
Akma Jaya dan Tabra pergi ke salah satu toko yang menjual beberapa perkakas tukang, mereka berdua membeli palu yang besar.
Ukuran di atas sewajarnya. Lebih besar, Akma Jaya mengangkat hebat, kemampuan yang tak bisa dibayangkan, sang pemilik toko terbelalak lebar karena melihat Akma Jaya mengangkat palu, tak terlihat ekspresi berat—kewalahan mengangkat.
Telah lama, sangat lama palu itu berada di dalam toko, terbengkalai di pojok dinding, berdebu. Tidak ada peminat sama sekali, apalagi pembeli, tak ada yang mau membeli palu tersebut karena ukuran palu itu diluar batas pemikiran dan kesanggupan.
Entah takdir atau apa? Entah siapa yang membuat palu tersebut? Jelas itu mengherankan. Bahkan, Tabra menelan ludah melihat apa yang sekarang dia lihat.
Akma Jaya dan Tabra kembali melanjutkan berjalan setelah membayar dengan harga yang cukup mahal. Ya, kembali lagi, kantong Tabra mengering kempes karena Akma Jaya menggunakan alat tukar milik Tabra.
Pada saat itu, mereka kembali melanjutkan langkah kaki berjalan, Akma Jaya membawa palu berwajah santai, tak ada lelah yang terlihat. Bahkan keluh kesah, tidak ada. Dia membawa bak pahlawan, laksana Thor si pemegang palu petir menyambar.
Tepat pada seperempat perjalanan, terdengar suara-suara yang berirama.
Cengkok nada, alunan musik berirama, bergoyang penuh hawa-hawa kejalangan, musik itu terdengar dari kejauhan, sorak sorakan beberapa orang menyertainya. Jarak yang cukup jauh dari tempat mereka berdiri.
"Kapten, bukankah sekarang siang? mengapa mereka tetap mengadakan musik dan sorak-sorakkan?" Tabra sedikit berucap seolah dia adalah seorang yang polos, tidak mengetahui detailnya.
Di mana siang hari, matahari bersinar di atas ufuk kepala, menyinari dengan hawa hangat yang terasa, sebuah logika di dalam ruangan tak tembus angin bertiup, Tabra mengernyit heran.
"Aku tidak mengetahui alasan mereka," jawab Akma Jaya sedikit mengangkat bahu.
"Jelas sekali, mereka adalah bajak laut yang tak punya kerjaan, mereka hanya tahu bersenang-senang, jangan pedulikan akan hal itu. Lupakan, fokus saja dengan tujuan yang telah kuberitahu kepadamu!"
Akma Jaya berucap tegas menatap ke arah Tabra yang masih mengernyitkan dahi, menunjukkan ekspresi heran.
"Baiklah, Kapten!" jawab Tabra berhenti sejenak kemudian menelan ludah.
Baru pertama kali ini, dia mendengar irama musik yang menerobos masuk ke dalam lubang telinga, irama syahdu bertaut nafsu, ia memuncakkan hasrat ingin meluapkannya.
Secara refleks, Akma Jaya menepuk cepat bahu Tabra.
"Tabra, fokuslah pada awal tujuan yang telah kuberitahu kepadamu!" Akma Jaya mengulang perkataannya sebagai kalimat untuk memperkuatkan mental Tabra yang mulai menunjukkan goyah dan melemah.
Tabra mengangguk, setelah itu mereka berjalan menuju ke arah menara.
__ADS_1
Derap langkah keduanya bersuara, keempat pasang bola mata itu tertuju lurus menatap ke arah tempat menara.
Menara setinggi 145 meter mencapai udara di atas rata-rata, tidak begitu tinggi, tetapi lumayan, bahkan Tabra menelan ludah.
Entah mengapa Tabra seperti itu, sedangkan Akma Jaya tampak tersenyum lebar.
"Tabra, jika kau tak berani menaiki menara itu, cukup aku saja, kau tunggulah di bawah!" Akma Jaya masih berjalan berbicara kepada Tabra.
"Kapten, apakah Anda yakin akan melakukan hal ini?" Tabra bertanya ragu dengan keputusan yang diambil oleh Akma Jaya.
Akma Jaya melakukan hal yang diluar masuk akal, bahkan menara setinggi 145 meter itu ingin dia naiki dan merusaknya. Ditambah ukuran palu yang membelalakkan mata, siapa pun melihatnya, ekspresi terheran takjub menjadikan semua itu sama rata.
Tabra menggeleng hebat, kepala mengepul dahsyat, kebakaran telah terjadi di dalam ruangan penuh pertanyaan. Bahkan, di setiap pasang mata yang memandang semuanya. Bergumam menatap heran.
"Saya tidak yakin dengan semua ini, lebih baik Anda urungkan saja tujuan tersebut!"
Tabra berkata memberi sugesti miliknya, sebuah pertanyaan sederhana berbentuk penolakan kemudian melanjutkan ujaran singkat penuh hormat.
"Tabra, yakinlah dan percayalah. Segala sesuatu yang kau yakini dan percaya akan berhasil sempurna, jika tidak demikian, anggap saja ini tantangan berharga dalam kehidupan." Akma Jaya berucap tak menghiraukan sugesti yang diajukan Tabra.
Mereka berdua terus berjalan hingga sampai di tempat menara, dari dekat terlihat sebuah kolam yang melingkari menara tersebut.
Di samping kolam, bunga anggrek berwarna biru menghiasi pinggirannya. Cantik terlihat, tetapi dibalik kecantikkan menawan indah itu penuh kekotoran, tempat tersebut dijadikan alat perjudian untuk menentukan pemenang.
Banyaknya orang yang berjalan, mereka menatap ke arah Akma Jaya dan Tabra yang sedang berdiri terpaku di dekat menara tersebut.
"Kapten, sepertinya tidak aman untuk melakukannya pada siang hari!" Tabra berbisik lirih ke telinga Akma Jaya.
"Apalagi jika melakukannya pada malam hari!" Akma Jaya menyahut cepat dengan cara yang sama, berbisik.
Pada malam hari, para bajak laut pemalas penuh hasrat ingin bersenang-senang, mereka semua berkumpul, banyak jumlahnya tak terhitung jari, mereka mengelilingi tempat menara, bertaruh alat tukar yang banyak. Bahkan, tak tanggung-tanggung, mereka mempertaruhkan perhiasan para ratu istina, berpeti-peti emas terhampar.
Anehnya, semua itu dilakukan sebatas sorotan sinar cahaya menara yang menentukan nasib mereka. Perbuatan kosong yang menghamburkan, semua itu pada intinya sia-sia semata.
"Tabra, kau tenang saja, mereka yang memperhatikan kita adalah rakyat biasa, bukan para bajak laut!" Akma berucap menenangkan Tabra.
__ADS_1
"Jika kau tak ingin terlibat, kembali ke dalam kapal, biarkan aku saja yang merusak, menghancurkan menara ini!" Akma Jaya menyambung ucapan.
Tabra tak bisa berkutik, dia berdiam mengangguk. Akma Jaya bergerak menaiki menara, sedangkan Tabra mengikuti di belakang, dia juga melakukan hal yang sama dengan Akma Jaya.
Setiap pasang mata, orang yang berjalan melihat semuanya, tertuju mentok ke arah Akma Jaya dan Tabra yang mengikuti di belakang menaiki menara penuh tiupan udara di atas kepala. Mereka berdua menjadi sorotan banyak orang.
"Hei, kalian berdua! Apa yang kalian lakukan?" Teriak salah seorang pria berambut ikal kecil-kecil, berbadan kurus tidak gemuk, dia berteriak lantang dengan kedua tangan bertangkup renggang membentuk sebuah corong.
Akma Jaya menatap ke arah pria tersebut, tetapi tidak menghiraukannya dan terus menaiki menara, sedangkan Tabra juga sama. Mereka berdua tidak menghiraukan apa pun.
"Orang aneh!" ucap salah seorang wanita berbadan gemuk sambil mengemil snack berbentuk panjang. Dia berucap lirih dengan tangan yang memegang snack.
Orang-orang yang tadi sibuk berjalan. Sekarang, mereka semua berkerumun melingkari sekeliling menara, menongakkan kepala, menatap ke arah Akma Jaya dan Tabra yang sedang menaiki menara tak peduli apa pun.
"Hei, turun!"
Mereka berteriak-teriak tidak beraturan. Betapa saat itu, Akma Jaya membuat setiap pasang mata terbelalak, palu yang besar, Dia mengangkat tak terlihat kewalahan, seperti mengangkat palu pada ukuran sewajarnya.
Padahal ukurannya tidak begitu.
"Crazy!"
"Amazing!" Salah seorang anak kecil menatap mereka takjub.
"Apa-apaan mereka itu?"
"Hei, turun!"
"Jangan bunuh diri, ingat hidup itu berharga!" teriak salah seorang yang berlagak sok tahu dan mengucapkannya sembarangan tanpa rujukan.
Tabra menggelengkan kepala mendengarnya, berbeda orang berbeda ekspresi, tetapi pada keadaan yang sama, mereka mempertanyakan kepada masing-masing orang yang berada di sekitaran tempat.
"Ada dengan mereka?"
"Apa yang mereka lakukan?"
__ADS_1
Pertanyaan yang sering dilontarkan terdengar jelas ditelinga, ada yang sibuk berdiam menatap, ada yang sibuk berteriak dan begitulah. Kembali ke awal, berbeda orang berbeda ekspresi ditambah tanggapan. Itulah kehidupan, perbedaan yang melengkapi segala hal tersebut.