Bajak Laut Hitam

Bajak Laut Hitam
CH. 57 – Bab Masa Lalu : Percaya


__ADS_3

Kapal mereka berada tepat di tengah lautan memasuki Daerah Daulisa, mereka masih berdiam beberapa saat dari kepergian Kapten Ranjaya, desiran angin yang bertiup, Tabra menghela napas panjang, bersyukur tidak ada pertumbahan darah yang terjadi, tak ada luka, suasana aman sentosa.


Di lain keadaan, Tabra mulai protes, dia masih tidak terima dengan keputusan yang diambil oleh Akma Jaya.


"Kapten, apa yang dikatakan lelaki jalang itu, saya tidak mempercayainya!" Tabra berkata memandang ke arah Akma Jaya.


Betapa kekesalan itu masih melekat pada dirinya yang tak terkontrol, pandangan mata itu terlihat memudar akibat hawa panas yang meluapkan air, menutupi pandangan mata Tabra. Mata itu adalah hati.


Mata hati yang tak bisa melihat karena ditutupi awan gelap berupa kekesalan, kemarahan, segala hal yang mengaduk-ngaduk perasaan, menghancur leburkan tembaga, melelehkan gunung es di kutub utara.


Akma Jaya berucap untuk memenangkan perasaan Tabra yang kini dilanda amarah.


"Tak apa, masalah itu jangan kau pikirkan, saat ini hal yang kita utamakan adalah perlayaran kita menuju ke Desa Buana."


"Keselamatan semua."


"Tabra, hadapilah masalahmu dengan kepala yang dingin, jangan mudah terbawa emosi!"


Alasan demi alasan terutarakan, terjelaskan menurut apa yang Akma Jaya sampaikan, Tabra mengangguk pelan.


"Ba–baiklah, Kapten."


Tabra terbata, mungkin saja dia ragu mengiakannya, dari ekspresi Tabra terlihat kurang menyakinkan bahwa dia mengiakan secara tulus atau hanya karena sikap hormat yang dia tunjukkan.


"Beristirahatlah, kau butuh istiharat, amarahmu benar-benar tak terkontrol, kau harus lebih banyak beristirahat!"


Akma Jaya menekan suara, dia mengatakan ucapan perintah tegas, tetapi disela-sela ketegasan terselep uraian lembut, penengah dari tegasnya ucapan yang dikhawatirkan akan melukai perasaan.


"Pelayaran kita sudah memasuki Daerah Daulisa, kita akan berlayar menuju ke Desa Buana yang berada tak jauh dari jarak ketika kita memasuki Daerah Daulisa, persiapkan dirimu, Tabra." Akma Jaya menepuk Tabra dengan sebuah senyuman.


Tabra mengangguk, dia setuju dengan apa yang diperintahkan Akma Jaya, benar saja dia membutuhkan istirahat, sebenarnya perlayaran mereka masih membutuhkan waktu hampir 5 jam untuk sampai ke Desa Buana.


Itu adalah waktu yang lama, benar 'kan? bahkan untuk tidur, sangat bagus, rekomendasi yang dianjurkan untuk beristirahat sejenak menenangkan pikiran, emosi yang tak tertahan, tubuh yang kelelahan, beristirahat, tidur adalah cara yang terbaik mengatasi semua itu.


"Kapten, apa yang membuat Anda melepaskan dia, apa benar dia bisa Anda percayai?" Aisha kembali bertanya perihal Kapten Ranjaya setelah kepergian Tabra.


"Aisha, bukankah sudah kukatakan jangan pikirkan itu."


"Tapi, kapten–"

__ADS_1


Aisha melontarkan ucapan berupa alasan. Namun dengan cepat Akma Jaya memotong ucapan tersebut.


"Tidak berhak. Tidak ada hak bagiku membunuh orang yang tak bersenjata. itulah alasanku kenapa aku melepaskannya, membiarkan dia pergi tanpa membunuhnya."


Aisha bergeming, dia tak dapat berkata, bibir itu terkunci rapat.


"Ketahuilah, Aisha."


Akma Jaya berseru dengan nada getar. Ya, terdengar menyakinkan, suara yang lembut bernada getar yang menancap cepat, masuk ke dalam sanubari.


Tatapan Akma Jaya tertuju dan tak berkedip, Aisha tak dapat berkutik, dia terdiam membeku. Akma Jaya melontarkan lanjutan ucapan.


"Tentang apa yang dia katakan, apakah itu bentuk kebohongan atau kejujuran, jelas aku tidak mengetahuinya, aku hanya percaya, Aisha!"


Akma Jaya membelakangi Aisha, memandang ke arah lautan, tiupan angin membelai rambut Aisha.


"Percaya, apa itu cukup?" Aisha bertanya, suara itu terdengar bersatu dengan desiran angin yang bertiup.


Akma Jaya berpaling arah, menatap Aisha.


"Aku percaya setiap manusia, masing-masing diantara mereka memiliki hati nurani."


"Pada suatu saat nanti dia pasti akan melihat dengan hati nurani, bahwa perbuatan yang selama ini dia lakukan adalah bentuk kesalahan."


"Kapten, saya berharap apa yang Anda percayai, akan terjadi sama persis dengan apa yang Anda percayai!"


"Baiklah, lupakan itu, kita akan melanjutkan perlayaran!"


Akma Jaya menjauh dari sisi Aisha, dia berseru lantang kepada mereka yang bertugas untuk membentang layar.


"Kalian semua, kita akan melanjutkan perlayaran, bersegeralah untuk membentang layar kapal!"


"Ba–baik, Kapten!"


Mereka menjawab serentak dengan menunjukkan sikap hormat seorang anak buah. Seketika layar dibentang, kapal itu melaju menuju ke arah Desa Buana.


Sementara itu, Aisha pergi ke salah satu ruangan, Dia bergerak aktif, jelasnya dia sedang mempersiapkan makanan.


***

__ADS_1


Angin bertiup kencang, ombak menerpa, suara dan suara terdengar bercampur, antara angin dan ombak, kedua suara itu seakan-akan menyatu dalam perlayaran mereka.


Pada waktu yang sama dengan Aisha. Tabra sudah tertidur dengan nyenyak tak tahu apa-apa dengan dunia yang sedang terjadi, dia telah berpindah ke alam mimpi nan nyaman.


Di luar ruangan.


Akma Jaya sibuk melihat peta, memantau arah supaya mereka tetap berada di jalur yang benar, intinya agar tidak tersesat.


Lautan yang luas dan jauhnya pantai, sebuah hamparan kosong yang membentang luas di hadapan.


Seorang Kapten memutar otaknya lebih keras, berpikir, betapa kecerdasan diperlukan dalam menentukan arah mata angin.


Alat navigasi berupa kompas yang banyak digunakan oleh para bajak laut.


Alat untuk menentukan arah, sebuah panah penunjuk magnetis yang bebas menyelaraskan dirinya dengan medan magnet bumi secara akurat.


Kompas memberikan rujukan arah tertentu, sangat membantu dalam bidang navigasi.


Mata angin yang dimaksudkan adalah utara, selatan, timur serta barat.


Kompas yang sering digunakan oleh para bajak laut, kompas itu melekat di dalam otak Akma Jaya, kemampuan yang dikuasai, begitu mudah baginya, bahkan cukup dengan melihat arah, maka akan tergambar arah mata angin tersebut. Tentu dengan perkiraan ilmu yang akurat.


Akma Jaya memperhatikan di mana tempat matahari terbit dan terbenam, dia menentukan arah timur dan barat.


Ketika seseorang berdiri menghadap matahari terbit, sudah pasti kanan dan kiri adalah selatan dan utara. Begitu pula bila seseorang menghadap ke arah matahari terbenam, maka kanan dan kiri adalah utara dan selatan. Ya, sulit dijelaskan, tetapi Akma Jaya dapat mengetahuinya dengan jelas.


Seorang Kapten. Ya, bagi seorang Kapten Bajak Laut, hal yang utama dalam berlayar adalah kepandaian. Kepandaian dalam menentukan arah haluan kapal.


Tersesat di luatan itu bukan main, lautan itu luas membentang, diluar batas kemampuan seseorang, dia akan tersesat dan tak bisa kembali. Mungkin saja, itu hanya sebuah gambaran, belum ada bukti yang menunjukkan kebenarannya.


***


Tak lama dari itu, salah satu anak buah datang menghadap kepada Akma Jaya.


"Permisi, Kapten!"


"Beberapa hidangan masakan sudah disediakan oleh Aisha, lebih baik Anda makan terlebih dahulu."


Mendengar itu, Akma Jaya menutup peta dan meletakannya di kantong baju, anak buah itu melanjutkan ucapan, menyampaikan apa yang dikatakan oleh Aisha.

__ADS_1


"Baiklah."


Akma Jaya mengangguk pelan, menjawab dengan ringkas, tidak bertele-tele, setelah itu dia berjalan ke tempat yang diberitahukan oleh anak buah tersebut.


__ADS_2