kesempatan.


Tabra membayang di udara. “Kalau saja Anda menerima pikiran saya, Kapten. Bisa saja itu hanyalah jebakan.” Dia mengatakan dengan berbagai tuduhan lainnya, menyebut kata munafik dan tipu daya yang sesat dan tidak pantas dipercaya.


“Jebakan? Atau tipu daya itu tidak mungkin, Tabra. Aku masih ingat janji seorang raja adalah kehormatan tahta dan istana. Jika dia mengingkari janjinya. Tentulah kedudukannya sebagai raja, kerajaannya itu tidak akan berdiri lama, itulah hukuman alam yang mutlak terjadi. Catatan dengan panjang lebar tentang sejarah lama yang dijelaskan oleh Asra Burona itu masih saja sampai sekarang kuingat saat kita berada desa mereka saat itu, saat pertemuan tujuh pemuka dari siklus perdamaian.”


Akma Jaya kembali flashback ke cerita masa lalu, tentang Asra Burona. Apa kala itu? Tabra mengingatnya cukup menggeleng dan mencari pembenaran.


“Bisa saja itu hanyalah sebuah kebohongan.” Tabra kembali mencerocos sedikit, tanpa rasa bersalah, dia tidak bisa menahan kala mendengar nama Asra Burona. Orang yang dia tidak sukai.


Akma Jaya tersenyum sedikit hendak tertawa. “Kau sepertinya masih meragukan Asra Burona? Itu wajar saja, mungkin karna suratnya yang menyebut namamu saat itu.”


“Kata siapa saya meragukannya? Dia memang orang yang tidak bisa dipercaya!” Tabra pertegas ucapannya. Dengan sedekap tangan, muka cemberut, tidak suka.


“Parah!” Tabra berdiri mengibaskan pakaiannya. Namun, kembali duduk.


Kalboza menelentangkan tangan supaya mereka bisa bersantai dalam bicara. Ucapan Tabra juga didengar tidak nyaman.


“Tenanglah,” bujuknya dengan gagah.


“Kita pikirkan apa yang harus kita lakukan selanjutnya? Jangan berdebat,” sanggahnya dengan gagah juga.


Tabra diam menurut, tidak ada pilihan lain. Dia lanjut memakan kacang di depannya. Akma Jaya memandang ke luar jendela kabin. Pemandangan lautan masih biru seluruhnya, kapal mereka tengah berlayar di laut lepas dan jauh dari daratan.


Akma Jaya kembali memandang ke arah Kalboza. Melihat itu Kalboza seperti mengerti akan maksudnya, seperti meminta sebuah ucapan diteruskan.


Kalboza lanjut memantapkan suara, “Kalau benar itu jebakan, kita harus menyiapkan segala kemungkinan yang terjadi. Tabra bisa saja benar, Kapten. Dalam hal yang terdesak bisa saja seseorang mengingkari janjinya dengan janji baru yang dia katakan dengan orang lain, kesepakatan baru. Semata imbalan yang lebih besar daripada milik kita. Selama ini kita hanya terus lari dan lari, lambat laun kita juga hanya akan mati di lautan atau mati di daerah asing yang kini banyak kita kunjungi. Pelarian seperti ini termasuk menyebalkan, tidaklah ada dalam kamus pikiran saya, Kapten. Ini lebih ke arah yang tidak masuk akal bagi saya, kalau kita ingin balas menyerang kita bisa menyiapkan segala kemungkinan yang akan terjadi.” Kalboza mencerocos. Dia seperti kerasukan roh ghaib.


Beberapa saat sebelumnya, Tabra memang peduli dan cukup lelah menyumpal mulut Kalboza yang suka bicara seenaknya, sok bijak adalah tabiatnya dan akhirnya membiarkannya bicara terus-terusan.


Hasilnya begitulah. Akma Jaya cukup memakluminya. “Baiklah, Kalboza. Ini pelik bagiku, tapi suatu perkara yang disandarkan ke arah perbincangan yang serius di antara kita sekarang, aku percaya ini akan menemui titik temunya.”


“Titik temu yang sesuai.”


Akma Jaya menggumpalkan senyum simpul ke arahnya. Tabra mulai ikut merasakan sebuah perasa dengan irama deg-degan seperti ada dentuman keras berbunyi di jantungnya, seperti tengah berada di aula duel dengan yang suara tabuh diikuti sorak-sorai penonton. Menyaksikan penduduk bersorak girang menanti siapa yang akan menang di duel tersebut.


Tabra mempunyai sebuah ide. “Kita kumpulkan semua awak kapal dan kita ajak mereka untuk bermusyawarah bersama.”


Kalboza sejenak meneguk air minum. “Itu sepertinya bagus, saya juga setuju dengan apa yang dikatakan Tabra, Kapten.”


“Pembicaraan kita ini tampak terlalu cepat. Apakah kau sadar bahwa terburu-buru itu termasuk perkara yang tidak baik. Buatlah pengumuman terlebih dahulu kepada mereka, setelah itu baru berkumpul di sini.”


“Ini tidaklah terburu-buru, Kapten. Bagi saya, ini hal yang tidak terburu-buru.” Tabra memulai ocehannya, semakin panjang.


“Apa Anda mau dijebak oleh musuh? Kita lebih baik menyiapkan segala kemungkinan yang akan terjadi, itu juga bukan perkara yang terburu-buru. Pengumuman sekaligus pemberitahuan, kita gabungkan saja.”


Tabra sepertinya salah paham ucapan Akma Jaya. Pelayaran mereka masih lama untuk sampai sana. Dia memang begitu orangnya kadang menyebalkan. Kalboza cukup menyimak saja dan mangut-mangut setuju.


“Rencana itu mutlak, Kapten!” Tabra menekankan suara, menatap mantap.

__ADS_1


__ADS_2