Bajak Laut Hitam

Bajak Laut Hitam
CH. 73 – Bab Masa Lalu : Puncak Menara


__ADS_3

Di atas menara, udara berembus semakin terasa, Akma Jaya telah mencapai puncak menara, sedangkan kerumunan di bawahnya semakin membeludak begitu banyak.


"Apa yang sebenarnya mereka lakukan, mengapa mereka menaiki menara itu?" salah seorang berambut hitam, berjenggot merah bertanya kepada yang lainnya.


"Aku tidak mengetahui, mengapa mereka lakukan hal yang demikian." Salah seorang lainnya menjawab sambil menggelengkan kepala.


"Orang itu membawa palu yang berukuran besar, apakah mereka bertujuan untuk menghancurkan bola lampu menara?" Salah seorang yang berada dekat diperbincangan dua orang tersebut menyahut cepat.


"Mungkin?" Salah seorang lainnya menjawab ragu.


Di dalam ruangan kenikmatan, seorang bajak laut bernama Riyuta, pemabuk kelas kakap, penikmat wanita berbadan molek, dia terganggu dengan keriuhan yang berada di luar ruangan.


"Sial! Suara apa itu? riuh sekali, menganggu kenikmatanku!" Riyuta seorang kapten dari kelompok bajak laut Jimaya, dia tipe orang yang pemarah. Bahkan, saat dia marah, menjadi ciri khas baginya, sebuah telinga yang berubah warna menjadi merah pekat. Singkatnya, apabila dia marah, maka telinga itu memerah.


Bergelar, si telinga Babilon Sus Scrofa Domesticus. (Ba.susodo), sebutan bagi binatang berhitung pesek dari dataran wilayah tetangga bernama Aimaina.


"Sudah, jangan dipikirkan ... lupakan saja mereka, temani kami!" Suara lembut wanita penuh hasrat mematikan bagi kaum adam yang tak bisa mengontrol hawa nafsu.


Kapten Riyuta mengangguk, menikmati, memilih untuk tidak menghiraukan keriuhan yang berada di luar ruangan.


Di mana luar ruangan, mereka semua menunjuk-nunjuk heran, membicarakan sesuatu yang mereka lihat. Keriuhan hiruk pikuk suasana.


Akma Jaya bertengger di atas ketinggian menara, di puncak menara yang berbentuk persegi empat lebar dan besar. Permukaan yang rata, bisa untuk tempat berduduk, bahkan untuk berbaring menikmati pemandangan sekitar.


Sementara itu, Tabra berada di ujung batas kemampuan bertahan, semakin ke atas, semakin terasa udara berembus meniup rambut mereka, untung saja, sebelumnya mereka berdua naik ke atas menara melepaskan topi bundar. Berupa flashback karena sebelumnya tidak disebutkan hal demikian.


Bayangkan saja. Akan susah, jika menaiki menara memakai topi karena angin yang bertiup kencang, topi itu akan terbang, terbawa angin kalau tidak dipegang, sedangkan kedua tangan Tabra sibuk memegang bangunan menara untuk menaikinya, hanya Akma Jaya yang mampu menaiki menara menggunakan sebelah tangan, satu untuk berpegang pada bangunan dan memegang palu berukuran besar.


Disamping itu, suasana semakin ramai, tentu suara semakin riuh, di atas ketinggian menara, Akma Jaya melihat ke arah bawah melambaikan tangannya.


Akma Jaya tersenyum, menatap masing-masing mata yang memandang dirinya, betapa saat itu mereka melihat dari bawah berkata-kata memerintah, meneriakan suara, menunjuk-nunjuk untuk Akma Jaya dan Tabra bersegera turun, mempertanyakan hal yang sama secara berulang dan terus berulang.

__ADS_1


Tepat di atas menara, riuh suara terdengar bercampur dengan angin yang berembus kencang, tak terdengar begitu jelas, suara itu menjadi rancu.


Sejenak Akma Jaya berdiam mendengarkan, sedangkan Tabra masih berada jauh dari posisi Akma Jaya.


Tabra masih menaiki, menyusul Akma Jaya yang sudah berada di atas puncak menara.


Tak lama dari itu, Tabra berhasil menyusul, dia berada di samping Akma Jaya. Bernapas ngos-ngosan, dia menghela napas panjang, begitu panjang hingga Akma Jaya menepuk bahu Tabra.


"Tabra, saatnya kita menghancurkan!"


Akma Jaya menunjukkan segurat senyuman, bersuara lantang, tetapi tidak bernada seram, dia bersegera berdiri tegak mengangkat palu ke atas cakrawala.


"Lihat, dia mengangkat palu?!" Salah seorang beramput acak-acakan tercengang melihat hal demikian.


"Apa sebenarnya yang ingin dia lakukan?" Orang itu kembali menuturkan kalimat tanya setelah berucap.


Akan tetapi, tidak ada yang menjawabnya, semua orang membungkam, tak mengeluarkan jawaban.


Menara itu memiliki tujuh warna lampu, seperti warna pelangi, dimana saat malam hari tiba, para bajak laut bertaruh menggunakan sinarnya, jika ketujuh warna menyorot ke arah seseorang yang berdiri, dialah akan menjadi pemenang dalam perjudian tersebut.


Benar saja, Akma Jaya kemudian mengayunkan cepat palu tersebut, tertuju ke bola lampu tujuh warna yang menjadi sorotan banyak orang.


Satu bola lampu berhasil pecah.


"Di—diaaa, memecahkan bola lampu warna hijau!" Salah seorang menunjuk terbata-bata, berucap tersendat-sendat, kikuk sepertinya. Mungkin saja, dia gugup bercampur takut.


Jika para bajak laut pemalas itu mengetahui apa yang sudah terjadi pada bola lampu tersebut, tentu mereka akan marah besar tak pikirkan bagaimana kemarahan tersebut.


"Kita harus mencegahnya, jangan sampai dia menghancurkan bola lampu lainnya!" ucap salah seorang yang tadi bergumam.


"Tabra, pecahkan lampu warna merah!" Akma Jaya memberi perintah.

__ADS_1


Tabra mengangguk pelan, mendengarkan perkataan Akma Jaya, berangsur-angsur secara hati-hati Tabra melakukan apa yang diperintahkan oleh Akma Jaya.


Betapa saat itu, penglihatan dari atas menengok ke bawah, berputar kepala, Tabra berwajah pucat seketika, dia tak kuasa berbuat apa-apa, hanya berdiam penuh gemetar dagu dan menunggu.


"Maafkan saya, Kapten. Saya tidak bisa melakukan apa yang Anda perintahkan."


Mendengar apa yang diucapkan Tabra, dengan tatapan memaklumi, Akma Jaya menatap tidak memaksa.


Pada akhirnya Tabra, hanya menjadi penonton Akma Jaya yang tampak menganyunkan palu ke arah bola lampu yang kedua, menghancurkan tanpa menyisakan bekas-bekas kehancuran.


Pecah! Akma Jaya berhasil memecahkannya, orang-orang yang berada di bawah menara melihat pecahan bola lampu itu berguguran ke dalam kolam.


Air kolam itu berpercikkan kemana-mana, kemarahan orang yang melihatnya bertambah ricuh.


"Hei, turun kau!"


"Kau akan mati karena telah lancang merusak bola lampu menara!" Kemarahan seseorang beramput lurus berikat kebelakang, dia berucap lantang, menongakkan kepala.


"Mereka berdua benar-benar mencari mati!" kata salah seorang berambut pirang sebahu.


Teriakkan yang tadinya terheran-heran berubah menjadi amarah yang berkobar besar, sangat besar penuh suasana ricuh berteriak-teriak menyuruh Akma Jaya turun.


Tabra mendelik kemudian menutup mata, menggelengkan kepala sedikit lebih pelan dari biasanya.


"Kapten, mereka semua terlihat sangat marah karena kita telah merusak bola lampu menara ini!" Tabra berucap seraya menengok ke arah bawah, dimana terlihat wajah-wajah penuh amarah.


"Tenang saja, tujuanku adalah merusak menara ini, akan tetap kulakukan, apa pun yang akan terjadi!" Akma Jaya berucap mengungkapkan keinginannya, hanya saja terdengar sedikit meragukan.


Meragukan dalam segi pemahaman, entah mengapa Akma Jaya berucap demikian, tak dapat dimengerti dalam sesederhanaan kata yang dapat dipetik kemudian dibuang begitu saja. Ucapannya terlalu melebar ke segala arah.


"Kapten, apakah Anda bercanda?" Tabra berucap sedikit menunjukkan ekspresi bingung.

__ADS_1


"Tidak, aku tidak bercanda!" Akma Jaya berkata tegas, dia kembali mengayunkan palu itu ke arah bola lampu.


__ADS_2