
Kedua kapten itu sama-sama bergeming, bertatapan, terpaku dalam diam, bersipit mata saling memandang.
"Hei, kau. Sudahi gaya omong kosongmu itu!" Kapten Ranjaya meludah di depan Akma Jaya.
"Ada apa? Apa kau tak suka dengan gayaku?" Akma Jaya bertanya dengan sipitnya mata yang menajam.
Sekarang, Kapten Ranjaya berdecak kesal, dia kembali meludah dengan suara yang menyertainya.
"Cih!"
"Banyak gaya!" Kapten Ranjaya menyambung perkataannya.
"Ah, benar juga. Kau belum mengetahui diriku, aku Ranjaya, bajak laut yang menguasai Daerah Daulisa!"
"Lebih baik kau menyerahkan nyawamu dengan mudah daripada kau menderita kesakitan karena goresan pedang!"
"Hahaha, ketahuilah semua orang yang melewati daerah ini akan kumusnahkan!"
Kapten Ranjaya berucap begitu banyak, awalnya dia mengatakan bahwa mereka banyak bicara dan membuang waktu yang berharga, tetapi kenyataan yang terlihat justru dialah yang kini banyak bicara.
Bahkan memperkenalkan dirinya.
"Bukankah kau mengatakan kami banyak bicara,kenyataan yang kulihat, kaulah yang banyak bicara!" Akma Jaya menjungkir balikan perkataan Kapten Ranjaya.
"Sekadar perkenalan, apa kau keberatan?" tanya Kapten Ranjaya dengan nada yang serak, terdengar sedikit menyeramkan.
"Justru itu membuang waktu, apa kau tak memikirkannya untuk apa aku mengenalmu?"
Akma Jaya berucap mengatakan kata yang menusuk, intonasi yang menyertai dengan jelas terdengar menyebalkan bagi Kapten Ranjaya.
Akan tetapi, siapa sangka Kapten Ranjaya malah terbahak dengan cukup keras, tetapi jelas awalnya dia berwajah masam.
"Haha, kau pandai membuat lelucuan!"
"Kutegaskan, perkataanku barusan bukan lelucuan, kau memang banyak bicara, kau sudah termakan omonganmu sendiri!"
"Aku tidak termakan omonganku, kalau kau ingin bertarung denganku, aku sangat berterima kasih."
"Perlu kau ketahui, semenjak aku menguasai daerah ini dan rumor beredar luas, tidak ada orang yang melintas menuju daerah Daulisa!"
"Pedang ini sudah lama menantikan darah segar, kau beserta orang yang disekitarmu akan menjadi makanan bagi pedangku."
"Dan wanita itu, akan menjadi miliku!"
Kapten Ranjaya masih saja mengoceh, semakin Akma Jaya berucap, semakin dia menjawab dan memamerkan pedang yang berada ditangannya.
Sedaritadi Tabra sudah muak mendengarnya, bahkan ketika Kapten Ranjaya menunjuk Aisha seraya melontarkan ucapan, betapa amarah itu meluap-luap tak beraturan, berantakan, tersebar ke mana-mana.
Amarah yang terpendam itu menampakkan wujudnya, menyebabkan dia kehilangan kendali pikiran.
Kapten Ranjaya kembali memanjatkan ujaran, menaikkan emosi orang yang mendengar, meremehkan sesuatu dengan kata kasar tak bermoral.
__ADS_1
"Kalian sekumpulan sampah akan kutebas, kucincang, apa kau puas mendengarnya?"
"Jika kalian kurang puas, akan kulumatkan daging kalian, setelah itu akan kujadikan kalian sebagai makanan para hiu, Hahaha ...."
Gelak tawa terdengar menyebalkan.
"APA? Kau berkata lancang!" Tabra menaikkan volume suara.
"Kau biadab!"
Tabra kehilangan kendali, dia tidak bisa mengontrol emosi, kata itu terkeluar dengan sendirinya.
Ya, begitulah Tabra, saat perasaan itu senang, dia bagai aroma yang harum, aroma itu berubah sesuai apa yang melanda perasaan.
Akma Jaya menghampiri serta memenangkan Tabra, memang tidak baik berkata seperti itu, tetapi bagi Tabra kata itu memang cocok untuk dikatakan kepada Kapten Ranjaya.
"Tabra, sudah kukatakan, tenangkanlah dirimu!" Akma Jaya mengingatkan.
"Ma–maafkan saya, Kapten." Tabra memberi hormat.
Amarah itu berhenti meluap, Akma Jaya sudah menenangkan Tabra yang hampir saja dia lepas kendali.
Kapten Ranjaya tertawa. Dia kembali meludah, Akma Jaya menatap dan memberi ujaran nasehat.
"Cukup!"
"Apa kau mengerti sopan santun, betapa meludah adalah—"
Perkataan Akma Jaya dipotong cepat oleh Kapten Ranjaya. Jelas terlihat dia tidak suka nasehat, terlebih menurut kebiasaan pada umumnya, Bajak laut memang tidak memiliki sopan santun, mereka berbuat seenaknya, berkata dengan apa yang mereka lontarkan, tanpa memikirkan, tak peduli aturan.
Kapten Ranjaya menunjuk dengan pedang bersama ekspresi wajah yang terlihat sinis.
"Daripada kau bernasehat, menguraikan kata yang membuatku muak. Lebih baik kita menyelesaikannya segera!"
Kapten Ranjaya, dia berlari ke arah Akma Jaya dan Tabra dengan pedang yang terhunus. Sepak terjang, dia berpacu cepat.
Kapten Ranjaya melancarkan serangan, pedang mengkilat tajam tertuju ke arah Akma Jaya.
Berkesiur. Oh, angin berembus menyertai pergerakan Kapten Ranjaya.
Sementara itu, Akma Jaya berwajah tenang dengan sedikit memperlihatkan senyuman yang miring, dia menangkis serangan, bahkan pedang itu terlepas dari tangan Kapten Ranjaya, melambung tinggi, wussss ... berakhir jatuh ke lautan.
"Ka–kau?" Kapten Ranjaya tercengang, terbata, dengan bersegara dia percepat langkah mundur, menjauhi Akma Jaya untuk menyelamatkan dirinya dari tebasan.
Sekarang, Kapten Ranjaya tidak mempunyai senjata, dia sendirian, seorang bajak laut yang tak mempunyai anak buah, bahkan teman. Tidak ada, hanya dia sendirian.
Jomblo ngenes!
Dia telah dikepung oleh Tabra, Aisha dan Akma Jaya. Lantas, dia berlutut meminta belas kasihan.
"Kapten, lebih baik kita buang dia ke laut, orang seperti dia kalau dibiarkan akan timbul masalah baru lainnya!" Tabra mengajukan saran, dia masih dipenuhi kekesalan.
__ADS_1
"Saya setuju dengan apa yang dikatakan Tabra, Kapten!" sahut Aisha.
Kapten Ranjaya tetap bersujud, dia terpaksa melakukannya, tetapi apa yang dia lakukan, terlihat kebohongan dari sorotan mata yang dipenuhi dendam.
"Apa yang kau maksud dengan bersujud? Bangunlah, aku bukan raja dan bukan siapa-siapa!" Akma Jaya menepuk bahu Kapten Ranjaya.
Kapten Ranjaya terkejut dengan apa yang dikatakan Akma Jaya, bahkan jauh dari apa yang diduga olehnya.
"Kenapa kau tak membunuhku?"
"Membunuh? Apa keuntungan bagiku? Tetaplah hidup, jangan mati sia-sia!"
"Ka–kapten? Apa Anda yakin dengan keputusan yang Anda ambil?" Tabra menyahut cepat.
"Tabra, kita masih memerlukan bantuan darinya."
Seketika Tabra bergeming, sedangkan Akma Jaya kembali menatap ke arah Kapten Ranjaya.
"Aku memberimu hidup untuk menyampaikan berita tentang kelompok kami?"
"Kelompok? Apa yang kau maksud?"
"Maksudku, kelompok Bajak Laut Hitam."
"Untuk apa? Apakah kau ingin terkenal? Jelas terlihat kalian bukan apa-apa, hanyalah orang yang baru berlayar."
Kapten Ranjaya mengenal hampir banyak bajak laut, dia baru bertemu dengan kelompok Akma Jaya, dia dapat melihat bahwa mereka baru berlayar.
"Bukan untuk terkenal, tapi untuk memperkenalkan misi tujuan dari kelompok yang kami dirikan!"
"Kelompok kami berlayar untuk menciptakan perdamaian bagi lautan, rakyat yang ada, menciptakan senyuman mereka." Akma Jaya menjelaskan kepada Kapten Ranjaya.
"Hahaha, apa yang kau maksud perdamaian, kau melawak di depanku!"
"Masa ini baru dimulai, generasi penerus bajak laut akan terus berkembang, tujuan kelompok kalian diluar kemampuan!"
Kapten Ranjaya tetap berucap dengan gelak tawa yang meremehkan, Tabra langsung menarik kerah baju Kapten Ranjaya.
"Tutup mulutmu!" Tabra berkata dengan nada yang cukup keras.
Akma Jaya kembali menenangkan Tabra, setelah itu Kapten Ranjaya dilepas oleh Akma Jaya.
Pada saat itu, Kapten Ranjaya kembali berujar, ujaran yang cukup meredakan, menurun emosi Tabra yang menjulang tinggi mencapai batas cakrawala kesadaran. Ya, begitu, sulit dijelaskan. Ambyar!
"Aku akan mendukung kelompok kalian dari balik layar, mulai sekarang aku akan berhenti merampok lautan serta perbuatan keji lainnya!"
"Berita tentang kelompok kalian akan kusebarluaskan, tunggulah saat kalian mendengar beritanya ...."
Mereka semua saling bertatapan, beberapa saat kemudian Kapten Ranjaya pergi berlayar meninggalkan kapal Akma Jaya.
Entah itu hanyalah sebuah kebohongan yang terucap dari mulut seorang kapten durjana, memutuskan untuk bertaubat, meninggalkan dunia gemerlap bajak laut serta mendukung kelompok Bajak Laut Hitam dari balik layar, entahlah. Tidak diketahui, bahkan sorotan mata Kapten Ranjaya itu berubah sedikit menyakinkan.
__ADS_1