
Angin bertiup sedikit kencang, berdesir disela-sela ucapan yang terlontarkan. Kapten Riyuta baru saja mengucapkan sesuatu.
"Riyuta, apakah kau yakin dan rela untuk bersumpah, setelah aku mengucapkan sumpah apa yang akan kau ucapkan?" Akma Jaya sedikit berucap, sebelumnya dia menuturkan kalimat tanya.
"Mengapa kau tidak menuturkannya? Jangan membuang waktu dengan ucapan omong kosong." Kapten Riyuta sedikit menjawab, sebelumnya dia menuturkan kalimat balik bertanya.
"Adakah kau menyadari satu hal?" Akma Jaya kembali bertanya.
"Apakah kau tidak menyimak perkataanku? Jangan membuang waktu dengan ucapan omong kosong." Kapten Riyuta sedikit mengulangi, sebelumnya dia menuturkan kalimat balik bertanya.
Akma Jaya menatap. "Riyuta, hentikan semua ini, kelak saat badan ini beku, terkapar di dalam tanah—"
"Omong kosong!" Kapten Riyuta hampir-hampir kepanasan, dia tidak sudi mendengarkan apa yang diucapkan Akma Jaya. Bahkan, memotong cepat dengan kata kosong seperti tong tak berisi.
"Berhenti bicara, cobalah sedikit saja kau dengarkan—" Tabra kesal.
"Tabraaaa!" Akma Jaya menghentikan ucapannya.
Akma Jaya mendelik penuh. "Riyuta, bersumpahlah untuk berhenti, berlepas diri dari jabatan kapten bajak laut, kembali menjadi rakyat!" Akma Jaya mengatakan ucapan.
Kapten Riyuta berdecak kesal. "Lagi-lagi kau berucap omong kosong, aku menolak sumpah yang kau berikan, apakah kau buta?" Pedang tajam terhunus, terlihat permukaannya mengkilat terkena sinar matahari.
Tak lama dari itu, cakrawala sedikit berubah mendung, awan bercorak hitam menggeremet, perlahan ia menutupi sinar matahari.
"Kau berkata seakan kau adalah penguasa alam semesta, nyatanya kau adalah sebutir debu yang sangat mudah untuk kulenyapkan!" Kapten Riyuta melanjutkan ucapan.
Dia melancarkan serangan. Untung saja, Akma Jaya dalam posisi siap bersedia untuk menangkis serangannya.
Tepat di bawah menara, kerumunan menyaksikan pertarungan mereka, dugaan yang mereka duga-duga adalah benar, tentang pedang yang saling tebas di pandangan mata mereka, menyaksikan penuh suasana dramatis.
"Whoooo!"
"Mereka bertarung!"
Bermacam gaya, sorak-sorakan tertuju suara mereka untuk mendukung kemenangan Kapten Riyuta.
Di atas puncak menara, Kapten Riyuta tersenyum puas. "Apakah kau mendengarnya, aku adalah kapten terpandang, sedangkan kau hanya sebutir debu, maka dari itu lenyaplah!" Kapten Riyuta terus mengoceh, Akma Jaya menyimak, menangkis serangannya.
Masing-masing di antara mereka saling melontarkan serangan, Kapten Riyuta menghirup napas, menghindari tebasan Akma Jaya dengan cara meloncat mundur.
"Kau termasuk orang yang mempunyai kemampuan." Kapten Riyuta memuji untuk meroket, Akma Jaya tersenyum tipis.
__ADS_1
"Riyuta, kau perlu lebih banyak berlatih untuk bisa menandingiku!" Akma Jaya berseru bangga—sedikit sombong–penuh senyuman yang membuat kekesalan Kapten Riyuta bertambah-tambah, tak bisa dia tahan.
"Berani sekali, kau berlagak, berbangga dengan kemampuan yang kau ucap adalah dusta, makhluk rendahan!" Kapten Riyuta menampakkan kekesalan.
"Kemampuanku yang sebenarnya, belum aku tunjukkan!" Lanjut Kapten Riyuta berucap bangga–sombong terlewat batas.
Tabra memajukan dirinya. "Kapten, jika demikian, alangkah baiknya kita berdua menyatukan kekuatan untuk menghabisinya." Tabra berucap, berada tepat di hadapan Akma Jaya.
Kapten Riyuta terkekeh. "Dua orang melawan satu orang, apakah itu adil? Kalian lebih baik mati!" Ucapannya dipenuhi gelak tawa yang merendahkan.
"Tabra, biarkan aku saja yang menghadapinya." Akma Jaya berucap mengambil keputusan.
Tabra penuh cemas. "Apakah Anda yakin?" Dia bertanya memastikan keputusan yang diambil oleh Akma Jaya.
"Aku selalu yakin, apa pun yang sudah ada di hadapanku, entah nyawa ini akan melayang atau tidak, itu adalah takdir yang tak bisa kuketahui, menjalani arus, memilih celah-celah bebatuan yang runcing, aku menghindari untuk menyelamatkan diri, tapi aku tidak mengetahui apakah diri ini akan selamat atau tidak."
"Aku hanya berusaha, biasa saja aku selamat dari bebatuan runcing, tapi tertusuk oleh ranting." Akma Jaya mengatakan panjang lebar.
Tabra mengangguk.
"Baiklah, Kapten."
Akma Jaya bersegera maju, melangkahkan kaki, sedangkan Tabra tetap pada posisinya yang berdiam, tadinya dia berada di depan, sekarang dia berada di belakang Akma Jaya.
"Apakah kau tidak berpikir? Bangsa manusia mempunyai akal, pandai dalam berpikir, gunakan akal pikiran untuk memikirkan, betapa takdir itu tidak pernah ada, menentukan hidup adalah pilihan bukan takdir." Kapten Riyuta membantah.
"Jika kau diberi pilihan mengarungi lautan yang dipenuhi hiu serta kraken atau mengarungi lautan penuh kedamaian, kau memilih rute pelayaran menurut apa yang kau pikirkan." Lanjutnya berucap. Akma Jaya berdiam.
"Jika kau bodoh. Kau memilih rute pelayaran yang dipenuhi hiu serta kraken. Dan, kau mati di tempat tersebut, Apa itu yang disebut takdir?" Kapten Riyuta mengatakan argumen tentang ketidakpercayaan dirinya mengenai takdir.
Akma Jaya mengangguk, memaklumi.
"Satu hal, Riyuta. Setiap orang berbeda, aku menyakini takdir itu memang ada, contoh yang kau sebutkan, bagiku itu salah, aku menduga kau sudah salah dalam mengartikan takdir!" Akma Jaya menjawab.
"Riyuta, salah satu contoh, pertemuan kita adalah bentuk takdir, entah pada kemudian hari, aku akan bertemu denganmu atau tidak, jika hari ini adalah hari kematianku, aku menerima semua itu."
"Bodoh!" Kapten Riyuta berucap lantang.
Pembahasan yang panjang, penolakan dari keduanya membuat mereka berhenti bertarung. Kerumunan di bawah tampak kecewa.
"Tentu, Riyuta. Di kala ada tebasan pedang, kau perlu menghindarinya, jika kau membiarkan tubuhmu terkena tebasan, itu takdir karena kau bodoh, tidak menggunakan akalmu, takdir dijalani dengan akal pikiran, bisa berupa luka yang menyakitkan, jika kau tidak menggunakan akal pikiran."
__ADS_1
Akma Jaya tersenyum manis. "Sebenarnya kau hanyalah seorang yang baru beranjak dewasa, belum banyak mengerti tentang sebuah nyawa, kau berucap ingin membunuh, tetapi pernahkah dalam hidupmu membunuh seseorang?" Akma Jaya bertanya setelah banyak berucap.
Kapten Riyuta menunjukkan wajah serius. "Dalam hidupku, dalam usia kurang dari dua puluh tahun, aku sudah menyiksa seratus orang anak buah, membunuh tiga orang kapten, aku terlahir dengan bakat dan kemampuan di atas orang biasa," jawab Kapten Riyuta mengakui kehebatannya.
"Bahkan, ayahku seorang kapten yang gagah perkasa, dia menguasai daratan serta pulau-pulau, wilayah kekuasan melebihi dari siapa pun."
"Dia menyerahkan kepimpinannya tepat saat aku berusia dua puluh tahun, kutanya apakah kau mempunyai riwayat hidup sepertiku?"
"Kalau kau tak mempunyainya, kau tak pantas berbicara lancang di hadapanku!"
Setelah mendengarnya, Akma Jaya mengakui kemampuan serta kekuasaan yang dimiliki Kapten Riyuta. Dia mengangguk pelan.
Kapten Riyuta memacu larinya, memelesat dengan gerakan yang gopoh bercampur hawa membunuh.
Pedang ditebaskan, Akma Jaya meloncat–mundur.
"Riyuta, kau terburu-buru," ucap Akma Jaya singkat.
"Omong kosong!" Kapten Riyuta berteriak lantang, telinganya memerah padam.
Akma Jaya mengernyit heran, melihat telinga Kapten Riyuta yang memerah.
"Kenapa? Apa kau tidak pernah mendengar gelarku?" Kapten Riyuta melontarkan pertanyaan.
Akma Jaya menggeleng. "Aku baru tiba, aku tidak mengenalmu."
"Kau mampir ke sebuah wilayah, tetapi tidak mengetahui detailnya, menyedihkan!" Kapten Riyuta tertawa sinis.
"Di wilayah Aimaina, aku diberi gelar si telinga Babilon Sus Scrofa Domesticus. (Ba.susodo), kau tidak mengetahuinya? Sungguh menyedihkan!" Kapten Riyuta berujar keras.
Akma Jaya tersenyum santai.
"Wilayah Aimaina berbeda dengan wilayah Nanaina, bagaimana mungkin aku mengetahuinya, pantas saja tidak pernah terdengar olehku di wilayah Nanaina ada orang sepertimu!"
Akma Jaya mengucapkan fakta. Di mana sebelumnya Kapten Riyuta menghinanya karena memasuki wilayah, tetapi tidak mengetahui detailnya, sedangkan wilayah Aimaina adalah wilayah tetangga.
"Cih, alasan!"
"Perlu kau tahu, aku dikenal di tiga penjuru wilayah, setiap orang yang berlayar menuju ke wilayah ini, mereka sudah mengetahui namaku, bahkan saat berjumpa denganku, mereka gemetar penuh ketakutan!" Kapten Riyuta menjelaskan.
Akma Jaya mengangguk, dia menerima ujaran berlapang dada, tidak menyahut dengan cara yang sama.
__ADS_1
"Apakah kau bisa jelaskan alasan di balik gelarmu?" Lanjut Akma Jaya bertanya.
"Jika aku aku marah, telingaku akan memerah, itu ciri khas dariku!" Kapten Riyuta menjawab lugas, tidak bertele-tele.