
Setelah Kapten Kaiza berhasil membunuh Kapten Lasha. Dia kembali ke benua Ruyanisma, tempat kelompok mereka berasal. Berlayar menuju ke markas, tempat kediaman mereka.
Tak berlalu lama setelah itu, para bajak laut mengadakan perkumpulan mengenai apa yang sudah mereka rencanakan, juga ingin mengetahui keseluruhan tentang misi Kapten Kaiza, apakah misi itu berhasil atau tidak? Itulah alasannya kenapa mereka mengadakan perkumpulan.
Kapten Kaiza diundang melalui sepucuk surat yang bertuliskan:
...“Kaiza, kami akan mengadakan perkumpulan tepat besok hari di benua Maura Hiba, markas besarku desa Luya dan kau harus berhadir di dalam perkumpulan tersebut, kalau kau tidak menghadirinya, kau pasti akan menyesalinya.”...
...— Kapten Karasha...
Membaca surat itu, Kapten Kaiza sedikit geram karena sepucuk surat itu seperti bernada ancaman, tetapi pada akhirnya dia pun memilih untuk berhadir. Pada besok harinya. Dia bersama anak buahnya memelesat, berlayar dengan kecepatan menuju ke desa Luya.
Banyak para bajak laut munafik berkumpul, mereka turut hadir di perkumpulan tersebut. Pada perkumpulan itu, Kapten Kaiza melaporkan misinya kepada seluruh para bajak laut yang berhadir.
“Aku akan mengatakan kepada kalian semua. Hari itu, aku telah berhasil membunuh Lasha, bahkan seluruh penduduk, juga rumah-rumah habis terbakar.” Kapten Kaiza berlantang suara, memekik menatap bajak laut lainnya
Setelah mendengar itu para bajak laut bersorak nyaring. Bersahutan senang, minuman dituangkan, ditenggak puas menepuk tangan.
“Hahahaha ... ini kabar yang sangat bagus, kau memang hebat, Kaiza. Kami patut memberikanmu hadiah yang banyak.”
Di perkumpulan itu, bos penculik yang semula dijadikan budak oleh Kapten Lasha tampak hadir, ikut bersorak nyaring. “Bos akhirnya Kapten Lasha matii ....” Anak buahnya berbisik.
Bos penculik tertawa. “Aku sangat senang mendengar kabar ini, kalian semua apa yang kita perbuat tidak sia-sia bukan? Usaha kita selama ini.”
Pada waktu itu, saat penyerangan berlangsung mereka—bos penculik dan anak buahnya sudah memasuki kapal. Mereka bertolak pergi meninggalkan desa Muara Ujung Alsa tanpa sepengetahuan Kapten Lasha, juga orang-orang lainnya.
Pada suasana saat itu, Kapten Lasha tengah sibuk mondar-mandir. Dia tidak memperhatikan tempat perbudakkan, ditambah mereka semua bersekongkol, melancarkan serangan secara sembunyi-sembunyi, bergerak di balik layar melalui perantara Kapten Kaiza mereka melakukan aksi heroiknya.
Kapten Kaiza dan sekelompok bajak lautnya adalah kelompok yang dibentuk khusus melakukan pembunuhan dan penyiksaan terhadap target yang sudah ditentukan, mereka menamai kelompok mereka dengan nama Mafia Kelas Kakap.
Kelompok mereka sudah sangat terkenal dengan keganasannya, tetapi tidak ada yang tahu bahwa keganasan Kapten Kaiza karena ada orang di balik layar yang membayarnya, Kapten Kaiza melakukannya hanya karena demi setumpuk peti harta.
Sementara, para bajak laut menjadikan alasan sederhana membayar Kapten Kaiza agar melakukan pembunuhan terhadap Kapten Lasha. Seorang kapten bajak laut tua itu termasuk orang yang melindungi kapal-kapal di lautan, dia telah berubah, tidak seperti dulu lagi.
Perubahan sikap Kapten Lasha itulah yang membuat para bajak laut menggeram, mereka kewalahan merampok kapal-kapal besar. Di lain hal, dia juga adalah orang yang membunuh Kapten Abka.
Masalah lagi. Kapten Abka adalah salah satu sahabat dari Kapten Karasha, ketika mendengar kabar kematian sahabatnya yang dibunuh Kapten Lasha.
Kapten Karasha menggeram marah, memikirkan cara untuk menuntut balas, sehingga dia pun memanggil beberapa kelompok bajak laut. Kapten Karasha pun meminta pendapat dari mereka semua.
“Apakah kalian setuju untuk menghabisi Kapten Lasha?” tanya Kapten Karasha.
“Aku sangat setuju, aku kewalahan membajak kapal. Itu semua karena Kapten Lasha yang melindung kapal-kapal.”
__ADS_1
“Benar, kita harus membunuhnya, bahkan kalau perlu kita habiskan seluruh markasnya, tenggelamkan pulau bersama anak buahnya.”
“Akan tetapi, kemampuan kita semua tidak akan sanggup menghadapi Kapten Lasha, apakah kalian punya saran untuk ini?” tanya Kapten Karasha kembali.
Mereka pun berpikir keras satu sama lain, salah seorang ada yang menyarankan agar membayar kelompok bajak laut Mafia Kelas Kakap. Bayar mereka agar menghabisi Kapten Lasha beserta markas dan lain-lainnya.
“Tampaknya itu adalah ide jenius. Lebih mudah, heh, kita tak perlu turun tangan untuk menghabisi Kapten Lasha. Benar, aku setuju denganmu.” Kapten Karasha tersenyum sinis, lalu tertawa.
Itulah sekilas perundingan mereka yang pada akhirnya mereka pun membayar Kapten Kaiza supaya melakukan misi pembunuhan dan terserah bagaimana pun caranya harus dihancurkan.
***
Pada hari itu, mereka melakukan perkumpulan, wajah-wajah saling tatap. Setelah mendengar kematian Kapten Lasha, mereka semua tertawa.
“Hahahaha ... saatnya kita berpesta, Kapten Lasha sudah tiada, lautan akan menjadi milik kita.”
“Benar, setelah ini kita akan merampok banyak kapal.”
Di malam hari, alam semesta melanglang jauh ternampak sepi. Pesta besar-besaran mereka rayakan. Berdentuman musik, irama lagu-lagu klasik dengan dram pukul menggolong teras keramaian.
Mereka menamai pesta dengan nama Kekala De Force. Segolongan pesta yang bertujuan untuk kesenangan dan kebebasan dari peraturan Kapten Lasha yang melarang mereka membajak lautan.
Di malam hari yang bertaburan bintang, mereka berpesta, tertawa. Di sekitaran pesta banyak wanita penggoda menghiasi setiap tempat, setiap penjuru dari sudut ke sudut.
“Lasha ... Lasha ... kasihan sekali dia tertusuk pedang Kapten Kaiza.”
“Hahaha ... untuk apa kau mengasihaninya, dia tak pantas dikasihani karena dia sudah mengubah tatanan kehidupan bajak laut.”
“Sahabatnya bernama Makya, apa dia akan menyelidiki masalah ini? Dan akan menyerang kita?”
“Mereka memang bersahabat, tetapi untuk menyerang dia tidak akan berani.”
“Biarkan saja dia. Hahaha!”
Suara tawa orang munafik itu bergema memenuhi ruangan pesta. Minuman bergenggam di tangan ditenggak puas.
“Kaiza, apa mereka semua sudah habis kau bunuh?”
“Tidak semua, anak Lasha bernama Akma Jaya berhasil melarikan diri.” Kapten Kaiza menuangkan minuman ke dalam gelas, menenggaknya.
“Dia sedang sakit. Bagaimana mungkin bisa melarikan diri?”
Kapten Kaiza meletakkan gelas, menatap serius. “Kemungkinan ada orang yang membawanya.”
__ADS_1
“Apakah mungkin Akma Jaya akan menjadi ancaman buat kita?”
“Kau terlalu khawatir ....”
Para bajak laut itu terus berbicara seraya tertawa. Hanyalah Kapten Kaiza yang beranjak pergi setelah mengatakannya. Dia lebih suka menyendiri, membelai senjata di tengah kegelapan malam.
Di pesta bercahaya sinar dari kerlip-kerlip lampu, mereka saling minum, saling tertawa, mereka yang berhadir dalam pesta semuanya adalah sekelompok bajak laut munafik. Di antara beberapa dari sekian banyaknya yang berkumpul, ada yang tidak menghadiri. Beberapa lagi tidak mengetahui kabar kematian Kapten Lasha seperti Kapten Gaiha, juga salah seorang sahabat yang bernama Kapten Makya di desa Anmala, penjaga tanaman obat.
“Bagaimana selanjutnya? Heh, apakah kita akan mencari Akma Jaya sampai ke ujung benua?”
“Tidak perlu, kemungkinan dia akan mati karena racun yang dideritanya.”
“Bukankah katanya ada seorang tabib yang menyembuhkannya?”
“Kedengarannya memang sulit, tetapi dia hanyalah seekor nyamuk, tidak usah kau khawatirkan!”
“Seekor nyamuk yang mengisap darah harapan Lasha. Tetapi, gelas darahnya tertuang kepadanya, aku sangat penasaran apakah yang menjadi harapan Kapten Lasha akan sepenuhnya berhasil.”
“Hahaha ... bajak laut tua itu sering mengada-ada, harapannya hanyalah omong kosong belaka."
Kekala De Force berlangsung dari awal malam sampai terbit fajar dan hampir sepuluh hari diberlangsungkan tanpa henti.
Mereka bersorak. Mereka terlalu sibuk dengan pesta. Akma Jaya tengah sibuk berlayar, keuntungan atau takdir yang menyelamatkannya dari kejaran para bajak laut munafik tersebut.
***
Sekarang, Akma Jaya telah sampai di benua Palung Makmur bersama Aisha dan Tabra serta Altha seorang tabib yang membawa mereka ke benua tersebut.
Tujuan mereka menuju ke pulau Butariya, di sanalah mereka akan dibawa oleh Altha karena itu termasuk pulau tak berpenghuni.
“Kemarin malam. Saat berlayar, aku sudah memutuskan, kalian bertiga akan tinggal di pulau Butariya.” Altha menjelaskan, memandang serius.
Akma Jaya pun mengangguk. Begitu pun Aisha dan Tabra, mereka bertiga saling setuju dengan penuturan Altha.
Sementara, tepat beberapa hari berlalu saat itu, keadaan desa Muara Ujung Alsa sekarang dipenuhi bangkai berserakan di mana-mana. Di hari itu, salah seorang pergi berlayar menuju ke desa tersebut dengan tujuan ingin meminta bantuan kepada Kapten Lasha supaya membantunya dalam menghadapi para bajak laut.
Akan tetapi, dari kejauhan orang itu sudah tercengang dengan apa yang dilihatnya.
“Apa?! Apa yang terjadi?”
Kapal yang semula berlayar, terapung di atas permukaan air laut itu singgah. Bertambat jangkar di bibir pantai.
Dia pun turun, menatap sekitaran pulau. Puing-puing rumah, bangkai ternampak jelas di pandangan. “Itu ... itu Kapten Lasha?!” Orang itu menunjuk, tidak percaya.
__ADS_1
Jasad Kapten Lasha terbaring di pasir. Tubuh orang itu gemetar, menatap bercampur aduk perasaan. Di sekeliling pasir ternampak darah kering. Dia bergegas menuju kapal, jangkar diangkat. Dia pun bertolak pergi meninggalkan pulau. Kapal itu melaju disentuh angin.