Bajak Laut Hitam

Bajak Laut Hitam
CH. 102 – The Story Of Atlana: Tempurung


__ADS_3

Di wilayah ini, di tempat kaki berpijak, mereka saling memandang, hanya Kapten Atlana yang mengepal tangan bersiap menabok, tetapi tak lama kemudian dia tampak berangsur-angsur menghela napas dan mengatur pernapasan untuk menenangkan dirinya.


"Ada apa, Atlana?" tanya Katak bernada sinis dengan senyuman terlukis kesal.


Kedua mata itu melirik ke genggaman tangan Kapten Atlana. "Pukullah aku dengan tanganmu!" Dia meminta serius tak tanggung-tanggung, wajahnya konyol.


Kapten Atlana tampak tenang sejenak, kepalan tangan sengaja dia lepas, tatapan matanya santai, tidak menunjukkan keinginan memburu. Lantas, dia mendekat perlahan.


BUUK!


Seketika pukulan keras mengenai permukaan perut si Katak, dia terpelanting jauh hingga mencapai kolam di bawah menara.


Air memercik, kerumunan sontak kaget, tetapi alangkah buruk perangai mereka, raut wajah mereka tersenyum bahagia, tak ada membela dan mencegahnya.


Bahkan para kapten itu berusaha menyembunyikan tawa sadisnya.


Perkelahian yang berasal dari sebuah ucapan semata, semacam fatamorgana melahirkan peristiwa di luar batas keinginan.


Setelah puas meninju hingga membuat Katak terpental. Kapten Atlana tersenyum sinis.


"Kuharap kau belajar. Pandailah dalam menjaga lisan, ikatlah dengan belenggu kuat, sesuatu yang terkeluar darinya bisa menyeretmu hingga ke mulut harimau, kau akan diterkam, bahkan mati tertinggal belulang!" Kapten Atlana menghunus pedang seraya berjalan.


Kemudian, Kapten Atlana mendekat ke arah Katak yang sudah tak berdaya, sakit mendera di sekujur tubuhnya.


Suara itu jelas dapat didengar oleh banyak orang, mereka terbelalak dan cukup menelan ludah.


Hingga mereka berdekatan. "Kau ingin membunuhku?" Katak bertanya, sedangkan badannya masih tak berdiri, menatap dengan napas berembus sakit.


Ajadala menyeringai, sedangkan Asgaha berusaha menenangkan dirinya dengan mendalami sosok pemberani di drama klasik yang pernah dia tonton, sekarang sikap itu sedang beradaptasi, kemampuan seseorang yang jarang ditemui.


Menirukan sosok orang lain, palsu dalam pandangan, beraksi dalam diam.


Pedang Kapten Atlana teracung, dia ayunkan santai, menebas perlahan terlihat cepat. Namun, ternyata tidak jadi, dia hela napas berat tuk menyingkirkan pedangnya.


"Atlana, mengapa kau ragu?" tanyanya lagi seolah-olah ingin menawarkan kembali roti kering kepadanya.


Kapten Atlana berusaha tak menghiraukan apa yang telah dia dengar, helaan napas berat kembali keluar kemudian mendongak, pedang dikembalikannya ke dalam kompang.


Cukup lama, matanya terpejam. Dia kembali menoleh. "Adakalanya, jika malam ini, aku lebih santai." Kapten Atlana tersenyum dengan bentuk garis tipis seraya beranjak menjauh.

__ADS_1


Yatama sekadar menduga dan menebak, bahwa Kapten Atlana seperti mengalami trauma dalam membunuh seseorang.


Namun, itu sebagai tebakan yang mungkin keliru, dia tidak mengetahuinya, jelas sekali tebak menebak itu tidak seharusnya dilakukan, nanti akan menimbulkan berbagai macam keanehan.


Kerumunan? Jangan tanya. Para kapten? Jangan tanya. Sudut pandang mereka terdiam dan cukup menyimak. Adapun Katak, dia tak tinggal diam, berdiri cepat seraya menghunus pedang.


Kapten Atlana berjalan tidak mengetahuinya, dari arah belakang Katak melesat dengan sebilah pedang di tangannya. Hingga dia menebas, Kapten Atlana terbesit insting peka, lantas menoleh dan menangkis cepat tebasan tersebut.


Sekarang, mereka bersitatap dengan gertakkan gigi yang jelas terdengar dari Katak, pedang mereka membentuk huruf silang, terpaku dalam hitungan detik, tak menunjukkan pergerakan sedikit pun.


"Atlana, kau cukup waspada!" Katak berseru dengan suara ganas, setelah itu dia meloncat mundur.


Kapten Atlana bersipit mata. Namun, tak lama dari itu, orang yang semula menaiki menara, sekarang dia menuruninya.


"Hoooiii!" Dia berseru dari ketinggian.


Kapten Atlana mendongak bersama orang-orang, semuanya tidak ada yang tertinggal, walaupun di tengah gelapnya malam, suasana pada saat itu tak nampak, samar memandang, tetapi mata tak bisa mengingkari bahwa mereka ingin mendongak, menatap seruan tersebut.


Katak meletakkan pedangnya ke dalam kompang. Begitu pun Kapten Atlana, mereka berdua tidak jadi melakukan pertarungan.


Para kapten menghampiri dan bermaksud menghadangnya tuk melontarkan pertanyaan mengenai detail kerusakannya.


"Kurang ajar, inti menara telah dicuri oleh mereka!" Dia berseru lantang, wajahnya marah tak kuasa menahan ucapan.


"Apa?"


"Ini tidak bisa dimaafkan! Mencuri adalah tindakan penjahat, bahkan inti menara adalah kepunyaan Wilayah Nanaina, tidak berhak bagi siapa pun yang telah melakukan pencurian bernapas senang, mereka harus mati untuk menebus kesalahannya!" Salah seorang bersuara lantang, menggetarkan telinga orang yang mendengarnya.


Dalam sudut pandang berbeda. Benar sekali, mencuri suatu barang adalah bentuk kejahatan, seorang penjahat yang menjelma sosok manusia.


Dalam sudut pandang mereka bertambah argumen kuat yakni sekelompok orang yang telah mencuri inti menara, tidak pantas untuk hidup, lebih baik mati tenggelam di dasar lapisan tanah terdalam.


"Kita tidak bisa membiarkan kelompok Bajak Laut Hitam itu terus berkembang, kita harus memusnahkan kelompok mereka!"


"Menurutmu?"


"Kelompok Bajak Laut Hitam itu harus kita masukan ke dalam daftar buronan dan daftar siksaan terberat di seluruh lautan."


"Jadi, bagamana? Apakah kita akan mencarinya?" Salah seorang bertanya, ekspresi puas terpampang di wajahnya, mungkin karena mendengar ucapan lantang dari seseorang yang berada di sampingnya.

__ADS_1


Akan tetapi, pertanyaan itu sedikit konyol, entah situasi tak memihak sekarang atau kenapa, tidak diketahui alasan detailnya.


Beberapa raut wajah bajak laut lainnya mengernyit tak habis pikir mengenai ucapan yang telah mereka dengar.


Salah seorang menunjukkan ekspresi marah, lalu berucap lantang, "Kauu bodoh, otak tempurung!" Tangannya menunjuk-nunjuk isi kepala si lawan bicara, suara yang terlontarkan cepat, melesat masuk ke lubang telinga, dan yang lain pun tampak mengiakan karena secara logika mengucapkan tak semudah perbuatan, mudah di mulut berat dipukul.


Dunia yang terbentang luas dengan dataran, pulau, laut, dan berbagai wilayah, semua itu dicari pun satu per satu tak akan bisa bertemu, jika hanya mengetahui dari nama dan sekilas ciri-ciri semata. Terkecuali takdir, hanya itu. Tidak lebih.


Akan tetapi, dari beberapa mereka tidak mempercayai takdir, jadi pandangan itu dihapus, dunia berjalan sesuai keinginan dan pilihan katanya.


"Lalu apa yang akan kita lakukan, tanpa inti menara, kita tidak bisa berjudi."


"Lantas, kau ingin mencarinya?"


Melalui penuturan lantang, bahkan wibawa memancar keras, seketika dia terdiam menunduk, tidak dapat berkutik lagi.


Terlintas dalam benak setiap orang, kata yang lebih tepat sepertinya bukan mencari, melainkan bertemu.


Begitu saja, padahal sebelumnya tidak mengapa, mungkin sekarang lebih sensitif karena perasaan kesal sedang meluap, dan bingung tuk melampiaskannya kepada siapa sehingga melontarkan kekesalan kepada orang yang dipandang pantas untuk dimarahi.


Di lain keadaan, saat itu Kapten Atlana hanya tersenyum berangsur-angsur berubah tawa seraya bertepuk tangan.


"Hahaha ... Sebelumnya telah aku katakan, tanamkan niat kalian untuk membunuh tanpa terkecuali, jangan membiarkan kelompok mereka bernapas senang. Jika kalian bertemu dengan mereka, di mana pun mereka berada, jangan pernah ragu!" Kapten Atlana kembali berucap memandang mereka sejenak.


Sekarang dia menunjukkan tatapan lurus tak menoleh ke arah mana pun.


"Ajadala, Asgaha!"


"Saatnya kita pergi dari kerumunan ini," ucapnya santai terbilang sangar.


Di tempat itu, hanya Gogoria yang tidak ada, entah kemana dia pergi, entah di mana sekarang dia berada. Pada waktu itu, saat dia melihat jejeran kapal, dia pergi tak menghiraukan apa pun.


Kepergian Kapten Atlana dari tempat kerumunan meninggalkan para bajak laut yang sedang dilema. Bahkan Yatama dan juga Katak, berakhir sudah, selamat tinggal.


Pada malam hari itu, acara perjudian yang sudah mereka gadang-gadang, nahas dibatalkan, kekecewaan memenuhi pikiran.


Semua rencana mereka telah rusak total, betapa malam hari itu, kemarahan mereka memuncak dahsyat, ocehan, makian, tangan mengepal, napas mendengus, dan sorakan kemarahan yang tiada terbendung lagi, semua itu bersahutan menyelimuti suasana.


Perlambat waktu berputar memenuhi hari yang kini datang dan pergi, dalam perputaran waktu, arus air laut bergejolak, berombak menerpa kapal yang sedang berlayar.

__ADS_1


Kebencian itu ada dan nyata, di saat dunia dirasa tak lagi ada, perasaan ikut lebur di dalamnya, ketika nyawa tak lagi berharga, kematian merajalela dan seterusnya. Inilah awal kebencian itu yang tertanam subur di dalam sanubari, para bajak laut penuh kemarahan seraya melantangkan suara.


__ADS_2