Bajak Laut Hitam

Bajak Laut Hitam
CH. 76 – Bab Masa Lalu : Termas


__ADS_3

   "Tabra, pernahkah kau berpikir betapa waktu terus berlalu, sekarang kita berada di atas ini, menara ini tinggi, melihat ke bawah saja, aku merasa hampir tak mampu!" Akma Jaya berbicara, suasana di antara mereka berubah haru.


Di mana waktu terus berlalu, ia berdetak, hari melukis warna dalam kehidupan. Kenangan, bersama-sama sebuah kebersamaan. Mereka bertiga dari kecil hingga sekarang.


Tabra menelan ludah, menatap Akma Jaya sekadar tatapan biasa. "Kapten, jika Anda berbicara ketinggian, saya menyerah dan jujur saya tidak berani ketinggian!" Tabra menyahut, mengucapkan bahwa dia takut ketinggian. "Lantas, kenapa kau ikut menaiki menara ini bersamaku?" Akma Jaya bertanya, Tabra mengangguk.


"Bukankah kita bersahabat? Saya tidak ingin membiarkan Anda sendirian." Tabra tersenyum sambil mengatakannya.


Akma Jaya bergumam ragu. "Apa benar? Walaupun aku pergi ke sarang harimau?" Nyeleneh, Akma Jaya berucap ngasal.


Tabra berhenti sejenak, dia tampak berpikir atau sedang menahan tawa, terdiam. Tabra mendengus, terdengar jelas. Akma Jaya menatap kerumunan.


"Benar, Kapten. Kemana pun Anda pergi, saya akan terus bersama Anda." Tabra berucap setelah beberapa saat berdiam.


"Persahabatan antara kita akan terus bersama. Pernahkah Anda mengingat saat itu, saat kita berdua bercanda bersama, bercerita saat kecil. Anda tertawa ria, begitu pun saya yang menceritakannya. Sejak saat itu, saya mempelajari teknik bercerita lebih dalam lagi. Hampir berpuluh-puluh buku, saya berusaha menghapal ceritanya, agar saya bisa untuk terus menghibur Anda." Cukup panjang. Bahkan, bisa bosan jika tidak terbiasa mendengarnya.


Ya, panjangnya dialog Tabra, dia sedang mengungkapkan apa yang sudah terjadi. Berpuluh-puluh buku, tekat dan semangat membuatnya begitu. Rasa lelah mungkin tak terasa. Mungkin. Dia, bahkan tidak memberi tahu dalam satu buku berapa halaman, bisa saja satu buku, hanya selembar atau beberapa lembar.


Dia tidak mengatakannya. "Tetapi, pada hari itu, Anda terbaring sakit, saya tidak pernah menyangka, bertahun-tahun hingga sekarang cerita itu belum saya ceritakan!"


Mengenai apa yang sudah terjadi, memang sedikit menyedihkan. Dimana ada hal yang ingin diutarakan, tetapi terpendam. Tabra tetap tidak bisa melupakan kejadian yang telah lalu.


Ya, hampir setahun, Akma Jaya terbaring lemah, sakit akibat terkena racun suntikkan berjenis campuran. Tabra sedikit menelan pahit apa yang sudah terjadi. Waktu yang berlalu dan syukurlah, Akma Jaya baik-baik saja. Dia sehat, segar bugar penuh senyuman, mereka berdua berbicara panjang lebar.


"Takma, apakah Anda mengingat Takma, burung peliharaan yang kita rawat?" Tabra bertanya, mengingatkan.


Akma Jaya menatap penuh rindu. "Aku mengingatnya. Takma sudah tiada di sisi kita, dia berlalu pergi—terbang ke surga yang nyaman."


Di mana saat itu, mereka bertiga tinggal di pulau Andaba, menghabiskan waktu bersama hingga pada suatu saat Takma jatuh sakit, tidak tersedia obat. Berhari-hari saat gemuruh, ombak besar di luatan, saat itu Takma mengembuskan napas terakhirnya, burung peliharaan mereka berdua. Takma—Tabra dan Akma—nama yang diberikan, diambil dari gabungan nama mereka berdua.

__ADS_1


"Perasaan sedih itu, menghampiri. Perasaan yang sedikit membingungkanku, air mata keluar tanpa aku mengerti, hari-hari yang kita jalani, kita bertiga akan terus bersama, apa pun yang terjadi. Kau memberi nama pulau itu Andaba—Apa pun dan bagaimanapun—bersama-sama pada pulau yang kita huni sebelumnya, aku tak menyangka nama itu bukan sekadar nama saja, tetapi nyatanya kita selalu bersama."


Angin berembus disela-sela ucapan, kenangan, kebersamaan yang telah terjalin cukup lama, waktu berputar, ia berkata memberi pelajaran berharga, betapa usia tak bisa dibohongi.


"Makna kata apa pun dan bagaimanapun, kita akan terus bersama!" Akma Jaya melanjutkan ucapan.


"Kelak suatu saat jika aku mati, kuharap kalian berdua bahagia, hanya itu." Ya, begitu. Akma Jaya berharap, Tabra menyimak.


Tabra tersenyum. "Kapten, Anda termasuk pandai berbicara mengenai apa yang sudah terjadi, berbeda dengan saya." Tabra berucap setelah lama membisu, menyimak apa yang diucapkan oleh Akma Jaya.


"Apa yang berbeda?" Akma bertanya.


"Tidak ada. Saya hanya bergurau saja." Tabra menjawab, menggeleng.


"Benarkah? kau hanya bergurau?" Akma Jaya kembali bertanya.


Tabra mengangguk. "Benar, saya hanya bergurau," jawab Tabra singkat.


"Mengertilah, Kapten!" Tabra berucap menepuk bahu Akma Jaya.


"Aku tidak mengerti." Masih sama, menggeleng.


"Kalau begitu, lupakan saja." Tabra memberi saran.


"Aku tak ingin melupakannya!" Akma Jaya berucap tegas, terdengar menyakinkan.


Tabra berwajah heran. "Lantas, apa yang akan Anda lakukan?" tanya Tabra.


Akma Jaya kembali menggeleng. "Tidak ada yang kulakukan. Aku hanya menunggu, menunggu kau memberi tahu maksud ucapanmu. Apa maksudmu berbeda?" Dia bertanya, Tabra terdiam. Tidak menjawabnya, memilih untuk mengalihkan perbincangan.

__ADS_1


Termas—teringat masa lalu.


ー、、、、ーー


Mereka berdua sibuk berbincang, berduduk tenang tanpa memikirkan keadaan di bawah menara. Sementara, kerumunan di bawah masih betah berlama-lama, mereka melihat, mempertanyakan apa yang akan terjadi selanjutnya, mereka bertanya-tanya. Ditambah Kapten Riyuta menaiki menara, suasana semakin menambah penasaran, akibatnya sekitaran tempat penuh sesak.


Mereka berkerumun, salah satu anak kecil, dia berada dalam kerumunan, tergencit disela-sela orang dewasa tampak kebingungan. Dia menatap heran penuh pertanyaan kepada ibunya.


"Kupikir kedua orang itu akan mati ditangan Kapten Riyuta," ucap salah satu diantara banyaknya orang yang berkerumun. "Kupikir juga begitu," jawab salah satu lainnya. "Kita lihat saja, siapa yang akan benar-benar mati, kita tidak mengetahui kemampuan dua orang itu." Dia kembali berucap ragu, beranggapan tidak mengetahui.


Anggapan yang benar, tidak salah karena mereka tidak pernah bertemu Akma Jaya serta Tabra. baru pertama kali.


Sementara itu, Kapten Riyuta terus-menerus menaiki menara, seseorang yang percaya diri, penuh optimis, gagah perkasa seorang pemuda yang baru beranjak dewasa, menyedihkan hari-harinya dilewati bergelut perihal wanita karena kekurangan kasih sayang sosok orang tua.


Bagi siapa pun, seharusnya menjaga, mendidik anak adalah nomor satu, lebih diutamakan dari hal apa pun, contoh sederhana kekayaan dan kekuasaan. Namun, jika sebaliknya sudahlah, lupakan semua itu. "Cih, mereka berdua akan mati ditanganku!" Kapten Riyuta bergumam seraya menaiki terus menara tanpa sedikit saja menoleh ke arah bawah—lupa diri.


Menara yang tinggi. "Selagi ada aku, siapa pun yang berani mengacaukan tempat ini, maka orang itu akan berakhir mati!" Lagi-lagi Kapten Riyuta bersuara kesal, marah, mengakui dirinya berkuasa, gejolak masa muda. Mungkin saja.


Tabra mengernyit.


"Kapten, apa Anda melihatnya?" Tabra berucap seraya memandang ke arah bawah.


Akma Jaya sibuk melihat benda—inti menara. "Kapten, apa yang Anda lamunkan?" Tabra menuduh tanpa bukti.


Akma Jaya terperanjat—kaget. "Ada apa?" Dia bertanya melirik bulat. "Tidak ada, saya hanya bertanya, apakah Anda melihatnya?" tanya Tabra. "Apa maksudmu?" Akma Jaya balik bertanya.


"Lihatlah, seseorang sedang menaiki menara!" Tabra menunjuk tepat ke arah sorotan mata Kapten Riyuta. Sekilas pandang terduga mengenai wajah, pakaian, berbagai atribut lainnya.


"Bajak Laut? Sepertinya kita akan terlibat pertarungan," jawab Akma Jaya penuh duga.

__ADS_1


"Tabra, persiapkan dirimu!" Akma Jaya berseru hebat, Tabra mengangguk. "Baiklah, Kapten. Saya sudah bersedia kapan pun dia datang dan menyerang." Tabra menjawab, memegang erat pedang.


__ADS_2