Bajak Laut Hitam

Bajak Laut Hitam
CH. 39 – Kehancuran Pulau Butariya; Kematian Tokoh Utama, Altha, Qaisha


__ADS_3

Pada kesibukan latihan mereka, Kapten Kaiza terus mencari keberadaan Akma Jaya melalui anak buahnya yang dikerahkannya, ini semua karena kekhawatiran Kapten Karasha yang mempunyai firasat bahwa Akma Jaya akan menghancurkan kepemimpinannya.


Kapten Karasha tidak tenang dengan firasatnya tersebut, dia sering mengigit jari seolah kegelisahan itu meracuni hari hari dengan rasa kekhawatiran.


Entahlah.


Seluruh anak buah berjumlah 30.000rb dikerahkan dan berpencar menelusuri berbagai wilayah di benua Maura Hiba dan berpencar lagi ke benua Palung Makmur.


Berhari-hari mereka menelusuri lautan dan daratan hanya untuk mencari seorang anak yang belum memiliki kemampuan pedang yang sempurna.


Beberapa anak buahnya, tak berhasil menemukan keberadaan Akma Jaya, seolah dunia melebar dengan luas.


Akan tetapi, entah bagaimana? mungkin hanya kebetulan atau takdir.


Salah satu kelompok anak buah tersebut tak sengaja sampai di pulau Butariya dan melihat sendiri sosok Akma Jaya.


Mereka pun melakukan siasat dengan berpura-pura tersesat dan menginap beberapa malam, Akma Jaya dan yang lain tidak mengetahuinya malah menerima kedatangan kelompok itu dengan jamuan dan tempat penginapan.


Kemudian, kelompok itu pamit dan pergi pada hari yang ketiga. Sesampainya di markas besar, mereka pun melaporkan semuanya kepada Kapten Kaiza.


"Kapten, kami sudah tahu keberadaan Akma Jaya, dia berada di pulau Butariya." Anak buah tersebut memberikan informasinya terhadap Kapten Kaiza.


"Bagus, ini kabar yang sangat bagus!" Kapten Kaiza tertawa mendengarnya.


"Kita akan berangkat, malam ini!!" seru Kapten Kaiza dengan tatapan seramnya.


***


Malam hari yang sunyi, lagi-lagi kabut menyelimuti dataran pulau Butariya, Tabra menyaksikannya sendiri dan segara membangunkan Qaisha dan yang lainnya.


Iringan kabut pekat membawa kapal besar milik Kapten Kaiza, kini kapal tersebut sudah sampai di Pulau Butariya.


Perlahan Kapten Kaiza turun dari kapal, malam hari yang gelap, Akma Jaya menyaksikan sendiri sosok yang telah membunuh dan menghancurkan desanya.

__ADS_1


Akma Jaya sedikit menelan ludahnya, sedangkan Kapten Kaiza berjalan pelan menunjukkan dirinya.


"Iii–itu, itu Kapten Kaiza?!!" Tabra berteriak sambil menunjuk ke arah Kapten Kaiza.


Akma Jaya sudah siap siaga dengan pedang yang sudah terhunus, begitu pun juga dengan Tabra dan Aisha.


Sementara itu, Altha hanya bisa melihat ketegangan itu, dia tak mempunyai kemampuan untuk melawan dan Qaisha juga bersiap dengan pedangnya.


Kapten Kaiza berhenti berjalan, ketika jarak mereka sudah berdekatan. "Kaiza!! Kau telah menghancurkan desaku!! Kau telah membunuh semua orang yang tidak bersalah!!" Tabra berteriak melampiaskan rasa kekesalannya dengan suara yang nyaring.


Kapten Kaiza menyipitkan kedua matanya. "Bocah, kau tak mengerti apa-apa!


Setelah mengatakan itu, Kapten Kaiza langsung memelesat tajam dan menebaskan pedangnya ke arah Altha dan Qaisha.


Mereka berdua tak sempat menghindar, dada mereka berdua tergores oleh tebasan pedang Kapten Kaiza, dengan cepat keduanya mulai pingsan karena kehabisan banyak darah.


Sementara itu, mereka bertiga tercengang melihat kecepatan Kapten Kaiza, tak berlangsung lama dari tercengang itu dan tanpa jeda sama sekali, dia pun memelesat ke arah Tabra, dengan pedang yang akan dia tebaskan menuju leher, tetapi untungnya tebasan itu berhasil ditangkis Akma Jaya.


Setelah itu Kapten Kaiza mundur beberapa langkah ke belakang. "Kenapaaa? Kenapa kau membunuh mereka berdua?" Tabra berteriak sambil menangis melihat jasad Altha dan Qaisha.


Kapten Kaiza mengarahkan pedangnya ke Akma Jaya dan mengancam dengan beberapa ucapan.


"Akma Jaya, serahkan dirimu kepadaku! Maka mereka berdua akan selamat!" Lanjut Kapten Kaiza berbicara menatap ke arah Akma Jaya dengan senyuman sinisnya.


Aisha langsung mengeluarkan senjata miliknya, sebuah pistol kini berada ditangannya, Aisha mengarahkan pistol itu ke arah Kapten Kaiza, membuat Kapten Kaiza terdiam dan tidak bergerak, saat Aisha lengah, dia pun memelesat dengan cepat menebas pedangnya ke pistol yang ada ditangan Aisha.


Kemudian, dia kembali menebaskan pedangnya yang terhunus tajam menuju tubuh Aisha, sedangkan Aisha berteriak karena ketakutan, Akma Jaya langsung bertindak dan menangkis tebasan pedang tersebut.


Kapten Kaiza mundur beberapa langkah ke arah belakang.


"Kapten Kaiza, sekarang aku tahu betapa lemahnya dirimu, engkau langsung menyerang ke arah perempuan, sedangkan aku berada di hadapanmu!!" Akma Jaya berseru denga wajah yang tampak marah.


Kapten Kaiza memperlihatkan senyuman sinisnya.

__ADS_1


"Sebelum kita bertarung, alangkah baiknya aku akan membakar pulau ini."


"Kalian semuaaa! Bakar pulau ini!" Kapten Kaiza berteriak menyuruh anak buahnya membakar pulau Butariya.


Anak buah Kapten Kaiza segera menyalakan api di setiap penjuru pulau dan terciptalah kobaran api yang perlahan melahap pulau tersebut.


Pada pertengahan api yang menyala, Akma Jaya terlihat menunjukkan tatapan yang menyeramkan. "Kapten Kaiza, sudah lama aku menanti masa seperti ini!!" teriak Akma Jaya memelesat ke arah Kapten Kaiza.


Dengan cepat Akma Jaya menebaskan pedangnya.


"Hah, kau menyebutku Kapten, suatu kehormatan yang pantas buatku!" Kapten Kaiza berkata seraya menangkis serangan yang dilancarkan oleh Akma Jaya.


Pertarungan Kapten Kaiza dan Akma Jaya berbanding dengan kecepatan tebasan pedang, namun seruan Tabra dari kejauhan mengajetkan Akma Jaya dan dia pun lengah, Kapten Kaiza melihat lengahnya Akma Jaya, dia pun langsung melancarkan serangan yang bertubi-tubi.


Akma Jaya kewalahan menangkis serangan Kapten Kaiza, kemampuan Akma Jaya belum kembali sepenuhnya hingga tebasan Kapten Kaiza mengenai tepat di perutnya, Akma Jaya langsung tersungkur.


Tabra menangis dengan keras, melihat sahabatnya yang tersungkur dengan cairan merah pekat yang bercucuran dan mengelilingi sekujur tubuh Akma Jaya.


Tabra langsung berlari menghampiri Akma Jaya dan langsung mendekapnya, dalam dekapan itu Akma Jaya mengatakan kata-kata terakhirnya.


"Tabra, tetaplah hidup, jangan sepertiku!!" Pandangan Akma Jaya perlahan kian meredup hingga dia benar-benar telah menghembuskan napas terakhirnya.


"Akmaaaa!!!" Tabra berteriak dengan suara yang keras.


Tak lama, hujan rintik berjatuhan dan perlahan jatuh mengenai kening Akma Jaya dan air mata Tabra yang membasahi kedua pipinya, Hujan rintik itu mereda dan menyisakan hawa dingin serta tiupan angin yang kencang, seketika api membesar karena tiupan angin tersebut.


Hujan rintik tak dapat memadamkan api tersebut, bahkan hujan itu turun hanya sebentar.


Pada saat itu, Kapten Kaiza berjalan pelan menghampiri Tabra.


"Bocah, sekarang hanya tersisa kalian berdua, ikutlah bersamaku, kalian berdua akan selamat!!"


Aisha tampak berlindung di belakang Tabra, melihat adiknya yang begitu ketakutan, dia pun tak punya pilihan lain, dalam benaknya tergambar untuk melawan, tetapi dia tak akan sanggup, dia pun memutuskan untuk ikut bersama Kapten Kaiza dan masuk dalam kelompok Bajak Laut Mafia Kelas Kakap.

__ADS_1


Malam itu, kobaran api menunjukkan asap di tengah gelapnya malam, asap itu membentuk sesuatu yang begitu mengerikan.


Apakah harapan Kapten Lasha akan musnah begitu saja? Seorang anak yang bernama Akma Jaya tak berdaya menghadapi Kapten Kaiza, tetapi tak pernah terpikir akan menjadi seperti ini, Tabra menatap pulau Butariya dari kejauhan karena Kapal mereka sudah berlayar meninggalkan pulau tersebut.


__ADS_2