Bajak Laut Hitam

Bajak Laut Hitam
CH. 36 – Bersantai Menikmati Suasana Pantai


__ADS_3

Altha beserta para kru kapal yang ikut bersamanya kini bertolak pergi meninggalkan kota Taiya, menuju arah pulang ke pulau Butariya.


Lelahnya pelayaran dalam sekali singgah tanpa banyak beristirahat jelas dirasakan oleh mereka. Apa yang terbayang saat ini adalah kasur, tempat tidur yang nyaman.


Mereka telah bergerak. Membentang layar, berlayar meninggalkan kota Taiya bersama kenangan yang tertinggal di dalamnya.


Di samping itu Altha telah berhasil membawa seseorang. Sosok seseorang yang terbilang ahli dalam menggunakan berbagai jenis senjata.


Dua senjata di antaranya dari semua senjata yang ada di dunia ini. Dua senjata yang begitu dikenal banyak orang.


Suatu keahlian khusus dirinya menggunakan keterampilan dalam gerakan pedang, juga tembakan pistol. Dialah orangnya bernama Qaisha.


Sementara di lain tempat. Di lain suasana yang terbilang sunyi. Jauh di sebuah pulau bernama Butariya.


Akma Jaya bersama Tabra tengah asyik bercengkrama, sekarang tampak sedang menikmati suasana kedamaian.


Tepat berada di pinggir pantai, mereka berdua saling berdiri menatap hamparan lautan dengan ekspresi yang begitu tenang. Desir angin, juga terpaan ombak mendayu. Pohon kelapa melambai. Tenang dalam embusan napas yang tiada berkerut kening.


Kala itu, Akma Jaya memungut pasir dalam genggaman tangan, perlahan dia membuka tangan secara renggang.


Pasir itu berguguran bagai hujan dan terbawa tiupan angin, secara perlahan pasir tersebut jatuh ke tempat semula dia memungutnya, ada juga yang lebih dari itu.


Tabra menarik napas dalam, lalu mengembuskannya perlahan. Sosok anak lelaki berusia lebih tua dari Akma Jaya itu merasakan ketenangan dalam.


Tabra sejenak mengusap wajah dan kembali mengembuskan napas penuh kenyamanan yang dia rasakan. “Aaah ... Akma, kau tahu kali ini terasa sangat melegakan. Beristirahat menatap lautan di pinggir pantai ini begitu nyaman rasanya.”


Akma Jaya di sampingnya mengangguk. Hanya Tabra yang berbaring. Kini dia bangun sebentar. Mengibas pakaian, lantas mengajak Akma Jaya berlari. Tanpa banyak basa-basi lagi Tabra cepat berlari. Dialah orang pertama yang memulainya. Berlari kecil menelusuri pinggiran pantai.


Akma Jaya tertinggal berusaha menyusul. Berusaha mengikuti ke mana pun Tabra memacu larinya. Mereka berdua sekarang saling berlarian. Sesekali tertawa penuh cerah ceria.


Tak berselang lama, Tabra mempercepat lari semakin cepat. Akma Jaya tertinggal sedikit jauh. Dengan berpelan sejenak, semakin pelan hingga Tabra menghentikan pacuan kaki. Sedikit wajahnya mendongak, menatap permukaan langit biru.


“Akma, coba kau lihat awan itu tampak seperti ombak ganas yang terjadi di saat badai.” Tabra seakan memainkan drama sambil menunjuk ke arah cakrawala.


Langit cerah tampak awan putih yang bergerembul memenuhi sekitaran permukaan langit. Awan yang sukses membuat Tabra menghentikan larinya.


Akma Jaya menggeleng sejenak, dia tidak setuju dengan apa yang dikatakan Tabra. Bagaimana mungkin itu bentuk ombak. Ternampak di pandangannya saja bukan.


Tabra berada di depannya. Sedikit jauh jaraknya, Akma Jaya sekarang berjalan menghampirinya, tersenyum dengan pasti ingin segera mengatakan apa yang ada di dalam benak pikirannya.


“Tabra, kau yakin bentuk awan itu seperti ombak?” tanya Akma Jaya memastikan.


“Iya, aku sangat yakin.” Tabra menatap Akma Jaya yang kini berada di sampingnya.


“Tidak, menurutku awan itu seperti bulan sabit, bukan ombak.” Akma Jaya menyahut.


Tabra menatap masih kukuh. “Benarkah? Cobalah kau lebih teliti melihatnya.”


“Tabra, aku sudah teliti melihatnya, bentuk awan itu tidak sama seperti ombak, tetapi bentuknya persis sama bulan sabit.” Akma Jaya tetap kukuh dengan kenyataan yang ada di dalam benak pikirannya.


Dia mengulang perkataan sebagai tekad kuatnya yang kukuh tak berubah.


“Akma, kalau begitu aku ingin bertanya kepadamu, apakah bulan sabit mempunyai ukuran yang sebesar itu?” Tabra kali ini tidak mau kalah.


Dia mengajukan pertanyaan yang sukses membuat Akma Jaya terdiam sejenak, memikirkan pertanyaan Tabra yang kalau dipikirkan olehnya lebih lanjut lagi akan timbul prasangka lain.


“Tabra, aku sangat yakin, bentuk awan itu persis sama dengan bulan sabit.” Akma Jaya menjawab setelah berdiam lama memikirkannya.


Mereka berdua sama sama tidak ingin saling mengalah. Dari keduanya mempunyai pendapat masing masing. Satu kesatuan imajinasi yang berbenturan.


Akma Jaya tetap kukuh dengan keyakinan imajinasinya. Begitu pun juga Tabra, masing masing di antara mereka saling melontarkan imajinasi.


“Baiklah. Akma, aku tidak akan memaksamu untuk percaya kepadaku bahwa bentuk awan itu seperti ombak. Kalau kau punya bayangan di dalam pikiranmu mengenai bentuk awan itu persis bulan sabit. Biarlah, itulah yang kau bayangkan. Aku juga akan tetap yakin dengan apa yang kubayangkan bahwa bentuk awan itu seperti ombak.” Tabra menjelaskan. Sedikit mengangkat alis, juga tampak tersenyum sepintas.


Dia lanjut menghela napas, mengeluarkan suara embusan yang jelas didengar Akma Jaya. Dia tetap kukuh dengan apa yang diyakininya di dalam sebuah imajinasi.


Saat mendengarnya, Akma Jaya kini tampak menunjukkan senyuman. Membentuk garis halus sempurna di bibirnya, terlihat manis.


“Tabra, aku ingin bertanya padamu. Apa kau tahu apa itu perbedaan?” Akma Jaya bertanya, menatap senyum ke arah Tabra.


Tabra mengangguk, balas tersenyum. “Iya, aku mengetahui perbedaan seperti sup ikan dan sup ayam bukan?” Tabra sedikit ingin melawak. Akma Jaya terkekeh sejenak.


“Hihi, kurang lebih seperti itu, Tabra. Kau tahu pikiran kita sepertinya berbeda, tidak sama. Itulah perbedaan. Maksudku kita berbeda pandangan dan menghargai perbedaan adalah salah satu dari kita untuk saling berbagi apa yang ada di dalam imajinasi, kita bisa saling menghormati, tidak berdebat dan saling menerima perbedaan itu dengan senyuman.”


Akma Jaya menjelaskan. Tabra sekarang mengangguk. Akma Jaya cepat merangkul bahu Tabra. Mereka berdua tertawa, saling mengacak rambut, berbalas balasan.


Akma Jaya melepas sejenak rangkulan bahunya. Mereka memulai pembicaraan demi pembicaraan lagi, menikmati suasana di pinggiran pantai. Kala itu Akma Jaya menatap Tabra sedikit aneh. Senyuman yang terlihat lain dari biasanya.


Tabra heran. Mengapa Akma Jaya menatapnya begitu. Dia sekarang bertanya di dalam benaknya hingga tidak lama jeda waktunya. Dia memutuskan diam dulu.


“Tabra, kau tahu awan itu seperti bulan sabit. Aku percaya dan yakin dengan imajinasiku, bentuk awan itu memang seperti bulat sabit bukan ombak.” Akma Jaya lagi-lagi mengulangi ucapannya.


“Akma, kenapa kau memandangku seperti itu? Hei, ini bukanlah salahku tahu, bentuk awan itu bagiku memang seperti ombak, bukan bulan sabit.” Tabra menyahut cepat. Mungkin merasa risih.


“Siapa yang menyalahkanmu? Sepertinya kau berusaha ingin mengalihkan pembicaraan!” Akma Jaya sekilas menebak ucapan Tabra yang sebelumnya.

__ADS_1


“Tidak, kau tidak tahu tentangku. Baru saja tadi aku melamun sebentar, tak kusangka itu malah membuatku salah penuturan.”


Tabra mencoba memberikan suatu alasan perihal apa yang sebelumnya dia katakan.


Akma Jaya terdiam sejenak. Begitu pun Tabra, mereka berdua saling memandang ke arah cakrawala, merasakan udara yang berembus mengenai tubuh mereka.


Deburan ombak bergema damai. Bentuk suara ombak yang menyentuh lembut pasir. Hawa-hawa kedamaian kian terasa, desir angin yang bertiup sedikit kencang juga ikut menyertai suasana.


“Tabra, kau tahu cuaca hari ini cukup nyaman untuk bersantai.” Akma Jaya mengembuskan napas tenang.


“Kau benar sekali, Akma. Kalau tadi kaki ini tidak kubawa berlari, mungkin aku akan terlelap tidur sekarang.” Tabra menyahut.


“Oh, iya. Mengenai berlari, mengapa kita berhenti berlari, ya?” Akma Jaya bertanya, garuk kepala karena heran.


“Eh, kau sudah lupa? Bukankah semua ini karena awan yang kau bilang bulan sabit dan menurutku awan itu seperti ombak. Nah, karena itulah kita berhenti berlari.”


“Apa benar begitu, Tabra? Aku tidak jelas mengingatnya.” Akma Jaya menjawab.


Tabra memandang heran. Sahabatnya ini rupanya ada penyakit di otak atau bagaimana? Dia kurang puas menduganya.


“Hei, Akma. Apa kau melupakan sesuatu secepat itu? Kemungkinan ini semua akibat racun yang telah mengenai otakmu.” Tabra mengatakan terus terang tentang dugaannya yang bersemayam kuat di dalam benaknya.


Akma Jaya menggeleng. “Kalau mengenai itu, jelas aku tidak begitu mengetahuinya, tetapi mengenai racun yang kau sebutkan. Aku tahu sedikit mengenai racun itu yang hanya melumpuhkan kekuatanku. Saat ini aku tidak mengetahui mengenai ingatan dan isi kepalaku, tetapi aku tahu telah kehilangan kemampuanku memainkan pedang, bahkan rasanya tanganku tak bisa mengangkatnya.”


Akma Jaya menunduk lesu, wajah yang tampak sendu. Kemampuan memainkan pedang selama ini seakan lumpuh total, mengenai ingatan dan apa yang terjadi pada otaknya. Dia tidak tahu mengenai itu semua.


Tabra sedikit mempunyai bakat dalam menghibur seseorang. Dia mencubit pinggang Akma Jaya, hingga cubitan itu membuatnya menjerit kesakitan.


Akma Jaya bersemangat. Dia kembali berdebat ucapan dengan Tabra, kedua sahabat itu kini saling melontarkan ucapan.


Berulang kali Akma Jaya membela diri, Tabra kembali menguraikan bentuk alasan yang membuat Akma Jaya tak mampu melawannya, hanya mangut-mangut.


Tabra menyeringai. “Akma, kalau ingin tahu aku sangat yakin saat kau masuk akademi nanti bersamaku, tentulah kau akan kalah peringkat. Aku yang akan menjadi terhebat di antara ribuan orang.” Tabra sedikit tertawa membanggakan dirinya.


Bukan maksud apa apa. Dia hanya ingin menghibur Akma Jaya. Berpura-pura baginya tidak mengapa.


“Ah. kalau begitu kau harus berpura pura mengalah, demi kemenanganku nanti di akademi.” Akma Jaya menjawab cepat.


“Tidak, aku tidak akan mengalah!”


“Baiklah, kalau kau tidak ingin mengalah, aku akan terus berlatih, bahkan dari tahap awal hingga melebihi tingkatan pedangmu, lihatlah pada suatu hari nanti.” Akma Jaya berkata optimis penuh keyakinan bahwa dirinya bisa melampaui kemampuan Tabra.


“Apa kau bisa? Kalau kau ingin tahu aku sudah berada di tingkat sepuluh, untuk mengejarku kau perlu sembilan tingkat untuk sama denganku. Sebelum waktu itu tiba aku telah berada jauh di atasmu.” Tabra kembali tertawa membanggakan dirinya.


“Baiklah, Tabra. Mulai hari ini, aku akan berusaha untuk menyusulmu.” Akma Jaya menggenggam tangan.


Tabra tersenyum tipis. Melirik genggaman Akma Jaya. Dengan pasti tanpa ragu dia menatap dengan gayanya. “Coba saja, aku akan menunggumu, tetapi kau jangan sesekali bergerak lambat.”


“Kalau kau bergerak lambat, aku akan meninggalkanmu dengan jarak yang begitu jauh hingga kau tak akan bisa menyusulku.” Tabra lanjut lagi menjelaskan, lalu tertawa.


Akma Jaya tidak percaya. “Benarkah? Kalau begitu aku juga akan menunggumu!”


Tabra jelas heran mendengarnya. Dia lanjut bertanya memastikan. “Apa maksudmu?”


“Maksudku, aku akan menunggu masa di mana tingkatan pedangmu meningkat.” Akma Jaya menjelaskan.


Tabra mengernyit heran sedikit kaget. “Eh, kenapa kau ingin menunggu masa di mana tingkatan pedangku meningkat?”


Akma Jaya balas tersenyum. “Tabra, apakah kau tahu mengenai kemampuan seseorang itu pasti mempunyai batas, setinggi apa pun batas seseorang berusaha kalau tingkatannya ditakdirkan tahap lima, ya tidak akan bisa mencapai tingkat tertinggi. Maka itulah aku ingin mengetahui seberapa tinggi batas tingkatan pedangmu nanti.” Dia menjelaskan alasannya.


Tabra mangut-mangut paham. “Oh, begitu, ya?”


Akma Jaya mengangguk. “Iya.”


“Tunggu dan lihatlah nanti, kau pasti akan berdecak kagum kepadaku, Akma!” Tabra menggenggam tangan seperti yang dilakukan Akma Jaya sebelumnya.


Akma Jaya tertawa. “Aku percaya padamu, berlatihlah dengan bersungguh sungguh, Tabra. Aku juga akan berlatih dengan bersungguh sungguh. Percayalah pada suatu hari nanti, kita akan bisa mengalahkan para bajak laut yang jahat itu!”


Akma Jaya menjelaskan kembali tertawa gelak melihat kelakukan Tabra. Dia berucap panjang lebar sambil kadang tertawa.


“Benar, apa yang kau bilang, Akma. Satu hal yang kuingin beri tahu, bermodal percaya saja tidak akan cukup, kita perlu berusaha untuk menggapainya!” Tabra mengangkat kedua bahunya.


“Bukankah sebelumnya aku sudah mengatakan itu kepadamu, sepertinya saat aku berbicara tadi kau tidak menyimaknya dengan jelas.” Akma Jaya mengingatkan.


“Memang benar, sepertinya tadi saat kau berbicara aku kurang menyimak.” Tabra tertawa tampak canggung, garuk kepala.


Akma Jaya menutup mulut berusaha menahan tawanya. “Sudah pasti, itulah dirimu, Tabra!”


“Hahaha, kau keseringan begitu, Akma!”


Akma Jaya menatap ketus. “Kenapa? Apa itu salah buatmu?”


“Tidak salah, tetapi kau membuatku tertawa karena mendengar ucapanmu itu,” Tabra juga sama, sekarang tampak menutup mulutnya. Berusaha menahan tawa.


Akma Jaya lelah tertawa mencoba berdiri tegak, melangkah sejenak. Tabra masih berduduk santai.

__ADS_1


Dengan helaan napas sedikit lepas. Akma Jaya menoleh. “Tabra, lihatlah lautan itu, bagaimana kalau kita berenang di sana.” Dia mengatakan saran.


Akma Jaya berlari menuju laut. Desir angin membelai pesisir pantai, dengung ombak pun sama terasa. Akma Jaya lebih dulu berlari. Tabra masih duduk santai.


“Aku tidak ingin berenang. Apakah kau tidak mengingatnya, tentang Kraken yang muncul kemarin malam?” Tabra berteriak dari kejauhan mengingatkan Akma Jaya mengenai kejadian yang mereka alami pada kemarin malam.


Mendengar itu, Akma Jaya menghentikan kakinya berlari, berbalik arah pandangan, menatap Tabra, lalu menghampirinya.


“Tenang saja, ia tak akan muncul pada siang hari. Bukankah kau mengetahuinya? Ia hanya akan muncul pada malam hari saja.” Akma Jaya menjelaskan. Dia sekarang berada di dekat Tabra.


“Eh, mungkin saja, ia akan muncul secara tiba-tiba kemudian memakan kita!” Tabra mendramatisir sedikit ternampak polos. Akma Jaya terkekeh saat mendengarnya.


Setelah pertimbangan lama, Akma Jaya mengangguk setuju dengan apa yang diucapkan Tabra. Bisa saja, itulah yang tergambar di dalam pikirannya.


“Ya, kemungkinan saja begitu. Aku akan menuruti ucapanmu, Tabra.” Akma Jaya menjawab setuju. Dia telah mengurungkan niatnya untuk berenang.


Pada saat itu matahari bersinar sedikit terik. Tabra berkipas menggunakan tangan. Hampir di sekujur tubuhnya keluar keringat.


Udara panas dan sedikit kenaungan.


“Akma, bisakah kau mengambilkan segelas air untukku. Aku merasakan haus karena tenagaku terkuras habis dan berlari itu cukup melelahkan buatku.” Tabra meminta kepada Akma Jaya untuk membantu mengambilkan segelas air minuman.


Untuk itu. Dia menunjukkan wajah imut agar Akma Jaya mau membantu dirinya.


Akma Jaya mengangguk. “Baiklah, tunggu sebentar di sini, aku akan mengambilkan segelas air untukmu!”


Akma Jaya beranjak pergi, berjalan menuju rumah, sedangkan Tabra tampak membaringkan tubuhnya ke hamparan pasir putih. Nyaman menikmati damainya tiupan angin yang bercampur hawa panas.


Dia menatap cakrawala yang tampak kebiruan dipenuhi sekumpulan awan putih yang bergerak dan berubah-ubah bentuknya.


Akma Jaya berjalan menghampiri Aisha, sedangkan Aisha tampak sibuk memasak untuk persiapan makan siang.


“Aisha, bisakah kau menuangkan segelas air minuman, Tabra menginginkannya.”


“Bisa, bagaimana denganmu?” Aisha bertanya sambil menuangkan air.


“Tidak, aku tidak merasakan haus, segelas air itu untuk Tabra saja. Saat aku haus nanti, aku bisa menuangkannya sendiri.” Akma Jaya tersenyum.


“Baiklah, ini airnya!” Aisha memberikannya. Akma Jaya menyambut dengan tangan kanan, mereka sama sama tersenyum.


“Terima kasih, Aisha. Aku harus bersegera menghantarkan gelas ini kepada Tabra.”


“Iya, baiklah ...,” jawab Aisha ringkas sambil mengangguk.


Akma Jaya beranjak pergi menghampiri Tabra yang terlihat dari kejauhan sedang berbaring nyaman. Dari arah yang dekat, Akma Jaya menatap sambil berdiri.


“Tabra, ini minuman yang kau inginkan sudah datang,” ucap Akma Jaya seraya mengacungkan gelas.


Mengenai itu, Tabra bersegera bangkit dari semula posisinya berbaring, lalu mengambil gelas tersebut.


“Akma, terima kasih, hihi kau itu terlalu baik dan jujur saja aku menyukai sikapmu yang seperti itu. Rajin-rajinlah membantuku agar aku bisa terus berterima kasih kepadamu. Terima kasih lagi karena kau sudah mau membantuku!” Tabra berucap senang.


Akma Jaya kaget. “Eh?”


“Kenapa?” tanya Tabra.


Akma Jaya tersenyum. “Tidak apa, lebih baik tidak usah berterima kasih. Hehe ... bukankah sebelumnya kau yang memintaku untuk mengambilkan segelas minuman. Kau tahu aku tadi sekadar menuruti keinginanmu, Kapten!” jawab Akma Jaya terdengar tegas tanpa bercanda.


“Eh, Ka—kap-ten?” Tabra tercengang mendengarnya. Patah-patah menjawab.


“Akma, kau tahu ucapanmu itu membuatku mual!” Tabra melanjutkan ucapan sebelumnya sambil menunjukkan gaya persis sama bagai orang yang ingin muntah.


Akma Jaya tertawa menatap tingkah konyol Tabra. “Aku hanya bercanda.”


“Ya, itulah dirimu, Akma!” Tabra menyahut cepat. Sejenak Akma Jaya menghentikan tawanya.


“Hmmm... memang itulah diriku, kau tidak mengenaliku? Hehe, padahal kita telah lama bersahabat. Kenapa sampai sekarang kau tidak mengenali sikapku!”


“Hahaha.”


“Hehe.”


“Hei, Hei, kenapa kau ikut tertawa?”


“Eh, apa itu salah?”


“Tidak, Hahaha.”


“Ya, sudah. Hahaha.”


Sebelumnya mereka berdua saling menggerutu, sekarang saling tertawa, juga saling bercanda penuh gembira.


Mereka berdua telah lama melewati waktu sebagai seorang sahabat, sebuah tali persahabatan yang terjalin kukuh hingga membawa ketenangan dan kedamaian.


Sekarang tawa di bibir mereka melebar manis menampilkan wajah berseri dan asri.

__ADS_1


__ADS_2