Bajak Laut Hitam

Bajak Laut Hitam
CH. 138 – Persiapan Menuju Jenjang Perencanaan


__ADS_3

“Seharusnya kau menghiburku, Glosia. Saat ini aku sedang patah hati.” Suara Jalbia kala itu tidak jelas terdengar oleh Glosia yang tengah berjalan menjauh. Kalimat di akhir terdengar, patah hati begitulah katanya.


Patah hati?—Iya, dia sedang patah hati. Mantan kekasihnya kau tahu tiga tahun lalu, kekasihnya itu menikah tepat sekarang adalah tanggal pernikahannya. Glosia menggelang pelan, merasa tidak percaya.


Astaga? Teman, kau patah hati hingga selama itu? Dia pikir apa? Ternyata mengingat mantan kekasih yang telah lama usai.


Glosia selaku sahabatnya tahu mengenai itu. Bagaimana dulu Jalbia benar-benar patah hati saat melihat wanita terkasihnya itu bergandengan tangan di pelaminan, bersama lelaki yang bukan dirinya. Astaga, itu sungguh menyakitkan.


Glosia kembali menghampiri dan cukup mengerti. “Bergembiralah bukan semata kau telah berhasil melupakannya, bukan semata kau telah berhasil benar-benar melupakannya. Tapi, untuk kedamaian hati kau harus menerima semua itu, Jalbia.”


“Kau mudah berkata begitu. Bagiku susah teramat susah untuk bisa melupakannya.”


Jalbia hanya mengarang patah hati. Mana ada patah-patah. Sebenarnya hanya satu hal yang mengganggu perasaannya. Dia rindu dengan kampung halamannya. Hal itu dia katakan kepada Glosia mengenai patah hati hanya ingin menguji sifat kekawanan yang entah apakah sampai sekarang Glosia memilikinya. Sifat alami seorang sahabat dalam merasakan hal yang sama dan memberikan sebuah nasihat yang benar-benar bisa menentramkan jiwa maupun raga ataupun kalimat menohok tidak apa yang pada akhirnya semua itu menggembirakan pihak pendengar. Sahabat mengerti lebih banyak tentang kekurangan dan kelebihannya, tentang perasaan yang ada di setiap jengkal senti per senti ujung jari di kelopak mata.


Begitu?—entahlah, Jalbia hanya mengarang patah hati. Bahkan sebelumnya tidak ada demikian, dia hanya mengatakan kata yang tampak tak selazim diutarakannya pada langit di atas permukaan laut. Kuning-kunang di perempatan samudera atlantik yang hilang.


Itulah awal. Itulah awal. Itulah awal.


“Jalbia, ternyata aku salah berprasangka. Kupikir kau tengah memikirkan guru yang telah membesarkan kita, ternyata kau memikirkan wanita itu? Ini amatlah mengejutkan bagiku. Wanita itu kau buat seperti jarum yang terus menusuk di jantungmu. Kau menderita penyakit yang sukar diobati, bahkan bagiku tidak mampu memberi jalan solusi, hanya bisa mengucapkan sedikit kata. Wanita itu telah menemukan cintanya, tidak baik bagimu berlarut-larut dengan perasaan yang sejatinya hanyalah seperti sekumpulan debu yang tidak berguna. Saat kau mengingat tentang wanita itu percayalah ada banyak hal yang bisa kau lakukan, yang bisa kau selamatkan dari dalam dirimu.”


“Sejak dari dulu aku tahu kalau kau sedih begini, kau memerlukan waktu untuk menyendiri. Bukan maksudku tidak ingin menghiburmu, tetapi memang kau memerlukan waktu untuk bisa bertenang diri, lalu bangkit dari rasa keterlukaanmu.”


Glosia mengeluarkan semua perkataannya. Jalbia merasa lebih baik. Sosok itu tidak salah menilai, sahabatnya lebih baik dari yang dia kira. Glosia usai beberapa saat itu dan melihat Jalbia tampak mulai membaik. Dia pun beranjak pergi dengan kalimat penghibur yang lumayan hendak membuat Jalbia tertawa. Glosia meninggalkan Jalbia sendirian untuk dirinya bisa memberikan waktu kepada sahabat lamanya itu untuk bertenang diri dan memberikan kebebasan berpikir untuk saat ini yang dia rasakan.


Jalbia tidak sedang patah hati. Dia hanya mengarangnya untuk menguji sifat kekawanan yang dimiliki Glosia. Pada akhirnya tidak salah baginya menilai, Glosia adalah sosok sahabat yang benar-benar mengerti tentang dirinya.


Itulah cerita mereka berdua, singkat tak ingin diperpanjang karena melelahkan.


Kalpra bersama Boba lain cerita dari mereka berdua. Menikmati saling duduk menatap permainan dadu yang hendak segera dimulai, tetapi Kalpra mengajukan diri sebelum dimulainya permainan dia ingin menceritakan sebuah cerita kepada Boba. Saat mendengarnya, Boba menyatakan setuju dan menyuruhnya bercepat agar permainan dadu bisa dimulai tanpa lama-lama harus menunggu.


“Baiklah, Boba. Aku akan memulai cerita milikku, kau harus mendengarnya.” Kalpra serius di awal, lantas tertawa gelak.


Entah apa maksudnya? Mungkin karena melihat wajah Boba yang tampak lucu dengan ketidakpercayaan yang mendalam.


“Semoga ceritamu itu tidak lucu.” Boba berkata. Menyahut ketus agar Kalpra berhenti tertawa.


“Siapa bilang ceritaku ini lucu? Aku tidak mengatakannya kepadamu begitu, ini cerita amatlah begitu teramat sangat terlalu mengerikan dan penuh perjuangan. Kau tidak akan bosan mendengarnya.”


Kalpra mendramatisir. Dia menirukan suara angin, ombak dan petir. Kapal yang hendak karam diterjang ombak badai. Boba cukup menikmati dengan santai, tidak tertarik.


***


Kau tahu, Boba. Cerita ini tidak hanya membuatku merinding, tetapi juga di akhir aku menemukan sebuah rasa perjuangan seorang yang ingin mendapatkan sesuatu dengan berusaha dan terus berusaha.

__ADS_1


Tidaklah mengapa saat ini kau tidak percaya, tetapi lihat besok dan besoknya hingga seterus sepanjang masa, saat kau sendiri bertemu dengan seseorang yang menjalani hidup terus berusaha. Orang itu akan mencapai maksud yang dia inginkan.


Aku pernah menandainya di peta pelayaran, Boba. Sebuah peti besar dipenuhi perhiasaan dan perbekalan surat pajak menandakan kekayaan yang melimpah ruah. Banyak kosa kata yang saat ini tidak kusebutkan. Betapa kau tidak usah tahu tentang itu dan tidak penting untuk kau mengetahuinya.


Aku tidak bermaksud ingin memamerkan semua itu, sifat pamer amatlah tercela bagiku. Sifat pamer itu amatlah tercela. Kau tidak mengenalku begitu, bukan? Akui saja, jangan diam.


Inilah ceritaku tentang semua itu.


Di ujung belahan samudera lautan yang luas. Lantas menyusuri pelayaran hingga tiba ke sebuah wilayah perairan. Masuk ke daerah terpencil, sungai panjang ditumbuhi akar bakau hingga ke hutan yang lebat di antara pepohonannya. Rimbun dan tertutup penuh tak tersentuh oleh sinar matahari, sinar itu tidak dapat menembusnya. Nisbah dari saking tebal dan lebatnya itu hutan. Bahkan kawanan serigala yang lihai saja bisa tersesat bingung tanpa arah dan bimbang entah kemana akhirnya mati.


Salah seorang pedagang tua menebang sebuah pohon. Sajaratul Urwa. Pohon yang konon dicari-cari untuk menjadi obat bagi sang Ratu di istana Arujan Makabinca.


Di sanalah petualangan itu tersimpan untuk bertemu dengan titik temunya dan semua itu usai telah ditemukan oleh seorang pedagang tua yang sukses mendapatkan pohon itu. Pohon langka yang susah dicari.


Penyair tua itu. Eh, pedagang—maksudnya. Bisa dibilang dia juga termasuk bisa dalam bersyair, melantukan suara. Timbangan nada yang sesuai, pantas ikut kontes bersyair. Bunyi dan alunan stabil yang kala itu dia membaca sebuah syair hingga membuat sekawanan burung beterbangan mendekat ke arahnya. Merdu sekali, seirama hutan ikut mengikuti dengan suaranya seakan disentuh angin. Bertiup ke barat, sekumpulan ikan juga timbul di permukaan ingin mengiringi iramanya.


Sekumpulan pohon daunnya ikut bersuara. Di hutan itulah pedagang tua telah menemukan keajaiban nan menakjubkan pandangan matanya. Hidup yang terasa seakan mewakilkan perasaan senang.


Berapa imbalan yang diinginkan orang-orang, tidak dalam jumlah sedikit. Bukan main, bahkan sang Ratu rela memberikan seluruh istana kerajaannya hanya untuk sebuah pohon yang akan menyembuhkannya. Bagi siapa pun yang berhasil mendapatkannya, tentulah ini akan menjadi kabar yang sangat mencengangkan. Para bajak laut juga sepertinya berebut mencari pohon itu.


Pohon itu tidak besar, teman. Kecil sehelai benang dan kata menebang itu digunakan sebagai pemanis untuk perjuangan yang amat sulit dalam mendapatkannya.


***


“Heh, kau bercerita seperti orang mabuk. Mana ada hal demikian, itu jelas karangan kau saja.” Boba menyatakannya simpati berterus terang. Jujur dengan sikapnya yang menyebalkan kepada Kalpra yang tengah bercerita. Cerita absurd.


“Baguslah.” Boba menjawab pendek. Bagus?—baginya itu hal bagus. Cerita karangan Kalpra baginya mudah untuk ditebak bagaimana jalan ceritanya.


“Tujuanku mengajakmu dari awal adalah bermain dadu. Bukan mendengarkan cerita konyolmu itu, walaupun itu konon pernah terjadi tepat di negara Kaisawah. Tetapi, cerita seperti itu sudah lama. Sudah basi, bahkan aku sudah sering mendengarnya dari mulut ke mulut. Dan kau tahu cerita itu anehnya berkembang menurut versi tiap tiap orang hingga bagiku susah untuk mencari keaslian ceritanya.” Boba menjelaskan akan hal itu dan setelahnya berlagak bijak. Pun dengan gaya gerakan dan ucapan kata konyolnya—terdengar selintas seperti orang yang merasa sok jago dalam hal menerangkan.


Kalpra malah tertawa. “Kau lebih mabuk dan aneh dariku, Boba. Kau menyebutku mengarang cerita, lalu kau berkata itu pernah terjadi di negara Kaisawah. Apa itu? Kau ingin membuat lelucuan di depanku?”


Kalpra semakin tertawa, terpikal malah. Boba menggaruk kepala. Dia berkali-kali berucap agar Kalpra melupakannya. Itu hanyalah sebuah kekhilafan katanya, astaga. Malunya bukan kepalang tanggung.


“Kau sungguh menertawakanku. Ini amatlah tidak bijaksana, bagi seseorang yang hidup seperti kita. Menikmati hal ini mungkin tidak ada salahnya, kau serupa suara keledai yang amatlah kubenci.” Boba menggerutu, mencoba untuk mengalihkan topik pembicaraan.


Kalpra. Ya, dia cukup mangut-mangut saja, mengucapkan dua kata. Kau terlalu. Haha. Sebijak-bijak apa pun dirimu itu tak akan bisa membuatmu kurus, Boba. Makannya saja yang harus dikurangi, jangan suka.


“Baiklah—baiklah, Kalpra. Kita lanjutkan saja bermain dadunya. Agar kita bisa mengetahui siapa yang akan menang dan siapa yang akan kalah. Ini juga akan membuktikan kecerdasan otakmu.” Boba cukup tersenyum menyeringai.


Kalpra hanya bergerak kepala ringan. “Kau tahu, Boba. Orang bodoh itu banyak bicara daripada bertindak, banyak alasan, banyak merendahkan orang lain. Sedangkan orang pintar lebih banyak diam, lebih banyak menyalahkan dirinya ketimbang orang lain dan berusaha memperbaiki kesalahannya dari waktu ke waktu. Panjang masanya.”


Dari dulu Kalpra berusaha untuk bisa menahan diri. Akan tetapi, perkataan Boba itu sungguhlah amat menyebalkan. Kali ini dia menggunakan kalimat halus, melakukan kalimat singgungan yang mantap.

__ADS_1


“Terserah kau saja.” Boba seperti tidak ingin berdebat. Dia tahu itu akan berujung ke arah yang lebih tidak dia sukai.


Kalpra tertawa. “Kau mulai lebih dulu.”


Boba menepis. “Kau saja yang memulainya lebih dulu, Kalpra. Dan ingatlah ini, aku yang nantinya mengakhiri permainan ini dengan kemenangan mutlak!”


Kalpra tersenyum paksa. Mengiakan saja dan sebenarnya dia malas menjawabnya. Dia mengiakan, memulai permainan lempar dadu lebih dulu daripada Boba. Begitulah, mereka berdua hingga tak sadar di atas sana burung camar terbang mengikuti kapal berlayar. Suasana pelayaran ini terasa melegakan sekali, tanpa memikirkan masalah. Tanpa berbelit-belit.


Pelayaran mereka telah memakan waktu sekitar tiga hari lamanya usai bertolak dari pelabuhan. Melintasi malam siang dan awan putih masih setia menemani. Tiada badai, tiada hujan. Hanyalah pelayaran yang tenang dalam menyusuri lautan.


Tabra usai di atas layar pun turun. Tidaklah lama dia berada di sana. Sekedar melihat-lihat. Menyapa Kalboza yang masih bergelantung di tali-tali layar.


Kalboza melepaskan diri, terjun ke dek kapal dengan gayanya yang dibuat sekeren mungkin. Beberapa memuji gayanya, Tabra menepuk punggung Kalboza berkali-kali.


“Kau memang tampak sehat bugar, Kalboza. Kau rajin berolahraga?” Tabra berbasa-basi.


“Tentu saja, Tabra. Haha... bahkan aku lebih rajin darimu.” Kalboza sedikit tertawa seperti kalimat itu tengah menohok Tabra.


Tabra terpelecok saat mendengarnya. Ikut tertawa sayangnya, sih. Itu palsu.


“Ya, sudahlah. Haha.. kau memang benar, beberapa waktu ini aku seperti orang yang terserang penyakit malas, susah bergerak. Kau tahulah efek lautan cukup buruk bagi kesehatan diriku, aku sedikit merindukan daratan dan menyalakan api unggun.” Tabra menjelaskan apa yang dirasakannya.


Api unggun?—begitulah, api unggun. Ya, api unggun. Api unggun. Itu, api unggun.


Kalpra diam memikirkannya. Api unggun? Hmmm.. api unggun?—Api unggun?


Tabra ternganga sedikit melihat ekspresi Kalboza dan mencoba mengalihkan topik pembicaraan. Lihatlah langit di sana, ufuk yang dipandang indah oleh mata.


Nikmat tersendiri bagi seorang pemikir yang tengah menjalani masa bertaubat dari segala dosa dan jalan maksiatnya. Inilah ajang menjulangkan renungan.


Usai dari semua itu, Tabra memulai topik baru yang cukup menyenangkan. Kalboza hanya bisa nyengir merasa risih dengan semua itu. Tapi, tetap dipaksa ikut tertawa.


Dua jam berlalu. Topik serius mulai dibicarakan. “Aah, aku baru ingat ikutlah denganku menemui kapten. Kita akan membahas tentang apa dan kenapa wajah kapten seperti tidak punya pendirian. Kau tahulah, dia bukan kapten sungguhan.”


Tabra memulai ajakan. Kalboza hanya berdiam, bersitatap aneh dengan Tabra yang mengatakan hal demikian, mengapa seorang sahabat kapten mengatakan hal demikian? Cukup sulit ditebak. Hati siapa yang tahu? Tidak ada selain dirinya dan antara alam bawah sadar juga alam yang saat ini dia ada di sana. Berdiri dan berbincang dengan sosok Kalboza di depannya. Itulah yang saat ini dia rasakan.


Mengapa dunia ini punya banyak misteri? Punya banyak pertanyaan yang memenuhi otak dan berputar diseputar alam benak dan pikiran. Di sebuah rasa yang membuncah dan tak mampu ditegah, pun dibuat-buat menjadi ajang pertanyaan.


“Mengingat lamanya kau bersamanya, Tabra. Seharusnya selama itu kau sudah mengenalnya. Apa mungkin kau sering tidak sependapat dengannya?” Kalboza melontarkan pertanyaan. Tabra tersinggung saat mendengarnya.


Otomatis tidak menjawab, hanya membalas dengan ucapannya, “Ikuti saja aku menemui kapten, jangan bertanya apa pun.”


Kalboza tidak banyak tingkah, dia usai menyatakan setuju. Mereka berdua pun beranjak—berjalan menuju kabin di mana Kapten Akma Jaya itu sedang beristirahat.

__ADS_1


Ini baru lewat dua jam. Istirahat sang kapten baru saja di mulai dua jam lalu. Astaga, itulah alasan mengapa Tabra mengajak Kalboza ikut bersamanya sebagai tameng untuk melindungi dirinya dan berinisiatif nanti menyalahkan Kalboza.


Kambing Hitam dalam istilah idiom bahasa Indonesia. Mereka berdua berdiri di sisi pintu ingin mengetuknya. Inilah Persiapan Menuju Jenjang Perencanaan. Awal mula di mana strategi itu akan dibicarakan.


__ADS_2