Bajak Laut Hitam

Bajak Laut Hitam
CH. 150 – Dua Versi Yang Berbeda


__ADS_3

Kalboza meliuk-meliuk tengah menikmati diri itu berada di atas layar, ototnya mengembang kempes. Dia berlatih di atas sana. Keringatnya di pagi itu tampak seperti kucing yang usai tercebur ke sungai. Mungkin.


Padahal pada dirinya tidak seperti itu. Apa yang tadi ditulis seperti kucing yang usai tercebur ke sungai? Eh, salah sebut. Lagi dan lagi itu salah menyebutkan kata.


Lebih tepatnya, angin sepoi usai bertiup menghilangkan rasa lelah dan tentu keringatnya di pagi itu ikut terbawa dalam gumam yang tak ingin disebut.


Kala dan kala suasana sejuk di lautan pagi itu dapat menyertai jiwa dan perasaannya tentang rindu yang usai dulu membekas di ujung lorong kenangan dan masa hidupnya. Sekian waktu sekian hari. Suasana itu terasa cocok untuknya melakukan latihan yang super duber lelah. Dari pagi itu dan detik itu, pula.


Di atas layar, duhai teman. Angin, di atas sana bertiup bahkan seperti kipas angin di zaman modern ini atau AC ruangan yang memang bisa menghilangkan peluh.


Mendengar teriakan Tabra yang benar-benar terasa ambigu bagi Kalboza membuatnya turun dari atas layar. Pelan-pelan melangkah. Satu-dua pijakan menginjak lantai kapal, menghampiri Tabra yang di sana tampak bersandar.


Dia hanya penasaran bagaimana sikap Tabra yang seakan berubah jauh dari semula dia kenal. Kenapa Tabra berteriak dan mengganggu latihan rutin yang dia lakukan.


Mengapa dia mengatakan kalimat yang seakan mengajaknya bersantai? Bagi Kalboza, Tabra di pagi ini seperti orang yang tidak konsisten akan bagaimana dirinya dan sikapnya.


Bukankah dulu dia adalah orang yang paling bersemangat. Di setiap pagi, tidak selalu lupa menyuruh orang-orang seperti Kalboza untuk terus berlatih, semangat yang satu-dua itu membuat orang-orang patuh menurut. Bersemangat sekali dulu dia memberi arahan agar mereka terus berlatih. Mengapa sekarang Kalboza mempertemui diri Tabra itu seakan berbeda dari hari biasa yang dia temui, menyuruhnya bersantai dan beristirahat? Astaga, ini baginya ambigu. Apakah sekarang Tabra berubah sikap atau bagaimana diri itu terlihat aneh di matanya? Ekheem, dia memikirkannya, jelas sekali penasaran akan hal itu.


“Kalau kau terus berlatih, aku akan tertinggal jauh. Beristirahatlah agar kekuatan kita setara.” Tabra menjelaskan usai Kalboza turun dari atas layar.


Menjelaskan kalimat ambigu tersebut. Kini terjawab sudah apa yang hendak diutarakannya. Untuk kesekian waktu dilewatinya di bidang kesetaraan.


“Kau lucu sekali, Tabra. Kekuatan tidak diukur dari seberapa banyak kita berlatih. Tapi, dari tekad dan keinginan. Bagiku itulah kekuatan seseorang.”


Kalboza ikut bersandar. Apa namanya itu, duhai teman? Pagar di sisi kapal itu, apa namanya? Yeah, itulah sebut saja begitu.


Mereka bersandar di sisi pagar kapal. Kompak keduanya bergaya dengan gaya ala benua Ruyanisma, cool mentol itu mendinginkan suasana yang sengaja mereka lakukan. Mereka seperti bersaing dalam hal ini. Satu dibanding satu.


Tabra kini menepis dengan tangannya. “Kau yang lucu, Kalboza. Mana ada di dunia ini kekuatan diukur dari tekad dan keinginan. Bagiku hal itu hanyalah halusinasi orang sepertimu yang tidak punya kemampuan untuk membangkitkan kekuatan yang sejatinya sejak semula sudah ada di dalam dirimu sendiri.”


Kalimat meremehkan seperti itu terdengar ketus di telinga, bagi orang yang tidak terbiasa bergaul dengan mereka, tetapi bagi mereka kalimat itu sudah menjadi seperti biskuit cokelat. Di mana mereka memulai hari di setiap pagi dengan hal perihal. Berdebat ataupun dengan hal yang menjurus kepada hal seperti itu. Mereka berbeda dalam hal ini.


“Itu bagimu dan ini adalah suatu perbedaan yang nyata antara kita berdua yang tentu kita punya pandangan berbeda. Kita tidak sama.”


“Kau berlatih selama 10 hari, sedangkan aku berlatih 10 bulan tidak akan bisa menyaingimu. Benar, kita tidak sama, Tabra.” Kalboza lanjut menjelaskan.


Kekuatan dalam hal ini berbeda. Tabra beranggapan kekuatan itu sejatinya memang ada bahkan sejak lahir. Itulah mengapa baginya ada orang yang hanya perlu berlatih beberapa hari saja, kekuatannya sudah meningkat drastis. Kekuatan itu ada di dalam diri.

__ADS_1


Hanya saja baginya untuk mengeluarkannya perlu membuka kunci ke kunci. Hal seperti itu terdengar rumit dan tidak bisa dibayangkan Kalboza. Di antara itu, rasa tanggung jawab akan melahirkan kekuatan.


Mau seberapa kuat tekad dan keinginan seseorang menjalani latihan kalau tidak ada di sana rasa tanggung jawab. Itu semua akan percuma, bagi Tabra dia mengatakannya percuma. Kekuatan lahir dari hal sederhana dan tidak bergantung pada tekad dan keinginan, justru tekad dan keinginan itu akan menjadi seperti sebuah boomerang bagi diri dan menghancurkan kekuatan yang sejatinya telah ada di dalam diri, bahkan sejak semula kekuatan itu sudah ada saat diri itu lahir ke alam dunia. Kekuatan itu hanya terpendam dan belum dikeluarkan.


Justru bagi Kalboza hal seperti itu aneh. Dia hanya berpikir seperti itu. Yeah, ini perbedaan pandangan.


Di beberapa orang lainnya. Ada yang rusak, ada pula yang tidak. Manusia itu bisa berpikir sendiri, mana yang baik dan mana yang buruk bagi mereka.


Kalboza tidak ingin mengikutcampuri pandangan yang ada di sisi Tabra. Kendatipun demikian pandangan orang bisa saja salah, bisa saja error. Manusia-manusia yang terbelok pemikirannya.


“Aku baru ingat, Kalboza. Kita sudahi membahas perkara mengenai itu. Perdebatan kita dengan bahan seperti tadi yang kusebutkan, itu tidak mempunyai dasar yang jelas. Aku hanya khawatir ini akan membawa suatu perpecahan di antara kita. Kau jangan sampai mengganggapnya. Ini versiku dan versimu dapat kuterima. Kau dan aku berbeda.” Tabra menyadari bahwa membahas itu tidak perlu, dia mengambil inisiatif jitu tidak ingin membahasnya.


Ini hanyalah tentang dua versi yang berbeda. Yang kalau digabungkan, keduanya akan menghasilkan sesuatu yang wah, fantastis. Kalboza cukup memahami akan hal itu dalam benaknya.


“Baiklah—baiklah, kalau begitu.” Kalboza setuju dan tidak akan membahas itu dengannya. Eh, bukankah Tabra yang awal mula lebih dulu membahas tentang itu... Kalboza kini mengusap dagunya.


Eh, bukan Tabra. Kalboza sendiri yang menyebutkan perkara itu sebelumnya, memancing. Sementara, Tabra selaku dalam hal ini hanyalah penyahut obrolan yang ingin menyambung ucapan itu dengan versi miliknya sendiri, yang tentu itu malah akan memunculkan perdebatan. Kalboza hening sesaat.


“Kau tampak berpikir sesuatu, apa yang sedang kau pikirkan?” Tabra bertanya, tetapi tidak dijawab Kalboza.


Tabra kini tampak bersedekap. Masih bersandar. “Hei, jawablah pertanyaan yang tadi kutanyakan, tidak sepatutnya kau justru berdiam diri seperti itu.”


Suaranya agak terdengar malas. Kalau tidak dihiraukan, itu rasanya agak menyebalkan sekaligus ada malunya juga. Plus kesalnya minta ampun.


Kalboza daritadi hanya diam. Belum sempat beberapa detik terhitung masa. Ucapan berlanjut hei, jawablah itu kalimat yang seakan memecah suasana.


Bagai bom di siang bolong. Manalah mungkin. Ingin berpuisi, tetapi tertegah angan yang berisik.


Kalboza menghela napas pelan. “Kau tahu ini hanya tentang sepintas pemikiranku yang kurasa aku tidak perlu memberi tahumu tentang apa yang sedang kupikirkan. Sepertinya pembicaraan kita usai di sini saja, Tabra. Aku ingin melanjutkan latihanku, mengenai ini aku tidak bisa berdiam diri.”


Matanya beredar ke langit biru. Burung pelikan bertengger di tiang layar. Kalboza menuturkan, “Aku tidak bisa berdiam diri saja melihat keadaanku yang banyak tertinggal, masa latihanku harus lebih banyak daripada kalian. Kau tahu, di antara kalian aku adalah yang paling lemah dalam hal pertarungan, kelompok ini memerlukan orang yang bisa bertarung lebih berani. Selama ini, aku lalai dalam menjalankan latihan dan banyak menyusahkan kalian.”


Kalboza mengakui akan dirinya. Bagaimana keadaan dirinya selama ini. Versi Tabra di alam benak dan tentang dirinya sungguhlah amat berbeda.


Dia ingin meningkatkan potensi dan ingin menjadi kuat, perkasa. Menjadi orang yang bisa berguna, tentu diri itu tidak bisa berdiam diri mengharap kekuatan itu akan muncul dengan sendirinya adalah mustahil, turun dari langit berupa hujan yang memberinya kekuatan juga sama mustahil. Yang sepertinya kali ini Kalboza sudah salah faham memahami ucapan Tabra yang sebelumnya mengajak diri itu bersantai. Baru saja, pagi ini.


Pagi ini, Tabra memintanya. Baru pagi ini, Tabra memintanya beristirahat dan bersantai. Kalboza usai lama melakukan latihan tanpa banyak beristirahat, sekian waktu sekian hari. Seperti tidak punya keseharian lain, dia terus berlatih. Untuk pagi ini, Tabra berinisiatif mengajaknya bersantai.

__ADS_1


Latihan berat bisa membuat tubuh lelah. Apa salahnya untuk pagi ini dia menyuruhnya bersantai?


Tabra menjelaskan, “Yeah, aku bisa memahami bagaimana keadaanmu yang terus berlatih dari pagi sampai sore tiba dan malam harinya kau tetap sama, kalau kau memahami maksudku memanggilmu kemari untuk menegahmu berlatih, kau sudah salah paham dalam memahami maksudku, Kalboza. Aku memanggilmu kemari dan apa yang kumaksud ini tidak lain, tidak bukan adalah ingin memberi pesan agar kau bisa tahu batasan dan tidak menyiksa dirimu sendiri, selama ini kau terlalu keras dalam berlatih yang membuatku tidak bisa terus membiarkannya. Kau juga butuh istirahat, kalau kau ingin bersantai di pagi ini. Bersantailah. Maafkan kesalahanku yang kadang tidak kuketahui, dulu aku terlalu memaksa orang-orang untuk mematuhi seruanku.”


“Mungkin juga itu yang mendorong pikiranmu untuk melakukan latihan, bahkan lebih keras dari biasanya.”


Tabra menuturkan panjang. Sepanjang lautan yang tengah ditatap oleh mereka berdua. Sekata dua kata terlewati yang manalah mungkin bisa memuaskan seekor burung pelikan yang tengah bertengger di tiang layar. Menatap perbincangan mereka.


Kalboza kini hanya bisa memasang wajah yang dipandang persis itu menyenangkan, hangat dan tentram terlihat wajah itu seperti cuaca yang sedang bersahabat.


Dia akan menjelaskan perkara tentang dirinya yang satu-dua itu perkara latihan bukanlah karena seruan Tabra, bukan pula untuknya pamer dan menjadi kebanggaan dirinya.


Bukanlah itu yang dia lakukan. Dia berlatih keras selama ini hanya untuk perihal tentang tekad dan keinginannya untuk menjadi kuat dan berguna dalam kelompok itu.


“Satu hal yang kau tahu, Tabra. Pagi hari bagiku bukanlah tempatku untuk bersantai, justru bagiku pagi hari adalah tempat awal di mana seseorang bisa melakukan hal-hal hebat. Pagi hari adalah suasana yang nyaman, semangat di pagi ini dulu kau pernah bilang kepadaku. Apa kau tidak mengingatnya?”


Kalboza menuturkan pagi bukan tempat untuknya bersantai usai dulu persis apa yang dikatakan Tabra. Kalimat itu terasa mengganjal di benaknya.


Tabra hanya bisa mengulum senyum. Dia memang pernah mengatakannya, malah ucapan itu sekarang seperti boomerang yang mengenai wajahnya sendiri.


Puisi ini.. lagi, lagi dan lagi tertegah, kata ini sudah letih diketik, lantas hapus. Yang mungkin besok lusa akan libur. Nasi itu belum juga menjadi bubur.


“Aku izin pamit dan ingin melanjutkan latihanku, teman. Aku sudah mengatakanya kepadamu akan bagaimana keadaanku dan keinginanku. Kau bisa memikirkan semua itu. Dalam hal ini aku tahu kau jagonya dalam hal berpikir. Hanya itu saja.”


Kalboza beranjak pergi. Tabra masih tersenyum, masih dengan posisi bersandar. “Yeah, aku sudah mendengar penjelasanmu, Kalboza. Aku bisa merasakan bagaimana rasa tanggung jawab yang ada dalam dirimu atas kelompok ini sudah mula terbit seperti matahari di pagi ini. Itu menandakan akan suatu pertanda bahwa kekuatan dalam dirimu akan bangkit, semakin besar rasa tanggung jawabmu. Maka, akan semakin besar kekuatanmu. Kau hanya perlu berjuang sedikit lagi untuk bisa mencapainya.”


“Kita berbeda. Tabra, apa kau ingat?” Sedikit tolehan kepala. Kalboza enggan memalingkan tubuhnya.


“Yeah, kau benar. Kita adalah dua versi yang berbeda. Kau dan aku tidak sama.” Tabra membenarkan.


Sambil membetulkan posisi, Tabra melanjutkan ucapannya, “Kalau begitu, berjuanglah dan lanjutkanlah latihanmu. Aku yakin kau pasti menjadi orang kuat dan berguna bagi kelompok ini.”


“Kau juga, jangan hanya berdiam diri saja.” Kalboza tersenyum dan berlalu pergi lagi ke atas layar.


Dia berlatih hanya untuk menjadi kuat dan berguna di dalam kelompok itu. Mereka memang dua versi yang berbeda. Dari yang pertama dan kedua, Tabra memilih jalur yang kedua, katanya lebih santai.


Itulah ringkas cerita. Besok lusa adalah hari yang telah mereka nantikan, pelayaran jauh kemana arah angin membawa mereka cukup terasa melelahkan.

__ADS_1


__ADS_2