Bajak Laut Hitam

Bajak Laut Hitam
CH. 65 – Bab Masa Lalu : Harapan itu Hanyalah Mimpi


__ADS_3

Akma Jaya menatap dengan wajah serius, sedangkan Kapten Atlana menancapkan pedangnya ke tanah, memandang dengan tatapan yang hampir membuat orang di sekitar Akma Jaya gemetar.


"Pernahkah kau merasa, Akma Jaya?"


Kapten Atlana bertanya, sedangkan Akma Jaya dipenuhi hawa membisu, membungkam mulut, membiarkan Kapten Atlana berucap terus menerus.


"Apa yang kau pikir dengan ujaran kebencian? Apa yang kau ketahui tentang itu, apa hanya ujaran itu yang kau inginkan? Atau hanya gambaran ilusi tak bergambar?"


Kapten Atlana menyambung pertanyaan, hampir saja, jiwa itu meronta habis-habisan, berderaian asa menghabiskan duka yang ada.


"Ini lebih rumit dari yang kuduga!" Akma Jaya menggelengkan kepala.


"Apa yang rumit? Kau tak bisa melihatnya, dunia ini begitu luas dengan benua, samudera dan segalanya, pikirkanlah Akma Jaya!"


"Apa kau tak bisa memikirkannya, apa kau kaku melihatnya? Jika kau berpikir demikian alangkah pendek sekali akalmu itu."


"Perkuatkanlah apa yang ada, kau dan kelompok sampahmu itu hanya akan menjadi bahan lawakan bagi para bajak laut!"


"Pikirkanlah kekuasaan apa yang kau inginkan, kehidupan seperti apa? Bagaimana pun itu, tetaplah pada jalan yang kau pilih!"


"Aku dari dulu hidup dibawah bimbingan ayahku, Kapten Gaiha. Dia mengajariku banyak hal."


"Banyak hal yang tidak kau ketahui!"


Kapten Atlana terus mengucapkan kata, sedangkan Akma Jaya hanya berdiam.


"Tentang apa yang terlihat, kau berjalan dalam bayangan hitam yang mengatasnamakan keadilan, aku jelas melihatnya!"


Akma Jaya mengangguk pelan.


"Atlana, apa kau mengerti atau tidak mengerti?" Akma Jaya berucap.


Kapten Atlana terkekeh mendengarnya, wajah penuh tawa yang membuat Akma Jaya kembali berdiam.


"Kini, kau bertanya, kau berdiam, kau hanya mengangguk pelan, apa itu sebuah jawaban dari perkataan yang barusan kuucapkan?"


"Kau layak seperti sampah yang terbuang tak diperhatikan dengan baik, bagaimana mungkin kau hidup dalam ketentraman yang menipu itu, apakah kau melihat dengan jelas, mata yang melihatnya, hatimu berbicara, hidupmu dalam arah membingungkan!"


"Kau berjalan dalam aliran sungai tanpa sampan, kau berenang, kau tenggelam, kini kau meninggalkan semua itu dalam mimpi indah yang kau harapkan adalah kenyataan!"


"Nyatanya, semua itu, hanyalah harapan tanpa dasar, kau hidup dalam alam mimpi yang membingungkan, sadarlah. Kau terbangun, tersiksa dalam alur cerita yang membingungkan, kapan kau akan sadar?"


"Apakah kau mengerti kenyataan, sebuah harapan yang kaupanjatkan, apa yang kau mengerti? mungkin sangat jauh berbeda dengan apa yang kumengerti!"


"Perbincangan kita tidak ada habisnya, apakah kau mengerti sedikit saja tentang semua itu, tentang apa yang kau lihat? Apa yang kau rasakan? Mengapa hidup terasa berbeda? mengapa? Apa itu caramu? Apa itu kebiasaanmu? Apa itu yang kau sebut kehidupan? Apa itu sikap sesungguhnya dari apa yang terlihat, aku menyaksikannya dengan jelas, Akma Jaya!"

__ADS_1


"Kita hidup di zaman yang berbeda dari apa yang kau lihat, kebencian, kemarahan, kemerahan warna darah yang mengalir di tanah ini, apakah kau melihatnya? Apakah kau merasakannya?"


"Kau masih saja membual dengan hidup yang tak ada artinya, kau menjalin harapan, terlihat jelas harapan itu sudah putus, tetapi kau tetap bersikeras ingin menyambungnya, apakah kau sadar itu salah?"


"Salah satu hal yang tak bisa kupastikan, apa pun itu rasanya menyebalkan, apa yang kau kira hidup hanyalah sebatas nyawa melayang terkena goresan pedang!"


"Beruntutan apa yang kudengar, apa yang kulihat, tersusun rapi dalam lembaran penuh catatan."


"Apa yang kau ingat dengan harapan, tidak ada, Akma Jaya!"


"Kau hidup di alam mimpi yang kini kau rasakan!"


"Mengapa ada luka, mengapa ada darah?"


"Apakah kau tidak terima dengan takdir semua itu?"


Akma Jaya menggelengkan kepala.


"Tidak, Atlana. Aku mengerti semua itu!"


Akma Jaya berucap setelah berlama-lama menyimak dan mendengarkannya.


"Jelas, kau sedang berbohong, Akma Jaya!"


"Satu hal, aku mengerti tentang dunia yang dipenuhi hawa kebencian, itu tidak akan bisa dilepaskan, itu tidak akan bisa dihilangkan, semua itu akan berakhir pada masanya." Bernada sedih, penuh haru.


Akma Jaya hanya bisa menelan ludah, mendengarkan apa yang dilontarkan oleh Kapten Atlana.


Suasana saat itu, seperti petang ditelan malam, berdebar atmosfer, bergema ombak menyisir pantai, sungai-sungai yang mengalir memenuhi asa penuh luapan, amarah tertahan oleh kesedihan hati yang mendalam.


"Sebuah masa yang terlewat, berganti tahun, berganti windu, berganti dasawarsa, hingga berganti abad, waktu itu singkat, Akma Jaya!"


"Apakah kau pikir? Kau akan menjadi kebanggaan banyak orang? Pikirkanlah ini, kau hidup dalam perputaran waktu yang kian meninggalkanmu, hidup dalam perlayaran yang tidak ada artinya apa-apa."


"Hidupmu sia-sia, hancur berantakkan semuanya, apakah itu yang kau inginkan, hidup di zaman yang tidak ada moralnya sama sekali!"


"Apakah kau tidak menyadari semuanya?"


***


"Bumi dan Langit!"


Kapten Atlana mulai melantunkan syair bermakna, tetapi hanya dia yang mengetahui makna tersebut.


Akma Jaya berwajah heran.

__ADS_1


"Apa yang kau maksudkan?" Akma Jaya bertanya ringkas.


"Kebahagian dan kesedihan!"


"Kecintaan dan Kebencian!"


Suasana berubah, angin bertiup sedikit kencang disertai ucapan yang semakin membingungkan.


"Apa yang kau pikirkan?" Akma Jaya bertanya heran.


Kapten Atlana tersenyum sinis. "Tidak ada."


"Akma Jaya, bangunlah dari mimpi burukmu, kau hidup dalam keadaan tertidur seperti bayi yang digendong oleh ibumu!"


"Ibu yang bernama Haima, kau terlalu menyayanginya, apakah yang kukatakan itu benar?"


"Kau pasti membenci orang yang telah membunuh Kapten Lasha dan Haima, kedua orang tuamu yang sangat kau cintai."


"Cinta akan melahirkan benci, kebencian yang mendalam akan merusak hati nuranimu dan menyayat habis daging kental dan menyisakan daging lembek dan penuh dengan warna kehitaman."


"Buah yang jatuh tak akan jauh dari pohonnya. Apakah kau tahu itu, Akma Jaya?"


"Kapten Lasha adalah seorang pembunuh, kau anak dari seorang pembunuh, apakah tidak pernah terpikir olehmu kebencian melahirkan dendam, berakhir. Semua akan lenyap!"


"Aku tak pernah habis pikir, mengapa kalian datang merusak kesenanganku, kau merusak mutiara yang ingin kudapatkan!"-


"Aku Atlana, pada hari ini aku akan menebas habis kalian semua!"


"Kau yang berdiri memimpin, tetapi kau tak bisa mengarahkan perintah tegas kepada wanita itu!"


"Wanita yang telah menembak sembarangan, membuat anak buahku tertembak kemudian mereka mati, jelas kalian harus membayarnya!"


"Akan tetapi, aku sudah mengatakannya untuk berduel dan duel ini akan menentukan segalanya, apakah kau layak bertanding denganku atau tidak layak sama sekali."


"Aku sudah memperkirakannya, kau tidak mungkin bisa untuk mengalahkanku."


"Aku adalah pemegang gelar Pilar Tujuh Lantai yang keenam, kau tak bisa memandang apa pun, kau hanya mampu memandang ke arah bawah, menunduk lesu, perasaan penuh bersalah!"


"Kau adalah anak Kapten Lasha, tetapi kau lahir, dari dulu hingga sekarang kau hidup sendirian, sebatang kara tanpa kasih sayang kedua orang tua!"


"Kau hidup dalam bayangan, hidup dalam penuh harapan yang dusta, bagaimana mungkin kau mengira hidupmu itu berguna, Akma Jaya!"


Begitu saja, tetapi apa yang tertera diatas memang begitulah, itu membingungkan. Terkadang apa yang dikatakan oleh Kapten Atlana berbeda jauh dari apa yang sudah dipikirkan.


Akan tetapi, kenyataan kadang membutakan segalanya, semua itu yang ada, entahlah. Itu membingungkan.

__ADS_1


__ADS_2