Bajak Laut Hitam

Bajak Laut Hitam
CH. 21 – Keterangan Lebih Lanjut


__ADS_3

Pada waktu yang sama dengan Kapten Lasha yang tiba di desa Anmala. Tabra tengah berjalan bersama bos penculik. Dia ingin membawanya ke tempat tabib untuk mengetahui keterangan lebih lanjut dari mulut laknat si bos penculik.


Kedua tangan bos penculik terikat tali. Tali yang sebelumnya diberikan penjaga, ditariknya bagai menarik kambing, Tabra menjadi tontonan, perhatian, dan tatapan banyak orang, sorotan mata mereka berpusat ke satu titik. Astaga? Mereka cukup heran mengapa ada seorang anak dengan santainya menarik seseorang yang lebih tua darinya.


Akan tetapi, mereka tidak berani menegurnya karena mereka mengetahui Tabra termasuk anak yang terpandang. Semua orang di desa mengetahui bahwa dirinya adalah anak dari kaki tangan Kapten Lasha. Di samping itu, baru saja berlalu, saat mereka berkumpul, masing-masing menatap seorang anak yang berhasil dalam melancarkan serangan terhadap seorang bajak laut, hal itu semakin menambah wibawa di mata orang-orang.


Bos penculik pura-pura guntai. “Hei, bocah. Pelanlah sedikit ....” Dia memaparkan suara lesu. Di hal lain, wajahnya bersimbah keringat. Dia seka perlahan. Tabra juga sama, tetapi dia tidak mengeluh.


Udara panas berembus, daun kelapa seakan melambai, tetapi terpaksa karena disentuh angin.


Tabra menghela napas, menatap bos penculik. “Pelan? Enak saja. Semakin cepat kita ke sana, akan lebih baik daripada kepanasan.” Dia mendengus kesal.


Orang itu mengangguk, tersenyum. “Ah, ya. Benar, apa yang kau ucapkan. Di samping itu, aku punya ide, lebih baik kita berlari?” Orang itu memberi saran—sok akrab.


Tabra tertawa. “Ide bagus. Baiklah, kita akan berlari!” Dia refleks menepuk bahu.


Persiapan ancang-ancang ingin berlari. Dengan kuda-kuda mantap, tangan bos penculik masih terikat, talinya dipegang Tabra.


NGUS! Mereka memacu langkah. Mereka berlari sekuat tenaga. Terik matahari menjuntai panas. Di sepanjang jalan, derap langkah bergema menyusuri jalanan.


Beberapa saat berlalu, mereka kelelahan, menghirup napas sejenak, mengembalikan tenaga. Mereka berduduk di tengah jalan. Bos penculik melindungi wajah dari terik matahari. Orang yang berjalan menatap mereka penuh tanda tanya dan heran.


Astaga? Tidak ada kerjaan. Hari panas begini, lari-lari, kelelahan. Bodoh sekali, memilih beristirahat di tengah jalan. Sebagian orang yang berjalan mengomel, sebagian lagi bergumam.


Tabra menengok ke wajah setiap orang, tidak peduli. Dia sudah lelah, bos penculik sama lelahnya. Dekat dari arah pandangan, ada sebuah Pavilliun.


Tabra tersenyum senang. “Pavilliun, lebih baik kita mampir ke Pavilliun itu!” Tabra berdiri seraya menunjuk.


Dia berjalan dengan menarik seutas tali di tangannya, bertumpu kuat pada pijakan menarik bos penculik yang tetap kokoh berduduk. Tenaganya hampir terkuras, tidak kuasa untuk menarik.


“Apakah kau ingin mati di sini?” Tabra bertanya marah, melotot.


Bos penculik tertawa memuncratkan air liur seraya melontarkan ucapan, “Cih, kau saja tidak bisa menarikku!”


“Ayolah ....” Tabra berusaha menarik, menguatkan tekad hingga terjatuh. Bos penculik semakin tertawa.

__ADS_1


Tak berlangsung lama, dia memelankan suara tawa. “Bocah, aku merasa kasihan dengan dirimu. Baiklah, aku akan menurutimu.” Tiba-tiba dia berdiri, berucap sedikit berbeda dari tabiatnya.


Mereka berjalan menuju ke Pavilliun, beristirahat di sana, usai dari beristirahat, Tabra kembali melanjutkan perjalanan bersama orang itu—masih terikat tali.


Waktu berlalu, mereka telah sampai di tempat keberadaan tabib. Mengetuk pintu. Tabib membuka pintu. “Tabib, aku telah membawa pelakunya. Dialah orangnya!” Tanpa basa-basi, Tabra melantangkan ucapan, menunjuk bos penculik.


“Oh, jadi dia adalah pelakunya. Orang yang telah meracuni Akma Jaya.” Tabib menarik napas, mengelus jenggot putihnya.


“Benar, dialah orangnya. Orang yang telah meracuni Akma Jaya!” Tabra dipenuhi tatapan amarah. Tangannya mengepal, rasa lelah selama diperjalanan hilang melayang. Bos penculik mendengus, hendak tertawa.


Orang itu diseret ke dinding, dijerat erat. Momen berlangsung, Tabra meminta tabib untuk memulai pertanyaan.


Tabib memandang ke arah bos penculik. “Bisakah kau mengatakan kejadian yang sebenarnya? Bagaimana caramu bisa meracuni Akma Jaya?”


Orang itu tersenyum, menyipitkan mata penuh sinis, mendengus. “Jika aku menceritakannya, kalian pasti akan bosan karena ceritanya akan panjang, heh. Kalian akan lelah, apakah kalian ingin mendengarkannya?” Penuh panjang lebar, awal dan akhir berbeda. Intinya.


“Sebelum aku bercerita, lepaskan tali ini, aku kesusahan bercerita dengan tangan yang terikat.” Bos penculik terlunjur kaki, menatap mereka berdua.


Tabra bersekedap, memelototi. “Apakah kau mengira kami bodoh. Cepat bercerita!” Seorang anak yang dipandang kecil itu mendesak marah.


Bos penculik mengangguk lesu. “Baiklah, aku akan menceritakannya kepadamu bocah dan kepadamu kakek tua.” Dia bersuara serak, sejenak menunduk.


Bos penculik kembali menatap mereka. “Tapi, aku telah mendapatkan keberuntungan. Di kantongku ada sebatang suntikkan. Dia tidak menyadari saat aku menyerang, saat itulah aku menyuntikkan sedikit racun ke area tangannya. Bodohnya, dia tidak menyadari.” Bos penculik tertawa, lanjut berbicara. “Racun itu tergolong ke dalam kategori biasa, pada umumnya setelah terkena, mengalir dalam aliran darah dan dalam waktu dua puluh empat jam, racun tersebar ke seluruh tubuh, lalu melumpuhkan anggota sang penderita.”


“Juga, aku jengkel. Di saat dia mengatakan kepada Kapten Lasha ingin menjadikanku budak. Aku kembali menolak, memberontak Kapten Lasha, tetapi sialnya, dia menuruti keinginan anaknya dan menjadikanku seorang budak.”


“Di saat itu, ada beberapa celah. Aku menyuntikkan kembali racun, kali ini, racun yang kusuntikkan adalah racun serangga mematikan sedikit kucampur dengan beberapa racun lainnya. Aku telah lama mempelajari ilmu tentang racun, aku membuat penawarnya untuk diriku sendiri, aku waspada jika saat membuatnya, bisa saja racun itu mengenaiku ....”


Bos penculik terdiam sesaat. Kembali tertawa. “Tapi, racun itu sudah beraksi cepat, tepat satu hari berlalu, Akma Jaya sudah terbaring, sekarang setahun berlalu, dia masih terbaring lemah, tak bisa membuka matanya, bahkan menggerakan anggota dan beberapa tahun lagi dia akan mati.” Bos penculik menjelaskan panjang lebar. Dia tertawa puas, sangat nyaring. Tabra dan tabib masih diam menunggu kelanjutan cerita dari bos penculik.


Bos penculik menghirup napas sengal, lalu tertawa. “Bahkan, racun itu telah tercampur aduk, tidak ada penawar yang bisa untuk menyembuhkannya!” Lanjut orang itu, masih tertawa.


Tabra menarik kerah bajunya. “Sebelumnya, kau mengatakan sudah membuat obat penawarnya. Lalu, kenapa kau kembali mengatakan tidak ada penawar. Apakah kau berbohong?” Tabra meletupkan amarah.


“Sederhana saja, bocah. Penawar itu belum kucoba. Hahaha, aku belum memastikan, bahkan aku ragu penawar itu bisa menyembuhkan racun, aku telah menyuntikkan dua racun di tubuhnya, dua racun yang tercampur, dia akan mati. Hahaha. Dia akan mati!” Bos penculik tertawa puas.

__ADS_1


BUK! Tabra menghantam wajah. “Biadab!! Kau keterlaluan!” Dia berteriak lantang.


Mendengarnya, orang itu bertambah meninggikan volume suara, semakin tertawa puas. “Hei, bocah. Perlu kau ketahui, sikap Kapten Lasha lebih biadab, lebih keterlaluan, dia pantas menerimanya!” Bos penculik menatap serius.


Tabra menghela napas. Tabib tidak ikut campur, kakek tua itu memilih beranjak pergi tanpa sepatah kata pun.


“Kelakuan mereka berdua adalah sama. Sama-sama keterlaluan, Akma Jaya adalah titisan dari keturunan Kapten Lasha, dia pantas menerimanya!! Bodohnya. Kau terus membela, bahkan menjadi sahabatnya!” Penuh celaan terlontarkan. BUK! Lagi, lagi-lagi Tabra menamparnya.


Bos penculik tertawa, ingin mengusap wajah, tapi tangan terikat. Dia menggerakkan kepala. “Sebelum dia menjadi ancaman samudera, lebih baik dia mati!! Apa kau tak menyadari saat dia berusia pada usia yang sekarang, kemampuannya sudah melebihiku, pikirkanlah, bocah. Saat dia tumbuh besar, berusia remaja atau tua, seluruh samudera akan menjadi ancaman, lautan butuh ketenangan!” Orang itu menjelaskan alasan—dusta bertopeng kebaikan.


Tabra menggeram. BUK! dia menghantam dinding. “Kau banyak bicara, mengambil keputusan sepihak, beranggapan bahwa dia akan mengancam samudera dengan kemampuan yang dia miliki. Sementara, semua itu belum tentu terjadi, aku akan membimbing Akma Jaya, mengawasinya, bahkan kami adalah bajak laut yang berbeda dari kalian, para kelompok penculik. Kami juga berbeda dari para bajak laut lainnya.”


Bos penculik menatap marah. “Kalian para bajak laut sama saja, kalian merampas, membajak samudera. Apakah kelompok kalian berhak untuk hidup?” Berteriak keras. Menghentakkan diri.


Tabra menatap, menunjukkan senyuman sederhana, tidak manis, tidak pahit—seimbang.


“Perlu kau ketahui tentang fakta karena kau sudah salah mengenali sikap Kapten Lasha. Dia sudah berbeda, kau mengatakan sesuatu yang sudah lama berlalu. Ayahku pernah bercerita tentang sosok Kapten Lasha, tentang sikapnya. Kapten Lasha sudah berubah, dia tidak seperti yang kau katakan, dan kau juga menyamakan kami dengan kelompok bajak laut lainnya!” Tabra menjawab, menangkis perkataan.


Bos penculik kembali tertawa nyaring. “Ayahmu telah dicuci otaknya oleh Kapten Lasha, kau begitu mudah mempercayainya.” Tertawa, sedikit saja ucapan. Bahkan, tercampur.


“Benarkah?” Tabra mengingatnya—benar saja. Tapi, bagaimana mungkin bos penculik mengetahui perihal ayahnya, sedangkan Tabra saja jarang bertemu. Bos penculik itu apalagi—tidak pernah.


Tabra memelotot tajam. “Aku akan menceritakan sedikit cerita kepadamu, tentang Ayahku, dia mengarungi lautan, menempuh pelayaran ke berbagai negeri bersama Kapten Lasha, saat itu Ayah bercerita, siang—terik matahari bersinar cerah, berlayar menyusuri lautan hingga mereka singgah di suatu wilayah, penduduknya miskin, memenuhi hari dengan mengemis, Kapten Lasha menggerakkan lisan, memerintah anak buahnya untuk memberikan harta rampasan kepada mereka. Ayahku menceritakan tentang Kapten Lasha, tentang semuanya, dia berubah semenjak menikahi Haima.”


Tabra menceritakan sedikit cerita yang dia ketahui dari ayahnya, di mana sikap kedermawanan, kepedulian Kapten Lasha kepada kaum miskin, bahkan di suatu wilayah yang baru dia singgah. Tidak memandang mengenal atau dikenal.


Bos penculik memuncratkan air liur. “Cih, apakah kau tahu, Haima adalah gadis yang diculik Kapten Lasha, kau terlalu memuji, bocah!! Kau tidak—”


“Hentikan bicaramu, berikan saja penawarnya!" Tabra lekas memotong perkataan, meremas kerah baju, menatap tajam.


Bos penculik tersenyum sinis tidak menjawab, Tabra memaksa penuh amarah, tangan yang terikat, orang itu tidak bisa melawan. Hanya sedikit tindakan. Tabra mempunyai ide. Sekuat-kuatnya seseorang, siapa pun dia. Tabra bergumam siapa pun tidak akan berdaya menghadapi gelitikan.


Bos penculik tertawa paksa, menahan geli. Yes, caranya berhasil, Tabra tertawa puas. Habis tenaga, bos penculik tidak bisa menahan, padahal dia bisa melawan melalui tinjakkan. Mungkin tidak terpikir olehnya.


“Penawar itu berada di dalam kantongku, kau bisa mengambilnya sendiri.” Bos penculik angkat bicara, dia kelelahan. Tabra mengambil, meninggalkan bos penculik yang tengah terbaring lelah.

__ADS_1


Tabra mencari tabib. Beberapa saat berlalu, dia menyerahkan penawar racun itu kepadanya. Tabib memegang penawar, sekarang dia bergegas memeriksa racun di tubuh Akma Jaya, membandingkan kecocokan antara racun dan obat penawar.


Tabib terus berkutat perihal obat penawar, memeriksa dan meneliti lebih dalam untuk kesembuhan Akma Jaya, sedangkan orang itu dikembalikan ke tempat perbudakkan.


__ADS_2