
Akma Jaya kembali mengarungi lautan, menempuh pelayaran melintasi samudera, awan mendung di atas cakrawala menyelimuti sekitaran mereka.
Berhari-hari sudah mereka mengarungi lautan, Akma Jaya tidak memberi tahu tujuan perlayaran.
Beberapa hari sebelumnya, Akma Jaya sempat berbincang-bincang dengan Adfain mengenai suatu wilayah yang banyak dikunjungi oleh para bajak laut.
Dari sorotan mata Adfain memancarkan sedikit kepercayaan, sedangkan Akma Jaya sibuk mendengarkan. Namun, Adfain menggelengkan kepala, tidak percaya saat Akma Jaya menuturkan kalimat jawaban.
Jawaban yang berbeda jauh dari yang dia harapkan. Pada saat itu, Adfain bergumam hebat mengenai Akma Jaya, entah baginya benar atau tidak, Adfain kebingungan.
Sekarang, Akma Jaya berlayar penuh tanpa hambatan, tenang perlayaran ditemani angin yang menderu kencang.
Lautan terbentang luas, warna kebiruan dan permulaan air laut yang berombak, di kala perlayaran itu, di sebuah dek kapal, mereka bertiga saling berduduk, berbicara satu sama lain, Tabra mengisi perlayaran dengan canda tawa serta cerita konyol miliknya.
Akma Jaya ikut terbawa suasana, dari dulu Tabra memang begitu, sikap dan isi cerita yang dia ceritakan cukup membuat Akma Jaya tak bisa menahan tawa.
Setelah itu, Akma Jaya menghela napas sejenak.
"Tabra, Aisha!" Akma Jaya berucap menatap ke arah mereka berdua.
"Perlayaran selanjutnya, kita akan pergi ke wilayah Nanaina."
Akma Jaya mengatakan tujuan perlayaran, baru sekarang dia tergerak mulut untuk mengatakan hal demikian.
Berhari-hari waktu berlalu, tujuan perlayaran baru sekarang dia mengucapkannya, Tabra dan Aisha tidak berani mempertanyakan hal itu secara langsung, mereka berdua hanya menunggu. Dan, menunggu itu melelahkan.
Namun, sekarang terjawab sudah pertanyaan yang mereka tunggu, walaupun menunggu berhari-hari.
"Wilayah Nanaina?" Tabra tercengang mendengar nama wilayah tersebut.
Aisha tidak mengeluarkan suara, hanya menyimak dan berada di samping Tabra mendengarkan kelanjutan ucapan tentang tujuan yang dimaksudkan Akma Jaya.
"Ya, wilayah Nanaina!" Akma Jaya mengangguk pelan.
"Wilayah tersebut adalah tempat perkumpulan judi para bajak laut, selama aku berada di desa Lauma, aku banyak bertanya kepada Adfain, mengenai informasi itu selama berada di desa tersebut, kata Adfain wilayah Nanaina adalah salah satu tempat perjudian terbesar di sekitar kawasan samudera Albamia."
Akma Jaya menjelaskan apa yang tidak diketahui oleh Tabra, penjelasan yang dia dapatkan dari Adfain.
__ADS_1
"Kapten, terlalu bahaya, bukankah itu tempat perkumpulan bajak laut?!" Aisha berucap sedikit khawatir.
"Aisha, kau tak perlu merasa khawatir!"
"Karena mereka belum mengetahui kelompok kita, kata Adfain wilayah Nanaina sebenarnya adalah tempat perkumpulan para bajak laut pemalas, mereka makan dan berjudi setiap hari, tepatnya sekumpulan orang yang menghabiskan harta rampasan untuk bersenang-senang."
Akma Jaya berucap menenangkan Aisha.
"Kapten, apa faedahnya kita berlayar ke wilayah tersebut?" Tabra kembali mengajukan pertanyaan.
"Faedahnya? Kau akan tahu setelah kita sampai di wilayah tersebut."
Tabra hanya menganggukkan kepala, Akma Jaya beranjak pergi dari tempat perbincangan.
Perlayaran mereka terus berlanjut, angin yang berembus kencang, membuat kapal mereka melaju cepat, di dalam kabin kapal, Akma Jaya melihat peta wilayah Nanaina.
Wilayah yang diapit oleh sungai sepanjang 7.200 km, sungai itu memanjang terus hingga habis perbatasan wilayah, luas wilayah Nanaina tak bisa dibayangkan dan jika dijelajahi letih kaki tak cukup dalam waktu sebulan. Dititik pusat Akma Jaya melingkari suatu tempat yang dijadikan tempat perjudian.
Tempat yang dekat dengan dermaga, tak berjarak jauh karena itu adalah tempat perjudian para bajak laut. Setiap kali kapal singgah, mereka mampir untuk berjudi dan berpesta ria penuh gembira kenikmatan.
***
"Kapten, wilayah ini begitu indah, jauh sekali dari apa yang saya bayangkan," ujar Tabra terbelalak takjub, tak kuasa menahan ketakjubannya hingga mengeluarkan cahaya binar di kedua mata yang melebar.
"Tabra, kau harus menutup mata, akan banyak wanita tak memakai kain di sini," ucap Akma Jaya sambil menepuk punggung Tabra tiga kali.
Aisha tercengang mendengarnya.
"Tak memakai kain!" Aisha berucap kaget.
"Wilayah macam apa ini?" Lanjut Aisha terkaget-kaget.
Beberapa anak buah menahan tawa, mendengar apa yang diucapkan Aisha, tetapi itu wajar saja karena secara pandang dia adalah seorang wanita, jelas sekali dia menggelengkan kepala tidak bisa menerimanya.
"Sepertinya, aku sedikit berlebihan!" Akma Jaya mengucapkannya sedikit tersenyum.
"Kapten, apa faedahnya kita berada di sini?" Tabra menanyakan sesuatu yang sama seperti sebelumnya saat dalam perlayaran.
__ADS_1
Aisha mengernyit kesal, sedangkan anak buah menyimak santai.
"Tunggu saja, nanti kau akan mengetahuinya." Akma Jaya tersenyum lebar menatap ke arah Tabra.
"Kalian semua, aku perintahkan untuk membagi kelompok menjadi dua, satu berjaga di dalam kapal, satu lagi berjaga di sekitar kapal, jangan sesekali beranjak kemana pun!" Akma Jaya berseru lantang kepada anak buahnya.
"Tabra, jangan berpikir miring, kau akan terhindar dari wanita itu!"
Dia melangkahkan kaki, turun dari kapal, belum jauh dari jarak antara Tabra, dia berpaling wajah tanpa berbalik badan.
"Asalkan, kau tetap bersamaku!" Akma Jaya melanjutkan ucapannya.
Tabra mengangguk dan mengikuti Akma Jaya, sedangkan Aisha memilih untuk tetap tinggal di dalam kapal, dia tidak ingin turun dan masuk ke wilayah yang dilihatnya sangat menjijikkan.
"Tabra, di salah satu ruangan, terdapat peta harta karun sungguhan, kita bisa mengambilnya saat mereka lengah!" Akma Jaya mengucapkan sedikit tentang tujuannya.
"Apakah itu tujuan Anda datang ke wilayah ini?" Tabra bertanya sambil berjalan di belakang Akma Jaya.
Sejenak, Akma Jaya memberhentikan langkah kaki, menongakkan kepala.
"Tujuanku terletak di menara itu!"
Akma Jaya berucap seraya menunjuk ke arah menara.
"Sebenarnya ada apa kapten? Jelaskanlah maksud Anda dengan detail kepada saya," jawab Tabra dengan sikap hormat.
"Menara itu adalah kunci perjudian di wilayah ini, setiap malam tiba, sorotan sinar cahaya menara menjadi dadu acak untuk menentukan pemenang, jika aku dapat menghancurkan inti dari menara, ia tidak akan bisa diperbaiki dan perjudian di wilayah ini akan lenyap!"
"Bukankah itu mustahil?" Tabra terheran.
"Tidak ada yang mustahil, jika aku telah bertekad untuk merusaknya, aku akan berusaha." Akma Jaya mengeluarkan tekad membara
"Baiklah, Kapten!" Tabra letih untuk menepis perkataan Akma Jaya, memilih untuk menganggukkan kepala.
Sementara itu, Aisha di dalam kapal menggerutu begitu hebat, dia terpaksa diam menunggu di dalam kapal, tak sudi menginjakkan kaki, bahkan untuk melangkahkannya begitu jijik. Dia tak kuasa dan memilih untuk tetap tinggal.
Akan tetapi, Aisha terus bergumam, berjalan berbolak-balik di dalam kabin kapal, terlihat jelas dia tidak bisa menenangkan diri.
__ADS_1
Sebagian anak buah berjaga di sekitaran kapal dan sebagian lagi berjaga di dalam kapal, mereka semua mematuhi perintah Akma Jaya, tak beranjak pergi kemana pun.