
Partikel awan mendung. Angin berembus tenang. Lautan apalagi, jangan pernah bertanya akan suatu hal yang tidak ada di dalam buku pelajaran. Zaman ini terlintas pahit. Rasa-rasanya itu amat lumrah terjadi, tidak akan sakit. Wajahnya lelah sudah, sakit membara dalam api yang panasnya beribu kilometer di dalam benak pikiran.
Api kehitaman yang dahsyat. Hati itu terombang ambing di kejauhan angan.
“Mereka anak yang berbakat.” Gumam Qaisha sedikit dengan tegukan liur menahan haus. Panas cuaca, bayangkan kala itu pepohonan sedikit sekali yang tumbuh di sana. Tidak dapat membersihkan hawa dengan pemandangan di sana.
Qaisha saat ini terus memperhatikan gerakan mereka bertiga. Wajah berbinar khusus menerka. Satu per satu gerakan diperhatikan lebih detail dengan semangat yang membara dalam jiwanya. Haha.
“Rasanya baru kali aku menatap murid secara langsung seperti kalian. Beberapa muridku dulu, bahkan hampir semuanya tidak pandai dalam hal mencerna semua arahan yang kuberikan, tetapi kalian bertiga berbeda dengan mereka semua.”
Qaisha memberikan ucapan yang secara tak sengaja membuat Tabra bertambah semangat saat mendengarnya. Ini ucapan seorang guru yang memberikan semangat.
Sebatas itu saja rasanya telah cukup membuatnya menjadi seorang pengecut kelas handal. Menyelam di dasar yang tiada bertuan. Habis napas hingga tenggelam.
“Tentu, kami ini memang istimewa. Anda baru tahu!” Tabra semringah.
“Tabra, kau terlalu percaya diri!” Aisha menjawab ketus, tidak suka.
Tabra tertawa. “Memang inilah aku, percaya diri itu pasti. Kau harus percaya diri untuk bisa terus melangkah ke masa depan!”
“Benar begitu, Akma?” tanya Tabra memandang dengan tatapan hangat.
Aisha menyilangkan tangan, memberikan wajah datar. “Heleh. Dasar kau—”
“Sudah, sudah. Kalian berdua sudahlah, jangan berdebat terus, nanti aku jewer telinga kalian.” Akma Jaya menyergah.
“Hahaha, sini jewer!” Tabra menjulurkan lidah. Lalu berlari. “Ayo, kejar aku, Akma!”
Tabra berlari, melambai-lambai. Tangannya luar biasa bergerak ayun, tertawa.
“Eh, Tabra. Tunggu, kau akan kujewer!”
Akma Jaya berlari mengejarnya. Tabra berulang kali menoleh tertawa, larinya kencang bagai tiupan angin.
“Kau tidak akan bisa mengejarku, Akma!” Tabra berseru-seru dengan raut wajah senang. Larinya semakin cepat.
Akma Jaya berusaha mengejar. Berlari. Yeah—larinya cukup cepat semakin cepat memacu larinya hingga napasnya kini berembus ngos-ngosan. Lelah, letih dan campur aduk perasaannya saat itu. Tabra tidak tinggal diam di tempat, melihat Akma Jaya semangatnya tumbuh hingga terus berlari dan tertawa terpingkal-pingkal. Menertawakan Akma Jaya yang tak bisa mengejarnya sama sekali.
“Seperti biasa, Akma. Larimu itu lambat dan tidak cepat sepertiku, kalau ada lomba lari aku pasti juaranya!” Tabra berseru-seru dengan raut wajah konyol.
Beuh, parah. Begitulah mereka yang sekarang berlarian ke sana kemari. Qaisha daritadi hanya berdiam diri dan tampak sibuk memperhatikan mereka. Sejenak mendehemkan suara. Mereka berdua menoleh seakan paham saat mendengar suara deheman tersebut.
Akma Jaya menghadap takzim. Dengan raut wajah bersalah. “Maaf, kami salah.”
“Maafkan kami. Kami berdua mengakui bersalah.” Padahal hanya dia seorang yang berdiri menghadap.
Itulah suara Akma Jaya mengakui kesalahannya. Beda sama Tabra yang dipenuhi dugaan. “Maklum, beda umur.”
“Kalau urusan lari merasa bersalah, kau juara satu, Akma. Tidak ada yang menandingimu dalam hal ini, termasuk aku yang punya lari sekencang angin.”
Dia menyusul telat. Akma Jaya lebih dulu memberi sikap hormat. Latihan mereka tertunda dan asyik berlarian senang.
Tabra tertawa menghampiri. “Qaisha, mohon maklumi tingkah laku kami.” Dia membungkuk dengan perangai takzim.
“Perlu kalian tahu, kita saat ini masih berada dalam masa latihan. Dan kuharap kalian semua mengerti arti betapa sikap kesungguhan dan keseriusan itu amat penting dalam belajar maupun segala macam sesuatu yang kalian hadapi, kalian harus pandai dalam memilah dan memilih sesuatu tersebut. Dengan sikap tegas dan berani mengambil keputusan, kalian akan siap menghadapi dunia yang aneh ini.”
Qaisha bertutur tegas dan dia merasakan aura kelembutan yang ada pada dirinya. Raut wajahnya tampak menenangkan.
Menatapnya. Luar biasa, besok atau nanti kecebur ke kali biar tahu rasa. Astaga? Kacau balau sekalipun ditatap seakan telah hancur oleh tiang kesepuluh ataupun kedua puluh kalinya makna, juga nestapa yang hadir membabi buta nirwana kata.
“Dalam sekian peristiwa dan belaian kasih yang tak sampai. Kalian tahu ada banyak hal di dunia ini yang aneh?” Qaisha bicara.
Tabra menyikut lengan Akma Jaya, berbisik ke telinga. “Hei, Akma Jaya. Kau mengerti apa yang diucapkannya?”
“Tidak. Dengarkan saja, dia guru kita sekarang. Kau harus mendengarkannya.”
“Hah. Aku lelah mendengarnya berceramah begitu, kau tahu dulu di desa kita. Kakek tua itu yang berceramah menyebalkan.”
“Hussh... kalian berdua.” Aisha menghentikan mereka.
Qaisha tahu mereka bertiga memang tidak fokus dalam belajar. “Jangan pikirkan apa pun yang sebelumnya aku katakan. Kadang beberapa waktu seringkali aku lepas kontrol mengucapkan kalimat, mungkin ini kebiasaan lama saat bersyair.”
“Wah, Anda bisa bersyair, Guru?” Tabra bergembira mendengarnya.
“Coba tunjukkan pada kami, guru. Kami ingin mendengarnya.” Aisha menyahut di samping Tabra.
“Sekarang aku tidak berminat untuk bersyair mengeluarkan nada, mungkin di lain waktu nanti. Saat masa itu tiba, kita akan bisa bersama-sama memulai nada syair dengan senyuman dan canda tawa.”
Tabra berwajah lesu. “Yeah—kalau begitu, ya tidak mengapa. Kami suka apa pun yang Anda bilang, tidak membantahnya.”
“Lain kali nanti aku akan bersyair untuk kalian semua, tetapi bukan untuk saat ini. Bagaimana kalau latihannya kita sambung?”
Qaisha bertanya. Ketiga anak itu mengangguk setuju usai mendengarnya.
“Baiklah, kita akan memulai latihan selanjutnya dengan latihan uji fisik pertandingan pedang melawan dan melawan agar saat kalian bisa menghadapi musuh, tidak takut dan tidak gentar dalam melawannya. Kalian berdua. Tabra dan Akma Jaya akan bersiap melawanku dan Aisha kau cukup menjadi penonton dan cukup memperhatikan kami.”
Mereka bertiga setuju dengan hal tersebut. Wajah yang bersimbah antusias. Debur ombak juga kesiur angin dan awan di permukaan cakrawala ternampak indah.
***
Posisi tegak berdiri. Menatap lamunan kesekian juta hampa. Debar jiwa. Harapan satu yang membentuk tekad dan semangat hidup selama ini. Jiwa dan jiwa. Rasa dan Rasa. Kacau. Hidup. Kelelahan. Hampa. Kesekian rasa yang teramat dalam membakar raga. Hidup yang habis duka lerai air mata. Berteriak meminta tolong.
“Akma Jaya. Berlayar menempuh lautan yang luasnya beribu kasta tak semudah yang kau pikirkan. Ayah tahu kau ingin ikut berlayar, tetapi itu tidak bisa membenarkan apakah kau layak atau tidak dalam hal ini.”
Kapten Lasha berujur dengan sikap ganas. Menghampiri. Menampar. Akma Jaya terpental jauh menimpa pasir. Di ujung pantai dengan kemilau terang terpampang di depan matanya.
Sedih perasaan yang hadir. Hidup kadang membingungkan. Mengapa ada air mata? Mengapa ada tangisan yang merobek jiwa. Kesal dan sebagainya bertumpuk di dalam dada, menyesak dalam sekian warna hampa, kelabu. Hitam dan bait keseluruhan yang tak kunjung menuai titik temuinya.
Inilah harapan. Lautan yang berombak itu membentuk gulungan kertas. Indah bercahaya dengan pantulan matahari.
Kadang beberapa rasa tak memberi lebih dalam jiwa. Dalam kesedihan yang menguras dalam bendungan. Ayolah, tidakkah ini mudah? Tidakkah ini susah? Atau apalah? Mengapa dan kenapa? Ini terjadi dalam kesekian asa yang merobek dalam sekian dalam luka berleraian.
Puisi. Karangan yang tiada arti dalam hal ini? “Ayah, kau mengetahui apa yang selama ini tidak aku ketahui. Jelaskanlah pada hari ini apa alasan mengapa ayah tidak membiarkanku ikut berlayar?”
“Bukankah sudah jelas. Kau adalah sampah yang tidak layak menjadi seorang bajak laut. Sampah yang tidak pantas menyandang gelar bajak laut. Lebih baik kau membantu ibumu di sana yang sibuk dengan bunga yang setiap hari dia rawat.”
“Ayah, kau mengetahui banyak hal di sana. Bisakan kau jelaskan sedikit saja tentang apa yang terjadi, tentang berbagai macam peristiwa yang ada di sana?”
“Cukup, Akma!” Kapten Lasha menatap sangar, terlebih sangar.
Sosok ayah itu tidak sama sekali mencerminkan sosok ayah yang sebenarnya hidup dalam ketakutan.
Masa lalu itu berkembang biak dalam otak Akma Jaya. Sekilas pertanyaan yang sampai saat ini belum terjawab olehnya, mengapa seorang ayah bisa tega melakukan hal itu kepadanya? Mengapa? Masa lalu itu muncul tanpa diundang.
***
“Hei, Akma. Kau melamun?” Tabra menepuk kepala Akma Jaya dengan sedikit keras.
“Eh? Iya.”
“Jangan sibuk melamun, kau mendengar apa yang diucapkan oleh guru tadi?”
__ADS_1
“Kalau itu aku mendengar. Jelas sekali, aku mendengarnya.” Akma Jaya menjawab dengan lugas tersenyum.
“Ayo, cepat. Latihan kita akan dimulai.”
Mereka berdua berlarian ke tempat Qaisha lebih dulu di sana. Aisha berada di bawah naungan pohon kelapa yang rindang. Sejuk dengan embusan angin. Dengan sekilas tatap, wajah itu ternampak bagai kemilau warna di ujung petang. Indah dengan rona wajah mempesona. Peluit burung yang memekik di langit, juga harapan yang kala itu bernaung dengan sunset.
Pedang terhunus di tangan mereka. Akma Jaya dan Tabra bersitatap sebentar dengan senyuman kompak. Menghela napas sekian dalamnya untuk berani tanpa takut. Dan mengenai itu, tergambar dengan berjuta asa dan superfantastis yang ditatap mereka.
“Kita tidak akan mengorbankan banyak senjata, bukan?” Tabra bicara.
“Tidak, Tabra. Kita tidak sedang latihan, tetapi mengasah kemampuan dengan gaya.”
“Hahaha, kau bisa saja mengelawak.”
“Tentu saja aku tidak mengelawak, kau lihat dengan mata kepalamu sendiri tentang kemampuanku yang sangat hebat ini.”
Tabra kembali tertawa. “Apa benar kau itu punya kemampuan?”
“Tentu, aku punya. Kau tidak pernah melihatku berlatih selama ini?”
“Sepertinya memang aku tidak pernah melihatmu berlatih, seorang diri?”
“Iya, aku berlatih seorang diri. Saat tengah malam, sejak hari itu aku sudah berlatih.”
***
Akma Jaya menjelaskan. Dulu, dia berlatih keras pada malam hari, bahkan tidak tahu cuaca baik hujan maupun tidak. Angin malam yang dingin, tebasan pedang kala itu membabi buta serangan.
Waktu telah berlalu. Qaisha memberikan pelajaran. Jam tentang kepentingan dalam sebuah pertarungan, terus berlanjut.
Kata ke kata diucapkan sebagaimana seorang guru. Tengah hal itu perdebatan masih saja berlanjut, Qaisha berkali-kali menasihati. Tabra tidak punya pilihan.
Tabra mengangguk. Pun Akma Jaya. Aisha ikutan terkena imbasnya ikut mengangguk. Dalam batinnya bersuara menyalahkan Tabra yang memulainya lebih dulu.
Itulah Aisha yang tidak suka menatap Tabra sekarang. Beda jauh sama Akma Jaya yang tidak tahu apa-apa.
Terlebih rasanya mereka itu baru belajar hari ini, juga belum mengerti mengenai kesungguhan, keseriusan itu seperti apa.
“Kalian bertiga harus tahu dalam mempelajari sesuatu apa pun kalian harus punya tekad kuat bersungguh yang teramat sungguh dan serius dalam menyimak dan dalam artian yang sebenarnya kalian tidak boleh menganggapnya remeh dan bersibuk diri. Pun bermain-main dengan sesuatu yang membuat kalian asyik sendiri hingga sadar tak sadar membuat kalian keluar dari pelajaran dan menjadi tidak fokus.” Qaisha menjelaskan semringah.
Harapannya semoga ketiga orang anak itu mengerti maksud ucapannya. Aisha mengangkat tangan. “Guru, ini semua salah Tabra. Karena dialah tadi yang memulainya lebih dulu.”
“Eh? Aku—aku?” Tabra tersedak. Seakan ada debu yang terhirup di hidungnya.
Aisha memelotot. “Iya, kaulah yang memulainya lebih dulu!”
“Enak saja, menunduh sembarangan!” Tabra berkacak pinggang. Persis Akma Jaya di tengah mereka menghela napas.
“Haduh, kalian ini tidak habis-habisnya bertengkar. Ayo, berbaikan biar lebih akrab jangan saling bertekar. Kalian itu berdua bersaudara!” Akma Jaya menyahut.
Menengahi di antara perdebatan mereka. Sosok Akma Jaya itu tidak lebih dianggap mereka sebagai figuran. Aisha tidak terima dengan perlakukan Tabra sebelumnya.
“Semua ini memang Tabralah yang salah. Karena dia yang memulainya lebih dulu!” Aisha terus berbicara sendirian.
Dengan sikap polos, Aisha mengadu kepada Qaisha sosok guru yang sekarang hanya terdiam dan sibuk memperhatikan. Lebih tepatnya Qaisha belum memberikan apa pun tanggapan mengenai ucapan Aisha.
Tabra menghela napas. “Baiklah, semua ini memang salahku. Apa? Puas sekarang!”
“Heleh. Mengakui salah, tetapi nada bicaramu terdengar tidak ikhlas!”
“Ikhlas atau tidak, kau tidak perlu tahu!”
Tabra mengangkat bahu. “Ya, sudah!”
Qaisha kembali mendeham. “Kalian berdua sejak dari tadi sudah kuperhatikan sepertinya suka sekali bertengkar. Dan ini perlu kalian tahu pertengkaran itu wajar, tetapi sebaiknya setelah pertengkaran usai, kalian harus cepat berbaikan agar tidak melebar masalahnya ke berbagai hal.”
“Dulu aku sering berkelana menelusuri tempat ke tempat. Menemukan berbagai macam hal perihal dan sering saat itu aku menemui pertengkaran yang terjadi dan syukurlah tidak dalam waktu lama. Sebentar saja bisa kuperkirakan dua puluh empat jam, seharian dan sesudahnya mereka saling memaafkan dan dalam perkara itu rasanya entah mengapa begitu kusukai.”
“Apa yang kusukai adalah moment kala itu yang terkenang dan terasa kesan yang kuingat sampai sekarang. Bahkan saat menatap kalian berdua seakan aku kembali teringat masa lalu bersama Kaira.”
Qaisha menjelaskan. Tutur katanya yang sekarang sampai di titik pengalamannya dulu, terkenang kembali.
“Hmmm ... Masa lalu.” Tabra menjawab datar. “Apa itu?”
Qaisha tersenyum. “Masa lalu adalah peristiwa yang telah berlalu, kadang sering datang dan menghampirimu saat di mana pikiranmu terbang ke penjuru wilayah dan berbagai macam pesona.”
Tabra mendengarnya tidak mengerti. Sedikit mengernyit. “Hmmm ....”
“Hmmm ....” Akma Jaya sama tidak mengerti.
Aisha apalagi. “Hmmm ....”
KRIK! KRIK! KRIK!
Qaisha garuk kepala. “Hihi, kalian tidak mengerti.”
“Hmmm ....” Tabra menatap kuat-kuat.
Qaisha menatap paham. “Sepertinya kita harus melanjutkan latihan, terlalu banyak bicara. Nanti akan banyak kebingungan yang melanda dan maafkan aku karena ketidakmampuanku menyesuaikan pembicaraan dengan usia kalian.”
“Yosh, saatnya kita berlatih!” Tabra ceria. Akma Jaya ikut senang. Aisha juga sama, mereka bersemangat.
Kembali latihan mereka lakukan. Qaisha terus memberikan arahan dan pembelajaran yang lumayan dapat dicerna dengan baik oleh mereka semua.
Bahkan sekarang ayunan pedang Akma Jaya mulai membaik, tanpa kenal lelah terus berusaha mengembalikan kemampuan pedang miliknya, sedangkan Qaisha sekarang terus berfokus pada pelatihan Aisha yang masih belum terbiasa dengan senjata yang ada di tangannya.
Beberapa menit ke menit berlalu seakan cepat sekali waktu itu berlalu. Rasa lelah pun sekarang memenuhi suasana. Peluh keringat Tabra bercucuran, Qaisha menatap maklum.
Sosok guru itu mengerti rasa lelah yang dialami muridnya.
“Sepertinya latihan ini, kita sudahi sampai disini saja! Kalian sudah berusaha keras, beristirahatlah agar rasa lelah kalian hilang!”
Usai mengatakannya Qaisha beranjak pergi meninggalkan, memberikan waktu kepada mereka untuk beristirahat.
Akma Jaya dan Tabra. Pun Aisha, mereka bertiga beristirahat dari rasa lelah usai latihan dan terlepas rasa lelah mereka bertiga bernapas lega karena Qaisha memberikan waktu istirahat yang seakan memaklumi keadaan yang mereka alami.
***
Keesokan hari. Matahari bersinar indah, hirupan napas. Pun hawa damai dan tentram yang terasa, bahkan mempesona. Mereka bertiga sekarang kembali berlatih, Qaisha memberikan kepada mereka tiga kartu dengan tiga warna yang terdiri dari merah, hijau dan kuning.
Ketiga kartu itu adalah tanda bahwa mereka resmi menjadi murid Akademi Daida, ketiga kartu itu adalah simbol yang menunjukkan keberanian, ketangguhan dan kebahagian.
Qaisha telah memberikannya. Satu per satu dibagikan dengan jumlah yang sama, tiga kartu. Masing-masing memegang tiga kartu.
Tabra merasa bingung, sejenak garuk kepala. “Kartu apa ini?” tanyanya polos kepada Qaisha.
“Dan kenapa Anda memberikan kartu ini kepada kami?” Tabra kebingungan dengan apa yang telah diberikan Qaisha.
Tiga kartu. Merah, hijau dan kuning. Tiga kartu yang sekarang dipegangnya. Heran? Mengapa sosok guru itu memberikan kartu tersebut. Belum ada penjelasan, sebelumnya Qaisha baru memberikannya.
Qaisha berdehem pelan. “Ketiga kartu ini adalah simbol dari Akademi Daida, kalian bertiga sudah resmi menjadi muridku!”
__ADS_1
“Ketiga kartu itu memiliki makna tersendiri di balik warnanya. Warna merah punya arti keberanian, hijau ketangguhan dan kuning kebahagian. Kalian telah memegang tiga kartu sakti yang harus kalian ingat kapan pun dan di mana pun bahwa kalian telah resmi menjadi murid Akademi Daida.”
“Walaupun sekarang kalian latihan tidak di akademi, tetapi semangat kalian masih sama seperti muridku di akademi Daida dulu. Semangat yang terus meningkat.”
Mereka bertiga senang mendengarnya. Terlalu indah dibicarakan lebih banyak. Mereka pun melanjutkan latihan dengan sedikit berbeda dari biasanya.
Semangat tentunya. Ditambah Qaisha memberikan tiga metode latihan untuk mereka bertiga. Setelah diputuskan olehnya Aisha mendapatkan metode pertama dalam pelatihan. Metode kedua didapat Tabra kemudian Akma Jaya pada metode ketiga.
“Untuk Aisha, kamu akan menembak buah kelapa yang dijatuhkan salah satu kru kapal dari atas pohon kelapa. Pandai-pandailah membidik sasaran.” Qaisha memberi cara latihan untuk Aisha, cara latihan seperti itu sangat membantu untuk membidik sasaran dengan tepat dan cepat.
“Sedangkan Tabra, kamu akan berlatih di atas kapal dan kapal itu akan digoyang-goyang oleh kru kapal. Kamu harus bisa menyeimbangkan diri di sana sambil menebas dan menggerakan pedang.”
Qaisha memberikan cara latihan untuk Tabra, cara latihan yang seperti itu berguna sekali supaya Tabra bisa beradaptasi dengan pertarungan di tengah ombak.
“Kemudian untuk Akma Jaya, kamu akan berlatih di dalam air laut. Latihlah pergerakan tanganmu dan kemampuan kamu dalam memegang senjata.”
Qiasha memberikan cara latihan yang seperti itu agar Akma Jaya bisa beradaptasi dengan pertarungan di dalam air. Kemampuan yang sedikit rumit. Itu pun jarang ditemui dengan sebelah tatapan. Ini sejatinya sebagai penguat katanya untuk mengembalikan kemampuan pedang Akma Jaya yang selama ini hilang entah kemana.
Mereka bertiga memulai cara latihan yang diberikan oleh Qaisha. Satu per satu mulai beranjak dengan tekad dan semangat.
“Kalian semua harus ingat dalam pertarungan hal yang utama adalah fokus dan waspada, seperti kata Kapten Lasha kekuatan tanpa kemampuan adalah sampah. Dan terpenting jangan sampai lengah!” Qaisha berseru sambil memberi arahan kepada mereka bertiga.
Akma Jaya sedikit tersingahak kala mendengar nama ayahnya disebut Qaisha. Tabra menggengam erat senjata.
“Baaiiiklah!” Mereka bertiga menyahut seruan Qaisha secara bersama-sama.
Akma Jaya memasuki air laut. Mengayunkan pedang di sana, kesusahan yang dialami Akma Jaya hanya satu mengenai pernapasan. Kadang muncul ke permukaan untuk sebentar menghirup napas kemudian melanjutkan latihannya.
Sementara, Tabra berada di atas kapal terhuyung, tidak mampu mengayunkan pedang. Beda lagi Aisha yang sudah mulai terbiasa memegang senjata dengan kuat dan benar karena Qaisha sepertinya sedang memfokuskan diri kepada latihan Aisha.
Kini, Aisha telah berhasil menembak tiga buah kelapa yang dijatuhkan kru kapal dari atas pohon kelapa tersebut. Satu per satu tertembak lumayan. Aisha bersorak riang, tidak butuh waktu lama baginya.
Qaisha tampak memperhatikan latihan mereka bertiga. “Sepertinya ada kemajuan untuk Aisha, sedangkan Akma Jaya dan Tabra, mereka berdua belum ada kemajuan.”
Qaisha memegang dagu. “Kupikir ini juga tidak buruk. Baru dua hari, mereka telah berkembang pesat seperti itu.”
Setelah memfokuskan latihan Aisha. Sekarang, Qaisha kembali berjalan ingin memfokuskan latihan terhadap Tabra yang kewalahan menghadapi goyangan kapal.
“Tabra, untukmu perkuatkan pijakan dan pasang kuda-kuda!” Qaisha berseru sambil menghampiri Tabra.
“Kuda-kuda?” Tabra bingung, garuk kepala. “Eh, kalau Anda itu bicara lebih baik bicara yang jelas, saya tidak mengerti.”
Benar juga, gumam Qaisha menatap. “Tabra, kuda-kuda itu adalah penopang tubuh agar tidak goyah, seperti ini.”
Qaisha melakukan gerakan contoh. Tabra memperhatikan serius, langsung mencobanya. Satu kali gagal. Dua kali gagal. Tiga kali tetap gagal, tak berputus asa.
“Baiklah, aku akan mencobanya lagi, lagi dan lagi!” Tabra menjawab sambil terus berusaha memperkuat pijakannya.
Qaisha memperhatikan. Hingga ke sepuluh kalinya Tabra mencoba dan sekarang pun berhasil mulai terbiasa.
Bahkan sekarang pijakannya sudah diperkuat. Secara perlahan Tabra kembali mengayunkan pedang di tengah dahsyatnya goyangan kapal. Pijakan Tabra sekarang kukuh. Sedahsyat yang dibilang sepertinya tak akan membuatnya kewalahan, sekarang mulai terbiasa.
Qaisha masih memperhatikan. “Sepertinya Tabra mulai terbiasa dengan latihan yang kuberikan. Ini bagus, ternyata dia juga punya talenta dan tidak butuh waktu lama baginya untuk mencerna apa yang kuarahkan.”
Qaisha bergumam senang. Kakak beradik itu sekarang jika dilihat lebih saksama. Maka gerakan dan latihan mereka berdua sudah membaik. Sekarang Qaisha menatap ke arah Akma Jaya. Menghampiri dengan gaya tangan dilipat ke belakang.
Akma Jaya masih berada di sana. Mengayunkan pedang. Berusaha terus dan terus berusaha.
Akma Jaya kesulitan dalam latihannya. Qaisha berteriak keras. “Akma Jaya, tetaplah berusaha dan pertahankan gerakanmu. Ikutilah aliran air yang berada di sekitarmu!”
Akma Jaya mencoba arahan yang diberikan Qaisha. Perlahan pasti dia mulai menguasai gerakan dan mengikuti aliran air yang berada di sekitarnya.
Akan tetapi, tetap saja pernapasan Akma Jaya terbatas, sejenak naik ke permulaan untuk mengambil napas kemudian kembali melanjutkan latihannya di dalam air.
Qaisha terus memperhatikan latihan Akma Jaya dan memberikan beberapa arahan, Akma Jaya pun berusaha mencerna dan melakukan apa pun yang Qaisha arahkan.
Perlahan pasti Akma Jaya mulai terbiasa dengan latihannya, sekarang dia juga bisa menahan napas lebih lama dari biasanya. Kemajuan latihan mereka bertiga cukup membuat Qaisha berdecak kagum.
“Mereka bertiga ini ternyata memang berbakat. Dalam waktu dua hari saja sudah bisa menguasai latihan dengan cepat, ternyata waktuku tidak terbuang sia-sia!”
Qaisha menggumam, menatap mereka yang berhasil berlatih dengan metode latihan yang semula diberikannya.
Setelah beberapa saat kemudian. Altha menghampiri Qaisha. “Apa kau sudah puas melihat kemajuan mereka, Qaisha?” Altha bertanya dengan wajah semringah.
“Altha, aku sangat puas—aku benar-benar senang melihat kemajuan mereka. Memang, kuakui apa yang kulihat sepertinya mereka ini memiliki bakat. Dengan itu mereka bisa mencerna arahan yang kuberikan serta menjalankannya dalam waktu singkat.”
Qaisha sejenak menatap daun kelapa yang melambai. “Dulu aku mengira—aku akan pensiun menjadi seorang guru. Tidak, ternyata tidak hari ini, bahkan aku menyaksikannya sendiri. Ketiga murid baruku telah berhasil dalam waktu singkat.”
“Altha, aku ingin berterima kasih padamu hari ini karena kaulah yang membawaku kemari dengan itu aku bisa menjadi guru bagi mereka yang begitu terampil.”
“Ah, lupakan itu—bukankah saatnya waktu sekarang makan siang? Kalian sudah dari pagi tidak makan.” Altha mengalihkan topik.
Tersenyum dengan elusan jenggot. “Jangan terlalu sibuk dengan latihan ini. Kau tahu sendiri mereka yang dapat mencernanya dengan mudah. Jadi, kuharap latihannya dibawa santai saja.”
Sejenak bercanda. Qaisha hanya menipiskan bibir. “Aku pun merasa begitu. Latihan bagi mereka tidak perlu berat-berat. Sesuai dengan kadar kemampuan yang memang harus dilatih.”
“Baiklah, sepertinya ini sekarang saatnya makan siang. Latihan kali ini juga sepertinya sudah cukup dan akan sampai di sini saja.” Qaisha menjawab sambil mengangguk.
Qaisha berseru kepada mereka untuk menghentikan latihan. “Kalian semua. Latihan hari ini cukup sampai disini, waktunya kita untuk istirahat!”
Mereka bertiga mendengar senang. Apa yang dikatakan Qaisha seperti semilir angin. Sejuk dan syukurlah.
Setelah ucapan Qaisha. Altha mengajak mereka semua makan siang bersama. Tabra bersorak senang, lompat dari kapal.
Mereka tertawa-tawa penuh gembira.
“Ahh ... capek sekali, bagaimana dengan latihan kalian berdua?” Tabra usai tertawa tawa. Mengeluh karena latihannya membuat dia kelelahan. Kemudian bertanya kepada Akma Jaya dan Aisha tentang latihan mereka berdua.
“Aku juga sama denganmu, tetapi latihanku ada sedikit kemajuan!” jawab Akma Jaya. Seruan dengan nada semangat. Tangannya mengepal genggam. Tersenyum hangat.
Aisha juga ikut menjelaskan. “Kalau latihanku sedikit rumit, berbeda dengan kalian. Kalian tahu mataku sakit karena terlalu fokus dengan sasaran pistol, sedangkan buah kelapa yang menjadi sasaranku itu gugur dengan cepat dan aku harus menembaknya, beberapa kali gagal seakan aku ingin menyerah.”
Kalimat penjelasan itu cukup panjang lebar diucapkannya. Satu demi satu dijabarkan dengan kokoh kuat dan percaya diri.
“Jika dipikirkan kalau soal itu. Oh, ya mengapa latihan kita bertiga bisa berbeda ya?” tanya Tabra kepada mereka.
Keputusan dalam perkara itu latihan yang dilakukannya cukup menantang jiwa dan raganya. Penuh gejolak perasaan.
Sementara itu, Qaisha yang berjalan di depan sana sedikit mendengar pembicaraan mereka.
Qaisha pun tersenyum miring dengan apa yang didengarnya.
Mereka bertiga masih saja berbicara. “Tidak tahu juga kenapa. Jangan pedulikan hal itu, Tabra. Apa yang terpenting saat ini adalah kita harus berlatih dengan giat!” Aisha menjawab pertanyaan Tabra, sedangkan Akma Jaya tampak diam dengan semua itu.
“Yosshh ... kita bertiga pasti akan bisa melewati latihan ini!” Tabra merangkul bahu mereka berdua dengan senyumannya yang tampak melebar, luas seluas lautan.
“Tabraaa, ayolah, lepaskan rangkulanmu! Leherku terkecik!” Akma Jaya meronta.
Begitu pun dengan Aisha. Keduanya sama saja, “I–iya, Tabra. Lepaskanlah rangkulanmu, leherku juga!” Mereka berdua berwajah datar karena ulah Tabra yang tak kunjung melepaskan rangkulannya.
“Biarkan saja, kalian berdua harus terbiasa dengan sikapku!” jawab Tabra terus menerus merangkul mereka, sedangkan Altha dan Qaisha berjalan jauh di depan mereka.
__ADS_1