
Kemarahan, kekesalan, kemerahan warna darah membuktikan suatu kejadian yang di luar keinginan. Suatu kejadian di ujung batas ketidakinginan bermuara, sebelum itu, berbelok-belok aliran sungai, air terus mengalir tanpa ia kehendaki, dan mengikuti arus menuju muara.
Akma Jaya memberi isyarat kepada Tabra untuk menaiki menara, dia mengangguk seolah menuruti perintah sang kapten, di dinding menara, Tabra tersenyum menatap tak ada celah sedih. pegangannya melemah, cukup lama dia bergelayut.
"Apa ini? Sekadar kemampuan tanpa ada pembandingan." Tabra meracau tidak jelas, ungkapan kata sederhana—mungkin.
"Tabraaa!" Akma Jaya kembali berteriak lantang, kembali bergerak tangan membentuk kata 'Naiklah'
Tabra mengangguk, memberi isyarat tangan berupa balasan berbentuk 'Baiklah'
Bahasa isyarat. Begitu, suatu gerakan tangan membentuk bahasa sederhana, tidak rumit. Isyarat yang membantu mereka dalam berkomunikasi, di tengah gerakan itu, kerumunan melihat tak dapat memahaminya. "Apa yang mereka isyaratkan?" Salah seorang bertanya di selimuti kerumunan balik bertanya.
"Apakah mereka merencanakan sesuatu?" Bertubi pertanyaan dilontarkan, lelah mengetik. Ada banyak sekali, sulit dijelaskan untuk apa mereka mengatakan hal demikian. Tidak diketahui.
Tabra berusaha menaiki menara menuju ke puncaknya. Di mana embusan napas lelah dihela, berat. Pegangan tangan begitu rumit, bahkan dia sulit memegang karena suatu alasan yang tak ingin dijelaskan. Begitu, ini semua tentang batas kemampuan. Di ujung batas yang terasa menyebalkan, angka kuadrat bermuara dalam benak pikiran.
Rumus fisika, berbagai hal bercampur dalam kelelahan, tumpuan memegang, menyerahkan diri percaya di area tangan, sedang napas berembus terengah-engah.
Di mana waktu kian berlalu, pada menit ke dua puluh sembilan, detik ke sebelas, Tabra telah mencapai puncak menara, betapa senyuman melebar di permukaan bibirnya, Akma Jaya bergumam senang melihat Tabra berhasil menaiki menara—sukses tanpa kendala.
"Kapten, apa Anda baik-baik saja." Ditegaskan bentuk kalimat Anda adalah bentuk penghormatan. Tabra memberi hormat, Akma Jaya mengangguk, mengatakan bahwa dia baik-baik saja.
"Ini adalah kesalahanku, Tabra. Aku menusuk Kapten Riyuta, dia jatuh dari ketinggian, air kolam itu berubah warna menjadi merah, aku sudah berbuat kesalahan fatal." Akma Jaya berucap sendu, beranggapan dirinya melakukan kesalahan.
Kesalahan yang tidak bisa ditoleransi, tidak bisa dimaafkan begitu saja. Bahkan, untuk meminta maaf pun terlambat, nyawa telah melayang karena tusukan sebuah pedang.
"Kapten, Saya melihat semuanya. Jika Anda tidak menusuknya, Anda akan terbunuh ditangannya. Ini yang disebut membela diri." Tabra menjawab cukup lihai memainkan sebuah alunan nada bicara. Di mana ia mengikuti arah pergerakan angin, berdesir.
Mendengarnya, Akma Jaya sedikit menggelengkan kepala. "Tabra, mengenai apa yang kau sebutkan, Adfain pernah menjelaskan di wilayah ini tidak mengenal apa itu membela diri, nyawa harus ditebus nyawa. Seperti apa yang baru saja kau dengar dari sorakan mereka!" Akma Jaya berucap menjelaskan.
"Sejak awal, saya pernah bertanya untuk apa tujuan kita menuju ke wilayah ini, dan ternyata hanya untuk mencari masalah." Tabra memandang serius, tekanan udara memanas.
__ADS_1
Cakrawala masih mendung, Akma Jaya kembali menggeleng pelan. "Bukan begitu." Ringkas, tapi sedikit membingungkan.
"Apa yang Anda maksud? Apa ini kesalahan dalam perkataan?" Tabra kembali memutar topik.
"Tidak ada." Damainya suasana kebersamaan mereka menyelimuti suasana riuh yang ada di bawah menara.
Damai bukan berarti ucapan santai, Tabra bersuara lantang mempertanyakan alasan yang sama. Akma Jaya menghadapi penuh damai.
"Terkadang, apa yang tersirat, terucap, terukir dalam suatu kata, di kemudian hari ia dilenyapkan dalam kobaran api, bahkan dicoret begitu saja, dibuang ke lautan, disapu ombak, ditelan oleh ketidakmampuan dalam mewujudkannya."
Akma Jaya mendramatisir sedikit saja penjelasan mengenai apa yang terjadi, di kenyataan berbeda dengan ekspektasi. Jauh berbeda, kadang kala di situ perasaan ingin lari, musnah atau apalah yang menenangkan pikiran, meronta untuk diam.
Sesederhana ini, tak semudah mengukir kata dalam perkata, sederhananya dalam bentuk sulit. Realita kehidupan, sebuah roda berputar, menjalani jalanan, di suatu tempat, terhampar padang pasir luas, tersesat, itu semua tak dikehendaki diri.
Di kerumunan, Ashraq menatap ke puncak menara, di mana terlihat Akma Jaya dan Tabra saling berbicara. Setelah itu, dia berkeliling melihat-lihat keadaan.
Suasana biasa, tak ada apa-apa, hanya suara riuh dan sorakan yang membabi-buta, di mana ada suatu tempat, jauh dari keramaian—sebuah kedai.
Di situ, Asgaha berbincang mengenai senjata tembak dengan salah seorang sahabatnya yang telah disebutkan pada episode sebelumnya.
Kapan terakhir kali dia menggunakannya, sekilas peristiwa lalu membuktikan, senjata miliknya, hanya menjadi pajangan di pojok dinding. Tak pernah digunakan.
"Aah, Asdama, kau seolah menamparku dengan ucapanmu itu," ucapnya sedikit kemudian tertawa. Pengalihan perhatian sepertinya cocok untuk dikatakan.
"Sudah, hentikan tawamu, kau percaya denganku, ambil senjatamu, gunakan itu saja." Asdama menjawab mantap sambil menepuk bahu Asgaha.
"Jadi, kesimpulan dari semua ini, kau tak ingin meminjami aku senjata milikmu?" Asgaha berucap seolah tersinggung karena mendengar perkataan Asdama.
"Tidak, bukan begitu." Asdama menjawab ringkas.
"Lantas, apa maksudmu?"
__ADS_1
Asdama tersenyum. "Sepertinya kau bersikeras ingin meminjam senjata dariku, sejujurnya senjata milikku, beberapa hari lalu kujual ke orang yang ingin berpergian ke wilayah Batatal, di mana rumor beredar jalan menuju ke sana, ada banyak penjahat, kau tahu itu, wilayah Batatal di sebelah wilayah Aimaina."
"Orang itu berucap alasan yang membuatku tak tega, dia bermaksud ingin berjumpa dengan sanak keluarga di wilayah yang telah kusebutkan." Asdama menjelaskan apa yang sudah terjadi, di mana dia telah menjual senjatanya beserta alasan yang dia katakan.
"Teman, pakai senjatamu. Bukankah sudah kukatakan jarak jangkauannya?" Asdama melanjutkan perkataan—mengingatkan.
Asgaha menggeleng. "Tidak, Asdama. Kau menyebutkan merek terbaru, sedangkan punyaku telah lama kubeli, ini berbeda."
"Sebutkan merek apa yang kau punya?" Asdama bertanya santai.
"Pistol Queen Anne." Asgaha menjawab ringkas to the point.
"Oh, begitu. Coba saja kau gunakan, mengenai itu, aku belum pernah membaca, aku hanya mengetahui, bahwa senjata itu telah lama ada, menemani beberapa masa berlalu dengan bajak laut pada sekitar tahun 1680—"
"Apa? Kau bercanda?" Asgaha tercengang.
"Kenapa kau berkata seperti itu?"
"Asdama, kau seorang kutu buku, kulihat kau hampir setiap hari membaca, tetapi tak disangka, ada hal yang tidak kau ketahui?"
"Hei, ayolah. Jangan menyebutku kutu buku, di lain keadaan aku juga manusia, tidak seperti bangsa Austramania yang memiliki kekuatan super untuk mengetahui apa yang tersembunyi di alam semesta." Asdama menjawab seraya menepuk bahu Asgaha.
Senyuman terpampang di wajah keduanya, Asgaha bergumam tidak jelas, mengetahui bahwa seorang sahabat—dianggapnya sebagai kutu buku—tidak mengetahui mengenai hal tersebut.
Sementara, di tengah simpangan jalan, Aisha berlari dan terus berlari, dia ingin mendatangi tempat kejadian yang dilihatnya melalui teropong. Di sekitaran kapal, seorang anak buah meneropong keadaan, di balik sorotan itu, dia melihat keseluruhan Tabra yang menaiki menara hingga mencapai puncaknya, keseluruhan aksi, bahkan sekarang Akma Jaya dan Tabra berbincang, dia melihat semuanya.
"Kau sudah melihat teropong bermenit-bermenit, sekarang giliranku!"
"Iya, sebentar."
"Eeh, cepat! Kami sudah lama menunggu giliran, dan kau dari tadi terus melihat, kapan giliran kami?" Salah seorang lagi berucap.
__ADS_1
"Baiklah, ini teropong. Ambillah!" Dia menyerahkan benda berbentuk panjang tersebut, salah seorang di sebelahnya, berada di arah kanan—bergerak cepat mengambilnya.
Mereka bergiliran untuk melihat keadaan, dari semua itu, sekilas pandang mereka sedang melakukan tindakan yang ternilai kurang kerjaan. Kepo dengan urusan orang lain.