
Pertarungan duel diantara mereka berdua terus berlanjut, Akma Jaya menelan ludah, sedangkan tebasan pedang terus menggores, mengenai tubuhnya.
Atmosfer bumi memanas, angkasa bersuara hebat, menggema di alam semesta jagat raya, hampa dipenuhi debar pesona kumpulan bintang dan bulan purnama, Kuda yang berlari, menerjang angin berembus kencang, ia tersedak, berhenti lari dan menuju ke arah sungai kemudian ia minum, beristirahat menghilangkan rasa lelah yang ia alami.
Nuansa hangat pertarungan diluar batas pemikiran, blangko to blangko. Ujaran kemarahan bersatu dengan kilatan pedang penuh keyakinan..
Meronta, menebas, menghamburkan segala emosi yang terpendam, Kapten Atlana memuncakkan tenaga, melancarkan serangan, hampir-hampir Akma Jaya kewalahan untuk menangkis serangan tanpa bisa berpikir.
"Kematian terlihat jelas dimatamu!"
"Akma Jaya, kau berada di ujung tanduk!" Kapten Atlana berujar keras seraya memelesatkan tebasan pedang.
Berdencang!
Disela-sela tebasan itu, Akma Jaya menatap cepat pergerakan Kapten Atlana, memprediksi dalam benak pikirannya, lebih teliti dalam mencari cara untuk mengatasi serta menghadapi Kapten Atlana.
Dikala tebasan Kapten Atlana, burung elang terbang melintas di atas cakrawala, ia menatap iba ke arah Akma Jaya, mengeluarkan suara, melantunkan bunyi khas burung elang.
Sementara itu, Kapten Atlana tidak memberi kesempatan untuk Akma Jaya melawan, hanya memberikannya peluang untuk menangkis serangan.
Sebagian anak buah yang masih tetap berada di tempat tersebut, menyaksikan dengan jelas, menatap penuh harap. Bertangkup tangan seperti orang yang sedang berdoa, entah apa yang mereka pinta, tidak tertangkap panca indera pendengaran.
***
"Kau sangat lemah!" Kapten Atlana berujar penuh cacian, hinaan yang meruntuhkan derajat seseorang.
Akma Jaya menelan perkataan tersebut, memilih tidak memperdulikannya.
Disela-sela ucapan itu, kelemahan Kapten Atlana terlihat jelas di pandangan Akma Jaya, dia tak tinggal diam.
Akma Jaya mempercepat tangkisan kemudian meloncat mundur, menjauh dari hadapan Kapten Atlana. Mereka berdua sama-sama melangkah mundur, menarik napas, mengambil pernapasan, mengembuskannya secara perlahan.
Tak lama dari itu, Kapten Atlana mengacungkan pedang ke atas cakrawala, menunjukkan isyarat dengan jari telunjuk.
"Akma Jaya, kematianmu sebatas jari telunjuk!" ucap Kapten Atlana seraya memacu lari, menuju ke tempat Akma Jaya berada.
Akma Jaya berlari menghampiri.
"Tidak, kau salah!" Akma Jaya menjawab sambil berlari.
Mereka kembali saling memelesatkan serangan, mencepatkan pergerakan tangan.
__ADS_1
Begitu cepat, pergerakan yang dilakukan oleh Akma Jaya membuat Kapten Atlana kewalahan untuk menangkis serangan tersebut.
Keadaan berbalik sempurna.
Sayatan pedang berhasil mengenai area wajah Kapten Atlana, membentuk goresan tipis, mengeluarkan cucuran darah segar.
Kapten Atlana semakin menggeram, wajah penuh amarah, dia melepaskan beberapa teknik pedang yang dia kuasai.
Pemegang gelar yang ke enam dari Pilar Tujuh Lantai itu menampakkan kemampuan yang sesungguhnya.
Tabra menyaksikan penuh, dia tercengang, sedangkan Aisha tak sanggup menatap, dia gemetar mengkhawatirkan Akma Jaya.
Cucuran darah menghiasi sekitaran tempat, Kapten Atlana bergumam puas setelah memelesatkan serangan. Dan serangan itu berhasil melukai Akma Jaya di area dada, memperluas luka sebelumnya, memperpanjang goresan hingga menuju ke bawah perut.
Akan tetapi, masih sama seperti sebelumnya, luka itu tidak terlalu dalam, tidak membuat Akma Jaya jatuh pingsan, walaupun cairan darah terus mengalir keluar.
Tak lama dari itu, sayatan pedang Kapten Atlana kembali memelesat, darah terus mengalir di area yang terkena tebasan.
Akma Jaya menebas, membalas serangan dilancarkan oleh Kapten Atlana, luka berderaian darah di area tangan kiri. Akma Jaya berhasil menebasnya lalu bersegera mundur ke arah belakang.
Akma Jaya memperban luka dengan baju lapisan dalamnya, berupa kain putih yang cukup tebal. Jubah hitam Akma Jaya dilepasnya.
Sekarang, Akma Jaya tidak memakai pakaian sama sekali, hanya tersisa celana dan topi yang menghiasi tubuhnya, Akma Jaya menampakkan bagian perut, otot kekar penuh wibawa.
Tebasan pedang Kapten Atlana membelah udara, menyerang tanpa tanggung, tanpa kenal kata ampun, tanpa henti, bertubi-tubi dipenuhi kilatan pedang yang tertuju terus menerus.
Sementara itu, Akma Jaya menahan serangan, bertumpu kuat di hamparan tanah yang dia injak.
Sejenak mereka berhenti menebas, pertemuan pedang bertabrakan, mereka saling mendorong pedang, wajah saling bertatapan, pedang itu membentuk huruf silang.
Wajah mereka berkerut, Kapten Atlana berkuat tenaga, berupaya untuk mendorong mundur.
Akma Jaya tak tinggal diam, dia menahan dorongan tersebut.
"Akma Jaya, kau sudah mencapai batasmu, kemampuanmu begitu lemah!" Kapten Atlana berucap disela-sela tatapan tersebut.
"Menyerahlah!" Kapten Atlana bersuara lantang.
Akma Jaya tak memperdulikan perkataan Kapten Atlana, dia mendorong dengan tenaga yang kuat, Kapten Atlana dibuat mundur karena tenaga Akma Jaya.
Dengan pergerakan cepat, Akma Jaya menganyunkan tangan kemudian meninju dengan tinju yang begitu keras.
__ADS_1
BUUUK!
Suara itu terdengar jelas, Akma Jaya meninju ke area perut Kapten Atlana..
AAARGH ...!
Kapten Atlana terpelanting begitu jauh.
GEDEBUM!
Dia jatuh menimpa tanah begitu keras, sangat keras mengakibatkan tanah itu berhamburan ke sekeliling tempat, berlubang cukup dalam karena Kapten Atlana terpelanting dan jatuh dengan bokong yang tertancap ke dalam tanah.
Setelah itu, Akma Jaya menatap ekspresi wajah Kapten Atlana yang terlihat sedang menderita kesakitan.
Kapten Atlana tidak menunjukkan keluhan rasa sakit, dia tetap tersenyum sinis, tetapi jelas terlihat di sekujur badannya penuh goresan pedang, bercucuran darah, wajah yang tampak mengerut seolah menahan rasa sakit.
Dikala itu, siapa pun yang melihat kondisi Kapten Atlana, tentu mereka tidak bisa memungkiri hal tersebut.
Mempunyai firasat menduga, entah apa pun itu? Apa pun yang dibayangkan karena mata menyaksikan semuanya.
Akma Jaya melangkah maju, sedangkan Kapten Atlana tetap pada posisi berbaring, tidak bersuara, tidak berdiri dari posisinya. Tetap seperti itu, tidak menunjukkan pergerakan, dia bergeming, entah apa dan kenapa dia melakukan hal demikian.
"Atlana, kenapa kau tidak berdiri?" Akma Jaya bertanya seraya menghampiri Kapten Atlana.
"Apakah kau menyerah begitu saja?"
Akma Jaya mengucapkan sedikit kalimat berbentuk sebuah apalah itu, seperti apa yang terdengar, kata itu seperti bertujuan untuk mengguncangkan, menghempaskan dan membangunkan Kapten Atlana.
Akan tetapi, tidak demikian. Kapten Atlana tetap kokoh tidak bergerak, bersikap setia pada posisinya.
Akma Jaya menyaksikan apa yang ada di hadapannya, Kapten Atlana tidak menunjukkan pergerakan, tidak berucap sama sekali, bahkan tidak menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Akma Jaya.
Akma Jaya semakin mendekat, menghampiri Kapten Atlana yang terbaring ditelan tanah, bokongnya menancap cukup dalam, kemungkinan dia tidak bisa bergerak karena bokong tersebut, tidak berucap karena gengsi, dia telah mengalami kekalahan, menelan pahit apa yang dia ucapkan sebelumnya, seperti dugaan Kapten Atlana memilih untuk berdiam dan tidak menunjukkan pergerakan serta perkataan.
"Atlana, kemenangan ini berada ditanganku!"
Akma Jaya berucap tegas seraya menggenggam tangan, mendekatkan wajahnya ke wajah Kapten Atlana.
"Apa yang kau inginkan? Pergilah!"
Kapten Atlana berujar lantang, dia menyuruh Akma Jaya bersegera pergi meninggalkannya, seperti apa yang sudah dikatakan Kapten Atlana diawal duel, jika dia kalah, dia akan mencabut sumpahnya.
__ADS_1
Sekarang, kenyataan yang terlihat di depan ke dua pasang mata, Akma Jaya telah berhasil mengalahkannya dalam duel tersebut. Otomatis sumpah itu dicabut oleh Kapten Atlana.