
Tabra sekarang berbeda dari sebelumnya. Dia menampakkan ekspresi wajah yang menunjukkan dirinya tidak tertarik mendengarkan penuturan Boba.
Dia berpikir menyantaikan diri, sambil ingin menguji kesabaran yang dimiliki Boba.
Bagaimana kiranya seseorang memberi nasihat, tetapi tidak dihiraukan. Bagaimana kiranya seseorang itu berkeras ucapan, tetapi tidak diperdulikan. Bagaimana kiranya perasaan seseorang kala itu?
Tabra kembali menyampaikan hal yang sama saat ditangkap indera telinga. Yeah, terkesan menyebalkan seperti sebelumnya. Menyebalkan memang kalau hanya ditangkap sekilas tangkap.
“Berhentilah mengurusi hidup orang lain, Boba. Kau sama saja mengurusi hidupku. Sesukaku ingin pamer ataupun tidak, itu bukanlah urusanmu, apalagi masalahmu.”
Karena hal itu hampir saja Tabra ditampar Boba. Seseorang sudah berhasil menegah tamparan tersebut, memasung tangan Boba.
Tamparan itu berbentuk bulat oval bak telur ayam. Eh, salah, bukan itu maksudnya—bak bakpao di ulang tahun Author. Bisa jadi.
Demikianlah seterusnya masalah ini mengenai Boba yang dilanda emosi. Saran aja kalau bisa jangan dibaca dan seriusan dari narator ini bisa Anda rasakan, bukan? Bisa dirasakan akan semua hal dan suasana sedang memanas di antara mereka seperti matahari terbit di pagi hari lewat sepuluh jam yang lalu, adapun suasana di antara mereka terjadi mendekati sore. Bisa jadi ada yang tidak tahan saat membacanya, makanya jangan dibaca dan sekedar mengingatkan.
Penengah di antara mereka kali ini hanyalah seorang teman bernama Kalpra si paling pemberani di antara mereka dan terlepas dari itu Ashraq hanya menonton, dia pasrah beribu kalimat pasrah telah dia ucapkan.
“Mengapa tidak ada perdamaian di antara hidup ini? Sering kali kutemukan, perang dan perkelahian yang menyebabkan pembunuhan ataupun kebencian. Di satu sisi, seseorang dengan seseorang lainnya sering terjadi kesalahpahaman yang menyebabkan hal seperti ini, kadang hal beginilah yang tidak bisa kumengerti.” Begitu dia bergumam menatap langit, bersandar mengusap kepala.
Di sanalah letaknya. Kepala tiap orang isinya berbeda, di setiap sesuatu pasti mempunyai sebuah alasan mengapa dan apa alasannya hanya masing-masing diri yang tahu dan kalau diberi tahu pun bisa jadi percuma. Kemarahan itu tetap akan ada, kalau penjelasan itu terkesan tidak memuaskan.
Di saat itu Kalpra hanya seorang diri dengan cepat menghentikan tamparan Boba, memasung tangan itu ke belakang. Dialah orangnya sang pemberani dengan otot kempes ingin menghentikan perdebatan sekaligus menceraikan perkelahian di antara kedua orang tersebut. Ashraq si otot kekar tidak lagi menjadi peduli tentang masalah itu.
Kalpra menjadi sorotan banyak mata. Mereka tertuju perhatian dengan otot kempes itu termasuk lumayan dalam hal menegah.
Dia pun berkata lantang selantang meriam tembakan membelah laut, “Sudah, kalian berdua. Sudahlah, kubilang hentikan! Hentikanlah perdebatan di antara kalian yang sungguh perkaranya amatlah sepele!”
“Apalagi perkelahian karena hal sepele!”
“Tidak sepantasnya kalian berdua melakukan hal ini. Mau jadi apa? MUSUH DALAM SATU KELOMPOK. APA KALIAN INGIN SEPERTI ITU?”
Yang lainnya berkata membenarkan, saling menyahut dan semerbaklah suasana di antara mereka, tetapi di sana hanya satu orang Kalpra yang berani menegah mereka berdua.
Dia berada di tengah dua orang yang saling menatap. Adapun Ashraq sudah berlalu pergi karena merasa percuma dan baginya itu membuang waktu. Memberi nasihat kepada Boba yang sebelumnya tidak dihiraukan sama sekali, bahkan dianggap angin lalu.
“Mereka itu tidak punya disiplin.”
“Benar, haha..”
Adapun yang lainnya lagi hanya tertarik menjadi penonton. Mereka bukan tidak berani dalam hal menegahnya, hanya merasa girang mendapat sebuah tontonan gratis, terlebih Aisha bersandar di tiang layar, menonton semua kejadian dengan tenang.
“Tidak adakah di antara kalian yang memulai berdamai lebih dulu?” Kalpra memandang mereka berdua dengan pasti.
Saat mendengar akan suara selantang itu bagai petir menyambar tiang layar Tabra dan Boba sama terdiam dalam hal kesatuan makna tidak berbicara. Kalimat pembungkam yang diucapkan Kalpra sukses membuat mereka berdua diam dan tak ada jawaban.
Tabra dengan mulut diamnya usai itu berjalan dengan gaya berlagak cool ke arah haluan kapal. Mereka semua bergerak juga sama mengikutinya menuju arah haluan.
“Kalpra, terima kasih kau telah menjadi penengah yang lumayan.”
Tabra belum berbalik badan. Dia masih berjalan dan masih dengan posisi yang membelakangi mereka, Kalpra hanya mengerut dahi tidak paham.
Dengan wajah tertawa Tabra pelan berbalik, menatap mereka semua. “Tidak ada kemarahan padaku. Perlu kalian tahu aku hanya bercanda, yang tadi tidaklah serius.”
“Sebenarnya aku hanya ingin menguji kesabaranmu saja, Boba. Aku tidak menyangka akan kejadian yang hari ini kutemukan tentang dirimu,” tuturnya bersama tawa yang seriang mungkin.
Boba berusaha memahaminya dan suasana di antara mereka kembali mulai mereda. Semua orang bersorak sorai, menyaksikan hal itu.
“Hahaha...”
“Ohoii..” Yeah, seperti itulah mereka yang kelakuannya, ya begitulah kelakuannya.
“Segala sesuatu memang perlu penjelasan agar tidak terjadi kesalahpahaman.”
Tabra melanjutkan ucapan dengan sengaja dia lakukan sambil bergaya se-cool mungkin. Tabra menyeringai usai itu.
Dia seperti orang bijak yang tengah ditatap semua orang, pun juga didengarkan oleh setiap pasang telinga. Aisha mendesis kala mendengar penuturan itu, melihat akan perangai kakaknya yang jauh berbeda dari biasa seperti tengah kerasukan.
Yeah, kerasukan dalam hal bijak—tidak sungguhan tapi, dia hanya menganggap itu bercanda dan baginya, ya begitulah.
“Kau benar, Boba. Hatimu masih punya kasih sayang kepada sesama dan kau berani menasihati orang sepertiku, tetapi kuharap jangan buruk sangka dulu. Aku benar-benar tidak pamer, sekadar melantunkan syair. Sebegitu anehnya kau menyebutku demikian.” Tabra melanjutkan ucapan sambil menatap dengan wajah serius.
__ADS_1
Walaupun Tabra mengetahuinya yang sebenarnya bahwa Boba sudah mengatakan dia tidak mengurusi hidupnya. Pada intinya Boba memang suka menghina seraya membentuk uraian di benaknya.
Entah gerangan apa dan apa maksud dari semua itu. Dia memang tidak suka orang pamer, Tabra bisa mengerti akan hal itu dan di sanalah Boba terdiam usai mendengar ucapan yang sebelumnya diucapkan Tabra
Seberapa kemarahan dirinya kala itu? Tabra merasa berhasil bisa memadamkan api.
Tidak pernah disangka oleh Tabra atmosfer pujian dengan nada suara yang buatnya se-cool itu justru manjur untuk menghilangkan amarah seseorang. Seperti air hujan yang menetes dari langit, memadamkan kobaram api. Boba menyahut yang pada intinya beberapa lama usai itu dia menurut untuk sesaat dan menerima pujian tersebut.
Tabra berpikir jernih dan tidak ingin memperpanjang masalah itu yang akan menjadi rumit.
Dalam hati Boba masih menyimpan ketidakpercayaan dirinya terhadap apa yang dituturkan Tabra.
Usai itu Tabra pun berkata, “Baiklah, lupakan hal yang baru saja terjadi. Kalian semua dengarkanlah aku. Kalau bagi kalian aku telah berbuat salah dengan semua ini. Aku mohon diri dan maafkanlah aku, maafkanlah akan segala kesalahan dan kekhilafan yang tidak pernah kusengaja, mengenai sebelumnya perlu kalian tahu tidak pernah terlintas dalam benakku untuk pamer ataupun bermaksud jahat. Semua itu memang murni datangnya dari sifatku yang tidak sedang kubuat-buat seperti hendak minta lihat dan sebagainya, sama sekali tidak. Kalian hanya tidak paham dan tidak mengerti tentang bagaimana dan siapa aku yang sebenarnya. Lama sudah waktu kita habiskan berkumpul. Bersama-sama di dalam kelompok ini. Sungguh aneh rasanya di antara kita semua belum ada yang saling mengenal satu sama lain. Terlebih kau, Boba yang menyebutku berbuat pamer.”
“Sejatinya aku tidak pamer, memang itulah sifat dan sikapku sejak dari dulu yang terkadang membuat kalian salah paham. Saat aku seperti itu, jauh sekali dari hal yang tercela. Aku tidak merendahkan orang lain di depanku. Aku tidak bermaksud untuk dipuji, sungguhlah bagiku sifat pamer memang tercela. Sungguh pula, aku tidak pamer akan suaraku, kadang aku tidak sadar akan basa-basi seperti ucapanku yang sebelumnya itu memang terkesan seperti pamer. Maafkanlah aku alangkah buruk dan salah sikapku yang sebelumnya, sikapku yang berlagak seperti biasanya. Sungguh, semua ini di luar dugaanku.”
Halah, omong kosong—batin Boba menyahut ketus dengan cemberut.
Boba kembali mengepal tangan. Dia marah karena mendengar Tabra bertele-tele dalam berucap, dia menjadi tidak suka.
Lantas melantangkan suara, “Apa kau bodoh dan ingin kembali mencabut pedang yang telah usai dimasukan ke dalam kompang? Jika tak ingin, berhentilah bertele-tele dengan semua ini. Terangkan saja APA yang akan kau ingin terangkan kepada kami, bukan malah kau semakin bertele-tele dengan memamerkan suara ayam tercekekmu yang tak enak didengar! Berhentilah bertele-tele, apalagi memamerkan suaramu yang mirip ayam tercekek. APA kau mendengarku? HAAH.. Suaramu tidak lebih seperti ayam terCEKEK yang tidak pernah meminum air.”
Mereka semua yang berada di situ mendengarnya dengan jelas bagaimana seorang Boba menyebut suara Tabra bagai ayam tercekek.
Mereka saling pandang sejenak. Tak lama berselang saat Boba memperagakan ucapannya dengan gaya ayam tercekek. Duhai memanas suasana dan sulit dipercaya alangkah pelik di antara mereka dan beberapa dari mereka ada yang hendak tertawa.
Itu memang lucu juga kalau hanya dilihat selayang pandang dengan peraga yang lumayan menggelitik.
Boba terlalu lawak mengatakannya usai itu malah memperagakannya dengan mantap, apalagi dengan gaya yang sukses menggelitik. Apa yang dikatakannya tadi? Ayam tercekek. Yeah, lihatlah di sana ada banyak atmosfer angin berkesiur di setiap benak mereka, bergeliyur dalam benak mereka dengan suara haha yang sengaja ditahan dan tengah mereka sembunyikan dan ditahan di lambung, tak bisa ditahan hal itu malah menggelitiki mereka.
Aisha sudah tidak tahan menahan tawa, lebih dulu dia tertawa menertawakan Tabra.
Disusul Glosia, Jalbia ikut juga tertawa, serentak tertawa. Tabra hanya bisa berwajah datar, tidak kuasa memberi tanggapan atas semua itu. Lucu tidak, garing—malah iya. Kasihan juga dia itu.
Tabra berdehem memecah tawa di antara mereka. “Kalian bisa menertawakanku sepuasnya, tertawalah. Tapi di sini aku serius. Kalian dengarkan aku, aku akan memulai pembicaraan yang serius.”
“Pembicaraan apa yang kau maksud? Daritadi kau terus saja bertele-tele!” Boba sekali lagi menyahut lantang.
Benar. Si Boba ada benarnya dalam benak Kalpra berbicara. Kenapa juga si Tabra itu sukanya bertele-tele. Tabra memandang Boba menjadi serba salah. Selintas garuk kepala mengaduh seperti orang kesakitan.
“Kau lagi.. aah, Boba. Bisakah kau duduk tenang dan mendengarkanku walau sekali saja dengan tidak bersuara seperti itu. Baiklah, tidak menunggu lama lagi aku akan mulai menerangkannya kepada kalian semua. Ketahuilah wahai penduduk kapal, semua ini lumrah terjadi pada masa-masa buronan seperti kita, kelompok yang diincar oleh banyak bajak laut. Kau ingat apa yang dikatakan Asra Burona tentang semua ini? Tentangku yang katanya akan mati di lautan dimakan hiu dan hidup di antara satu juta kilometer di alam kehampaan. Apa maksudnya? Itu jelas saja aneh, jelas saja dia bukan orang bijak dan tentu dia adalah orang yang tidak bisa dipercaya, kita tidak bisa mempercayainya. Omongannya dusta dan penuh sandiwara. Begitu pun bagiku Raja Hurmosa yang akan kita datangi. Bisa saja semua ini hanyalah jebakan yang tengah mereka persiapkan.”
“Raja Hurmosa itu tidak bisa dipercaya. Kita harus mempersiapkan segala kemungkinan yang akan terjadi. Kalian jangan langsung percaya pada seseorang yang mengikat janji, kalian jangan langsung percaya hanya dengan melihat wajah manis seseorang. Bisa saja dibalik tampilan manisnya itu mengandung keasinan seperti salah meletakan tulisan garam yang dikira adalah gula. Apa kalian mengerti maksudku?”
Ucapan itu bergetar terus berkumandang hingga sampai di titik dia menyebut di dunia ini tidak ada yang bisa dipercaya selain diri sendiri. Sontak saja itu membuat persepsi di antara mereka kacau balau.
“Apa maksudmu kau juga tidak percaya dengan kami semua? Hah? Kau bilang di dunia ini tidak ada yang bisa dipercaya, selain diri sendiri. Apa kau sudah gila? Di manakah kau meletakkan akal budi pekertimu, Tabra! Kau orang gila!”
Boba sekali lagi berlantang suara. Lantang selantang petir menyambar tiang layar.
“Kau ORANG GILA!” Dia menghampiri menunjuk-nunjuk dengan jari telunjuknya.
Kalpra lagi dan lagi menahannya, terus bilang dengan macho, “Tenangkan dirimu, Boba. Tidak baik berkelahi hanya karena masalah sepele, masalah kesalahpahaman yang tidak seharusnya kau anggap serius.”
“Dia sudah melampaui batas dalam berbicara! Dia menyatakan kita semua tidak bisa dipercaya, bahkan dunia. Dia menyebut dunia, kalau tidak gila. Lantas APAAA?”
Boba sangat marah. Yang lainnya tenang saja, kalau mengingat intinya mereka tidak akan marah. Maksud dunia yang dikatakan Tabra adalah sudut pandang ke arah musuh. Adapun mereka bukan lagi dalam artian kata dunia, tetapi sudah memasuki ke tahap yang lebih tinggi bukan lagi dunia.
Aswa Daula di sana unjuk gigi berbicara tentang penjelasan dari kosa kata Tabra. Dari situlah Boba mengerti yang akhirnya kemarahannya itu mampu diredamkan.
“Maafkan aku, Boba. Karena salah pengertianmu itu membawa kepada hal yang tak kuinginkan, aku mengucapkan kata serumit itu yang susah kau pahami.”
Tabra kini merasa bersalah. Boba memaafkannya terlebih dialah yang salah dalam memahaminya. Percakapan itu terus berlanjut dengan Kalpra ikut bicara.
“Jadi, apa yang akan kau bicarakan dengan kami?” Dia bertanya sedikit memancing.
Tabra mendengar akan hal itu, turut menanggapi dengan santai dan sedikit memuji. “Bagus kau bertanya, seperti kataku sebelumnya aku akan menjelaskan satu demi satu. Pertama adalah tujuanku ingin membicarakan rencana kepada kalian semua, rencana bersiap siaga dan ibaratnya bersedia payung sebelum hujan. Itulah mengapa sebelumnya aku berteriak dengan keras sekali, itu juga bagian dari rencanaku ingin mengumpulkan kalian semua di sini.”
“Jadi itu alasan kau berteriak sebelumnya?” Boba menjawab seruannya, yang lain diam menyimak dan masih bertanya-tanya.
“Bukan, Boba. Bisakah kau duduk tenang dan mendengarkanku?” Tabra mengulang ucapan sebelumnya yang membuat Boba merasa geram ingin menaboknya.
__ADS_1
Kalpra menepuk punggung Boba. “Bersabarlah, Boba. Badan gendutmu yang berisi lemak itu kalau kau terus terpancing amarah begitu, bisa-bisa mendadak kurus.”
Boba tersinggung mendengarnya. Mata Boba seketika memelotot dan menampar Kalpra di sana, lebam dengan genggaman bulat sempurna, seperti mendapat sebuah tumpukkan barang yang dijatuhkan ke wajahnya. Kalpra tersungkur dan membuat kerumunan di sana menatap Boba.
“Gila!”
“Dia kerasukan roh ghaib!”
“Boba itu mengerikan!”
Suara gumaman terdengar dari masing-masing mereka di sana. Jalbia hanya menampakkan plongo plongo, tidak ingin terlalu ikut campur dalam hal yang tidak berguna seperti itu. Dia tidak ingin.
Aisha masih bersandar di tiang layar. Dia cukup bisa menebak kelakuan para lelaki.
Boba merasa bersalah. Pelan menghampiri Kalpra yang terbaring bekas tamparan.
Berkata dengan nada berat, “Kalpra, bangunlah.” Boba mengulurkan tangan.
Kalpra menatapnya dengan senyum seperti mie pasta yang dicentangkan menghadap ke angka dua dan tiga. “Kau tetap menjadi dirimu, Boba. Seperti apa yang kau katakan, kau tetap saja tidak berubah.”
Kalpra usai itu menyambut uluran tangan Boba, yang lain melihat itu mengira sebagai gurauan seorang teman biasa.
Tabra memegang jidat, tengah kesusahan atau kesulitan untuk bisa mengerti akan kondisi tersebut, bagaimana kelakuan si Boba yang bisa dibilang hanyalah sandiwara di atas kertas. Sandiwara yang digembul-gembulkan. Pakai pensil pula yang mudah sekali dihapusnya, terus itu ditulis lagi. Ditulis ulang lagi.
“Kau melihat apa, Tabra?” Boba mengatakan kalimat tanya.
“Aduh, kau malah bertanya. Aku punya mata dan aku bebas melihat kemana saja. Kepada yang lain sana, lihatlah mereka juga melihatmu, bukan hanya aku seorang dan itu lumrah saja kau hanya berpikir negatif.” Tabra menjawab dengan sedekap santai, walaupun tersendat diliur. Lelah juga menanggapi orang yang tidak pernah bosan—berbicara sembarangan begitu.
“Baiklah, masalah ini lupakan saja. Toh, Kalpra juga bisa memakluminya, aku akan kembali menjelaskan. Kali ini serius dan langsung ke intinya saja, kulihat kalian juga tidak suka bertele-tele. Aku ingin mendiskusikan rencana kepada kalian semua. Mengambil suara terbanyak maka rencana itu mutlak kita laksanakan.”
“Kutegaskan padamu, Tabra. Kau jangan bergurau di saat seperti ini? Kau membuat kami berkumpul dan membuat ketidakpercayaan di antara kita semua dan membuat kami mengumpulkan tenaga di sini untuk mendengarkan kau yang telah memutuskan sepihak sebelum bertanya apakah kami setuju atau tidak dalam membuat rencana.” Boba menyahut.
Tabra mengakui itu semua ada benarnya.
Dia menatap mereka semua. “Apa yang dikatakan Boba ini ada benarnya. Aku memutuskan secara sepihak, tetapi aku yakin kalian akan setuju kalau mendengar Kapten setuju dengan rencanaku.”
Mendengar akan hal itu mereka semua menyetujuinya. Masing-masing kembali bertanya dan apa yang akan mereka bicarakan. Masih menjadi pertanyaan.
Boba pun berkata beda dari sebelumnya. “Baiklah, jika itu yang kau katakan. Maka, katakanlah rencanamu kepada kami.”
Tabra berdiam diri sejenak, lantas memberanikan diri berkata jujur. Rupanya yang tadi dia berbohong. “Sebenarnya kapten belum menanggapi apa pun tentang ini semua. Kalboza dan kapten masih di dalam sana, sementara aku hanya menjalankan rencana yang sesuai dengan keinginanku. Kau tahu seperti kelinci kehilangan wortel, aku akan lebih waspada menatap musuh di antara mereka.”
“Heh, kau berani bergurau di hadapanku? Menyebut kelinci, apa hubungannya? Kau ingin kutampar!” Boba menghampirinya dengan bermaksud hendak menamparnya.
“Aku tidak bergurau, Boba. Saat kau menatapku kau menyakininya dengan pasti apa yang kau pikirkan tentangku. Aku melaluinya dengan rencana dan dengan hati-hati. Kita selesaikan pembicaraan ini dan bentuklah rencana di atas perwakilan dari tinta sang laut. Menulis di atas papan dengan kertas yang usai itu diterbangkan angin. Kau itu tidak seharusnya menyebutku bergurau karena perkara ini adalah perkara yang serius. Perkara yang bukan main-main. Berhentilah kau berlagak seperti seorang jagoan yang bisa mengalahkanku di sebuah area pertarungan. Kau tak akan bisa mengalahkanku, Boba. Dengan badan gendutmu yang suka makan dan kurang olahraga. Kemampuanmu yang minim, kemampuan yang tidak ada apa-apanya.”
Boba hendak menamparnya lagi. Kalpra langsung menegahnya. Boba berlantang suara. “Kau kembali bergurau di hadapanku? Kapan kau tahu tentang kemampuanku? Kau hanya sok tahu dan perlu kau tahu kemampuanku ada di atasmu, selama ini aku berlatih siang malam. Dan kau selalu saja bertele-tele!”
Tabra menatap geram kali ini, lantas mempertegas ucapannya dengan pelotot mata yang mengerikan, kedua orang itu saling bertemu tatap. “Kutegaskan kepadamu, Boba. Aku tidak bergurau dengan semua ini, sama sekali aku tidak bergurau. Kubilang sebelumnya kau menyakininya dengan pasti, aku melaluinya dengan hati-hati. Maka dengan ini, semua keputusanku yang kubuat dan rencana yang kubicarakan adalah mutlak dan rencana itu tentu saja mutlak harus kita laksanakan. Berhentilah kau berlagak seperti seorang jagoan dan berhentilah mengatakanku bergurau atau main-main dengan perkara sepenting ini. PERLU KAU TAHU AKU SERIUS, BAHKAN SANGAT SERIUS. TIDAK BISAKAH KAU MELIHAT KEDUA MATAKU!”
Tabra memelotot ganas. Boba bisa melihatnya dengan jelas. Bagaimana cahaya mata itu terasa memancar, seakan menusuk matanya dan mengalirkan kontak ke dalam batin bahwa itu adalah perkara yang tidak main-main, perkara yang serius di antara dirinya dan kelompok mereka.
Kalpra yang berada di tengah mereka juga bisa merasakannya. Kalpra yang tadi menegah tamparan Boba hanya bisa meneguk ludah dan terasa sendat.
Kedua orang yang tengah bersitatap itu seperti aliran listrik dinamis negatif dan negatif yang bertemu hingga terjadi tolak menolak. Ooh, lebih parah—terjadi sebuah musibah yang menyebabkan kekacauan industri listrik di tanah yang basah, di tanah yang dipenuhi air.
Mengalir di bawah industri itu akan sebuah sungai dan di sanalah industri itu menghanguskan ikan-ikan yang berenang, ikan yang tidak punya salah kena imbasnya.
Kepala Kalpra terkena tabok oleh Boba. Kalpra hanya bisa mengusap kepalanya.
Ada sebuah kata yang tidak sewajarnya diucapkan Boba dan di sini tidak ditulis, agak ngeri. Kalpra menahan sakit karna dijadikan pelampiasan dari kekesalan yang dirasakan oleh Boba. Yang lainnya menjadi bersorak sorai mengajak-ajak lawan.
Boba menjawab perkataan Tabra dengan sedikit mendengus, “Heh, kau bilang semua ini serius. Lantas mengapa kau berucap seperti orang yang tengah mabuk, kata-katamu yang tidak berkesudahan seperti itu dengan segalanya yang sengaja kau buat bertele-tele dan perlu kau tahu semua ini tidak ada gunanya. SETIAP KALI KAU BERBICARA BERTELE-TELE DAN AKU SANGAT MUAK MENDENGARNYA!”
“BERHENTILAH BERTELE-TELE!”
Dan masih panjang perdebatan di antara mereka hingga kau tahu, teman. Bahkan hingga langit tampak menguning hendak terbenam dan berganti hari dengan diskusi dan perdebatan itu seakan telah melupakan semuanya. Rencana yang hendak dibentuk menjadi kacau balau. Akma Jaya dan Kalboza menyaksikan melalui jendela kabin hanya bisa geleng kepala bagaimana Tabra gagal mendiskusikan rencana yang semua itu karena ulah dari kemarahan Boba.
Intinya Tabra gagal mendamaikan suasana yang malah menjadi ricuh dan berakhir semuanya bubar dan masing-masing memilih fokus pada tugasnya di kapal itu.
Demikianlah seterusnya.
__ADS_1