Bajak Laut Hitam

Bajak Laut Hitam
CH. 125 – Pancaran Sinar Mata Yang Mengerikan


__ADS_3

Lumayan jauh jaraknya. Sementara mereka berjalan sedang, tidak cepat dan tidak lambat. Perkiraan masih lama untuk sampai ke pinggir pantai di mana kapal mereka bertengger anggun di sana.


Kalboza yang sebelumnya berbicara bijak secara tak langsung membuat Boba marah, raut wajah serta pikirannya naik pitam. Dan selanjutnya dia kembali mendengar lanjutan dari perkataan Kalboza yang katanya amarah hanya akan membakar hati.


Sekarang seorang anak buah berbadan gendut itu menghela napas. “Aku tidak tahu bagaimana untuk mengatasi amarah yang kurasakan, tetapi Kalboza nada bicaramu begitu tidak kusukai!”


Raut wajahnya semakin menunjukkan amarah. Ucapan Kalboza sebelumnya bagaikan air cuka yang merembes ke roti kering, membuat perasaan seorang anak buah berbadan gendut itu menjadi berkecamuk tidak nyaman.


Kalboza tidak menyahut sama sekali. Entah apa yang sekarang dipikirkannya? Sekilas suara sedikit pun tidak didengar.


Sementara Boba menatap tajam berkepalan tangan. “Kalboza, berhentilah berlagak sok bijak di hadapanku!”


Kalboza tidak hirau sedikit pun. Boba bagaikan kulit kacang yang dikupas. Lantas dibuang begitu saja di sela-sela tumpukan barang usang yang tidak dihiraukan lagi.


Kalpra menatap paham, menghampiri Boba yang tengah dilanda kemarahan karena sebelumnya mendengar ucapan Kalboza yang berlagak sok bijak, ingin sekali rasanya Boba hantam. Dia terus menahannya.


“Boba, tidakkah kau tahu masalah ini? Bukankah sebelumnya aku sudah pernah menjelaskannya kepadamu.” Kalpra berbisik ke telinga Boba.


Amarah yang memitam, mengepulkan asap tebal. Seakan tungku api menyala dan bara apinya menimpa ke wajah. Marah yang berusaha Boba pisahkan dari lubuk sanubarinya yang mengacaukan pikiran.


“Boba, kau harus tahu Kalboza sering begitu dan itulah sikapnya yang kadang menyebalkan. Semoga kau bisa memaklumi sikapnya.” Kalpra menjelaskan kembali.


Mendengar ucapan orang yang hendak berkorban turun ke jurang. Boba kini berusaha memaklumi. Kalpra adalah orang yang rela berkorban demi menemukan sang kapten. Bagaimana mungkin Boba tidak tersentuh mendengarnya?


Petualangan mereka kali ini melelahkan bukan hanya raga, melainkan seluruh pikiran dan perasaan bercampuk aduk menjadi satu kesatuan dalam arti lelahnya mereka.


Boba sejenak berusaha melapangkan dada. Dialah orang yang semula awalnya kesal dan marah, berangsur menahan diri dan kini perlahan perasaannya berubah tenang. Syukurlah, Kalpra datang bagai air yang memadamkan tungku api.


Glosia berbisik ke telinga Jalbia. “Ini sepertinya akan terjadi perdebatan lagi di antara mereka berdua.”


Glosia sekilas menatap dan tidak begitu detail memperhatikan Boba yang sebenarnya sekarang sudah bisa berangsur berhasil menenangkan perasaannya.


Dia juga hanya sekilas tahu mengenai perangai Boba yang selama ini dia sering bersamanya. Menduganya dengan perasaan yang sangat yakin.


Jalbia menggeleng, balas berbisik. “Glosia, sudah cukup di antara kita sebelumnya berdebat, semoga tidak lagi. Aku pun sudah lelah mendengarnya.”


Lihatlah betapa seorang Jalbia itu memahami keadaan, terlebih dia menatap Aisha yang di depan sana berjalan dengan wajah menunduk beserta gaya sekedap—memeluk dada seperti orang yang sangat teramat khawatir.


Sosok wanita yang sebelumnya meleraikan perdebatan dan baku hantam di antara mereka semuanya. Menyebut kata munafik. Sampai sekarang, Jalbia masih segar mengingatnya.


“Iya, kau benar.” Glosia mengakui semua itu dan sejenak menghela napas.


Ada terjadi kontak batin di antara mereka berdua. Lamanya bersahabat melewati waktu bersama. Seakan telah mengakar kuat akar yang menyambungkan ikatan perasaan di antara mereka berdua.


Hambala di sebelah sana menatap dengan sedikit seringai. “Heh, Boba itu kebiasaan, dia sering terpancing emosi.”


Hambala bergumam. Gumaman yang tidak didengar siapa pun. Dia orangnya cukup lihai menyembunyikan apik. Lanjut berpura tidak peduli, bersiul menatap langit.


Tabra memimpin di barisan terdepan nan berjarak lima langkah di sana terus berjalan. Sementara, Aisha sekarang masih bersikukuh berdiam diri dengan jutaan doa yang bersuara di dalam batinnya. Mengenai keselamatan sang kapten yang entah bagaimana sekarang kabarnya?


“Aisha, apa kau baik-baik saja?” Tabra memandang sekilas adiknya yang terlihat sedih—kurang bersemangat dan lesu seperti orang yang tak ada niat bicara.


Aisha tak menjawabnya. Enggan bicara dan tidak menatap ke arah Tabra. Di balik semua yang dirasakan Aisha, ada seorang kakak menatap iba seraya berusaha memahami perasaan adiknya. Saat ini dia mencoba untuk tetap mengerti apa pun dan bagaimanapun keadaan semuanya.


“Aisha, kau tidak perlu khawatir akan keadaan kapten, sepanjang kita hidup selama ini aku percaya bahwa kapten akan selalu bersama kita. Bukankah telah lama kita melalui waktu bersamanya dalam hal suka maupun duka. Dialah orang yang selama ini selalu bersama kita dan sekarang kau hanya perlu percaya, Aisha. Percayalah, bahwa kapten baik-baik saja.” Tabra menatap penuh arti yang mendalam.

__ADS_1


Aisha masih kukuh berdiam, enggan berbicara sedikit pun bagai dijerat mulutnya, ditutup bola matanya dan disumpal lubang telinganya, komplet. Wanita itu hanya menunduk dan seakan terus memaksa kakinya berjalan.


Tabra menatapnya serba salah, selaku orang yang sekarang bertanggung jawab atas semuanya jauh di dalam perasaannya merasa kurang nyaman bagai dilontarkan ke langit, sekarang Tabra berusaha tak hirau fokus menatap ke arah depan.


Mereka kini terus berjalan. Dan entah mengapa tak lama dari kesudahan masalah Kalboza dan Boba, sesekali Hambala punya keinginan—ingin melawak. Dia pun punya inisiatif mengutarakannya, sayang beribu sayang saat dia melawak dan hasilnya ternyata masih sama tidak lucu, bahkan terdengar sangat sangat garing daripada lawakan Glosia sebelumnya.


“Hambala, kau itu sama saja seperti Glosia yang ingin melawak, tetapi kau tak punya bakat dalam hal lelucuan dan itu percuma. Kau justeru membuat sakit telingaku saat mendengarnya!” Boba berbicara ketus.


Serentak yang lainnya merasa apa yang dikatakan Boba itu terlalu tidak bagus untuk diucapkan. Bagaimana mungkin seharusnya sesama orang harus punya perasaan?


Boba ini mengatakannya blak-blakan, tajam menusuk ke relung hati yang menyesak sakit di dalam sana. Akan tetapi, siapa yang menyangka bahwa Hambala menerima semuanya dengan lapang dada.


Bahkan menatap dengan raut wajah tersenyum. “Boba, apa yang kau ucapkan itu bagiku memang benar, sebelumnya aku hanya ingin mengisi waktu sambil sesekali berusaha menghibur kalian.”


Hambala menjelaskan terus terang maksud dari sebelumnya yang bagaikan debu beterbangan, kecil tidak terlihat.


Dan entah mengapa Boba sama sekali tidak menatapnya? Bola matanya kini tertuju fokus menatap ke arah depan. “Hambala, kurasa daripada kau mengatakan omong kosong, lebih baik kau diam!”


Persis saat ucapan itu dilontarkan, pandangannya tidak menoleh sedikit pun. Entah kesal atau karena apa? Boba sedikit pun tidak menjelaskannya ke siapa pun orang yang berjalan bersamanya.


Tidak ada sedikit pun penjelasan, bahkan kepada Jalbia atau kepada Glosia selaku sahabatnya selama ini dalam berbagai masalah. Sama, tidak ada penjelasan yang dapat dijadikan bahan renungan.


Hambala yang mendengarnya seketika saat itu membungkam mulut. Dia mengakui diri telah salah mengatakannya.


Sosok seorang Boba membuatnya urung menjawab, bahkan tidak ingin mencari masalah lagi, lagi dan lagi. Sebelumnya sekadar berniat ingin menghibur dan bukan mencari masalah, bukan pula disanjung.


Melainkan semata menghibur. Glosia menepuk pundak Hambala. Dengan senyuman saling berbalas tatap.


Jalbia diam tak bersuara, yang lainnya pun sama, termasuk Tabra yang memimpin dengan perangai tegak di barisan terdepan sana, tidak menoleh ke kiri atau kanan.


Meninggalkan sang kapten di sana yang terjatuh ke jurang dan mereka menuju ke kapal berniat ingin mengambil tali untuk Kalpra menuruni jurang yang entah sampai mana kedalamannya.


Mereka memang tidak tahu persis berapa kedalamannya, hanya sejenak menduga bahwa kemungkinan tidak ada dasarnya. Itulah alasan mengapa Boba mengatakan ide Kalpra adalah ide gila.


Di keheningan suasana mereka akibat kesalahan Hambala yang ingin melawak seperti Glosia. Tiba-tiba terdengar suara yang memecahkan sekawanan burung di sana tampak beterbangan memekik di permukaan langit, pergi menjauh.


Semua anak buah saling pandang. Pun sama kedua sahabat dari seorang kapten yang memimpin itu menatap lebih leluasa kemana mana arah pandangan dan terus mencoba menebak suara apa itu sebenarnya? Dan dari mana asalnya?


Glosia merinding, mengusap lengannya. Jalbia di sampingnya juga ikut merasa gemetar. Ini ngeri kata mereka berdua kompak saling pandang.


“Itu suara beruang!” Hambala refleks menebak sembarang ucap.


“Kau yakin, Hambala?” tanya Kalpra seketika saat mendengarnya. Pun sama si Boba juga bertanya demikian.


Hambala mengangkat bahu. “Aku juga tidak tahu sekadar menduga.”


“Beuh, percuma.” Boba mengembuskan napas tidak suka. “Kalau kau tidak tahu setidaknya jangan mengatakan perkara yang bisa saja dusta belaka.”


Boba tidak terima mendengarnya. Hambala tidak hirau. Sosok yang baru saja mengatakan hal demikian hanya mencoba terus menebak sumber suara.


Hambala menatap sekeliling. Pun yang lainnya berusaha waspada. Tatapan mata terfokus ke arah burung yang beterbangan menjauh. Suara itu berasal dari sana, perlahan sosok wujud ternampak.


Sosok kecoklatan dengan manik mata yang memancarkan sinar mengerikan di sela-sela gelapnya rimbun pepohonan. Suara menggelegar kembali membuat sekawanan burung beterbangan.


Benar. Itu Beruang persis dugaan Hambala sebelumnya, semua itu benar adanya. Boba menatap Hambala dengan sedikit tawa. Mendenguskan napas.

__ADS_1


“Heh, Hambala dugaanmu ternyata tidak meleset, kita akan berhadapan dengan beruang yang tampak kelaparan persis sekarang perutku sedang lapar. Beruang itu ingin segera kubunuh!”


Boba menatap pasti. Yang lainnya diam mendengarkan. Tabra menyerukan agar masing-masing bersiap diri dengan sebilah pedang di tangan. Jumlah mereka berdua belas menghadapi seekor beruang.


“Tidakkah ini terlalu mudah, heh!” Boba meremehkan beruang yang berada di balik pepohonan sana yang masih berlari menghampiri mereka.


Dari kejauhan sudah ternampak gigi tajam yang menganga dan air liur yang keluar menetes dengan mata yang menyeramkan. Beruang Grizzly.


Tubuhnya kecoklatan dan benar-benar tampak kelaparan. Mengamuk mematahkan pepohonan yang ia lewati.


“Ini mengerikan bukan?” Dasasa berbicara.


“Hmm, benar. Ini bahkan sangat mengerikan!” Dausa menyahut.


“Kalian tidak usah takut. Selama ini kita telah banyak bertemu bajak laut dan menghadapinya walaupun dengan rasa ketakutan, tetapi selama itu kita sudah melewatinya, bahkan rasa keberanianku seiring waktu perlahan tumbuh semakin ke sini semakin bertambah kuat dan besar.” Boba menuturkan perkara dirinya.


Ashraq mengutarakan hal yang sama. Selama ini tak bisa dimungkiri mereka telah banyak menghadapi berbagai situasi dan menatap lebih lanjut, bahkan di saat rusaknya menara di wilayah Nanaina. Hingga merantau pergi menelusuri lautan ke wilayah Valissa, selama itu lamanya waktu berlalu mereka telah banyak bertaruh nyawa yang belum disebutkan atau dirahasiakan pada chapter-chapter sebelummya.


Hambala tersenyum. “Baru kali ini, Boba. Kau berbicara bijak seperti itu.”


Boba mendengus. “Hambala, sudah jangan kau pikirkan. Saatnya bersiap!”


“Baiklah, aku sudah bersiap diri daritadi, Boba!” timpal Hambala menatap dengan pedang terhunus.


Boba memalingkan pandangan menatap ke sekeliling mereka. “Kalian semua juga persiapkan diri, jangan hanya terdiam menatap tak ada tindakan sama sekali!”


Boba berseru-seru bagai seorang kapten. Ashraq mendengarnya bersemangat. Ini bukan Boba—batin Ashraq bersuara.


Walaupun sebelumnya Tabra selaku orang yang bertanggung jawab selama kapten tidak ada di sisi mereka sudah berseru meminta mereka bersiap, tetapi sampai saat ini mereka belum juga menghunus pedang. Itulah alasan mengapa Boba menyerukan perintah, bukan berlagak.


Melainkan dia sebatas mengulangi seruan Tabra sebelumnya. Tidak bertindak sebagai kapten ataupun berlagak memimpin barisan seakan jago sekali. Sejatinya bukan itu maksud dari seruan Boba.


Ashraq tersenyum. “Saat ini kupikir kehadiran beruang itu ada bagusnya!”


Entahlah apa maksud ucapannya? Dia sekadar menatap Boba yang lain dari biasanya, sejenak berpikir dalam ruangan otak lantas mengatakannya.


Boba mendengar sekilas tatap. “Ashraq, bukankah tadi sudah kubilang sebelumnya, cepatlah bersiap diri!”


Seorang anak buah berbadan gendut itu tanpa sedikit pun menghiraukan ucapan Ashraq. Dia kembali bersuara lantang menatap ke sekeliling mereka.


“Hidup atau mati ada di tangan kalian sendiri, maka persiapkanlah diri kalian untuk menghadapi serangan beruang itu!”


Seruannya sukses membuat Dausa menghunus pedang dari kompang. Pun yang lainnya. Kecuali Aisha dan Tabra yang terlebih dahulu menghunus pedang.


Hambala sedikit menelan ludah, menatap pepohonan yang patah dengan sekali tinju dari beruang tersebut. Gigi-giginya tajam bagai jejeran pisau yang mengilat.


“Menyeramkan!” Hambala bergumam seraya menggertakkan gigi.


Jalbia dan Glosia kompak bergemetaran tangannya. Berusaha kukuh menatap beruang yang berlari di balik pepohonan. Lumayan sedikit jauh jaraknya, tetapi beruang itu terbilang cepat berlari.


Glosia menatap sahabatnya. “Jalbia, sepertinya inilah awal keberanian bagi kita yang dimaksud Boba sebelumnya.”


“Kau benar, Glosia!” sahut Jalbia menguatkan genggaman pedang.


Sementara Aswa Daula yang selama ini memang takut darah, menatap beruang di sana terbayang kemungkinan apa yang terjadi membuat kepalanya mulai terasa pusing. Berusaha menatap kuat lebih dari apa pun dengan sikap keberanian.

__ADS_1


Di tangan Aswa Daula telah menggenggam sebilah pedang, bergerombol keringat di area pelepis menyertai tekad, juga harapan yang membara. Berapi-api ingin melindungi teman sekelompoknya.


__ADS_2