
Riuh suasana memenuhi pusat kota. Bunyi terompet cerah ceria. Para marmut bersorak sorai menyambut Akma Jaya. Beberapa pemain musik lainnya bersambut irama. Tepukan tangan seakan mewakili kegembiraan yang mereka rasakan.
Pueh, sedap didengar. Dari atas gedung menjulang di sana sepuluh bayangan berwujud marmut berjubah merah mendengar jelas suara suara. Irama syahdu, juga sorak sorai yang ingin mereka lihat.
“Teman-teman, kalian mendengarnya. Irama yang begitu nyaman didengar. Uuhh, sorak sorai itu tanda ada pesta, makanan banyak beragam dari ayam panggang, ayam bakar, ayam madu, ayam kecap dan menu ayam sedap lainnya. Bagaimana kalian setuju kalau aku mengambil masa istirahat ingin pergi ke pesta itu?” Aygha memulai tingkah.
Sosok bayangan berwujud marmut, berjubah merah itu tampak menunjukkan sikap yang menjengkelkan. Waktu kerja masih panjang, mereka harus terus menerus memantau arus waktu, mengecek dan melakukan berbagai hal dengan ketelitian yang mendalam apakah ada kebocoran waktu dan lain sebagainya dari ketidakseimbangan alam manusia.
Aygha terus menerus berbicara, mengatakan pesta dengan dipenuhi beragam hidangan yang tidak bosan dia sebutkan lagi, lagi dan lagi.
Daraysiraswati memelototinya. “Aygha, kamu itu bodoh, jangan tambah bodoh!”
“Eh, kenapa kau menyebutku bodoh?” Aygha tampak tidak terima. Menyingsing lengan.
“Yakin sekali kamu menyangka itu pesta. Apa kamu tahu di luar sana benar ada pesta atau tidak? Jangan-jangan itu hanya suara orang iseng menyalakan musik. Sementara, sorak sorai yang kamu dengar itu adalah mereka yang demo, marah karena berisik.”
Daraysiraswati seakan menampakkan kebodohan di mata seorang Aygha yang terlebih tahu mengenai semua itu. Apa yang sekarang terbayangkan di dalam benak pikiran seorang Aygha adalah mana mungkin ada marmut yang menyetel lagu dengan irama senyaring tiupan angin diikuti sorak sorai sebagus dan sesyahdu itu.
Tanyakan ke seluruh marmut di kota itu, mana ada marmut yang tidak punya sopan santun begitu. Bahkan ada walikota juga pejabat lainnya yang tentu harus punya izin resmi terlebih dahulu.
Itu pesta besar pasti begitu besar. Aygha sekarang hanya mampu membayangkan ada suatu acara besar-besaran. Sangat besar menyelimuti seluruh marmut yang digelar oleh walikota. Alat musik dan sorak sorai itu tanda dari semuanya, tanda yang jelas didengar langsung diduga olehnya.
Tidak mungkin sebagai pemanis buatan saja, tidak mungkin. Aygha punya firasat betul betul mantap katanya.
“Kalau kau tidak percaya. Lihatlah ke layar sana.” Aygha menunjuk ke layar yang mati.
Ia tidak menyadarinya. Daraysiraswati menatap yang demikian itu tertawa. “Kamu itu kurang fokus. Layar itu mati tahu, dasar kamu tidak tahu diri!”
Delapan bayangan berwujud marmut berjubah merah lainnya juga tidak menghiraukan percakapan dua orang marmut yang jelas tidak penting. Di pusat kontrol itu, mereka masing-masing sibuk mengatur waktu.
Aygha menyilangkan tangan di dada. “Parah. Kaulah yang tidak tahu diri. Tinggal tekan tombolnya, itu layar akan nyala.”
Ia memencet tombol. Buusss, layar menyala terang menampilkan gambar. Daraysiraswati terdiam tidak dapat berkutik lagi, wajahnya sekarang tampak memerah.
“Apa? Kau yang salah. Aku benar bukan? Itu benar pesta. Eh, tunggu ....” Aygha kaget. Para marmut di kota ternyata berpesta sedang menyambut seseorang.
__ADS_1
Seseorang yang baru saja mereka temui. Sosok kapten yang mereka tahu bernama Akma Jaya. Aygha dan yang lainnya bertanya-tanya bagaimana mungkin sosok kapten itu bisa keluar dari gedung menjulang tinggi tersebut. Hmmm... ini cukup terasa aneh bagi mereka.
“Dagya, bukankah tadi dia bersamamu?” Aygha bertanya. Yang lainnya menyimak.
Dagya mengangkat bahu. “Aku tidak yakin mengenai ini, tetapi sudah kuduga dia orangnya cukup pintar, bahkan sebelumnya hampir saja rahasia kita terbongkar.”
“Iya, dia itu cukup pintar. Rupanya para marmut di kota juga begitu senang terhadap dirinya. Bahkan, selama beberapa menit dia telah berhasil membuat para marmut itu mengadakan pesta penyambutan.” Salah seorang bayangan berwujud marmut, berjubah merah menjawab ucapan Dagya.
“Sudah, jangan bahas lagi masalah ini. Aygha, kalau kau ingin pergi maka pergilah.”
“Eh, apakah benar aku dibolehkan pergi ke pesta itu?” Aygha tampak ingin berjingkrak bertanya memastikan.
Kedelapan bayangan selain Daraysiraswati mengangguk. Aygha sontak berjingkrak yang semula tertahan. Dia begitu girang sekarang diperbolehkan pergi ke pesta.
Daraysiraswati cepat menarik telinganya. “Jangan senang dulu, aku akan ikut bersamamu.”
Aygha memasang wajah tidak suka. “Eh, untuk apa kau ikut bersamaku?”
“Untuk mengawasimu.”
“Aku tidak perlu diawasi.”
“Itu terserah aku. Kau itu jangan ikut campur.”
“Terserah aku, haah?” Daraysiraswati kembali memelototinya. Menjewer telinga Aygha.
Yang lainnya cukup diam menyimak, mengiakan pendapat Daraysiraswati. Mereka berdelapan juga cukup takut dengan sosok bayangan betina berwujud marmut berjubah merah itu karena ia lebih galak dan seram dari mereka semua.
“Iya. Iya. Baiklah, lepaskan telingaku, kau itu terlalu, kasihanilah akuuu ....” Aygha meminta dengan raut wajah mengemis sedih, nada bicara terdengar merintih. Daraysiraswati sekarang melepaskannya.
Memberikan sikap manja yang seakan membuat Aygha ingin muntah. Betapa tidak nyaman Aygha menatap sikap Daraysiraswati yang mengusap lembut telinganya, memberikan permintaan maaf yang katanya penuh kelembutan dan kasih sayang.
Aygha menatap ketus. “Daraysiraswati, kau itu sangat menjijikkan.”
“Apa? Masalah!” Daraysiraswati cepat memulas telinga Aygha, menatap tajam.
__ADS_1
Aygha sekali lagi meminta maaf. Berusaha memberikan sikap sandiwara untuk kesekian kalinya mangut-mangut meminta maaf. Kesal di dalam hatinya masih terasa.
Mau bagaimana lagi? Rasanya tidak mungkin dia akan melawan. Bisa-bisa kepalanya akan benjol terkena pukul Daraysiraswati.
Delapan marmut berjubah merah lainnya tidak menghiraukan apa pun hal demikian. Bagi mereka apa yang terpenting lebih diprioritaskan.
Aygha dan Daraysiraswati berjalan bersamaan. Keluar memelesat dari satu ruangan ke ruangan lainnya. Dalam masa berjalan keduanya masih berdebat ucap lebih ketus dari sebelumnya.
***
Adapun sosok kapten berjubah hitam berusia genap 40 tahun itu kini berada di tengah-tengah kawalan. Banyak marmut yang mengangkatnya dan dijadikan bahan sorotan banyak mata memandang.
“Manusia memang berbeda. Inilah kedatangan pertama di tempat kita yang kulihat.” Walikota itu mengusap jenggotnya.
Dia menatap sedikit senyuman ke arah layar monitor yang menampilkan keseluruhan sosok Akma Jaya yang berada di tengah-tengah kawalan.
Walikota itu tampak ikut menikmati acara. Dalam waktu beberapa menit sebelumnya para marmut sukses mendapatkan izin dengan cepat dibantu alat secanggih dimensi waktu, surat perangkat digital.
Bahkan sebelumnya walikota kaget. Ada sesosok manusia di tempat mereka.
“Baiklah, kita harus mengadakan penyambutan terhadapnya, ini adalah moment pertama di kota ini, kita telah kedatangan sesosok manusia.”
Para marmut berwajah senang mendengarnya langsung dari sambungan telfon. Banyak para marmut berbagi tugas dalam sekejap membuat rombongan.
Dari pemusik, pemasak. Dan lainnya dengan kelompok tari dan berbagai macam lainnya. Dekorasi kota sekejap diubah tampilan.
Makanan segalanya. Berbagai macam disiapkan telah berjejer rapi, membentuk satu pemandangan yang sangat menggiyurkan lidah. Aroma-aroma masakan yang begitu jelas tercium.
Musik berirama syahdu meliputi seluruh tempat. Akma Jaya hanya mengikuti ke mana pun para marmut itu menuntunnya.
Jauh di dalam benak pikirannya masih mengingat ke sepuluh anak buah dan dua orang sahabatnya yang entah bagaimana sekarang kabarnya.
Ingin bertanya, tetapi kepada siapa gerangan yang dapat ditanya? Tidak ada seorang pun di sekelilingnya, hanya marmut berbeda jenis makhluk dengannya.
Akma Jaya tidak banyak bicara cukup berdiam, berlagak menikmati pesta yang digelar menyambut kedatangannya.
__ADS_1
Di dimensi waktu yang dia sendiri tidak tahu akhir dari semuanya. Apalah yang terjadi di masa mendatang nanti? Akma Jaya hanya mampu berharap.
Berharap untuk bisa terus tabah dalam melewatinya hingga sang waktu berkenan memberikan kesempatan berkumpul kembali dengan mereka—ke sepuluh anak buah dan dua orang sahabatnya.