
Palu yang semula ditenteng Akma Jaya terjatuh dari ketinggian menara, tepat di bawah kolam, air memercik. Suara jatuhnya palu. Beuh. nyaring, sangat nyaring.
Akma Jaya menghela napas, kerumunan sudah bubar semenjak angin menderu, membentuk tiupan kencang tak terbayangkan.
Di tengah ketengangan itu, Kapten Broboros mendelik penuh amarah.
"Kau lancang, berani membunuh tanpa memandang statusmu, kau makhluk rendahan!" Kapten Broboros sangat marah, kendati demikian dia masih tak percaya dengan peristiwa yang baru saja terjadi.
Akma Jaya bergeming, Kapten Broboros kembali memelesat tak tanggung-tanggung. Tebasan pedang mereka saling berpapasan, berdencang-dencang.
Namun, tak berlangsung lama, Kapten Broboros meloncat mundur dari hadapan Akma Jaya. Dari posisi dia masih di dinding menara mendongakkan kepalanya.
Cakrawala terbentang cahaya kelabu, menggumpal awan tak enak dipandang.
"Petir!" Kapten Broboros berseru ringkas seraya mengacungkan senjatanya ke arah cakrawala.
Seketika petir menyambut senyuman, membulat seperti bentuk bola karet, terbilang kecil, tetapi tak bisa dianggap remeh, bola-bola petir itu berkumpul begitu banyak, kilatan menyambar-nyambar.
Kerumunan yang tadinya bubar, tak sepenuhnya bubar, mereka bercerai-berai, berserakkan ke mana-mana untuk mencari tempat perlindungan, perputaran waktu menjadi acuan berlari, jelas dari sudut pandang, mereka berada dekat dari jarak menara, bahkan masih betah menatap pertarungan, semua ini terbilang langka terjadi.
Aisha menatap cemas, Tabra di puncak menara melihat detail keseluruhannya, jelas sekali, bahkan kilatan itu dekat dari sorotan mata. Dugaan terbilang, tersangka gumaman bahwa Akma Jaya akan mati gosong tersambar petir.
"Kapten benar-benar dalam bahaya, petir-petir itu menyambar dan berpusat di permukaan pedang si wajah gurita!" Anak buah Akma Jaya berseru fokus menatap teropong.
"Apa yang terjadi?" Salah seorang bertanya.
Akan tetapi, orang itu fokus dalam meneropong, dia tidak menjawabnya. Karena hal itu, membuatnya ingin merebut benda berbentuk panjang tersebut.
Suasana di antara mereka kembali ribut.
"Hei, kalian tak perlu teropong. Lihatlah petir itu, membentuk seperti bola, bukankah ini sudah jelas, jangan berebut lagi. Ini begitu menyeramkan, berdoalah untuk keselamatan kapten!" Salah seorang lagi mendamaikan mereka. Sukses berceramah singkat, mereka kembali berdamai dan sibuk menatap ke arah yang tak jelas, buram karena jarak yang jauh, hanya terlihat bentuk cahaya—kilatan petir menyambar, membentuk bola-bola kecil.
__ADS_1
Kini pedang Kapten Broboros diselimuti petir, tetapi siapa sangka, Akma Jaya menatap santai, tak ada celah takut sedikit pun.
Kapten Broboros menatap tajam. "Kau mampu menangkis pedangku!"
"Sulit dipercaya, sebenarnya siapa kau?" Kapten Broboros begitu geram, bahkan sorotan mata kian menajam disertai suara yang bertumpu keras.
Akma Jaya tersenyum. "Aku seorang manusia!" Ringkas saja dia berucap, tidak panjang lebar.
Sekilas ucapan yang menunjukkan ras seseorang. Kapten Broboros mendengus kesal, menunjukkan tatapan kemarahan. "Biadab, Apakah kau mengejekku?" Dia bertambah marah ketika mendengarnya, bahkan menggenggam erat pedang.
Sederhananya, kemungkinan Kapten Broboros tersinggung, secara pandangan mata wajahnya berbentuk gurita, bukan ras manusia, padahal dulu, dulu sekali, sudah sangat lama itu terjadi.
Akan tetapi, kutukan itu bagai akupuntur, sekilas menyakitkan, tetapi jika ditengok dalam sudut pandang berbeda, akan terlihat sesuatu yang mencengangkan, membelakkan mata.
Kutukan yang membuat umurnya menjadi panjang, tepat 300 tahun yang lalu, dia hidup dan sampai sekarang. Bayangkan, amazing sekali si Kapten Broboros ini, tidak pernah merasakan mati karena kemampuannya hebat, sulit dipercaya.
"Aku tak mengenalmu, tapi kau berani berucap lancang seperti itu!" Spontan, Kapten Broboros melanjutkan ucapan tanpa jeda sedikit pun.
"Kau masih berani lancang berucap di depanku, perlu kau tahu, pedang petir ini adalah kepunyaanku, siapa pun yang berani menghalangi, bahkan menghina sepertimu, sekarang hadapilah ajalmu, kau akan gosong tersambar petir!" Kapten Broboros berucap panjang lebar menjelaskan apa yang ada di dirinya.
Sementara di bawah menara, Ashraq menelan ludah, menatap tak berkedip di salah satu tempat perlindungan, angin masih menderu, jubah kehitaman Akma Jaya berkobar.
"Kau sangat berani membunuh sahabatku!" Kapten Broboros berucap serak, kali ini ada genangan yang memenuhi sekitar netra. Teduh, tidak ada cerahnya.
Akma Jaya terdiam, dia tahu betul kesalahan yang telah dia lakukan.
Tak berlangsung lama, Kapten Broboros tertawa lepas. "Di dalam dunia ini, kau perlu tahu, ada golongan bajak laut yang berada di pilar tujuh lantai, ada golongan bajak laut berada di kemampuan tujuh pedang mistik, aku adalah salah satu dari pengguna tujuh pedang mistik, dan jika kusebutkan semua golongan bajak laut, kau akan ternganga, dari semua itu aku adalah kapten terpandang di semua pengguna pedang." Kapten Broboros menjelaskan seraya memuji dirinya, berdecak bangga.
Di puncak menara, Tabra mendengar sekilas. "Pengguna tujuh pedang mistik?"
"Kapten Gaiha?"
__ADS_1
Tabra tercengang, saat dia kecil dulu, dia melakukan pertarungan dengan Kapten Gaiha, saat pertarungan Kapten Gaiha pernah menyebutkannya, tetapi suatu keanehan dari pergerakan Kapten Gaiha, dia tidak menunjukkan kekuatan mistik apa pun.
"Saat itu, Kapten Gaiha pernah menyebutnya, tapi dia tidak menunjukkan kekuatan mistik, apa dia sengaja untuk tidak menggunakannya?" Tabra membantin dengan tangan yang memegang area dagu, tampak berpikir dengan semua itu.
Di atas kepala mereka, cakrawala memusatkan titik kilatan bertubi-tubi, Tabra kembali berlindung, satu gerakan pedang saja, sekilas perdetiknya, bola petir yang berkumpul di sekitaran Kapten Broboros memelesat cepat, menuju pada satu titik yang terkunci.
Akma Jaya termangu menatap kilatan itu menuju ke arahnya, seketika pikiran melalang buana, mencari solusi untuk mengatasinya.
"Gosok permukaannya tiga kali, lafalkan syair kisara, tak ada dunia tanpa luka, dunia fana penuh dusta, pejamkan mata, rasakan energi alam merasuk ke dalam jiwa."
Penjelasan Adfain terngiang-ngiang, setelah lama berpejam, Akma Jaya kembali membuka mata, mencoba cepat apa yang sudah dikatakan Adfain.
Permukaan benda pusaka—Atramata—digosok sebanyak tiga kali seraya melafalkan syair kisara, dua bait syair dia baca, mata terpejam menghayati bait di dalamnya, merasakan energi alam merasuk ke dalam jiwa.
Seketika Atramata bersinar terang.
Kapten Broboros menahan sinar menuju mata. "Sinar apa ini?" Matanya tak kuasa menahan lebih lama. Perih bergenang air mata, tetapi bukan bentuk tangisan.
Anak buah Akma Jaya yang berada di kapal, semuanya menutup mata, silau sekali, begitu pun Aisha, Ashraq dan semua orang yang di tempat itu menutup mata.
Bahkan, cahaya itu menyorot ke arah cakrawala dalam bentuk lurus, gumpalan awan hitam perlahan memudar.
Kapten Broboros mendongakkan kepala, melihat keseluruhan cahaya itu menembus cakrawala.
"Mungkinkah dia mempunyai kekuatan mistik sama seperti pedangku?!" Kapten Broboros bergumam sesaat, dia masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Tabra di puncak menara bertanya-tanya mengapa bisa jadi seperti itu, di luar dugaan, sangat berbeda.
Tak lama kemudian, cahaya yang memancar itu perlahan mengecil, tetapi menyatu dengan tubuh Akma Jaya hingga membuatnya bersinar-sinar, dari wajah, bahu, pergelangan, dada, perut, kaki sampai lutut, semua anggotanya tak ada yang tertinggal sedikit pun.
Kapten Broboros tak bisa percaya, bahkan apa yang dilihatnya begitu aneh, tak bisa dicerna. Keadaan kembali normal, di mana angin kencang, gumpalan awan hitam, petir menyambar, semuanya kembali normal seperti waktu siang pada umumnya. Cerah, di kala itu, awan menunjukkan keindahan, cakrawala membiru ditemani awan putih bersama-sama membentuk keindahan yang tak pernah dipandang siapa pun.
__ADS_1