Bajak Laut Hitam

Bajak Laut Hitam
CH. 145 – Kapten Atlana Berkata


__ADS_3

Tentang Tabra menyebut kosa kata bersabar. Teringat Akma Jaya akan suatu kejadian di mana dulu dia bertemu dengan Kapten Atlana saat pelayaran menuju ke wilayah Kaima. Hubungan singkat.


Tidak jauh rupa, tidak jauh desa. Begitu kiranya pelayaran mereka menuju ke sana.


Kapten Atlana berkata, “Dalam hidup ini kebencianmu tidak sebanding dengan rasa sakit yang kau rasakan. Kebencian yang terus mengakar. Maka, kalau kematian lebih pantas bagimu matilah, wahai Akma Jaya.”


“Mengapa kau berkata seperti itu?” Akma Jaya bertanya.


Kapten Atlana menjawab, “Justru akulah yang seharusnya bertanya mengapa kau bertanya dan menampakkan wajah seperti itu. Itu semua kukatakan untuk membuatmu sadar bahwa kehidupan di dunia ini penuh dengan rasa sakit, tangis atau bahkan kebencian. Kalau kau tidak kuasa menahannya, lebih baik kau mati!”


“Sebab itulah di dunia ini ada rasa sabar.” Akma Jaya menyahut. Di sana Tabra daritadi sudah geram mendengarnya.


“Apa kau mampu bersabar? Heh, kutebak itu hanya ucapan omong kosongmu belaka.”


Kapten Atlana meludah. Kemarahan yang berada dalam hatinya meluapkan emosi. Nada amarah terkeluar dengan tatapan mengerikan. Bagaimana kiranya? Oh, jagat raya, alam semesta. Tidak begitu, tidak pula dia bisa menahan iba pada kursi kayu.


Akma Jaya balas ucapan dengan menatap pasti dan penuh keyakinan, “Buktikanlah semua itu dengan pertarungan!”


Kapten Atlana saat mendengarnya, saat itu pula dia berseru kencang. Menghunus pedang dari tempatnya berdiri. Mengkilat. Pedang sepanjang tubuhnya berdiri dari kepala sampai kaki. Akma Jaya juga demikian. Kapan pertarungan itu berlangsung. Usai hari itu mereka bertemu.


Pelayaran ke wilayah Kaima, menembus padang dingin. Bersalju diselimuti es.


Pertemuan yang menyebabkan kapal mereka saling bertabrakan. Sahut menyahut suara anak buah mereka. Kalboza mengusap lengan, memencet hidungnya.


Tubuh itu tercium bau yang sangat menyengat. Bau yang tidak enak dihirup.


Oh. Tuhan! Begitu Dausa berpekik dalam otaknya. Aswa Daula terkentut. Jalbia dan Glosia bersembunyi memilih jalur aman.


“Akma Jaya! Bagaimanakah pelarianmu selama ini. Menyenangkan? Atau bahkan menyedihkan!” Kapten Atlana tidak sabar ingin segera menyerang dan menghabisi di tempat itu. Sosok yang baginya layak mati.


Akma Jaya menanggapi cukup tersenyum miring ke kiri. “Kau ingin bertanya kabar tentang pelarianku. Marilah kita minum teh hangat dan sepasang roti keju.”


“Heh, aku tidak tertarik! Bagaimana kalau kita duel, kalau kau mati ini selesai! Kita lawan dan saling bunuh! Kau mati selesai!”

__ADS_1


Tenang saja. Di sini ada Author. Tidak akan mati tokoh utamanya. Kita masih punya air ajaib yang kalau diminumkan ke orang mati. Maka dia akan kembali hidup lagi.


Bercanda—kalau itu dilakukan makin absurd cerita ini nantinya. Cukuplah kejadian itu terjadi pada Kapten Riyuta.


Akma Jaya menatap dengan perasaan bersalah yang dia rasakan. Bagaimana sosok itu bisa begitu membencinya.


Di saat itu dia memutuskan bertanya.


“Mengapa kau tampak seperti sangat membenciku, wahai Kapten Atlana. Bahkan kedua matamu menunjukkan betapa kau membenciku. Kau menatapku dengan hawa membunuh yang bisa kurasakan. Mengapa kau tidak becermin dengan wajahmu itu di cahaya lautan, bahwa kemarahan dan kebencian tidak ada artinya.” Akma Jaya tidak pernah sedikit pun membenci. Apalagi atas hancurnya desa Muara Ujung Alsa. Sama sekali tidak membenci.


Dia membentuk kelompok Bajak Laut Hitam berlayar atas misi memberantas dan menghabisi para bajak laut. Itu saja, jelaslah perkara Kapten Atlana menyebut kelompok mereka sudah menyimpang dari para leluhur. Pertentangan harus dibunuh!


“Seperti katamu. Buktikanlah dengan pertarungan. Maka, berhentilah bicara dan sekarang majulah!” Itu tutur Kapten Atlana.


Tabra di sana menggenggam pedang. Marah, Aisha dengan pistol itu sayangnya tidak mampu menembak. Wibawa Kapten Atlana menyeruak dalam ketakutannya.


Aisha memberanikan diri, walau getar getir tangannya menarik pistol. Memelesat peluru ke arah Kapten Atlana. Peluru itu dengan cepat menuju dan di sana Kapten Atlana membelahnya dengan mudah dan memantulnya dengan pedang ke arah mereka. Jadilah peluru itu berbalik.


Pedang itu bukan sembarang pedang. Mereka bertiga menghindar dari pantulan peluru itu. Aisha membuang pistol dan mencabut pedang. Namun, Akma Jaya menegahnya bilang kepadanya bahwa tiga lawan satu itu tidak adil dalam jumlah dan kekuatan, lebih baik mereka berdua pergi dari situ dan membantu para anak buah yang sedang bertarung di sana.


“Sepertinya duel adalah jalan terbaiknya. Kapten Atlana, bagaimana menurutmu?”


Akma Jaya memberikan tantangan duel pertarungan dan Kapten Atlana jelas saja setuju dengan hal itu. Mereka berdua masing-masing berdiri berjarak. Tabra mewanti sebelumnya. Sayang, kata itu tidak dihiraukan Akma Jaya. Aisha dan anak buah lainnya sekarang terlibat pertarungan dengan anak buah Kapten Atlana.


Aisha menurut dengan perkataan Akma Jaya. Kini hanya Tabra yang berada tetap di samping sang kapten itu menyaksikan percakapan langsung yang terjadi di antara mereka. Kapten Atlana itu sungguh berniat ingin membunuh, tanpa pengampunan.


“Tabra, pergi dan bantulah mereka. Aku di sini akan baik-baik saja.” Akma Jaya berucap melihat ke arah anak buah lainnya yang sedang berjuang mati-matian.


Mereka semua di sana saling serang, memang sekarang hanya menyisakan Tabra dengan diamnya yang kini merasa bahwa sang kapten akan baik-baik saja. Dia pun pada akhirnya menurut mengangguk, usai itu melompat dan menghunus pedang ke arah lawan. Melawan anak buah Kapten Atlana, membantu mereka yang di sana sibuk dengan pertarungan.


Kapten Atlana berkata. “Memang di antara kita tidak ada pilihan lain. Akma Jaya, satu hal yang harus kau tahu, kau tidak layak memakai topi bajak laut. Lepaskanlah topi itu karena kau tidak pantas memakainya!”


“Ini topi ayahku. Aku memakainya bukan ingin menjadi bajak laut. Karena ini adalah bukti ayahku seorang bajak laut yang malam hari itu telah dibunuh oleh seorang bajak laut! Tidak ada yang lebih kuinginkan di dunia ini selain bajak laut itu musnah dari muka bumi.” Akma Jaya menjelaskan sambil memegang topinya.

__ADS_1


“Itulah yang kumaksud. Kau telah menyimpang dari para leluhur! Lebih baik kau mati!” Kapten Atlana memelesat dengan pedang yang terhunus.


Pertarungan itu terjadi. Duel di antara Akma Jaya dan Kapten Atlana. Betapa hari itu kesan hidup di dunia ini terbias cahaya.


Kapten Atlana berkata. “Untuk apa, wahai Akma Jaya! Untuk apa kau berambisi ingin memusnahkan bajak laut dari muka bumi. Kau sendiri tidak mampu bersabar atas kejadian masa lalu. Inilah bukti rasa dendammu lebih besar daripada hati nuranimu!”


“Kau salah. Itu semua tidak membuktikan apa pun. Aku tidak membenci, kebencianku sudah kutumpahkan di malam itu juga. Ini hanya alasan mengapa aku memilih untuk terus melangkah dan terus berambisi!”


“Cih, kau tidak lebih hanyalah sampah!” Kapten Atlana berujar marah. “Ayahmu yang terkenal itu sering menyebut orang lain dengan sebutan sampah. Maka, hari ini kuperdapati kau selaku anaknya telah menjadi sampah yang tidak berguna!”


Kapten Atlana mencak-cak. Siapa yang jahat, secara sudut pandang yang dinamis. Akma Jaya adalah penjahat yang berambisi menghabisi bajak laut di muka bumi.


Akma Jaya menghindar jauh ke belakang dan memejamkan mata sejenak. Lantas menancapkan pedangnya ke geladak kapal.


Kapten Atlana melihat itu hendak segera menghabisinya. Akma Jaya langsung mencabut pedangnya dan kembali pertarungan mereka terjadi. Usai lama bertarung, tidak ada ucapan sedikit pun.


Pedang itu beradu dan ucapan Akma Jaya sampai pada titik temunya.


“Kau berkata dengan mudah menghakimi masa lalu ayahku. Itu semua yang kau sebutkan hanyalah masa lalu. Tidak berhak bagi siapa pun menghakimi masa lalu seseorang. Walaupun kau benar, ayahku bahkan juga pernah menyebutku sampah. Usia yang terus berlalu dengan sikap lemah lembut ibuku. Manusia itu walau bagaimanapun tetaplah mempunyai batin hati nurani. Mau seberapa buruk masa lalu ayahku dulu dan di sanalah di lubuk batin rasa itu menghampiri dirinya untuk berubah. Dia ayahku perlahan berubah semenjak mengenal sosok ibuku.”


“Kau pandai mengarang cerita. Kau hampir membuatku iba, tetapi kau bilang aku menghakimi masa lalu ayahmu? Heh, kenyataan itu memang benar, Akma Jaya. Kau tidak lebih hanyalah sampah yang dilahirkan dari keturunan dengan mulut sampah yang dulu pernah mengatakan ucapan itu ke orang lain.” Keadaan di sana saling memanas. Kilatan pedang mereka beradu. Akma Jaya di sana menyadari tentang satu hal yang dikatakan ibunya.


“Akma, di sini.. kamu bisa melihat lautan. Apa yang kamu kehendaki saat sudah besar nanti?” Haima berkata di kala kecil usia Akma Jaya, mereka menatap lautan.


“Ayahmu itu walau bagaimanapun dirinya sudah berbuat baik. Mungkin, sepuluh atau dua puluh tahun berikutnya. Kadang ada orang yang tetap akan memandang masa lalu seseorang. Ada yang begitu marah ada yang begitu membenci. Masa lalu itu seperti sebuah lukisan di atas batu, mereka menatapnya dengan sangat jelas. Kesalahan masa lalu kadang bisa berdampak besar bagi masa yang akan datang. Sejauh mana kita memperbaiki diri, tidak mengapa orang memandang sebaliknya. Lakukanlah yang terbaik dan berterus teranglah pada diri sendiri.”


Byuuur.. bayangan itu menghilang saat pedang membelah udara dan hampir mengenai Akma Jaya. Namun, memeleset dengan cepat dan untunglah tidak kena.


“Bodohnya dirimu! Bisa-bisanya kau melamun di saat lawanmu bermaksud membunuh. Dalam masa pertarungan yang lebih mengerikan kau bisa saja terbunuh.” Kapten Atlana berujur memberikan kelonggaran masa bagi orang yang tengah ditatapnya.


“Lalu mengapa kau tidak membunuhku?”


“Heh, aku tidak ingin menjadi pengecut yang membunuh lawan di saat dia sedang lengah dan itu sama saja aku seorang pengecut yang menggugurkan gelar pilar yang usai dulu disandang ayahku!” Kapten Atlana menjawab. Keadaan di sana seperti tungku dan bara api menyala.

__ADS_1


Pilar tujuh lantai. Begitulah, Kapten Gaiha dulu mendapatkan gelar kearifannya dalam hal pertarungan. Akma Jaya jelas mengetahui dari cerita ayahnya menyebut Kapten Gaiha berbeda dari kapten lainnya.


__ADS_2