Bajak Laut Hitam

Bajak Laut Hitam
CH. 31 – Pulau Butariya


__ADS_3

Selama dalam pelayaran Altha merasa mereka perlu menyewa kru kapal supaya lebih mudah dalam melakukan sesuatu. Ada banyak hal yang akan dilakukan, tepatnya di pulau Butariya nanti, mereka harus punya kru untuk membantu pekerjaan lainnya.


Mereka pun singgah. Di sebuah pelabuhan sebelumnya—tempat Kapten Lasha menambatkan kapal miliknya. Dermaga Sakala. Di sanalah mereka juga menambat ke dermaga.


Kapal berukuran besar berlambang tenggorak itu menambat anggun. Tabib menatap ketiga orang anak yang tampak senang, katanya di salah satu tempat, dia mempunyai kenalan. Mereka bisa menyewa kru kapal di sana. Siapa yang tidak mengenalnya, semua orang di sana menatapnya pun bertanya-tanya. Dari mana saja dia selama ini, menghilang tanpa kabar.


Sebelumnya, memang dia berlayar bersama Kapten Lasha tidak berpamitan dengan siapa pun. Berlayar tanpa diketahui orang-orang, berlayar di bawah naungan petang, bukan hanya naung, melainkan matahari dekat terbenam. Dunia dekat berubah malam.


Di saat itu, dermaganya juga telah kosong. tidak ada siapa pun. Sekarang, semua orang seakan senang, tetapi keperluan tabib membuatnya tak banyak berbincang. Dari dulu, dia selalu berbincang pada waktu yang tepat. Di saat ada keperluan. Siapa pun tahu itu, dia tidak akan banyak bicara, langsung ke inti permasalahan.


Tabib mempertanyakan adakah dari mereka yang sudi mendampinginya berlayar. Dengan sahutan cepat, beberapa kru kapal berkumpul menghadap. Altha seorang tabib itu setuju menjadikan mereka sebagai krunya. Akma Jaya dan dua orang di sampingnya hanya menyimak dan menunggu, menatap cara seorang tabib berkomunikasi. Tidak butuh waktu lama, mereka kembali bertolak pergi. Layar di bentang, kapal melaju disentuh angin.


***


Pulau Butariya. Tempat yang sekarang mereka tuju terletak di sebelah utara dari benua Palung Makmur. Pelayaran menuju ke sana tampak tentram dan damai. Embusan angin menemani pelayaran.


Jarak tempuh pelayaran memakan waktu sekitar seperempat dari bergulirnya jarum pendek ke sudut kanan.


Kini pelayaran Altha beserta tiga orang anak, juga kru kapal sudah sampai di pulau Butariya, wilayah pulau itu lumayan luas, di belakang pulau ada hutan lebat. Tumbuhan berakar menjuntai, menyentuh air laut menghiasi sekitaran hutan tersebut.


Pulau Butariya. Pulau terpencil di benua Palung Makmur, pulau yang jarang dilalui kapal, konon katanya beberapa jarak dari pulau Butariya ada hewan laut raksasa bernama Kraken.


Kraken belum diketahui bagaimana bentuknya, tetapi beberapa bajak laut tidak berani mendengar rumornya. Dari mulut ke mulut rumornya beredar, bahkan pulau Butariya dikabarkan adalah tempat berteduh Kraken pada saat malam hari.


Kapal berukuran besar berlambang tengkorak dengan bendera merah itu telah tiba di pulau Butariya. Sebelumnya pun telah disebutkan. Kapal kapten Lasha membawa kenangan tersendiri. Ketika Akma Jaya berada di dalam kapal. Satu hal, dia mengingat ayahnya.


Dia sering memperhatikan Kapten Lasha datang dari pelayaran, turun dari kapal tersebut. Di saat Akma Jaya terdiam. Altha memperhatikan, lalu berdehem. Dia memecahkan lamunan, menatap kesekalian mereka. “Inilah pulau yang sudah kubicarakan, pulau Butariya. Di sinilah kalian akan tinggal, di sinilah tempat yang aman. Sebelum itu, kita dan semua kru kapal akan bahu membahu membangun rumah.”


Dalam muatan kapal mereka, sudah terdapat tali untuk mengikat batang pohon dan mengikat daun kelapa yang dijadikan atap rumah, juga ada banyak persediaan makanan yang mereka bawa. Di saat sebelumnya, saat singgah di dermaga Sakala, mereka membeli banyak persediaan, juga berbagai peralatan.


Mereka pun mulai turun dari kapal untuk mempersiapkan beberapa alat dan mencari tempat yang cocok untuk dibangun rumah.


Beberapa pohon di pulau itu, bisa ditebang, dijadikan lima bangunan rumah. Para kru kapal bekerja dengan senang membantu mereka berempat membangun rumah.


Tentu saja, adanya rumah sangat penting sebagai tempat mereka berteduh dari terik matahari, dari derasnya air hujan dan lain sebagainya. Lagi-lagi, Akma Jaya tampak melamun memperhatikan sekitaran pulau tersebut.


Dari kejauhan Tabra berseru kencang. “Akma, cepatlah. Jangan hanya melamun, kau itu selalu saja membuatku berjalan lebih dulu.” Dengan memperlihatkan wajah konyol, dia melambai-lambai. Akma Jaya tertawa melihatnya. Dia pun bergegas menghampiri, menyusul Tabra.


Adapun Aisha, juga Altha bersama sebagian dari para kru kapal, mereka itu tengah sibuk menata kayu membangun sisi sisi rumah. Penginapan untuk mereka, lebih detailnya kayu itu ditancapkan ke tanah, membentuk tiang-tiang rumah.


Altha memerintahkan Akma Jaya dan Tabra untuk mencari dedaunan kelapa di pinggir pantai bersama para kru kapal yang sebagiannya lagi, mereka semua saling berpencar, kecuali Akma Jaya dan Tabra. Mereka itu setia bersama, berjalan beriringan. Kadang sikut-menyikut, berlari kecil dengan wajah tertawa.


Sebagai penjelasan. Daun kelapa yang diambil dari pohonnya itu, Altha mempunyai rencana mengenai daun itu dia ingin menjadikannya sebagai atap rumah. Tiada bahan lagi yang ternampak, rumah beratap daun kelapa menjadi pemikirannya.


Akma Jaya dan Tabra terus saja berlarian, saling kejar hingga tiba di dekat pohon kelapa. Akma Jaya memandang-mandang ketinggiannya.


“Tabra, kau potong saja kelapa yang itu, aku akan memotong kelapa yang ini.” Akma Jaya menunjuk ke salah satu pohon.


“Baiklah, aku akan memotong pohon yang ini. Akma, lihatlah caraku memotong. Kau pasti akan kagum.” Tabra tertawa. Akma Jaya menaburkan ekspresi kurang percaya.


Tabra mengangkat alat potong. “Kau lihat saja, heh?” Iya, iya. Akma Jaya tak ingin banyak bicara. Bukankah Tabra ingin membuktikannya, sedangkan bukti bukan dengan ucapan, melainkan usaha. Pikir Akma Jaya.


Dia pun juga sama dengan Tabra, mengangkat alat potong, memotongnya perlahan ke batang kelapa tersebut.


Beberapa menit berlalu, pohon kelapa yang ditebang Tabra, tumbang lebih dulu. Padahal, mereka memulainya bersama, di waktu yang sama. Tabra tertawa. “Kau sudah melihatnya, Akma. Caraku memotong lebih cepat. Bagaimana, kau kagum denganku?” Dia mengusap hidung yang tidak ada ingusnya. Melontarkan pertanyaan pasti.


“Heleh.” Akma Jaya menyilangkan tangan, pohon kelapa yang ditebang Tabra, ukurannya lebih kecil. Siapa pun bisa menilainya, bukan dalam segi cara memotongnya, melainkan mengenai batang pohon itu berbeda ukurannya.


“Kau tetap tidak percaya. Lihatlah, kau sudah melihatnya.” Tabra tak ingin usahanya berakhir lelah itu dipandang remeh, dia mengulangi ucapan, bahkan berulang kali, tiga kali, empat kali. Dia bersekedap sambil membalas tatapan Akma Jaya.


Akma Jaya berangsur-angsur tersenyum. “Iya, kau memang hebat. Caramu dalam memotong luar biasa.” Dia tak ingin memperpanjang masalah, nanti yang ada habis waktu mereka hanya digunakan berdebat dan jelas itu tidak berfaedah. Selama pelayaran sebelumnya, Altha banyak memberikan perkataan dalam bentuk nasehat sederhana, katanya waktu itu terus berputar, berlalu terus berjalan, seberapa banyak ucapan diucap, sebanyak itulah cerita terjelaskan.


Tabra berbangga diri. Dia telah puas dengan pujian Akma Jaya, berulang kali melambungkan dirinya. Setelah itu, secara perlahan. Dia kembali mengangkat alat potong miliknya, memotong daun kelapa.


Daun itu dipotong, dikumpulkan satu per satu, disusun rapi di atas permukaan pasir. Sekarang, Akma Jaya selesai memotong batang kelapa. Sementara, Tabra sudah sibuk menata daunnya. Kembali lagi, Tabra bersorak riang, menertawakan Akma Jaya yang tampak lambat baginya.


Akma Jaya tidak peduli seberapa banyak ucapan itu didengarnya. Tabra lagi-lagi memekik, menyebutkan kecepatannya. Biarkanlah, bagi Akma Jaya itu tidak mengapa, dia sibuk mendengarkan, menyimak seraya mengangguk.


“Sudah bicaranya?” tanya Akma Jaya menatapnya, ingin menagih. Tabra telah usai menjabarkan panjang lebar mengenai kecepatan gerakannya.


Tabra tertawa. Mengatakan iya, jangan tersingung, hanya bercanda. Begitulah singkatnya. Itu tidak lucu, dia tertawa sekadar basa-basi ekspresi agar tidak terlihat tegang. Akma Jaya balas tertawa.


Waktu berlalu meninggalkan peristiwa sebelumnya. Sekarang, daun kelapa itu tersusun rapi, tampak banyak ditatap.


“Akma, daun ini sepertinya sudah cukup. Dalam satu pohon, kupikir ini cukup. Bagaimana menurutmu?” Tabra tengah menyusun tumpukan daun kelapa, menatap Akma Jaya yang tengah memotong daun kelapa bagian tugasnya.


“Hmmm ... menurut apa yang kuketahui, satu pohon saja tidak akan cukup, biasanya untuk satu rumah ukuran kecil saja, minimal tiga pohon kelapa. Nah, jika besar lain urusan. Tabra, kau tahu nanti daun kelapa ini akan dianyam dengan tali, bukan semata di letakkan di atasnya saja.” Akma Jaya menjelaskan kepada Tabra dengan gaya seorang guru di akademi. Lebih panjang dari pertanyaan sebelumnya.

__ADS_1


Tabra mangut-mangut. “Jadi begitu, kau tahu banyak soal ini, Akma.” Dia menghampiri, menepuk pundak sahabatnya.


Akma Jaya tak ingin besar kepala. Dia teringat perkataan ibunya. Jika mendapatkan pujian, jangan langsung percaya. Kadang orang sekadar berkata, sekadar basi-basi atau lain sebagainya.


“Tidak juga, aku sedikit mengetahuinya.”


Tabra tertawa mendengar penuturan Akma Jaya. “Seperti biasa, kau sering merendah dan itulah yang kusuka darimu, Akma.” Lagi-lagi, dia menepuk pundak sahabatnya.


Akma Jaya tidak menghiraukannya karena itu memang sikap asli dari Tabra yang suka memuji orang lain, sekadar basa-basi yang diucapkan atau gurauan semata niat menghibur. Akma Jaya tampak bersibuk diri dengan daun kelapa yang dia kumpulkan.


Tabra masih menunggu jawaban, tetapi Akma Jaya seakan benar-benar hilang dari jangkauannya, tiada di hadapannya. Ada batang hitung, tetapi bagai patung yang tak berbicara, diam dan sibuk dengan daun kelapa di tangannya.


“Hei, Akma. Kau tidak menjawab ucapanku? Tega sekali. Dari dulu, kau memang tega terhadapku.” Tabra memalingkan pandangan, tidak menyukainya, menuduh yang bukan-bukan.


Akma Jaya menatap serius. “Hmm ... maaf, bukan apa-apa atau kenapa, aku hanya ingin fokus memotong, mengumpulkan daun kelapa ini. Bukankah semakin cepat itu semakin bagus?”


Tabra diam. Masih tidak terima dengan kelakuan Akma Jaya sebelumnya. Akma Jaya tengah sibuk menyusun. Dia menatap tersenyum. “Nah, Tabra. Bayangkan saja, setelah tugas ini selesai, kita bisa bermain.”


Melalui penuturan Akma Jaya itu, rasa semangat yang bersemayam, tersembunyi di dalam diri, kini ternampak. Tabra mengepal tangan. “Baiklah, kalau begitu aku juga akan fokus.” Dia mengangkat alat potong, bersemangat memotong daun kelapa, menyusunnya satu per satu.


Mereka berdua pun saling fokus memotong, mengumpulkan daun kelapa. Dua jam berlalu, cukup banyak daun kelapa yang sudah mereka kumpulkan, daun tersebut ditumpuk dan disusun.


Tabra menghela napas, menatap ke arah Akma Jaya seraya tertawa. Pun, Akma Jaya juga sama, mereka berdua saling tertawa dengan tangan berkacak di pinggang.


Alat potong ditancapkan ke pasir. Mereka berdua duduk kelelahan. Tabra mengibaskan pakaian, juga mengembuskan napas sekencang angin, jelas terdengar suara dari embusannya.


“Ah, sungguh ini melelahkan.” Tabra memekik, sejenak mendongak, menatap sekumpulan awan terpampang bersama kebiruan alas langit. Dia mengusap keringatnya yang berjatuhan.


Akma Jaya terkekeh. “Jika kau lelah, beristirahatlah sebentar untuk melepaskan rasa lelahmu, jangan paksa bekerja di saat lelah.” Eh, bukankah mereka tengah beristirahat, mengapa Akma Jaya mengucapkan seperti itu.


Tabra mengernyit. “Akma, kau keseringan bergurau. Kau tahu, kita sedang beristirahat.” Dia menjawab langsung ke inti, tidak menggubris candaan, rasa lelah sudah memuncak, tidak berselera bercanda, juga basa-basi sekadar ucapan unfaedah.


Akma Jaya kembali berdiam. Tidak berbicara lagi, sepertinya dia memahami ucapan sahabatnya yang tak ingin diganggu. Sekilas perasaan bertumpuk memahami.


“Akma, kau benar. Saatnya kita beristirahat. Itu, laut. Ayo, kita berenang!” Tabra cepat berdiri, berlari ke arah laut. Akma Jaya heran seketika, sikap Tabra berubah sedemikian berbeda dari sebelumnya.


“Hei, cepatlah. Kau itu sering melamun!” Tabra berseru, melambai-lambai.


Akma Jaya mendengar seruan. Dia berlari menghampiri. Tabra menunggu, posisinya hampir dekat dengan laut. Akma Jaya masih berlari hingga berada di samping sahabatnya. Mereka bersitatap sejenak.


Mereka melakukan senam, mengencangkan otot, lantas menceburkan diri ke laut, berenang dengan girang. Tabra tertawa seraya mencipratkan air ke wajah Akma Jaya. Mereka berbalas cipratan. Astaga? Seru sekali, mengingatkan dulu di desa Muara Ujung Alsa, kenangan itu masih merekat kuat, tampak keduanya senang, berenang ke sana ke mari.


Tidak ada yang tahu, mereka berdua asyik berenang, menyelam, mencipratkan air, terus tertawa saling bersitatap senang.


Setelah berpuas diri berenang di lautan yang tenang. Mereka berdua kembali mengumpulkan daun kelapa. Semangat kembali, rasa lelah telah menghilang.


Beberapa menit berlalu, tumpukan daun kelapa sudah terkumpul banyak. “Sepertinya ini sudah cukup.” Akma Jaya menatap Tabra, lanjut mengajaknya untuk membawa ke tempat tabib dan Aisha, juga yang lainnya. Kemungkinan mereka semua sudah lama menunggu.


Tabra mengangguk bersemangat. “Akma, perlu kau tahu. Aku kuat mengangkat sepuluh daun kelapa.” Dia menunjukkan otot. Akma Jaya tidak menjawab, malah tertawa.


“Eh, kau tidak percaya. Aku akan menunjukkannya kepadamu.” Tabra tampak optimis. Memandang serius.


Akma Jaya menepis, melambai-lambai, juga memandang tertawa. “Tidak usah, nanti kau kelelahan.”


Tabra mendengarnya. Dia jelas tidak terima, dia mengepal tangan, mengencangkan otot. Lihatlah, lengannya menggembung, ternampak bulatan besar. Akma Jaya masih tertawa. “Tidak usah, nanti kau kelelahan.” Dia mengulang ucapan sebelumnnya.


“Mana mungkin, daun ini ringan. Tidak akan membuatku kelelahan!” Tabra benar-benar optimis. Kali dia pun tak tinggal diam, langsung mengangkat sepuluh daun kelapa sekaligus. Akma Jaya sedikit menghentikan tawa, menatap ekspresi wajah sahabatnya yang ternampak konyol.


Tabra mengangkat kuat. Dia memandang ke arah Akma Jaya. Sepuluh daun kelapa ditenteng di pundaknya. “Akma, kau lihat daun ini ringan, bahkan ringan sekali!” Dia berkata suara mantap. Walaupun wajahnya kurang menyakinkan. Getir, badannya membungkuk, seperti orang yang tidak kuasa mengangkat.


Akma Jaya cukup mengiakan. Dia memandang senyum ke arah sahabatnya yang memulai berjalan pelan. Dengan ekspresi santui, menyembunyikan ekspresi yang tidak relevan baginya.


Akma Jaya mengangkat dua daun kelapa. Tabra menertawakannya, hanya dua. Lihatlah, dirinya membawa sepuluh daun kelapa, beda kemampuan. Dirinya lebih kuat, lebih hebat dari Akma Jaya.


Akma Jaya menghela napas, memandang sahabatnya ketus. “Tabra, aku hanya tidak ingin lelah, bukannya tidak kuat.”


“Alasan.” Tabra lanjut menertawakannya. Dia masih berjalan, terus berjalan hingga tidak sadar. Di depannya ada lubang menghadang.


“Tabra, awas ada lubang!” Akma Jaya berseru, memperingatkan bahaya.


Tabra menoleh ke arah Akma Jaya sepintas, lalu menoleh kiri karan. “Mana? Tidak ada apa yang kau—, aduuuh!” Kaki kanan Tabra terperosok ke dalam lubang. Sayangnya, lubang itu ada di depan, tidak di kiri, juga di kanan. Astaga? Akma Jaya tepuk jidat, sudah diperingatkan malah jalan terus tanpa melihat ke arah depan lagi.


Sepuluh daun kelapa terlepas dari tangan menindih tubuhnya. “Akma, tolong!” Tabra berseru meminta pertolongan. Kakinya terperosok, tubuhnya tertindih daun kelapa. Nasib, sakit katanya.


Akma Jaya tak banyak bunyi. Dia bersegera menyingkirkan sepuluh daun kelapa yang menindih tubuh sahabatnya. Tabra meringis sakit. Tidak bisa berdiri katanya, kakinya seakan kaku membeku.


“Tabra, sambutlah uluran tanganku.” Akma Jaya mengulurkan tangan ingin membantunya berdiri. Tabra menyambut uluran tangannya. Dia bisa berdiri, tidak ada keluhan apa pun lagi. Heran? Akma Jaya memandang. Tadi meringis sekarang beda ekspresi lagi. Astaga? Apa dia sengaja melakukannya.

__ADS_1


“Terima kasih, Akma.” Tabra mengibas pakaian bekas tertimpa pasir. Lanjut menghela napas, “Aku tertolong karena uluran tanganmu. Jika tidak ada kau, aku bisa hilang kesadaran.” Kali ini, dia tertawa membayangkan dirinya pingsan, tak siapa pun yang menolongnya.


Syukurlah, saat itu ada Akma Jaya. Tabra cukup berterima kasih menunjukkan ekspresi tersenyum. Akma Jaya bersekedap menatap serius tanpa bisa ditoleransi. “Lain kali, kau itu harus hati-hati. Lihatlah kiri kanan, juga di bawah kakimu. Ingat, lihatnya bukan ke belakang, tapi ke depan.”


Tabra mangut-mangut. Setuju dengan penuturan Akma Jaya. Dia mengaku salah karena tidak menatap dengan betul, abai akan kewaspadaan. Padahal, sebelumnya, sudah diperingatkan, ada lubang. Akan tetapi, sosok Tabra yang tak mau kalah, dia mengatakan argumen, sebelumnya Akma Jaya tidak menyebutkan detail di mana lubang tersebut. Benar juga, itu patut direnungkan. Tabra ada-ada saja, pandai sekali berargumen.


“Maafkan aku. Tadi aku memberitahumu agar waspada, tetapi apa yang kuberitahu itu tidak lengkap.” Akma Jaya menyesal, menunduk bersalah.


Tabra tersenyum. “Tak apa. Tidak sakit, kau tahu aku itu kuat. Lihatlah sebelumnya, aku sudah mengangkat sepuluh daun kelapa.”


Akma Jaya memandang, tidak percaya. Apa benar, lalu kenapa tadi meringis? Etto, sudahlah. Tabra menepis tangan berulang kali, jangan bahas. Tahu, orang-orang sudah menunggu, mereka pasti bertanya-tanya.


Tabra mengangkat kembali sepuluh daun kelapa itu ke pundaknya. Mereka berdua lanjut berjalan menuju ke tempat Altha dan Aisha. Di saat itu, Akma Jaya tampak berjalan lambat, ternampak tidak semangat.


“Akmaaa, cepatlah. Kebiasaan, kau selalu berjalan lambat.” Tabra sudah berada sedikit jauh berjalan. Tanpa menyadari Akma Jaya berjalan semakin tertinggal. Dia pun menoleh, di sisinya Akma Jaya benar tertinggal dengan jarak lima langkah, belum jauh, tetapi Tabra tampak tidak senang.


Akma Jaya mengangkat bahu.


Enggan tersenyum, dia berjalan dengan menyeret dua daun kelapa. Lurus memanjang, menyisir pasir. “Jika kau ingin bergegas, juga ingin mendahuluiku, lakukan saja. Kau tahu, aku tidak ingin kelelahan.”


Akma Jaya masih berjalan lambat, menyeret dua daun kelapa. Tabra menatapnya, menggelengkan kepala. “Tidak, siapa yang ingin bergegas, siapa juga yang ingin mendahuluimu. Akma, mana mungkin aku begitu.” Tabra menjelaskan. Dia setia, tidak mungkin baginya mendahului.


Secara pemahaman miliknya mendahului itu sama saja dengan meninggalkan. Tidak bagus, sesama sahabat tidak boleh begitu, pikirnya memandang serius.


Dia sejenak menurunkan sepuluh daun kelapa dari pundaknya. Lalu, melangkah perlahan, menghampiri Akma Jaya.


Dekat sahabatnya itu, dia memegang kedua pundak sisi kanan kiri. “Akma. Kau tahu, kita adalah sahabat, mana mungkin aku akan mendahuluimu. Itu tidak mungkin, kita akan selalu bersama.” Dia melepas pegangan tangannya, lalu berjalan mengambil, mengangkat kembali sepuluh daun kelapa yang semula dia letakkan.


Sepuluh daun kelapa itu berada di pundaknya. Dari tadi Akma Jaya berdiam diri, tidak menjawabnya. Tabra menoleh sepintas. “Ayo, kita harus cepat membangun rumah, nanti malam aku ingin tidur nyenyak. Kau juga, harus semangat!”


Akma Jaya tampak mengangguk. Lantas, berlari kencang mendahului Tabra. “Tabra, yang duluan tiba adalah pemenangnya. Aku duluan, kejarlah aku kalau bisaaa!” Akma Jaya berlari cepat—meninggalkannya. Entahlah, apa alasan dari semua itu, setelah mendengar ceramah singkat dari sahabatnya, dia memacu lari. Kemungkinan anak itu sedang bersemangat kuat.


Tabra sekadar menduga, lalu tertawa. “Itu baru Akma yang kukenal.” Tabra juga sama, memacu larinya, mengejar Akma Jaya dengan larinya yang gopoh menenteng sepuluh daun kelapa. Akma Jaya hanya dua, berbeda tumpu beratnya. Astaga? Lari mereka sangat kencang. Tabra berembus napas di ubun-ubun, tetapi dia tetap berlari sekencang angin, menyelip sahabatnya yang tampak berusaha berlari menyeret dua daun kelapa di tangannya.


Mereka berdua terus berlarian. Tertawa saling pandang. Berlari terus menuju ke tempat Altha dan Aisha. Tiba di tempat itu, mereka berdua kelelahan.


Altha seorang tabib berusia tua itu menggelengkan kepala. Sementara Aisha acuh tak acuh. Dia paham betul bagaimana kekonyolan tingkah laku mereka berdua itu yang melebihi dirinya.


“Kalian ini, ada-ada saja.” Altha menatap masing-masing mereka. Tabra membungkuk dengan telapak tangan memegang lutut, mengembuskan napas lelah. Sebelumnya, mendekati tempat itu sepuluh daun kelapa dijatuhkannya, dia memelesat terus hingga tiba nomor satu.


Dialah pemenangnya. Nomor satu terdepan dengan bangga mengembuskan napas, tertawa sejenak menatap Akma Jaya.


Altha memperhatikan, lalu berdehem. “Tabra, daun kelapa milikmu itu.” Dia menunjuk ke arah daun kelapa yang berjarak sekitar dua puluh langkah ke belakang sana.


Tabra garuk kepala, canggung—ingin mencari alasan, tapi tak kunjung dia dapatkan. Akma Jaya di sisi samping tertawa. “Itulah kau, Tabra. Bawa daun kelapa banyak sekali. Lihatlah, daun kelapa milikku.” Akma Jaya menjawab. Tabra bergumam keluh, juga protes, mengembuskan napas kesal.


Altha menatap mereka geleng-geleng kepala, menahan tertawa. “Kenapa kalian malah berlari? Ingatlah, sebelum berbuat sesuatu, pikirkan akibatnya terlebih dahulu. Berlari seperti itu, jelas kalian akan merasa kelelahan.” Dia menambahkan nasehat, menuturkan lemah lembut, tidak mengapa lain kali jangan diulangi, begitu lanjutannya.


“Iya. Altha, kau memang benar. Kami pun berlari tadi sekadar main kejar-kejaran, tidak akan mengulanginya.” Tabra menjawab, lalu menoleh ke arah sahabatnya. “Iya, 'kan, Akma?” tanyanya ingin mendapatkan dukungan.


Akma Jaya mengerti maksudnya. “Tabra, kau mengada-ada, mana ada begitu, bohong.” Akma Jaya tertawa, dia puas menatap ekspresi sahabatnya yang tampak serba salah, kepada siapalah kiranya orang yang sudi mendukung dirinya.


Tabra memandang ketus. “Memang benar begitu, sebelumnya kau yang mengajakku. Kau yang mengada-ada.” Dia menyilangkan tangan, mengembuskan napas kesal, juga lelah sebelumnya masih terasa.


Altha diam menatap, juga Aisha yang tampak hendak tertawa. Akma Jaya menepuk pundak sahabatnya. “Aku hanya bercanda. Maafkanlah, sahabatku. Itu benar, aku yang memulainya.”


“Tidaklah mengapa. Apa kau tahu, ini melelahkan ....” Keluhannya menyertai embusan napas terputus-putus.


“Altha, kami sudah tidak sanggup lagi mengangkat daun kelapa, sekarang giliran kau saja, ya?” Tabra membaringkan tubuhnya ke hamparan pasir, meletakkan tangan di bawah kepalanya sebagai bantal.


Altha menatap, memaklumi. “Baiklah, kalian berdua beristirahatlah, sisanya biar aku yang mengangkatnya.”


Tabra bersorak senang mendengarnya. Dia berulang kali berjingkrak. Berbisik ke telinga Akma Jaya, “Kau tahu, sebenarnya aku tidak kelelahan, aku hanya berpura-pura supaya dia berhenti menyuruhku mengangkat. Lihatlah caraku berhasil.”


Akma Jaya mangut-mangut mendengarkan. Mereka berdua kompak tertawa. Aisha merasa heran, tetapi tak menghiraukannya. Wanita itu berjalan mengambil daun kelapa untuk dianyam dengan tali. Itulah tugas yang diberikan Altha kepadanya.


Sementara, Altha melambai ke sebagian kru kapal. “Hei, kalian. Ikutlah bersamaku!” Dia berjalan seraya berseru. Mereka pun mengangguk, mengikuti Altha ke tempat terkumpulnya sisa daun kelapa yang belum dibawa dua orang bersahabat tersebut.


Pada saat kepergian Altha, Akma Jaya tak tinggal diam. Dia merangkai kerangka rumahnya, seperti merangkai sangkar burung sebelumnya. Amat mudah, tidak susah. Sebagian kru kapal tampak heran menatap keterampilan Akma Jaya.


Walaupun usianya berada jauh di bawah mereka, tetapi pemahamannya terhadap merangkai cukup terampil. Berbeda dengan Tabra yang tampak berbaring, dia tak ingin menghiraukan apa yang sedang dilakukan Akma Jaya. Berkutatkah atau apa. Tabra tengah asyik mengembuskan napas, siapa pun tidak dihiraukannya. Dia beristirahat, menatap sekumpulan awan di langit sana.


Tabra benar-benar kelelahan dengan semua yang sudah dialaminya. Pada saat berbisik dengan Akma Jaya. Dia sekadar bercanda, tidak serius dalam menuturkannya.


Akan tetapi, caranya memang berhasil, berpura kelelahan di depan Altha, berbisik berpura tidak kelelahan di depan Akma Jaya. Kebiasaan, dia selalu ingin lebih dari sahabatnya, tidak ingin dipandang remeh.


Sebenarnya, Akma Jaya tahu akan itu, tetapi itulah yang menarik dari sisi Tabra yang dia kenal, tidak pantang mengalah, juga selalu ingin maju di depan. Saat itulah, Akma Jaya tertawa membayangkannya. Dia tahu Tabra sedang berpura-pura saja.

__ADS_1


Sementara, Aisha tampak menganyam dedaunan kelapa. Dia berhenti sejenak, berkata ingin ikut membantu merangkai kerangka rumah, tetapi Akma Jaya menolaknya. Bukan apa-apa, melainkan setiap sesuatu ada tugasnya. Aisha, dia ditugaskan menganyam, teruslah bertugas. Begitulah kiranya pemikiran Akma Jaya.


__ADS_2