
Darah, lagi-lagi Darah
Darah yang terus berceceran dan menyatu dengan tanah. Aswa Daula mengusap wajah, menutup mata karena tak kuasa untuk melihatnya.
"Kehilangan tujuan adalah kepahitan, engkau mati terlalu naif, Auriza!" Kapten Zaiya berujar seraya menyeret jasad Kapten Auriza, dia membuangnya ke lautan.
Jasad itu terombang-ambing dibawa arus laut hingga hiu-hiu berdatangan. Perlahan jasad Kapten Auriza dimakan hiu dan darahnya menyebar ke area pantai.
Begitu jelas, terlihat darah itu diterpa ombak ke arah pantai.
Wajah Aswa Daula berubah menjadi pucat, dari ekspresi yang terlihat dia begitu takut melihat darah, bahkan pijakannya melemah, gemetar tubuh, bercucuran keringat di area pelipis.
Kapten Zaiya melirik ke semak, tempat Aswa Daula mengintip. Lantas, dia langsung berlari menjauh dari tempat tersebut.
Aswa Daula terus berlari, dia masuk ke dalam hutan yang rindang, di sana tidak ada orang, kecuali orang yang menebang pohon untuk dijadikan bahan membuat rumah, setelah menebang mereka kembali pergi.
Aswa Daula memanjat pohon, bergantungan di atas dahan, dia menatap sekitaran dengan mulut yang berdiam. Suasana damai, udara yang terasa sejuk, Aswa Daula menikmati kenyamanan berada di dalam hutan.
Berlalu waktu, masa berganti.
Tepat pada tahun 1650 pertempuran besar antar bajak laut dimulai. Berdentam, berdesing, bunyi senjata bertebaran memenuhi Samudera Albamia, sebuah laut yang bernama Farida, laut itu menjadi medan pertempuran.
Pada saat itu, Aswa Daula tinggal bersama ibunya, sedangkan Walsa–sang Ayah pergi ke medan pertempuran, dia ikut serta dalam kelompok Bajak Laut Merah, kelompok yang dipimpin oleh Kapten Zaiya.
Pertumpahan darah, kapal besar tenggelam dengan kehancuran beserta asap yang mengepul, asap itu memenuhi cakrawala, menggelapkan suasana.
***
Beberapa minggu setelah kepergian kelompok Bajak Laut Merah, tidak ada kabar yang terdengar, Aswa Daula menatap lautan dengan wajah layu, sendu bercampur duka yang tersayat sembilu.
"Apa sebenarnya? Ada apa? Ayah, semoga kau kembali dengan selamat!"
Tiupan angin seperti menyusap wajah yang bersimbah air mata, dia tampak duduk memeluk lutut seraya memperhatikan lautan, ketenangan pikiran membumbung tinggi, menjulang dengan asa yang mulai menghilang.
Hari kian berlalu, berganti minggu.
Kabar yang datang seolah menghempas Aswa Daula dan ibunya. Kabar yang mengguncangkan ekspresi bernuansa air mata. Menyebabkan goresan luka yang tersayat dalam.
Sebuah kabar tentang kekalahan dan kematian Kapten Zaiya beserta anak buah yang bersamanya, salah satu yang memberatkan pikiran Aswa Daula adalah ketika pembawa pesan itu menyebutkan terbunuhnya sebagian anak buah, salah satu diantara yang terbunuh adalah Walsa.
__ADS_1
Namun, tidak semua anak buahnya tewas, beberapa anak buah Kapten Zaiya yang kuat dalam menahan siksaan, mereka semua direkrut oleh Kapten Lasha untuk menjadi anak buahnya.
Darah, darah. Lagi-lagi darah.
Awan mendung di atas cakrawala, perlahan hujan turun membasahi bumi dengan tetesan yang sangat deras.
Aswa Daula tetap terpaku menatap lautan, dia berhujan membasahi dirinya sendiri.
***
Pada tahun 1656 Aswa Daula dan ibunya memutuskan untuk pindah ke benua Muara Hiba, berlepas dari daerah Atila, mereka berdua pindah ke Desa Daura.
Mereka berdua meninggalkan tempat kelahiran, Benua Ruyanisma bukan tempat yang cocok untuk mereka, betapa kekejaman bajak laut di benua itu merajalela, benua tersebut telah dibanjiri oleh banyaknya darah yang berceceran, bangkai-bangkai berserakan dengan bau yang menyengat.
Semenjak saat itu Benua Ruyanisma dikenal orang dengan Tengkorak Batu, dimana kepala orang-orang berserakan di berbagai tempat dari benua tersebut.
Itu terjadi setelah kematian Kapten Zaiya, tidak pernah disangka sang pemimpin pilar tujuh lantai, dimana dialah yang berkuasa mengatur ketertiban aturan, sekarang malah berantakan. Amanat yang tertera di dinding ruangan Kapten Zaiya dibakar oleh sekelompok mereka.
Ya, sekelompok Bajak Laut yang tak mempunyai hari nurani, bahkan sekelompok mereka tak mempunyai rasa belas kasihan.
Mereka berpesta pura dengan sorak-sorakan dan minuman arak yang mereka minum. Musik-musik bernuansa joget-joget dan wanita jalang yang bernyanyi, sungguh tak mencerminkan keindahan, dunia gemerlap yang begitu hina.
***
Mereka berdua tenang bertempat tinggal di desa tersebut, pada suatu hari seseorang yang berlayar menjelajahi pulau-pulau, dia akhirnya pulang dari pelayarannya, dia membawa cerita tragis dari Bajak Laut Merah.
Aswa Daula menyimak, mendengarkan dengan seksama, sang pembawa cerita, dia menceritakan kembali dengan raut wajah yang tenang disertai suara menggebu, penuh haru membuat masing-masing mata terbelalak lebar, diam mendengarkan, sebuah cerita tentang riwayat pertarungan antara Kapten Lasha dan Kapten Zaiya.
Dimana keduanya memiliki gelarnya masing-masing serta mempunyai banyak kharisma dikalangan orang-orang.
Semua yang mendengarnya tampak berwajah tegang, sang pembawa cerita itu begitu terampil dalam menceritakannya.
Semenjak saat itu, Aswa Daula mengetahui riwayat kematian Kapten Zaiya dan ayahnya yang terbunuh ditangan Kapten Lasha.
***
Berlalu waktu, Aswa Daula melewati masa dengan ketakutan yang sama, dia begitu takut dengan darah, walaupun usia yang sekarang dijumpai, tak seharusnya dia takut pada masa yang sudah berlalu, dia sudah dewasa.
Pada tahun 1678 Dia memberanikan diri untuk berlayar ke berbagai tempat karena Aswa Daula adalah seorang pedagang, sehari-hari dia menjual rempah-rempah khas dari berbagai wilayah.
__ADS_1
Cukup lama, Aswa Daula berkelana, berlayar dengan kapal, tetapi dia masih saja takut dengan darah.
Setiap pelayarannya termasuk beruntung, tidak bertemu bangsa bajak laut karena dia selalu berlayar pada malam hari. Dimana lautan sunyi dan damai.
Dia datang dari pelayarannya pada larut malam, salah satu pedagang terlihat berdiri di dermaga.
"Aswa, bagaimana pelayaranmu?" Salah seorang pedagang itu bertanya kepadanya.
"Baik, kau harus mencobanya. Berlayar pada malam hari, lautan benar-benar sunyi pada waktu itu!"
"Benarkah? Nanti aku akan mencobanya!"
Aswa Daula, dia mengangkat rempah-rempah dan membawa turun dari kapal, perekonominya cukup lancar dan dia terlihat bahagia hidup bersama ibunya walaupun sampai sekarang dia masih saja sendirian.
Dia membawa rempah-rempah itu pulang ke rumah. Ibunya sedaritadi menunggu dengan tidak tidur sama sekali.
Aswa Daula yang baru datang, dia bertanya kepada ibunya.
"Kenapa ibu tidak tidur? Bukankah malam sudah larut?"
"Ibu tidak bisa tidur, ibu mengkhawatirkanmu, Nak."
"Aku baik-baik saja, ibu. Justru keadaan ibu yang lagi sakit, seharusnya ibu beristirahat."
"Bagaimana keadaan ibu? Apakah sudah membaik?"
"Keadaan ibu sudah membaik sejak beberapa hari yang lalu, kau tak perlu khawatir."
"Baiklah, kuharap ibu baik-baik saja, di dunia ini, aku hanya mempunyaimu, ibu. Tak ada siapa pun lagi."
"Aswa, Ibu sudah semakin tua, cepat atau lambat ibu pasti akan dimakan usia, setiap makhluk yang bernyawa pasti akan menemukan ajalnya."
"Ibu, jangan bicara seperti itu."
"Ketahuilah, itu termasuk fakta yang tak bisa dibantah, Nak."
"Kau sudah tumbuh dewasa, berpikirlah yang matang, jangan selalu terbebani oleh masa lalumu!"
Aswa Daula bergeming, dia mengangguk pelan sebagai isyarat membenarkan, hanya saja apa yang dikatakan ibunya begitu membuat dia tak nyaman.
__ADS_1
Malam hari itu, dia tidak bisa tidur, Aswa Daula keluar rumah secara diam-diam. Menatap rembulan yang bersinar terang.
Suasana tenang, bahkan hening dengan suara hewan malam yang berbunyi. Dia berduduk sambil mengembuskan napas keluh, sekawanan rasi bintang memenuhi cakrawala dengan keindahan yang menenangkan suasana.