
Tabra bersekedap, bolak-balik kanan kiri. Dia terus berpikir matang. Aisha yang kurang nyaman. Dia tidak terbiasa melihat Tabra bertingkah lebih sangar dari biasanya.
Tabra kembali bersandar, bersitatap awan dengan manik mata teduh. Di dalam benaknya, melambungkan doa. Entahlah, kemungkinan dia merasa bersalah.
Sementara, para anak buah dengan santai saling tertawa sesuka mereka. Semua ini tidak ada hubungannya dengan persepsi individu yang telah melayang, memikirkan suatu ide cemerlang. Kesemuaan itu ternampak sukar ditemui jawabannya.
Dari mereka semua, tidak ada yang mengetahui persepsi masing-masing. Angin pun cukup mengangguk dalam bentuk sentuhan—melambaikan dedaunan.
Ashraq menatap mereka semua yang daritadi masih tertawa. Tak habis-habisnya urat leher mereka mengencang. Hanya dirinya yang semula tertawa, kini tidak tertawa lagi. Dia berdiam, sejenak menghela napas.
Kalboza terkikik, kalimat bodoh itu cukup aneh didengar olehnya. Begitulah mereka yang saling tertawa.
“Cukup sudah tertawanya. Lihatlah, Tabra. Dia tampak berpikir keras.” Ashraq berbisik, suaranya pelan, menatap serius.
Kendatipun demikian, mereka cuek bebek. Asyik sendiri. Boba dan dua orang yang semula bersandiwara tertawa, kini punya alasan untuk menghentikan tawa dengan gaya supaya tidak diketahui sandiwaranya.
Ashraq lanjut berbisik—Diam ooy, nanti dia marah. Kalian semua bisa dimakan olehnya.
Ashraq melambai-lambai, mengisyaratkan telunjuk menutup mulut. Sementara tangan kanannya mengisyaratkan ke arah Tabra yang tengah merenung dengan posisi bersandar di balik batu berukuran besar.
Mereka ikut berbisik, serentak kompak, mangut-mangut bersandiwara takut—siapa yang takut. Kami berani, memakan atau dimakan itu terserahlah. Ashraq tertawa menatap tingkah laku mereka.
“Eh, kau yang melarang kami tertawa, kenapa kau sekarang tertawa?” Boba tidak suka, menyilangkan tangan di dadanya.
“Haduh, parah!” Kalboza menepuk jidat, mengelengkan kepala.
Glosia menyengir, menyikut siku Jalbia di sampingnya. “Mereka ini tidak bisa berpikir. Aneh sekali, lihatlah Kalboza tadi sok sok'an merenung, tapi tidak bisa menemukan titik menyelesaikan masalah.” Dia berbisik-bisik. “Hooh, benar sekali, tadi dia sok-sok'an. Jangan percaya sama renungannya.”
“Benar, kita itu harus punya renungan sendiri. Jangan percaya. Itu sesat, bodoh itu ya bodoh, tidak ada hubungannya dengan menerima nasehat atau tidaknya.” Glosia tambah mencerocos bisikan ke telinga sahabatnya. Jalbia mangut-mangut paham.
“Kalboza, tadi kau menjelaskan dengan bijak perihal bodoh dan pintar, cobalah kau bantu Tabra berpikir, mencari solusinya.” Boba menantang. “Coba saja, aku yakin dia tidak akan bisa memikirkannya, dasar sok bijak.” Lanjut bertutur di dalam benaknya.
“Eh, janganlah. Enak saja, kau sana!” Kalboza menepiskan tangan. Dia tidak sedang bergurau. Nyatanya dia tidak pernah mengakui dirinya bijak, sebelumnya Dausa yang memaksanya menjelaskan, saat itu pun tidak ada niat berlagak pintar di depan mereka semua.
__ADS_1
“Dausa, apa tadi idemu? Cobalah kau ulangi, ucapkan kepada kami sekali lagi.” Kalboza bertanya, lalu meminta menjelaskan ide milik Dausa.
Glosia, Jalbia, Boba mengernyit kompak. Mereka saling pandang, saling merasa tidak pernah mendengar Dausa mengutarakan ide sebelumnya. Kalboza seperti hilang komunikasi, putus urat syaraf di bagian kepala. Sangkaan yang amat tidak bagus.
“Kapan aku punya ide?” Dausa balik bertanya heran. Ashraq ingin menyela, tetapi dia memendamnya di dalam sanubari.
“Tadi kau ucap?” Kalboza lanjut memaksa seakan benar sekali apa yang dia maksud.
Dausa tertawa. “Tadi, kapan?”
Kalpra daritadi sudah menahan. Bagaimana mungkin, Kalboza dan lainnya tidak mengingatnya. Mereka ini sengaja atau bagaimana?—dasar tidak menghargai perasaan orang lain.
“Hei, Kalboza, kau itu mengingau atau pura-pura pikun? Itu ide punyaku tahu!” Kalpra mengetuk kepala Kalboza. Menatap sekalian mereka. “Kalian ini sama saja, kalian melupakan ideku begitu saja?”
“Eh, Iya. baru ingat, maaf!” Kalboza merasa bersalah. Benar, dia benaran lupa, tidak sedang bersandiwara. Sementara, Kalpra masih kesal karena idenya dilupakan begitu saja. Mereka semua merasa bersalah kepada Kalpra, masing-masing meminta maaf, terutama Dausa.
Dia sama seperti Kalboza. Tidak mengingatnya, padahal sebelumnya Dausa menegah, mengatakan masih ada cara lain. Nyatanya dia juga lupa itu adalah ide Kalpra.
“Sudahlah. Kalboza, kau sok-sokan merenung. Mengingat ide siapa saja kau lupa ide itu akulah yang mendapatkannya.
Glosia dan Jalbia kompak berbisik-bisik. Dausa menepuk pundak Kalpra. “Tenanglah, tidak ada di antara kami yang meremehkan idemu.” Dengan senyuman hangat, ternyata mampu meredam kekesalan Kalpra.
“Aku akan menjelaskan kembali ideku sebelumnya. Kalboza, kau harus menyimaknya. Di dalam kapal kita ada tali, kalian bisa mengikatku, lalu aku akan menuruni jurang, kalian memegang tali dari atas, begitulah ide punyaku!”
“Baiklah, sekarang aku bertanya. Apakah kalian semua setuju dengan ideku?” Kalpra menatap serius.
“Aku jujur tidak setuju.” Boba angkat tangan. Disusul Glosia, Jalbia. Mereka bertiga kompak mengangkat tangan. Sementara, selain mereka bertiga enggan menjawab atau tidak ingin tersalah jawaban.
“Apa alasan kalian bertiga memilih tidak setuju dengan ide yang kuberikan?” Kalpra lagi-lagi menatap serius. Boba mengusap wajah, Glosia garuk kepala, Jalbia mengenyir.
Mereka bertiga kompak tidak punya jawaban. “Kalau kalian tidak bisa menjawab pertanyaan yang sebelumnya kutanyakan, lantas kenapa kalian yakin sekali tidak setuju dengan ide yang kuberikan?”
Mereka bertiga bungkam. Ashraq menyela, membentangkan tangan di hadapan mereka. “Kalpra, aku juga tidak setuju. Idemu itu sangat berbahaya.”
__ADS_1
“Memangnya ide Kalpra apa? Maaf, aku sebenarnya lupa. Hehehe.” Kalboza memecahkan tegangan. Mereka semua tidak percaya mendengarnya. Bukankah sebelumnya Kalpra kembali menjelaskan ide miliknya, mengapa Kalboza mengatakan hal itu kembali. Ada-ada saja—cari masalah.
“Hei, Kalboza. Kau sengaja ingin membuatku tambah marah!” Kalpra menyahut lantang, menunjuk-nunjuk.
“Wajarlah, Kalboza belum makan.” Hambala mencoba mengelawak, tetapi sayangnya tidak lucu. Garing.
“Jangan sebut makanlah, aku juga belum makan. Kau ini sengaja mencari masalah denganku?” Boba menatap tajam, mengepal tangan. “Ingin berkelahi?”
Satu orang lawan satu orang. Satu orang lawan satu orang. Total ada empat orang yang ribut ingin berkelahi versus satu lawan satu. Ronde bergilir. Suasana tambah ribut, semakin ribut.
Hambala terpancing emosi. BUUK! Langsung meninju bagian perut. Boba terpelanting jauh. Dia lanjut bangkit, berlari dengan kepalan tangan. BUUK! BUUK! BUUK! tinju mereka saling menghantam. “Hambala, kau pasti akan membayar mahal!” Boba berseru menghantam terus menghantam.
Sementara, Kalpra dan Kalboza tampak saling tatap. Keduanya bergeming dengan kepalan tangan. Keributan semakin riuh dari sorakan Jalbia yang mendukung Boba, juga Glosia berteriak-teriak. “Hajar, hajar!”
“Boba. Uhhuuyy ... Hajarlah terus, hajar!” Jalbia ikut bersorak-sorai. Suaranya nyaring, bahkan suara angin tidak terdengar lagi.
Para anak buah lainnya menyaksikan, termasuk Ashraq yang tampak berusaha meleraikan, tetapi ditegah oleh Jalbia selaku orang yang mendukung Boba.
Aisha menyilangkan tangan, menghampiri mereka. “Cukup! Kalian berhenti!” Dengan berlantang suara macam lelaki, tanpa raut wajah senang. Aisha sukses membuat mereka yang tadinya saling hantam langsung menatap berhenti, terpaku genggaman tangan di wajah masing-masing. Dengan cepat setelahnya menyingkirkan diri, saling mengibas pakaian.
Aisha benar-benar menatap dengan raut wajah yang membuat mereka semua diam tak bersuara. “Kalian semua kurang ajar! Masih saja ribut!” Dia lanjut bersuara lantang. “Kalian semua tidakkah berpikir selama kalian ini ribut, selama itu apakah kalian memikirkan, apakah kalian mengingat sedikit saja, sedikit saja mengingat keadaan kapten di sana?”
“Kalian semua tidak mengerti. Kalian puas menganggapnya lelucuan, bercanda dengan semuanya seakan tidak pernah terjadi apa pun. Cobalah sedikit saja. Cobalah sedikit saja kalian memahami keadaan, cobalah sedikit saja!” Aisha terhenti, suaranya mulai terdengar serak. Lanjut menatap tajam.
“Kalian semua munafik, menganggap semua ini adalah lelucuan yang puas kalian jadikan bahan candaan. Tidak merasakah sedikit saja, tidak adakah belas kasihan. Hati nurani kalian itu terbuat dari batu!”
Sejenak diam, menyisakan tiupan angin. Ashraq tidak mengucapkan hal lain, dia sama seperti Aswa Daula ingin memberikan tanggapan, tetapi tertegah di kerongkongan.
Mereka semua sama diamnya, tak ada suara lagi, entah merasa bersalah atau kenapa tidak diketahui alasannya. Aisha cukup melakukan sebisa yang dia bisa, mengungkapkan isi hatinya, walaupun kata-kata yang dia berikan tidak dapat menyentuh langsung ke dalam lubuk perasaan mereka semua.
Aisha tidak mempunyai sikap dan sifat seperti itu, dia apa adanya mengatakannya dengan jujur setulus yang dia bisa. Intonasi ucapan yang menyentuh? Dia tidak bisa melakukannya, sudah berusaha. Sudah memaksimalkan diri, hasilnya tetaplah tidak bisa, kesemuaan adalah kehendak takdir.
Aisha bertutur sembarang ucapan, menyebutkan sesuatu yang jelas mereka pun merasakannya, entahlah perasaan wanita itu membingungkan, mudah sekali tersinggung hanya karena sebelumnya mereka tertawa, lalu memulai keributan lagi seakan-akan mengejek, mengulu-ulu.
__ADS_1
Tabra duduk di balik batu besar itu mendengar jelas ucapan adiknya. Dia tahu perasaan adiknya itu sedang kacau, jiwa adiknya sedang melanglang jauh memikirkan kondisi sang kapten, sudah berapa kali pun dijelaskan, ditenangkan, wanita itu masih saja cemas dan tidak nyaman pikiran.