
Akma Jaya bergerak menghindar, dia menginjakkan kaki ke permukaan tanah di bawah menara—sebuah kolam berisi air setinggi lutut.
Di situ mereka saling bertarung, berjarak dekat dengan jasad Kapten Riyuta. Kerumunan yang tadi berlari, berhenti sejenak setelah jarak dipandang mata lumayan jauh, mereka kembali menatap, Aisha dan Ashraq juga ada di sana, bahkan menyaksikan dalam gumaman yang bertuturan cemas.
Suasana begitu cerah, matahari menunjukkan sinar setelah lama bersembunyi di balik awan. Di salah satu kedai yang sedari awal semenjak angin menderu, kedai itu tertutup rapat.
Kedua sahabat berada di dalamnya.
"Sepertinya hari sudah cerah. Dengar tidak? Suara gemuruh, suara petir, itu semua sudah menghilang!" Asgaha menduga-duga, padahal tidak ada celah melihat, dia memulai perbincangan di dalam kedai tersebut.
Suasana di kedai begitu sepi, senyap. Hanya mereka berdua di sana, berlindung dari derunya angin, tentu semua itu berawal dari usulan Asgaha yang menarik tangan Asdama, berseru spontan dan berlari cepat.
Asdama mengangguk. "Benar, sepertinya Kapten Broboros telah dikalahkan dan dihabisi," ucap Asdama seraya membalik lembaran buku—dia sedang fokus membaca.
"Mana mungkin?" Asgaha berucap tidak percaya.
"Asdama, jangan pernah meremehkan kemampuan Kapten Broboros, konon katanya dia adalah seorang kapten yang mempunyai pedang mistik berupa petir menyambar, saat di kerumunan banyak orang yang menyebutkannya begitu!" Asgaha melanjutkan ucapan.
Asdama menyimak santai. "Apa kau tahu mengenai buku yang sedang kubaca?" Dia menuturkan kalimat tanya, benar sederhana, tidak panjang.
"Aku tidak tahu!" Asgaha menatap seraya menggelengkan kepala. Keingintahuan memenuhi permukaan matanya.
Asdama menyandarkan diri ke dinding.
"Buku yang kubaca menjelaskan bahwa pedang petir itu bisa dicegah, dikalahkan dengan kekuatan benda pusaka yang bernama Atramata." Asdama menjelaskan mantap.
Melalui ucapan itu, Asgaha membelakkan netra, dia sedikit tercengang, "Pusaka Atramata? Sejenis apa? Pedang atau pisau, atau batu?" tanyanya bertubi-tubi seolah-olah ada keraguan di sana.
"Bukan, lebih dari itu..."
"Apa? Hei, ayolah. Coba jelaskan lebih detail lagi." Asgaha menyeringai.
Asdama terkekeh karenanya. Sejenak, dia menghela napas. Lalu, melanjutkan bicara, "Asgaha, perlu kau ketahui, bahwa bentuk pusaka Atramata itu sebuah butiran mutiara yang diselimuti kain bertuliskan jimat dan dirajut langsung oleh sang ratu berambut ular semenjak puluhan abad berlalu, singkatnya itu terjadi sebelum kau lahir."
"Pedang petir itu punya kelemahan, konon katanya, dua benda itu dibuat secara bersamaan. Mungkin saja orang itu—Akma Jaya—memilikinya dan dia dapat menghentikan petir di permukaan cakrawala dan kini suasana jadi damai—" Asdama menjelaskan panjang lebar.
__ADS_1
"Eh, tu—tunggu dulu!" Asgaha memotong cepat.
"Apa yang harus ditunggu?" tanya Asdama seolah-olah bersikap polos.
"Aku melihat jelas. Pada saat itu, kau tidak mengetahui detailnya dan kau menatap aneh, bagaimana mungkin sekarang kau berucap dan berlagak mengetahui segalanya!" Asgaha mengucapkan sesuatu yang dia pandang saat kejadian.
"Apa kau melihatku saat tiba di kedai ini, aku langsung mencari buku, sekarang di depanmu, semua kejadian yang lalu ada di dalam buku ini, penjelasannya begitu jelas dan aku juga telah mengatakannya, baru beberapa menit terlewat, kau tidak menyimak perkataanku," jawab Asdama menjelaskan.
"Asdama, kau hebat sekali, dalam keadaan yang mencekam masih bisa untuk tenang membaca buku, aku daritadi mengalami pusing, bahkan tidak fokus menyimak perkataanmu!" Asgaha memujinya sedikit berlebihan, mungkin sedang mengalihkan pembicaraan.
Asdama mengangguk. "Baiklah, aku mengerti," jawabnya menepuk pundak Asgaha.
"Jika dilihat permukaan Atramata tampak seperti ini," lanjutnya seraya menunjukkan halaman buku, "Hanya saja, bentuknya lebih kecil dari halaman buku ini."
"Bicaralah sederhana. Katakan saja, bentuknya kotak dan kecil, jangan berbelit-belit!" Asgaha menyeringai.
"Haha, teman. Baiklah, terserah apa katamu, dan satu hal yang hebat dari pusaka Atramata, tertulis di buku ini, orang yang bisa mengendalikannya, dia akan menyerap energi alam, menggunakannya leluasa, bahkan menghancurkan kota dalam sekejap mata." Setelah sejenak tertawa, Asdama menuturkan kalimat yang mencengangkan.
"Itu, tidak mungkin?"
"Mungkin saja, di dunia ini ada banyak ketidakmungkinan terjadi."
Asdama geleng-geleng kepala. "Bukankah kau mengenaliku, sebelum ini, apa kau tidak pernah mendengar ucapanku?"
"Tidak, sudahlah." Asgaha cepat menepis, berkacak pinggang. Lantas beberapa menit kemudian, dia melambaikan tangan berupa tepisan dengan posisi membelakanginya, lalu beranjak ke salah satu meja—tak jauh dari tempat mereka berbincang.
Asgaha duduk sejenak. Sementara Asdama masih fokus membaca buku. Itu kebiasaanya, jangan tanya!
Beralih dari tempat mereka berdua, anak buah Akma Jaya mengeluh karena tidak dapat lagi melihat bagaimana pertarungannya.
"Membosankan!" Dia berseru kesal.
"Hahaha, ada apa? Kenapa kau mengucapkan kata membosankan?" tanya salah seorang lainnya.
"Tidak apa, lihatlah sendiri," katanya ringkas seraya melempar teropong, lalu beranjak pergi dari hadapan orang yang bertanya.
__ADS_1
"Aneh!" gumam dari orang yang semula bertanya. Dia meneropong dan mengetahui Akma Jaya tidak terlihat batang hidungnya, hanya Tabra yang masih berada di puncak menara. Sorotan matanya menatap ke arah bawah, dugaan tersirat di sana.
"Dari yang kulihat, Tabra menatap ke arah bawah, kemungkinan kapten bertarung di bawah menara. Pantas saja, dia mengatakan membosankan, ternyata karena hal ini, dasar payah!" Dia berucap sendirian, tetapi rekan-rekannya masih mendengarkan di sisi samping, mereka hanya diam sambil menganggut-anggut.
Di tengah perbincangan mereka, Aisha kembali menuju kapal. Dia berlari hingga di salah satu tempat dia bertemu dengan seorang wanita. Ternyata si wanita ini adalah bekas Kapten Riyuta yang beberapa lalu hadir dalam gemerlap.
Wanita itu diam tampak merana, hilang kesadaran atau apalah itu. Aisha menghampirinya.
"Hei, kau kenapa?" Aisha bertanya seraya mengelus pundaknya, ada genangan yang ditutupi, wanita itu kini memeluk lutut.
Aisha kembali bertanya, wanita itu menggelengkan kepala. Entah isyarat apa atau hanya balasan bahwa dia mendengarnya, tetapi tak ingin menjawabnya. Aisha sedikit memaklumi.
Untungnya sebelum dia beranjak menuju kapal, dia singgah di salah satu kedai makanan, di sana dia membeli roti gandum. Aisha bermaksud tak ingin membuat anak buahnya di kapal semakin merasa cemas karena itu dia membeli roti, siapa sangka di tengah langkah kakinya bertemu seorang wanita. Dia memberikan roti itu kepada wanita tersebut.
Wanita itu tak bersuara, bersitatap pun tidak. Dia masih membenam diri dalam dekapan lutut. "Hei, ambillah. Ini untukmu," ucap Aisha bersuara lembut, ciri khasnya sejak lama.
Wanita itu memberanikan diri untuk mengambilnya. "Te—terima.. kasih," jawabnya terputus-putus, mungkin gugup atau canggung.
Aisha menipiskan senyuman, matanya terpejam rapat, terlihat manis. "Jangan bersedih, ya!" ucap Aisha.
"Bersedih? Aku tidak bersedih," jawabnya menggeleng.
Aisha terkekeh. "Apa benar begitu?"
"Ini mataku tak berair!" Wanita itu kini tertawa kecil, bibirnya terbentuk garisan melengkung. Aisha kembali memulas senyuman dengan jari yang membentuk centang mengelus dagunya.
"Kenapa kau tertawa?" tanya Aisha mengalihkannya.
"Eeh, tak, aku tak tertawa," jawabnya berulang kali menggeleng.
Aisha menghela napas. "Baiklah, sampai jumpa, ya!" Aisha beranjak pergi dari hadapannya. "Tunggu," ucapnya.
"Ada apa?" tanya Aisha.
"Siapa namamu?" Wanita itu balik bertanya.
__ADS_1
"Aisha." jawab Aisha mengulurkan telempapnya. Wanita itu menyambut penuh senyuman, "Asila." Dia memperkenalkan dirinya bernama Asila.
Aisha tersenyum. "Senang berjumpa denganmu," ucapnya kemudian mereka saling melepaskan telempap, Aisha beranjak pergi seraya melambaikan tangan. Asila balas tersenyum dan terjadilah lambaian tangan di antara mereka berdua.