
Kapten Kaiza melangkah, cukup satu langkah sudah membuat orang-orang tercengang. Detik per detik helaan napas berembus tegang.
Ombak berdebur. Di tengah tebalnya kabut terbawa angin, rambut yang menutupi mata Kapten Kaiza bergerak perlahan. Tersenyum sinis dengan gaya memegang topi bajak laut miliknya.
Orang-orang tercegang, mereka semua menatap bergeming. Dengan wajah tersenyum sinis, Kapten Kaiza memelesat. Seketika tebasan pedangnya menyebabkan banyak darah bercucuran.
Banyak orang mati dalam sekejap mata karena kecepatan gerakan pedang yang ditebaskan Kapten Kaiza.
“Gerakan apa itu?! Cepat sekali!” Tabra tercengang. Alba—selaku ayahnya menepuk bahu, “Tenanglah, bersiap dan jangan takut.”
Tabra mengangguk, menelan ludah, menggerakkan pedang, mengencangkan tekad. Sementara, Kapten Lasha yang sudah bersiap menyerang. Seorang kapten bajak laut tua itu dikepung anak buah Kapten Kaiza, dikelilingi penuh drama.
Kapten Lasha menatap sekelilingnya. Mereka semua bersenjata tajam, ada lima orang jumlahnya, lumayan banyak.
Mereka melancarkan serangan secara bersamaan. Kapten Lasha menangkis dan terus berhadapan dengan mereka. Bagaikan diterpa ombak Kapten Lasha seperti tidak berdaya menghadapinya. Dia hanya seorang diri yang dihadang lima orang dengan kemampuan pedang yang setara dirinya.
Lima orang itu terus melancarkan serangan terhadap Kapten Lasha, tusukan pedang, tebasannya terus dilancarkan, mereka berusaha mengenai bagian tubuh Kapten Lasha, tetapi semua tusukan dan tebasan itu berhasil ditangkis.
Kapten Kaiza memberi perintah kepada beberapa anak buah lainnya untuk dikerahkan ke rumah-rumah penduduk, satu kalimat perintah diucapkan tegas, Kapten Kaiza menyuruh agar rumah-rumah itu dibakar dan penduduknya dibunuh.
Dengan sikap tegak berdiri, para anak buah itu melaksanakannya. Di setiap penjuru rumah telah siap siaga anak buah dari Kapten Lasha, mereka saling berhadapan.
Akan tetapi, anak buah Kapten Kaiza mempunyai kemampuan pedang di atas kemampuan anak buah Kapten Lasha.
Tanpa banyak drama, seketika anak buah yang berjaga di rumah-rumah penduduk dibunuh dengan mudah. Beberapa ada yang melakukan perlawanan dan serangan. Nahas, tidak ada yang berhasil mengalahkannya, semua anak buah yang tadinya berjaga dibunuh tanpa terkecuali.
Sementara, di pinggir pantai dipenuhi darah itu, Kapten Kaiza menatap ke arah Tabra, sekilas pandang, lalu dia memelesat tajam ke arahnya. Pedang terhunus tajam menusuk ke sasaran.
Tabra terpaku, menatap tajamnya pedang memelesat. Hampir dekat, Alba cepat menangkis. “Kau sebut dirimu seorang Kapten, tapi kau malah menyerang seorang anak kecil, apa kau pantas disebut kapten!” Alba berteriak lantang, lalu memelesatkan serangan ke arah Kapten Kaiza.
Kapten Kaiza mencih sinis, tidak bersuara. Serangan dari Alba, dia tidak menunjukkan sikap tinggal diam. Kapten Kaiza membalas serangan, memelesatkan tebasan pedang dengan pergerakan yang dilirik hebat.
“Tabra, pergi dari sini! Selamatkan dirimu dan lindungi ibumu dan Aisha adikmu,” seru Alba menangkis serangan Kapten Kaiza.
Alba terus-menerus berbalas serangan dengan Kapten Kaiza. Tabra menatap, mengangguk, menuruti perkataan Alba. Dia berlari menuju ke arah rumah. Menembus kabut tebal di depannya.
Sementara, sebagian rumah terbakar yang berasal dari keganasan anak buah Kapten Kaiza, kobaran api melahapnya, kepulan asap di malam hari itu bercampur kabut dan cahaya rembulan. Beberapa menjadi puing-puing tak bernilai, tak dapat dilihat.
“Desaku ... ini semua!” Tabra terduduk dengan ekspresi tercengang menatap kobaran api bernyala-nyala penuh kepulan asap hitam memuncak ke arah cakrawala.
Walaupun di tengah kegelapan malam, kobaran api itu terbilang cukup besar, menerangi jalanan dan sekitaran.
__ADS_1
Tabra menyeka air mata, menggenggam erat tangan. Dia terus berlari menuju arah rumah. Hampir di sekeliling tempat banyak darah berhamburan di tanah.
Darah itu seakan membanjiri, mengalir dari sayatan luka tubuh-tubuh tanpa nyawa.
Darah yang terus mengalir dan menghiasi tanah penuh kemerahan, Tabra khawatir mengenai keadaan ibunya dan Aisha.
Air mata tumpah di setiap langkah. “Aku harus cepat sampai ....” Dia semakin memacu lari, melakukan langkah cepat.
Tabra tergopoh menoleh ke kanan kiri hingga tibalah dia di tempat kediaman. Dia mengusap wajah, menatap rumahnya yang sudah habis terbakar, menyisakan puing puing kehancuran, sekitaran tempat berabu, tidak ada apa pun lagi.
“Ibuuu ... Aishaaa!” Tabra berteriak seraya berjalan, menengok ke segala arah, mencari keduanya, ekspresi wajah dipenuhi cemas.
Tabra menelusuri jejak, mencari penuh harap untuk bisa menemukan mereka berdua, hingga tibalah dia di hutan, keadaan gelap gulita, tetapi suatu keberuntungan, sorotan dari api yang berkobar-kobar mampu menerangi penglihatan, memang tak disangka. Tabra melihat Aisha dari kejauhan, adiknya itu sedang menangis deras. Tabra berlari kencang, menghampiri Aisha.
Tabra memegang bahu Aisha dari arah belakang. “Aisha, apa kau baik-baik saja?” Dia mendekatkan tubuhnya, tampak Aisha menoleh, memperlihatkan kedua pipinya yang dipenuhi deraian air mata.
Di kegelapan malam yang mencekam, meleraikan nestapa, melepaskan raga dari sanubari. Kobaran api menunjukkan cahaya terang, di bawah rembulan berjuntai kabut, Tabra mendekap adiknya, menenangkan perasaan yang tengah berkecamuk.
“Kakak ... ibu sudah dibunuh oleh mereka,” ucap Aisha, tubuhnya menggigil—gemetar ketakutan.
Tabra menggenggam erat tangan, gigi atasnya bertabrakan gigi bawah. Tabra menggertakkan, menunjukkan kekesalan yang memuncak, tak bisa dia tahan. Tabra masih mendekap Aisha. Dari kesekian derita, derai air mata tumpah—jatuh ke permukaan udara.
“Kakak ... bagaimana keadaan Akma, dia sedang terbaring lemah?” Aisha menyeka air mata, bersuara serak bercampur suara tangis yang mulai mereda.
Tabra tercengang. “Akmaaa?!” Melalui penuturan Aisha, Tabra baru mengingat Akma Jaya. Dia terlalu cemas hingga lupakannya.
“Kita harus ke tempatnya, sekarang!” lanjut Tabra seraya memandang Aisha.
Mereka berdua memelesat, menuju ke tempat Akma Jaya. Mereka berlari kencang.
Tiba di tempat Akma Jaya, Aisha dan Tabra memasuki ruangan. Terlihat dari kejauhan seseorang berambut lurus, dia berdiri memegang pedang yang sudah terhunus, seseorang itu bersiap menebaskannya ke arah Akma Jaya, sedangkan Haima berada di tempat, ketika tebasan itu diayunkan, Haima bergegas melindungi Akma Jaya, tanpa memikirkan akibat dari hal tersebut.
Haima terkena tebasan pedang, mengenai area leher, sehingga membuat darahnya memuncrat ke wajah Akma Jaya.
Sementara, Kapten Lasha sibuk memelesatkan serangan, menghadapi lima orang yang membuatnya kewalahan. Ketika itu, sebuah firasat menghampiri Kapten Lasha, bunyi dengung di telinga, dia pegang dan tutup mata, sesosok gambar samar mengenai kejadian yang baru saja terjadi ternampak di dalam benak.
“Haima ... firasat apa ini? Itu tidak mungkin?! Aku pasti terlalu khawatir!” Kapten Lasha memilih tidak ingin memikirkannya, sekarang dia terus menangkis pedang yang mereka tebaskan.
Aisha dan Tabra menyaksikan sendiri kejadian itu, kejadian yang teramat sadis terlihat di depan mata, Aisha terduduk takut, tercengang, badannya kembali menggigil, sedangkan Tabra menunjukkan ekspresi marah.
“Kaaauuu ...!” Tabra berteriak lantang.
__ADS_1
Orang itu menoleh. “Ternyata ada anak kecil, kemarilah, maka akan kutebas!” Orang itu berucap sedikit menakuti-nakutinya
Namun, Tabra tidak terlihat ketakutan, dia berlari ke arah orang tersebut. “Kau ... kau sungguh keterlaluan!” Tabra berteriak seraya memacu lari. Pedang terhunus tajam menunjuk ke arah sasaran.
Orang itu tersenyum sedikit sinis, dia tampak meremehkan kemampuan Tabra.
Di saat Tabra hampir mendekatinya, dia langsung memelesatkan serangan. Orang itu menangkis santai.
“Kau membunuh, kau menghancurkan desaku, keterlaluan!” Tabra berteriak lantang seraya melancarkan serangan.
Orang itu menangkis dengan mudah, Tabra mempercepat tebasan pedang, kecepatan dari pergerakkan membuat napasnya terputus-putus, embusan lelah menyeka keringat sejenak. Keduanya sama-sama menebaskan pedang hingga tetesan darah penghabisan. Tabra meloncat mundur, menjauh, lalu menarik napas.
Orang itu kembali tersenyum sinis. “Bocah, kau cukup hebat!” Dia memuji dengan suara merendahkan. Bertepuk tangan.
Tabra semakin menggeram. “Kau biadab. AKMA JAYA adalah sahabatku, dia menyayangi ibunya. Di saat dia terbangun dari sakitnya, mengetahui semua ini, apakah kau merasakan penderitaan? Apakah kau memikirkan apa yang dia rasakan? Kau sungguh kejam. Kau tidak menghargai perasaan orang lain!” Tabra mengatakannya panjang lebar, dia memelesat cepat, menebaskan pedang dengan tebasan memutar beserta tusukan bertubi-tubi.
Orang itu cukup kewalahan dalam menangkis serangan hingga tebasan beruntun tak sanggup ditangkis. Tabra memelesatkan tebasan lurus, membelah perut. Orang itu jatuh, darah memuncrat.
Tabra belum puas dengan itu, dia kembali menebas ke bagian leher sebagai balasan atas perbuatan yang sama.
Di kala itu, pakaian Tabra dipenuhi cairan darah. Setelah membunuh, Tabra kembali menangis. Air matanya tumbah, membasahi area pipi. Dia membenam wajah di kedua telapak tangan.
Air mata terus mengalir—jatuh perlahan, menyatu bersama darah yang ada di sekujur pakaiannya.
Aisha berjalan, menghampiri Tabra yang tengah menangis. Dia mendekapnya. Kakak beradik itu kembali menguatkan satu sama lain.
“Aisha, mereka ... mereka begitu kejam, mereka tidak mempunyai perasaan!” Tabra mengucapkannya berulang kali, mengalir cucuran air mata.
Dengan perlahan Tabra melepaskan dekapan adinya. Dia berdiri, lalu menghampiri sahabatnya yang tengah terbaring lemah, dia membersihkan wajahnya yang bersimbah darah Haima.
“Sahabatku, maafkan aku ... aku tidak bisa melindungi ibumu,” ucap Tabra disertai tangisan, bersuara lirih.
Suasana diselimuti duka. Tiba-tiba saja, pada saat itu Takma bersuara, kicauan yang memecahkan suasana. Tabra menangkap indera dan baru mengingatnya.
“Takma, aku hampir lupa dengannya!” Tabra berseru, bersegera mengambil sangkar burung yang berada di luar rumah. Dia meletakkannya di dekat Akma Jaya.
“Aisha ... kita harus tetap berada di sini karena aku akan melindungi Akma Jaya dengan segenap kemampuanku!” ucap Tabra memandang adiknya.
Aisha tidak menjawab, tubuhnya masih menggigil, ketakukan. Di dalam kamar yang tersusun rapi itu menjadi tempat berakhirnya kehidupan Haima. Bulan purnama ternampak di permukaan cakrawala menjadi saksi bisu, dunia seakan dirundung duka berkepanjangan.
Pertumpahan darah yang terjadi di desa Muara Ujung Alsa, desa itu dipenuhi kobaran api menyala-nyala, asap mengepul, kabut bercampur asap menyelimuti sekitaran tempat, suasana bertambah pekat.
__ADS_1