
"Ada apa dengannya, ya. Apa dia baik-baik saja?" gumam Aisha yang berjalan menjauh dari Asila. Dari jarak sejauh itu. Aisha balik menoleh ke arah Asila.
"Mungkin dia baik-baik saja." Dugaan itu memantul-mantul dalam benak pikirannya. Dia kembali menuju kapal, di sana para anak buah merenung dan tampak bimbing.
Aisha berakhir sampai, para anak buah menyambut kedatangannya. "Bagaimana keadaan kapten, apakah dia baik-baik saja?" Salah seorang bertanya, dari sorotan matanya terlukis rasa penasaran, ekspresi cemas dan hanya bisa menduga.
Aisha tersenyum. "Kapten sedang bertarung. Dia pasti bisa mengalahkannya, percaya saja." Aisha berjalan memasuki kapal, anak buah yang mendengarnya, menepuk jidat, ada keanehan dari tuturan kata Aisha. Bingung, ada yang mengganjal tak enak didengar.
Sementara di bawah menara, benar apa yang dikatakan Aisha, Akma Jaya sedang bertarung dengan Kapten Broboros. Pelesatan pedang mereka saling menerjang, membelah sekitaran udara, menciptakan gelombang ultrasonik, kerumunan menatap puas dari kejauhan.
Dua pertarungan sekaligus dalam sehari, baru kali ini mereka menyaksikannya, tanpa berkedip sedikit pun. Deraian luka berceceran, jatuh ke area kolam. Anehnya, tak ada satu pun yang mencegah, menasehati pun tidak, malah menyukainya, bahkan berharap Akma Jaya cepat menemui gerbang keberangkatan menuju kematian.
"Broboros, sudahi pertarungan ini, semarah apa pun, sebenci apa pun, itu semua percuma karena Riyuta telah mati, dia tak akan hidup kembali, sebagaimana pun perasaan yang kau tunjukkan." Akma Jaya berucap di sela-sela serangan. Hentakkan kaki berpijak kuat menahan dorongan pedang Kapten Broboros.
Wajahnya memerah padam. "Omong kosong, jika kau tidak membunuhnya, dia tak akan mati, untuk menembus semua itu, maka hadapilah kematian yang sama!" Kapten Broboros berujar marah, bahkan intonasi itu melebihi kerumunan yang berteriak.
Sesaat Akma Jaya menghindari serangan, lalu meloncat mundur. "Kau ingin menciptakan luka pada keadaan yang sama, itu terserahmu. Berupa pilihan, mungkin aku akan sama denganmu." Dia berucap dari jarak yang berjauhan.
Kapten Broboros mendengus. "Kau sudah mengetahuinya, untuk apa berlama-lama!" Dia memelesat. TRAANG!
Tebasan pedang beserta petir dia lancarkan, si wajah gurita itu berdecak puas, helaan napas panjang menemani pertarungan mereka, Akma Jaya tentu tak tinggal diam, sedangkan Atramata bekerja keras menyerap petir.
Namun, pedang Kapten Broboros masih saja bisa mengeluarkan petir, walaupun itu sudah terserap. "Kau mempunyai Atramata, tetapi tak bisa menggunakannya, menyedihkan!" Dia berkata lantang seraya melancarkan serangan.
Atramata mulai menunjukkan cahaya redup, tidak berlangsung lama. Kapten Broboros melihat celah redupnya. Lantas, menyambarkan petir, JGEER!
__ADS_1
Seketika Atramata pecah tersambar petir yang dilakukan Kapten Broboros. "Ternyata benda pusaka sekuat Atramata, jika digunakan orang selemah dirimu, hasilnya tetaplah lemah!"
Akma Jaya menghela napas lelah, tenaga yang dimilikinya terkuras habis akibat menyerap energi alam, dia tidak terbiasa melakukannya, bahkan langsung mencobanya. Permata Atramata yang berharga itu pecah, padahal di dunia ini, benda pusaka tersebut hanya ada tiga. Suatu keberuntungan Akma Jaya bisa menggunakannya, walaupun pecah karena tebasan pedang Kapten Broboros.
"Bagaimana?" Kapten Broboros berujar sangar. Sekilas singkat, tetapi mematikan.
"Ah, sejauh ini. Aku belum mengetahui namamu, sebutkanlah sebelum ajal menemuimu!" Dia melanjutkan ucapan sangar. Sekilas bertanya, sorotan matanya memelotot, sedangkan ke sepuluh jari bergerak memutar, lidah melingkari bibir, wajah gurita itu mendengus setelah selesai berucap.
"Namaku Akma Jaya," jawab Akma Jaya ringkas.
Kapten Broboros tertawa. "Haha, kau ternyata orang yang dicari Kapten Kaiza untuk dibunuh, dan siapa sangka aku bertemu dengan orang durjana sepertimu!"
"Kau mengenal Kapten Kaiza?" Akma Jaya cepat bertanya, mereka berdua bersitatap.
"Apakah kau mendengar yang dikatakan Kapten Broboros, dia adalah orang yang dicari Kapten Kaiza, ternyata dia adalah seorang buronan!" ucap salah salah seorang terkejut.
"Iya, aku mendengarnya. Bukankah ini bagus, jika Kapten Kaiza mengetahui orang yang selama ini dia cari ada di sini, dan Kapten Broboros berhasil membunuhnya, tentu wilayah kita akan dipandang oleh kelompok Bajak Laut Mafia Kelas Kakap sebagai wilayah terhebat di penjuru lautan!" Salah seorang lagi menjawab dan menjelaskan keuntungan yang mereka dapatkan.
Kerumunan kembali meneriakan suara, menyerukan agar cepat membunuh Akma Jaya. "Hahaha, apakah kau mendengarnya?" Kapten Broboros tertawa, dia tidak menjawab pertanyaan yang sebelumnya dilontarkan Akma Jaya.
Akma Jaya mengangguk, tak ada celah rasa takut sedikit pun. "Aku mendengarnya!" Lagi-lagi dia berucap ringkas, tak panjang lebar.
Ashraq tak bisa berbuat apa-apa, jelas sekali dia mendengar semuanya. Sementara Tabra di puncak menara merasa tak nyaman, ada sesuatu yang memberatkan pikirannya, dia menuruni menara karena begitu tidak nyamannya.
Rasa cemas bercucuran keringat.
__ADS_1
Seperti yang dilakukan Akma Jaya, Tabra menggugurkan diri dari ketinggian menara. "Hei, lihatlah!" Salah seorang terkejut, spontan berseru lantang dengan jari telunjuk mengisyaratkan ke titik jatuhnya Tabra.
Para anak buah sudah tidak menggunakan teropong lagi, mereka tidak mengetahui aksi dramatis yang dilakukan Tabra. Aisha di dalam kabin juga tidak mengetahuinya.
Kapten Broboros, Akma Jaya. Keduanya mendongakkan kepala, menatap jatuhnya Tabra dari ketinggian menara.
Wajahnya tak memucat, Tabra benar-benar sudah mematangkan diri, kecepatan perdetiknya, gugur dari ketinggian menara, terpandang sekilas mata, hampir mendekati tanah, dia cepat berpegang di permukaan dinding menara. Ada rasa sakit mendera, tetapi dia tak memedulikannya, bahkan tak mengeluh, tak tinggal diam, dia bergerak menghunus pedang seraya meloncat dan berakhir tepat di depan Akma Jaya.
"Kapten, maaf. Saya datang terlambat dan maaf karena telah melanggar perintah yang Anda berikan." Tabra berucap tak memandang, dia fokus ke hadapan lawan.
Kapten Broboros tersenyum sinis. "Naif, kau begitu naif!" Mereka berdua bersitatap, Tabra sejenak menancapkan pedangnya ke bawah pijakan—kolam berupa tanah.
"Terserah apa yang kau ucap, sekarang lawanmu adalah aku!" Tabra juga sama, dia mengeluarkan tatapan sinis seraya mencabut pedang yang tertancap.
Kapten Broboros sedikit menggelengkan kepala. Ada decakan hina yang menyertainya.
"Makhluk lemah, seorang kapten yang memimpin kelompoknya saja lemah, apalagi kau hanyalah seorang anak buah!" Kapten Broboros melakukan skakmat, ucapan yang baginya cukup menggeretak.
Tabra mendelik penuh amarah. "Aku bukan anak buah, aku adalah sahabatnya. Kau tak mengetahui detailnya, tetapi berani mengatakan kata yang sembarangan, bahkan menganggap rendah orang lain!" Tabra menyahut sangar. Sekilas ucapan tanpa ujung pemahaman.
Kapten Broboros tertawa lepas. "Haha, menganggap rendah? Rupanya kau salah menilai arti dari ucapanku, merenunglah sejenak, dia memang lemah dan kau memang anak buah, walaupun dia menjadikanmu sahabat, tetap saja. Anak buah tetaplah anak buah." Lagi-lagi Kapten Broboros berusaha ingin melakukan skakmat yang mana di dalam sebuah permainan catur, keadaan bidak raja terdesak—kena skak—dan tak bisa dicegah, dihindarkan atau dihilangkan. Itulah sekilas anggapan Kapten Broboros.
Seketika suasana berubah menegangkan.
Akma Jaya hanya bergeming, bernapas seraya mendengarkan ucapan di antara mereka berdua. Desiran angin bertiup, berembus di sela-sela ketegangan tersebut.
__ADS_1