Bajak Laut Hitam

Bajak Laut Hitam
CH. 141 – Secara Garis Pandang Mata Tidaklah Sama


__ADS_3

“Kalboza, kau tatap mataku!” Tabra melantangkan suara, tatap?—Hah?


“Apa—apa? Tu–tunggu, apa?” Kalboza tidak mengerti. Agak sedikit gagap.


“Kau tatap saja!” Tabra bersikeras melantangkan suara. Tangannya menggenggam kerah baju Kalboza.


Agak sesak. Kalboza menelan ludah terasa sendat. “Tatap mataku!” ulangi Tabra.


Akma Jaya hanya memandang keanehan akan tingkah laku si Tabra itu. “Rencana itu mutlaaak! Apa kau mendengarnyaaa!” Dia berteriak keras hingga suaranya.. suaranya... suaranyaaaaa...


Kau tahu, teman. Suaranya itu menggelegar hingga memenuhi seisi kapal. Bukanlah sebuah perkara yang main-main. Baginya seperti ada semacam getaran dalam dadanya. Ombak dan badai digelapnya malam di sekian tanggal tahunan.


Perasaan? Tidak apa, se-absurd itulah perasaan yang kini dia rasakan. Kesal!


Entah mengapa? Kalboza tidak mengerti ada apa dengan si Tabra itu. Akma Jaya juga sama seperti Kalboza menatap heran dan penuh pertanyaan dalam benaknya.


Semua orang di dalam kapal itu juga jelas mendengarnya. Kalpra dan Boba yang tengah bermain dadu terhenti. Hambala yang tengah berbesih kapal juga sama. Mereka menoleh ke sumber suara.


Di mana suara itu berasal dari kabin sang kapten. Mereka sama-sama penasaran. Apa dan mengapa? Apa yang terjadi?


Apa yang terjadi? Itulah pertanyaan yang sama dibenak setiap orang-orang di kapal.


Aisha berlari dari dapur—tempat sebelumnya dia memasak. Pun Jalbia yang galau mengingat masa lalu di sana, berlari ke arah kabin sang kapten. Di sanalah sumber suara itu berasal hingga mereka semua berkumpul berembuk di depan pintu kabin. Suara-suara percakapan satu sama lain bergema. Terdengar pula itu suara oleh ketiga orang yang tengah berada di dalam kabin tersebut. Tabra merasa senang.


Memandang ke arah Akma Jaya sambil berkata, “Itulah rencana saya, Kapten. Rencana saya ingin mengumpulkan mereka dengan sedikit kata. Sederhana saja.”


Tabra melepaskan kerah baju Kalboza. Berjalan dengan gayanya. Kalboza hanya bisa menatap aneh, Akma Jaya juga sama.


“Kapten, apa Anda merasa Tabra sepertinya bertingkah aneh.” Kalboza berbisik.


“Entahlah, mungkin dia lelah.” Akma Jaya angkat bahu, enggan memberi tanggapan.


Tabra sudah membuka pintu kabin yang di luar situ dipenuhi orang-orang. Berembuk menjejali sekitaran tempat. Akma Jaya dan Kalboza masih berada di dalam sana.


Hanya Tabra seorang diri yang menemui orang-orang di luar. Wajah mereka semua tampak penasaran akan apa yang sedang terjadi. Apa mungkin di antara kedua orang yang telah lama bersahabat itu baru saja telah terjadi pertengkaran atau tanpa sengaja atau kenapa. Masih bergumam pertanyaan di benak setiap orang.

__ADS_1


Boba berbadan gendut itu menyibak kerumunan. “Tabra, cobalah kau jelaskan kepada kami ada apa denganmu mengapa kau mengeluarkan suara seperti ayam tercekek di sela pagar yang terbuat dari bambu dan apa yang terjadi sehingga kau berteriak sedemikian keras begitu?”


Boba mempertanyakannya sambil mendramatisir dengan lagu-lagu eropa yang terkenal klasik itu. Lagu yang bahkan hanya Author sendiri yang menyukainya. Teman-teman Author banyak yang tidak suka aliran klasik. Musik itu.. lebih tepatnya, nostagia mengenai masa lalu.


Masa itu..., seseorang di antara ribuan banyak manusia bisa saja membenci tanpa alasan yang jelas, tanpa definisi yang memadai. Maka, sudahlah duhai temanku tidak perlu ada rasa kasihan padaku. Cukuplah itu semua menjadi pelajaran bahwa tidak semua orang memiliki pola pikir yang sama, dalam artian berbeda. Beberapa memang berbeda, ada beberapa yang tampak seperti kapas kotor. Pun dicuci pakai pembersih dengan busa wangi. Kadang kotornya hilang, kadang juga tidak. Itulah masalahnya, ya sudahlah.


Kadang dengan menulis seorang Author bisa melupakan semua itu. Kadang juga nggak—sakitnya terasa berat. Memberati angan di jiwa seorang pemalas.


“Kita tidak bisa berkumpul lama di sini dan hanya menunggu saja. Lihatlah dirinya tertawa di atas rasa penasaran orang lain.” Provokator mulai memunculkan diri.


Beberapa dari mereka saling pandang dan bersahutan melontarkan ujaran.


“Iya, benar! Benar!” Mereka semua kompak bersorak. Kompak mericuhkan suasana di dalam kapal. Akma Jaya ingin keluar dari kabin, tetapi Kalboza menegahnya.


“Biarkan saja dulu Tabra yang mengurusnya, Kapten. Saya hanya ingin melihat bagaimana Tabra menaklukan mereka dalam suasana tatap muka langsung seperti itu, karena dia yang sebelumnya mempunyai ide tanpa memikirkan kelanjutannya akan seperti apa dan apa yang akan dia terima. Dia tidak memikirkannya. Seharusnya sekarang dia juga bisa melaksanakan idenya tersebut tanpa memikirkannya. Dan secara garis pandang mata tidaklah sama.”


“Apa yang kau maksud?” Akma Jaya bertanya memperhatikan ucapan Kalboza.


“Di situlah kadang seseorang diuji dengan sikap sosialnya, Kapten. Ketidaksamaan dalam pandangan dan pola pikir yang berbeda, bahkan dari tatapan saja sudah jauh bedanya. Apalagi, pola pikir mereka.”


“Wahai penduduk kapal, jika kalian ingin mendengarku bicara. Diamlah dan tunggulah aku untuk menerangkannya.”


Suara itu lantang membelah udara dalam artian menerus ke lubang telinga.


Tak hanya awak kapal yang berusaha ditenangkan. Beberapa teman seperjuangan juga ikut ribut karenanya.


Jalbia juga hadir di situ mendengarkan apa yang akan dikatakan Tabra. Mereka semua lebih tepatnya begitu berhadir. Aswa Daula dan lainnya juga sama masih saja menyimak akan suatu perkataan yang belum juga dikatakan, terutama Aisha datang berlari dari dapur sampai di situ, lekas bertanya—menanyakan kepada Tabra usai Boba bertanya akan hal sebelumnya.


Tabra belum menjelaskan apa-apa. Aisha mendesaknya agar lekas bicara. Hambala ikut menimbuk beberapa pertanyaan.


“Apa yang terjadi, Tabra. Coba kau jelaskan bercepat kepada kami apa yang terjadi? Agar di antara kita semua tidak terjadi kesalahpahaman.” Begitu kata Hambala.


Disusul Glosia, Jalbia hanya menyimak saja. Aisha yang lebih keras bertanya. Ada-ada saja tingkah laku dan kekonyolan mereka. Itu murni karena tangan jahil si Author yang mengetik tanpa disaring, kalau ingin menyalahkan salahkan saja Authornya.


“Aku punya saran kita tidak usah ikutan berkumpul bersama mereka. Itu hanyalah omong kosong saja.” Salah satu awak kapal berkata seolah dia adalah orang bijak.

__ADS_1


Seorang lainnya menimpali, kompak menjauh. “Ya, kau benar. Lebih baik kita pergi saja dari sini, tidak ada untungnya ikut berkumpul bersama mereka, itu cuma kelakukan Tabra yang aneh dan tidak punya pekerjaan. Pengangguran yang banyak tingkah. Dia mengatakan sesuatu yang bertele-tele dan sebuah kebohongan yang sengaja dibesar-besarkan.”


Suara itu jelas saja berbisik. Mana berani mereka menampakkan suara. Dan perlahan menjauh, memutuskan untuk lanjut ke pekerjaan mereka. Tetapi ditegah oleh Ashraq. “Kalian mau pergi kemana?”


Otot kekar Ashraq mampu membuat mereka bungkam dan terpaksa kembali lagi ke sana. Ashraq juga kurang kerjaan.


Walaupun beberapa ada juga yang lulus dari penglihatan Ashraq yang mengawasi.


Masih banyak orang yang tersisa di sana. Menanti dan mendesak Tabra. Entah mengapa perasaan Tabra mendadak senang, bukanlah suatu perkara yang main-main. Dia naik ke atas kotak dan membuat dirinya lebih tinggi dari siapa pun dan di situlah dia bersiap mengatakan lantang, sejenak membuat orang-orang tampak terdiam dari semula kericuhan dipenuhi suara bertanya dan bertanya.


“Hai, semua penduduk kapal. Kalian mendesakku dengan sesuatu yang tidak bisa kukatakan dengan cepat. Itu percuma dan kalian tetap saja mendesakku untuk mengatakannya dan apa mau kalian?”


“Bagaimanalah mungkin kiranya seseorang didesak mengatakan sesuatu yang bukan kehendak dirinya. Kalian tidak bisa mendesakku mengatakannya, hanya aku di sini yang bisa bicara dan sesukaku mengatakannya ataukah tidak. Tapi, SATU HAL yang pasti aku akan mengatakannya.. YANG PASTI aku akan mengatakannya kepada kalian semua dengan cara perlahan! Satu.. demi.. satu.. kalimat yang akan kuterangkan. BERSABARLAH hingga aku selesai melantunkan beberapa syair.”


Tabra tampak dilihat dari kanan, kiri, muka dan belakang seperti bergaya ala penyair yang menguatkan suara, menatap mereka semua, percaya diri. Satu bait ke bait syair dilantunkannya dengan semarak suara.


Kalaulah bunga dapat kau petik


Kalaulah angkasa dapat kau naik


Hai, para penghuni dunia


Makhluk yang bermata dua


Perantara dunia


Menggelora dasawarsa!


Kalaulah api dapat kau pegang


Kalaulah pedang dapat kau sandang


Di mana letak hatimu


Hatimu yang mengeras seperti batu

__ADS_1


Entah apalah maksud dari semua itu. Syair itu mampu membuat Tabra menepiskan derita yang dia rasa dan membuatnya seperti melayang di langit, merayap di dinding dan melihat mereka semua bagai rerumputan yang bergoyang, begitulah.


__ADS_2