
Mereka berdua saling berjabat tangan, Kapten Atlana memperlihatkan wajah yang memihak, senyuman manis itu terpancar dengan jelas, sedangkan Tabra berwajah heran.
Apa pun itu yang terbesit dalam pikiran, pertemuan yang tak pernah diduga, tatapan penuh penghayatan.
"Akan tetapi, aku telah bersumpah, Tabra." Kapten Atlana mengubah senyumannya menjadi sinis.
Tak lama dari itu, Kapten Atlana meremes-remes tangan yang saling berjabatan itu dengan sangat kuat.
Ucapan sumpah yang lalu mengubahnya menjadi kehancuran, hubungan yang berubah hanya karena setitik noda bersalah, harapan memudar ditelan kehampaan. sebuah naluri berupa kesombongan, entahlah.
Kapten Atlana melepas jabatan tangan dengan wajah sangar.
"Aku akan menebas sekujur tubuh kalian hingga tak tersisa apa pun!" Kapten Atlana melontarkan ujaran, jari telunjuk menyertai wajah yang dipenuhi amarah.
Ujaran yang terlontar berbanding terbalik dengan kenyataan yang seharusnya bersatu dalam kebersamaan dan kebahagian.
"Atlana, kau adalah anak bungsu dari Kapten Gaiha, maka mengertilah!" Tabra berbicara dengan mulut yang menipis, dia juga sama, dia masih dikuasai amarah.
"Tak ada hal yang kumengerti, bagiku dunia ini, apa pun yang kumiliki, jika seseorang telah merusaknya, aku tidak akan mengampuninya, walau sang perusak itu melarikan diri hingga ke pelosok bumi, aku akan mengejarnya!"
"Jika sang perusak itu berada di depan mataku, aku akan segera membunuh tanpa menunjukkan rasa belas kasihan!"
Kapten Atlana menampakkan cahaya kehitaman yang naik terus melebihi batas cakrawala, menembus atmosfer bumi.
"Atlana, apa yang kau katakan adalah cerminan dirimu, aku melihat ada banyak kebencian di wajahmu."
Tabra menatap dengan wibawa yang dia gunakan untuk menghadapi Kapten Atlana, mengatakan hal yang dilihat jelas dari sorotan mata yang terpancar.
"Kebencian, memang benar. Aku benci orang-orang yang merusak kesenanganku, kau juga pasti membenci Kapten Kaiza yang telah menghancurkan desamu, membunuh semua orang di desamu, akui saja. Kau juga pasti membencinya!"
"Tabra, perlu kau ketahui, kehidupan ini tak akan lepas dari kebencian, aku bisa merasakannya!"
Kapten Atlana berargumen panjang lebar mengenai kebencian, dia mengatakan kata-kata getar, wibawa mereka saling berbenturan.
"Itu omong kosong, Atlana." Tabra menunduk sejenak.
Angin bertiup, suara desir dengan tiupan sedang, dedaunan berjatuhan, melayang-layang dan jatuh melambat, mereka berdua bertatapan, terpaku dalam diam.
"Kau munafik!" ujar Kapten Atlana bersuara lantang.
Benar saja, suara itu menusuk, Kapten Atlana berujar dengan nada yang keras, Aisha meneteskan air mata, tragedi kehancuran Desa Muara Ujung Alsa yang menyebabkan kematian, hal itu memicu kedukaan yang sangat mendalam bagi Aisha.
Begitu kelam dipenuhi jeritan, isak tangis yang berderaian.
"Tidakkah kalian membencinya? Saat kedua orang tua kalian mati terbunuh ditangan Kapten Kaiza!"
__ADS_1
Kapten Atlana mengucapkan apa yang seharusnya dilupakan, Tabra terbelalak lebar, masa lalu yang begitu kelam kini teringat kembali.
"Hentikan!" Aisha berujar dengan air mata yang berjatuhan.
"Kau menyuruhku berhenti, sudah kukatakan kalian pasti membencinya."
"Bencilah sampai ke akarnya!" Ujaran yang sangat keras, suara yang menggelegar.
Kapten Atlana mengudara, dia terbang bebas di atas cakrawala yang terbentang luas tanpa ada halangan, dia menggugurkan bom yang meledak tepat di atas kepala mereka.
Kapten Atlana menggerakkan kaki, dia berdiri di tempat dengan kedua tangan yang menyilang di bawah dadanya.
Dia berdecak puas karena sudah berhasil membuat Tabra menundukkan kepala dan membuat Aisha berurai air mata.
Ditengah-tengah rasa puas yang dirasakan Kapten Atlana, Akma Jaya tersenyum.
"Apa yang kau katakan, apa pun itu kami berusaha untuk mencoretnya." Akma Jaya berucap setelah berlama-lama menyimak pembicaraan mereka yang melibatkan perasaan.
Akma Jaya melangkah maju, kaki yang berjalan pelan, dia menatap ke arah Kapten Atlana dengan raut wajah yang tenang, wibawa seorang kapten.
"Atlana, perlu kau ketahui kelompok kami, Bajak Laut Hitam telah berdiri, kami akan memusnahkan segala hal dari itu semua, kebencian yang kami alami, kami akan mencoret apa pun itu!"
"Terutama kekejaman para bajak laut, kami akan mencoret semuanya!"
Sejenak setelah itu, Kapten Atlana berdecak kagum dan memutar-mutar jari jemari, memainkannya dengan menutup dan membuka, mengenggam dan melepas.
"Bajak Laut Hitam, nama yang bagus, Akma Jaya!"
Kapten Atlana berucap setelah berdecak. Dia berjalan pelan ke arah samping, memutari sekeliling tempat seraya menatap Akma Jaya.
"Kau adalah anak dari Kapten Lasha, dia juga terbunuh ditangan Kapten Kaiza, bahkan ibumu dibunuh olehnya."
"Pastilah kau juga membencinya. Apakah yang kusebutkan itu benar, Akma Jaya?"
Kapten Atlana cukup lihai dalam berujar. Dia memainkannya dengan cara yang sederhana. Mengingatkan kembali peristiwa itu, hanya saja Kapten Atlana tidak mengetahui bahwa Akma Jaya tidak melihat peristiwa itu. Akma Jaya hanya menganggap itu sebuah takdir dan tak menghiraukannya.
Walau jujur itu menyedihkan bagi Akma Jaya, tetapi kendati demikian dia tidak mempunyai kebencian apa pun.
Kapten Atlana berucap, berlagak mengetahui segalanya.
"Aku memperhatikan dengan jelas, kau pastilah kapten dari kelompok sampah yang kau buat, sangat menyakinkan bagiku, kelompok kalian berdiri atas dasar kebencian kalian kepada bajak laut!"
"Kebencian yang terus ada di dalam hati kalian, mengapa tidak kalian buat Bajak Laut berlutut di bawah kaki kalian?"
"Bodohnya, kalian memilih untuk mencoretnya?"
__ADS_1
Kapten Atlana berusaha menggoyahkan mereka, mengatakan sesuatu yang melawan pikiran.
"Tidak begitu. Kau tak tahu apa-apa tentang kehidupan kami setelah dikejar-kejar para bajak laut, kau tak tahu apa-apa!"
Akma Jaya menolak kata yang dilontarkan oleh Kapten Atlana dengan menjelaskannya. Akan tetapi, Kapten Atlana. Dia berwajah serius, tak peduli dengan penjelasan Akma Jaya.
"Bla ... bla ... bla ..." Kapten Atlana bergumam, bersuara pelan. Setelah itu, dia tertawa, mulutnya terbuka lebar.
"Bukti. Aku mempunyai bukti bahwa kelompok kalian berdiri atas dasar kebencian."
Kapten Atlana berujar setelah tertawa, nada yang pelan, berangsur-angsur meninggi, nada yang membuat orang menggeleng.
"Bukti? Tunjukkanlah padaku!"
Akma Jaya sedikit tercengang, apa yang dikatakan Kapten Atlana, sungguh dia berlagak seperti orang yang tahu segalanya. Akma Jaya meminta bukti, sebuah bukti yang dapat dijadikan rujukan, bukan hanya tuduhan semata yang tak ada rujukannya sama sekali.
Kapten Atlana tersenyum sinis.
"Kehancuran Desa Muara Ujung Alsa, itulah buktinya. Kalian sekelompok sampah yang mengatasnamakan coretan yang akan mencoret semua itu, nyatanya sampah tetaplah sampah, kalian hanya memberontak!"
Kapten Atlana berucap dengan suara yang terdengar keras, intonasi nada yang menggetar, menggelegar di sekeliling atmosfer bumi, ia terus naik, naik dan naik hingga sampai ke angkasa, suara itu meledak. Partikel-partikel yang berhamburan, berguguran ke bumi. Dan jatuh tepat di atas kepala Akma Jaya.
Akma Jaya bergeming sejenak, Tabra terdiam, Aisha merenung. Ujaran yang menusuk tajam, membuat orang yang mendengarnya hampir terjatuh pingsan.
"Atlana, apa pun yang kau maksudkan, jelas itu bukan tujuanku karena akulah Kapten dari kelompok ini!"
Akma Jaya menjawab setelah beberapa saat bergeming, terpaku dalam uraian kata yang membuat pikirannya kacau, berkecamuk, hancur dan sebagainya.
Bayangkan. Saat seseorang berujar menghina, mencaci atau apalah itu, jelas itu menusuk.
"Cih!"
"Keparat! Kau munafik!"
Kapten Atlana menunjuk, meludah, menuntaskan amarah, meluapkan, mengobarkan, meneriakkan, segalanya dia perlihatkan dengan tatapan mata yang mengerikan.
"Bagaimana, bagaimana kalau kau dan aku bertanding pedang, jika kau menang, aku akan mencabut sumpahku dan melupakan kejadian ini."
Kapten Atlana melanjutkan ujaran, mengajak untuk berduel, berkelahi dengan pedang dan menentukan siapa yang akan menang, siapa yang terkuat, siapa yang berhak bicara, siapa yang mempunyai kekuasaan yang lebih hebat dari apa yang terlihat di pandangan mata.
Akma Jaya mengangguk. "Baiklah."
Kapten Atlana berdecak, cak, cak. Berirama dengan tawa yang membelah angkasa, melebarkan asa miliknya, bergumam, menunjukkan ocehan yang tak berarti apa-apa. Tidak ada faedah, hanya bualan dari mulut yang terlontar berupa kesombongan dan jika dibahas, tidak ada habisnya.
Kapten Atlana bagaikan tanaman, terlihat menawan. Indah berwarna kehijauan, tetapi ternyata terdapat racun yang bisa menyebabkan gemetar, mual, muntah, kehilangan nafsu makan, lemas dan masalah pada usus. Tanaman bernama Ageratina altissima! Mengandung racun bernama tremetol. Ya, begitulah.
__ADS_1