
Keadaan Aswa Daula saat ini mengalami trauma. Darah lagi-lagi darah ... mengapa?
Dalam gumaman yang tak didengar siapa pun. Keluh kesah telah melebarkan robekan kata sesal di dalam jiwa dan sanubari.
Di alam batin itu muncul pertanyaan ingkar mengapa katanya dilahirkan ke dunia yang tidak satu pun menganggapnya ada, bahkan seorang ayah yang tega mencambuknya.
BOOM!
Dentuman perasaan. Inilah rasa yang saat itu tertinggal, sinarlah! Begitu katanya dalam batin bersuara dengan sangat sesal.
Terbayang Kapten Zaiya membuat perasaannya tenang. Di pinggir pantai adalah moment berharga yang dilewatinya, moment yang terlebih gembira.
Cahaya putih kembali menyeruak, menembus satu dinding ke dinding kenangan yang ada di sekitaran otaknya. Menampilkan tampilan sebanyak hitungan barang ditumpuk, menjulang hingga kesekian tinggi tumpukannya.
Memori bermunculan, napasnya berembus tidak stabil. Denyut jantung berdetak dengan detakan pelan.
Pelan satu per satu gambaran bermunculan. Hilang, terbuang. Lenyap atau musnah.
Memori? Kenangan? Di mana? Di sekian hari yang telah lama hilang dari ingatan. Dan kapan terjadi semua itu? Tidak, tidak!
Selama ini waktu terus berlalu. Kenangan lama deru angin berseru-seru menghantam ruangan sanubari. Di ujung kenangan, kepahitan atau ancaman nada kata bergema ria dengan tatapan yang membutakan mata.
“Aswa, Aswa. Hei, bangunlah!” Hambala masih bersikukuh membangunkan Aswa Daula. Tak berhasil, berulangkali.
Tak letih, berharap Aswa Daula bangun dari pingsannya. “Aswa, kau harus kuat. Terbayang darah saja bisa membuatmu pingsan. Bagaimana mungkin nanti kita akan menghadapi para bajak laut lainnya. Saat ini kita harus terus berjuang bersama.”
Hambala terus berusaha semaksimal mungkin memberikan semangat yang diharapkan Aswa Daula mendengarnya. Di sana, di alam batin terdengar samar.
“Siapa? Siapa yang bicara?” lirih, putih di sekelilingnya.
“Aswa, Aswa. Hei, bangunlah!” Gema suara terdengar. Siapa? Siapa yang bicara?
Alam putih kembali lenyap. Gelap sekitarannya. Aku di mana? Ini ...
“Anak tidak tahu diri.” Satu cambuk terkena tubuh, terbayang siksaan ayahnya.
Walsa sang ayah sering mengatakan berbagai kata yang tidak ada di diri Aswa Daula, sekadar melampiaskan rasa penyiksaan biadab yang dilakukannya.
Satu cambukan. Dua, tiga. Hingga sepuluh seratus dan berakhir hingga puas. Cahaya putih kembali menyeruak. Tangis bersuara tanpa air mata, terpaan angin menimpa batin yang bergejolak dalam gumam.
“Aku—aku siapa?” Ingatannya perlahan lenyap dan berguguran cahaya dari dalam kepalanya. Di alam batin semuanya, sekitaran perlahan redup.
“Aswa, Aswa. Hei, bangunlah!” Hambala berteriak-teriak. Teriakan itu sampai ke alam batin Aswa Daula yang hendak redup.
“Aswa? Apa itu namaku?” Matanya pelan menutup. Pandangannya pelan meredup.
“Aswa Daulaaa!” Hambala berteriak kembali, kali ini lebih lengkap dari sebelumnya.
Suara itu terkirim ke alam batin, sukses mengembalikan cahaya putih terang menyelimuti sekitarannya. Di alam batin sana Aswa Daula membuka mata, mengingat namanya. Pun kenangan yang selama ini dia lalui bersama mereka mengarungi lautan dan bersatu dalam suka maupun duka. Bersatu dalam ikatan hubungan satu sama lain di kelompok Bajak Laut Hitam sebagai keluarga. Semuanya teringat jelas. Terputar kembali dalam memori kenangannya.
Hambala menatap penuh harap. Pun berdoa supaya Aswa Daula tidak apa-apa. Ashraq dalam benak pikirannya punya dugaan yang mengkhawatirkan.
__ADS_1
“Jangan-jangan. Ini ... Aswa telah—”
“Ashraq, bisakah kau bicara sopan atau lebih baik kau diam!” Hambala menyergah. Secara lantang dia tidak menerima firasat seperti itu.
Bahkan Ashraq belum selesai bicara dia sudah tahu, tanpa mendengarnya lebih lanjut. Ashraq meminta maaf.
Sementara Jalbia dan Glosia menatap bergeming jasad. Pun tidak bersuara, takut tersalah. Mereka memilih diam bagi mereka itulah yang terbaik, sekadar menjaga dan semoga tidak terjadi apa-apa.
Dan satu lagi mengenai gejolak perasaan yang selama ini ada di dalam jiwa dan sanubari mereka seakan tertutupi oleh tabir yang mengatakan tidak peduli. Sudahlah, katanya Aswa Daula akan baik-baik saja.
Hambala tidak tinggal diam. Saat itu dia memeriksa keadaan, bakatnya dulu di desa Daura pernah menjadi tabib. Hambala sedikit senang ada perubahan urat nadi berdenyut. Napas keluar perlahan, tetapi tidak ada perubahan tanda di bibirnya.
Ashraq menatap, menghela napas cemas. Masih berdoa supaya Aswa Daula baik-baik saja. Jalbia dan Glosia kompak duduk termenung. Menit ke menit memelesat meninggalkan mereka.
Kesiur angin terdengar. Beriringan dengan itu terdengar suara. “Di—dingin ....”
Lirih terputus-putus. Kedua bibir Aswa Daula gemetar hebat bagai orang yang benar-benar kedinginan. Mereka menatap Aswa Daula yang bergumam. Keadaannya masih berpejam. Setengah sadar dari dunia yang sedang dialaminya.
Keempat orang yang menjaganya itu kini dibuat terkejut dan senang. Itu berarti Aswa Daula telah sadar dan syukurlah. Sangka mereka dalam benak pikirannya.
Kata yang diucapkan Aswa Daula begitu samar-samar terdengar. Hambala saat itu merasa kebingungan, dingin? Dingin? Dia mengulanginya tak mengerti.
Sejenak mendongak. Rimbun pepohonan menutupi cahaya matahari. Aswa Daula berhenti bicara.
Cahaya putih kembali menyeruak. Kembali menerobos ke celah terdalam ingatan. Memunculkan moment hari itu keseringan Aswa Daula di balik semak memantau pergerakan Kapten Zaiya.
“Ini mengerikan, kapten.” Salah seorang anak buah mendatangi Kapten Zaiya. Memberi hormat, takzim menunduk.
“Kapten Lasha telah menyiapkan kapal dengan jumlah besar!”
“Lasha? Oh, dia itu sosok kapten yang tidak punya apa-apa selain gelar dan kedudukan yang ditakuti banyak orang. Mengenai rumor tentangnya entah benar atau tidak yang pasti kita akan membuktikannya nanti. Satu fakta pasti. Dia juga sama sepertiku, kau tidak perlu cemas. Dia bukan apa-apa!”
“Dengan jumlah besar seperti itu, kita akan kalah jumlah.” Anak buah itu mengatakan ujaran singkat, bentuk pembelaan.
Kapten Zaiya tidak banyak ucap, menyuruh agar membentang tangan. Anak buah itu juga tidak menjawab langsung menurut.
“Sekarang, lihatlah telapak tanganmu. Bayangkan itu adalah peta pelayaran. Saat ini kekuasaanku berada di titik samudera. Sementara, kekuasaan Lasha berada di titik lautan yang bahkan tidak berombak.”
Kapten Zaiya menjelaskan. Anak buah itu mangut-mangut meminta maaf atas apa yang telah diucapkannya.
“Kalau begitu pergilah. Persiapkan diri ajak yang lainnya untuk bersiap dengan segala apa pun yang kalian punya!”
Anak buah itu mengangguk, meminta izin pamit dengan perangai takzim. Kapten Zaiya memalingkan pandangan, menulis catatan.
Aswa Daula menatap di balik semak. Masih bergumam apa yang sering ditulis Kapten Zaiya begitu terkenang olehnya.
Cahaya putih kembali lenyap. Berganti tampilan keesokan harinya. Anak buah itu datang menghadap.
“Kapten, lapor. Pelayaran menuju medan peperangan akan dipersiapkan segera!”
Aswa Daula mengintip di balik semak. Pandangan mata fokus tidak beralih ke segala penjuru tempat.
__ADS_1
Kapten Zaiya mengangguk. “Baiklah, persiapkan saja aku akan menunggu dan menyusun strategi untuk kita.”
Anak buah itu balas mengangguk. Pergi izin dengan perangai takzim. Baiklah, ini saatnya Aswa Daula ingin menyapa Kapten Zaiya.
Dia pelan melangkah. Oh, tidak jadi. Dia urungkan niat. Kenapa? Takut tersalah lagi, lagi dan lagi takut salah.
Kemungkinan Kapten Zaiya ini begitu berwibawa orangnya, bahkan terpencar dengan rasa takut kala mendekatinya.
Kapten Zaiya melirik sepintas. “Aswa Daula, keluarlah dari tempat persembunyianmu. Aku tahu kau berada di sana!”
Aswa Daula terkejut. Bagaimana mungkin Kapten Zaiya mengetahuinya? Sangat tidak bisa dipercaya, itu pertanyaan yang tidak perlu jawaban. Bentuk yang keluar karena kaget dan rasa tidak percaya.
Selama ini Aswa Daula mencoba mengerti, belum juga mengerti mengapa dia masih takut kala bertemu Kapten Zaiya.
“Keluarlah!” Kapten Zaiya bersuara lantang.
Aswa Daula gelagapan menghampiri, meminta maaf karena telah melakukan hal yang tidak seharusnya dilakukannya. Kapten Zaiya menatap dengan pancaran mata hangat, menenangkan. Wajah sembunyi di balik kain hitam itu menyeringai.
Sejenak menutup catatan. Menatap linangan air yang berada di kedua mata anak yang ditatapnya.
“Aswa Daula, mengapa wajahmu tampak murung?” tanya Kapten Zaiya.
Aswa Daula menelan ludah, tidak menjawab. Dia takut ayahnya terkena hukuman. Kalau-kalau saat dia mengatakannya jujur Kapten Zaiya akan marah besar terhadap ayahnya.
“Oh, ini ... tadi saat berjalan kakiku terpeleset, sakit sampai aku hendak menangis karena rasa sakitnya.”
Nada bicara sepolos itu pandai sekali berbohong. Aswa Daula hanya ingin menutupi kesalahan ayahnya. Kalau Kapten Zaiya mengetahuinya. Saat itu Aswa Daula punya kemungkinan dalam benaknya sosok kapten itu tidak akan melulu diam mengenai perkara yang telah didengarnya, bahkan rasanya sosok kapten itu tidak akan bisa menerimanya begitu saja.
Aswa Daula beranggapan bahwa berbohong demi kebaikan ayahnya itu tidak mengapa.
Semua itu dia lakukan demi kebaikan ayahnya, sosok anak kecil berusia tujuh tahun itu memiliki empati besar terhadap ayahnya. Bayangkan sebaliknya. Ayahnya yang tidak tahu perasaan. Beda sekali. Langit bumi perbedaannya.
Aswa Daula telah menjelaskan kebohongan yang nyata bahwa saat itu dia berjalan tak sengaja terpeleset dan “Itulah yang terjadi,” jelasnya tersenyum.
Kapten Zaiya tidak banyak bertanya, bahkan tidak bertanya lagi. “Heh, baiklah. Kuharap kakimu cepat sembuh.”
Sejenak dia memandang ke arah kaki. Mengejutkan! Tidak ada bekas terpeleset. Sosok anak kecil yang pandai berbohong. Kapten Zaiya mencih, menatap tidak suka.
Tatapan mata telah menebak semuanya. Enggan mengatakan lebih banyak kata. Kapten Zaiya menatap sebentar dan berlalu pergi tanpa suara yang lazimnya orang akan bicara untuk mengakhiri pertemuan.
Kapten Zaiya tidak bersuara. Dia tidak suka dengan orang pembohong, sekecil apa pun dan saat dia tahu atmosfer seakan berubah derajat yang semula peduli menjadi tidak peduli lagi untuk menegurnya.
Aswa Daula hanya menatap termenung, bersamaan lewatnya Kapten Zaiya kembali cahaya putih menyeruak, menembus dinding kenangan ke kenangan. Perlahan sosok Kapten Zaiya hilang, dia menatap dari kejauhan. Kapten Zaiya mendadah dengan pandangan lurus ke depan tanpa menoleh ke arahnya. Perlahan cahaya putih mulai hilang seakan itu adalah hari terakhir pertemuan di antara mereka.
Hening, semilir angin menyebarkan cahaya putih yang menampilkan tatapan mata Kapten Zaiya dan kembali melenyapkannya. Hari itu berlalu dan terjadi pertempuran hebat di laut Farida hingga Kapten Zaiya tewas di tangan Kapten Lasha.
Kesiur angin dan tiupannya kembali membawa cahaya putih, menerbangkan ucapan yang tebersit dalam gumaman Aswa Daula hingga membawanya kembali ke masa di mana dia duduk termenung lagi, lagi dan lagi menatap lautan.
Kala itu langit memancar cahaya merah. Di sore hari, Aswa Daula kembali termenung menatap lautan. Berjuta kalimat dan angan yang tak pasti, semuanya seakan bergema dalam batinnya dan diikuti perasaan yang berguguran cemas.
Aswa Daula membenam wajah di lutut. Menangis tanpa air mata, tanpa suara.
__ADS_1
Tak ada sedikit pun air mata yang menetes, tetapi batinnya menangis. Rasa sesal dan sakit yang membuncah hebat, berkecamuk memenuhi gumaman. Kesunyian hari itu tanpa ada seorang pun di sisinya seakan semuanya telah pergi meninggalkannya.