Bajak Laut Hitam

Bajak Laut Hitam
CH. 58 – Bab Masa Lalu : Desa Buana


__ADS_3

Akma Jaya berjalan pelan, Aisha sudah menunggu kedatangannya. Dari sudut pandang Aisha terdengar jelas langkah kaki Akma Jaya yang berjalan, dia bersegara untuk menyambut kedatangan sang Kapten tersebut.


Saat Akma Jaya memasuki ruangan, Aisha sudah sedia menunjukkan sikap hormatnya.


"Kapten, makanan untuk Anda sudah saya sediakan, silakan makan."


Aisha tersenyum, rona wajahnya memerah.


Akma Jaya tak menjawab, hanya membalas senyuman Aisha dengan senyuman yang singkat, dia berduduk menghadap makanan yang ada dihadapannya.


"Aisha, apakah kau sudah makan?" Akma Jaya bertanya seakan-akan mengajak Aisha untuk makan bersama.


Aisha berwajah panik.


"Ya, Ka–kapten. Saya sudah makan, perut saya sudah kenyang!"


Aisha terbata sejenak, dia bersegera menjawab cepat kemudian berlalu pergi dari ruangan tersebut, meninggalkan Akma Jaya yang mulai menyentuh makanan.


Makanan itu berupa Ayam kalkun panggang berhias wortel yang mengelilingi pinggirnya.


Wortel adalah kesukaan Akma Jaya, dimana kenangan bersama Haima–sang ibu yang menyebut dirinya sebagai titisan seekor kelinci. Entah bagaimana Aisha begitu mengerti dan mengetahui apa yang disukai oleh sang Kapten.


***


Beberapa saat setelah itu.


"Aaaahhh, hari yang panjang!" ucap Tabra dengan mulut yang menguap.


Tabra terbangun, dia mengusap mata kemudian menggaruk-garuk kepalanya. Dia meracau, sebuah kebiasaan yang sering terjadi saat dia bangun tidur.


"Dimana ini? Aku dimana?"


Tabra berucap di tempat tidurnya kemudian dia beranjak menuju ke luar kamar kapal.


Tabra menghela napas.


"Hah, apa-apaan aku ini?"


Keadaan Tabra membaik, dia mulai menyadari bahwa dia dalam perlayaran menuju ke Desa Buana, kebiasaan yang sering terjadi. Itulah Tabra.


Tak lama dari itu, Tabra melihat Aisha dari kejauhan yang sedang tersenyum-senyum sendiri, jelas itu terlihat aneh, rona wajah Aisha memerah, seperti sebuah tomat.


"Hmmm, ada apa dengan Aisha?"


Tabra berjalan pelan, mengendap-endap agar tidak ketahuan, sedangkan Aisha tidak menyadarinya, dia terus berjalan pelan, tak terasa langkah kaki itu mendekati Aisha hingga dia berada di samping Aisha.


Tabra menatap Aisha dengan heran.


"Bagaimana mungkin dia tidak menyadari keberadaanku, jelas ini aneh!"


Kemudian, Tabra menepuk bahu Aisha.


"Hei, kau kenapa?"


Tabra bertanya pendek sambil mengupil, dia kembali menepuk. Aisha melihat Tabra saat mengupil dan menepuk bahunya. Lantas, Aisha menggeram dengan telempap yang mulai mendatar.

__ADS_1


"Dasar kauuu, Tabraaa!" Suara Aisha menggelegar.


Aisha mengayunkan telempapnya.


PLAAKK!


Tamparan mulus dari tangan Aisha mendarat tepat di area pipi. Tabra berwajah datar.


"Ke–kenapa kau menamparku, apa salahku, apa salahku, Aisha?" tanya Tabra berbolak-balik mengatakannya.


Aisha menjauh darinya, Tabra masih tidak mengerti ada apa dengan Aisha.


***


Waktu berlalu, kebingungan Tabra belum hilang sepenuhnya. Namun, dilain hal daripada itu, tak terasa pelayaran mereka sudah mendekati Desa Buana. Sejauh ini pelayaran mereka baik-baik saja, setelah bertemu Kapten Ranjaya yang jomblo karena Kapten Ranjaya membangun kelompok itu sendirian, singkatnya sebuah kelompok yang bernama Autra.


Aneh, kenapa disebut kelompok? Bayangkan saja, ibarat sebuah pesan grup yang anggota hanya dia sendirian. Grup itu tetap disebut grup walaupun anggotanya hanya satu orang. Mungkin? Apa mungkin? Tidak tahu. Ya, sudahlah.


Selain dari Kapten Ranjaya, tidak ada lagi kejahatan, tak ada kesadisan yang dijumpai oleh Akma Jaya, bahkan tentang rumor yang beredar dikalangan orang-orang.


Akma Jaya dan Tabra, mereka berdua berada di salah satu ruangan kapal, mereka berdua sedang duduk memperbincangkan sesuatu.


"Seperti yang Anda katakan, Kapten. Itu hanya sebuah rumor, kita telah membuktikan dan kenyataannya rumor itu tak seperti yang beredar dikalangan banyak orang!"


"Begitu, sekarang kita mengetahui apa yang beredar dikalangan banyak orang belum tentu pasti, Tabra."


"Iya, Kapten."


Mereka berdua saling mengobrol, membahas tentang rumor tersebut. Tiba-tiba salah satu anak buah datang melapor.


"Baiklah."


Akma Jaya mengangguk pelan, dia berjalan, ke luar ruangan untuk melihat keadaan sekitar, dari sudut pandang kapal mereka berlayar sudah terlihat Desa Buana dengan pepohonan rindang yang tersusun rapi di pinggiran pantai.


Desa Buana berbeda dari tempat lainnya, dimana panorama di pinggaran pantai bersusun buah kelapa dengan pasir yang ada dibawahnya, berbeda dengan Desa Buana.


Desa Buana di kelilingi tanaman merambat, tanaman yang berakar menjuntai, akar itu menyentuh air. Dibawahnya bukan pasir, tetapi tanah yang berwarna kecoklatan.


Sebetulnya hampir seluruh pantai di Daerah Daulisa mempunyai ciri seperti itu.


Kapal Akma Jaya berlabuh ke arah pantai, sebagian anak buah merasakan hawa yang mencekam, hawa dingin yang membuat bulu kuduk mereka merinding.


Desa Buana adalah desa yang telantar, semenjak beberapa tahun yang lalu, desa itu hancur oleh perebutan wilayah kekuasaan Bajak Laut, dahulu Desa Buana adalah markas besar milik kelompok bajak laut bernama Yauja yang pimpin oleh Kapten Kalama.


Namun, tak berlangsung lama, terjadi pertarungan yang mengenaskan, seluruh dataran pulau bernasib sama persis Desa Muara Ujung Alsa, hanya saja dalam kasus yang berbeda.


Saat itu, Kapten Kalama mempertahankan wilayah kekuasaan dengan bertarung melawan kelompok bajak laut Jamala, dipimpin oleh seorang kapten yang bernama Abna.


Pertarungan yang berbanding sama, keduanya kelelahan, hampir sekarat dengan napas yang berembus ngos-ngosan. Seperti itulah sekilas cerita, Tabra menceritakan itu kepada mereka–para anak buah.


Anak buah itu mengernyit ketakutan mendengarnya, ada yang gemetar, berwajah pucat. Akma Jaya hanya menyimak, bergeming, mengangguk pelan.


Lain hal dengan Aisha, dia menatap Tabra tidak percaya.


"Tabra, kau jangan mengada-ngada, membuat orang menjadi ketakutan!" Aisha berucap dengan suara yang lantang.

__ADS_1


Tabra menyeringai, berwajah datar.


"Aku tidak berbohong, konon katanya setiap malam desa ini akan timbul kabut pekat serta suara yang berbunyi." Diiringi suasana penuh drama, Tabra mengucapkannya.


"Suara tertawa kecil menggema, memanggil siapa pun yang dilihatnya."


"Mereka akan memangsa orang-orang yang berada di sekitar desa ini, hantu-hantu yang haus darah, hantu itu terbang melayang, berambut panjang."


Bulu kuduk mereka merinding. Aisha terbelalak mata mendengarnya.


"Ka–kapten, bukankah ini mendekati malam, bagaimana kalau itu benar, kita akan dimakan hantu!" Salah satu anak buah berucap dengan wajah yang ketakutan.


Suasana mencekam, bulu kuduk mereka merinding, Aisha berlindung di belakang Akma Jaya. Namun, tiba-tiba Tabra berwajah aneh, tampak seperti orang yang sedang menahan tawa.


"Apa yang kalian pikirkan?" Tabra meletakan tangannya ke arah mulut. Terdengar suara terompet tersumbat,


prret ... preettt ....


"Hahahaha ...."


Tabra tak kuasa menahannya, gelak tawa disertai tangan yang memukul-mukul dinding kapal.


"Aku hanya bercanda." Tabra melanjutkan ucapan, dia tertawa, mulutnya terbuka lebar.


Aisha mengernyit kesal. "Tabraaaa, kauu berbohooong!"


Aisha berjalan menghampiri Tabra dengan wajah yang dipenuhi amarah.


"Haha.. pada saat aku serius menceritakan tentang desa ini, kau menuduhku berbohong, ketika kuceritakan hantu, kau nomor satu dalam mempercayainya."


Tabra terbahak, dia memegang perut karena tawa yang tak kunjung berhenti, sedaritadi Aisha sudah geram dengan tangan yang diremas-remas kemudian dia menggenggam.


BUUK!


Aisha meninju dengan genggaman tangan yang mendarat keras di area perut Tabra.


Para anak buah tercengang, sang singa sudah menunjukkan wujud aslinya.


AAARGGHH!


Tabra menjerit kesakitan.


"Aisha, kau keterlaluan!" Tabra berucap sambil memegang perut yang kesakitan.


"Hohoho ...."


Aisha tertawa jahat, suara itu berubah sedikit mengeras dari biasanya. Lepas tertawa, Aisha mendelik.


"Itu adalah akibatnya karena kau berani berbohong kepadaku." Dia berucap dengan suara yang lantang.


"Hah, baiklah. Aku salah!"


Tabra menghela napas, menggaruk kepala terlihat bersalah, sedangkan Aisha masih berwajah marah, berkali-kali mengancam dengan tangan yang menggenggam.


Berulang kali Tabra menghindar dari genggaman tersebut, kedua kakak beradik itu melakukan olahnya, sedangkan yang lain hanya menggelengkan kepala, termasuk Akma Jaya.

__ADS_1


__ADS_2