
Cerita Aswa Daula kini terhenti di pagi itu. Kata mereka itu cerita yang membosankan. Ya, tidak apa-apa. Bagi Aswa Daula dirinya memang tidak pandai bercerita, dia juga mengakui akan bagaimana keadaan dirinya. Yang katanya tidak perlu topeng untuk menceritakan hal yang seru.
Aswa Daula sadar diri, siapa diri itu sebenarnya. “Yeah, kalian memang benar, aku tidak pandai bercerita, persis seperti yang kalian katakan. Malah yang ada cerita seperti itu bisa merusak kebersamaan kita di pagi hari ini.”
Berbeda dengan Jalbia tengah berada di buritan kapal tampak melamun akan lamunan yang dalam, semakin dalam lamunan itu. Entah apa yang ada di benaknya kini. Glosia mengetahui dunia temannya itu sedang terluka. Selaku teman karib yang dekat. Glosia menghampiri dengan maksud menghibur Jalbia di sana. Yang terlihat patah hati.
“Kau sedang apa, Jalbia?” Pagi itu memulai sapaan ramah seperti biasanya. Seorang Glosia bertanya.
“Sedang menikmati cuaca. Menurutmu apa lagi?” Jalbia cukup menjawab dengan suara biasa saja.
Matanya fokus menatap laut. Indah, terlihat laut itu di benaknya. Perumpamaan laut yang baginya seperti bulir mata si mantan yang mengingatkannya akan sebuah cinta di masa lalu antara dia dan gadis desa.
Menurutmu apalagi? Glosia, kau terlalu memandang dengan sangka perasangka yang menduga.
“Oh, begitu. Rupanya antara kau dan aku punya sisi berbeda dengan apa yang ada di benakku. Baru saja aku melihatmu dan menurutku kau lagi, lagi dan lagi mengalami patah hati. Kau tampak melamun seperti memikirkan sesuatu. Kalau ada masalah, kau bisa bercerita denganku, Jalbia. Tidak usah menyimpannya sendiri dan tak perlu sungkan.” Glosia mengeluarkan seluruh isi benaknya ke permukaan akan sebuah maksud dan arti yang selama itu ada di dalam hatinya.
Hatinya yang punya rasa iba. Tidak tega melihat teman karibnya menggalau sendirian. Dia mau menjadi lautan tempat di mana Jalbia bisa menumpahkan segala emosi itu kepadanya.
Jalbia kini tertawa. “Kau bercanda. Patah hati di masa lalu yang kau maksud itu sudah sembuh total dariku, sama sekali aku tidak menderita. Ini hanyalah tentang ketenangan hari ini memandang cahaya pagi. Glosia, jangan kau sering mengatakan tentang bagaimana patah hati pernah membuatku galau. Dalam hidup yang tak lagi sama. Itu hanya perkara dulu yang sudah berlalu, bukan sekarang.”
“Sekarang, keadaan kita sudah berbeda.” Jalbia menerangkan apa yang tengah dilakukan. Patah hati?
Itu semua cukuplah dikubur dalam lautan. Dia mengisyaratkan dengan jari telunjuk ke arah laut dengan majaz dan hendak melantunkan syair. Tapi, dia tegah karena sadar suaranya tidak bagus, nanti yang ada rusak pula kebersamaan mereka di pagi itu.
“Ya, mengenai itu kau ada benarnya, Jalbia. Mengenai patah hati menurutku sudah menjadi bumbu dalam hidup yang kuyakin se-per-sekian persen manusia lainnya juga pernah mengalaminya, kau tidak sendirian yang menderita penyakit itu. Sesakit apa pun rasa itu, Jalbia. Kau kuakui memang hebat dan tetap menjadi seorang teman baikku yang selalu tampak gembira. Tak pernah kutahu kau menyimpan rasa sakit usai melihat wanita yang kau cintai, malah menikah dengan orang lain. Hari itu cukup melelahkan bagimu, teman. Baru kemarin rasanya aku melihatmu galau.” Glosia to the point.
Jalbia malah mengelak. “Aku tidak galau, Glosia. Kau tahu itu hanya karena aku mengingat tanggal pernikahannya. Saat itu aku hanya merenunginya dan hanya untuk hari itu. Adapun hari ini aku sudah bisa meredam semua kejadian dan bayang-bayangnya, bahkan bagiku sekarang aku sudah mampu melupakan bagaimana rasa sakitnya. Untuk apa galau, apalagi suasana masih pagi.” Jalbia menjelaskan cukup panjang. Dia tertawa di akhirnya.
“Kalau kau ingin bercerita dan berbagi rasa sakit denganku hari ini, tidak sekarang waktunya. Kau tahu ini masih pagi, sekarang waktunya adalah saat yang tepat untuk menikmati waktu pagi ini dengan mengucapkan kalimat syukur. Kalimat terima kasih untuk hari ini kita bisa menatap hidup yang lebih nyaman dari hanya hidup sekadar tinggal di daratan. Pelayaran ini seperti tentang masa lalu dan bagaimana kita melewatinya.” Jalbia lanjut bicara menerangkan hikayat lama. Ekspresinya agak berbeda dari biasanya. Raut wajah itu tidaklah galau yang seperti dikira Glosia, sama sekali tidak galau.
Pagi ini, hal yang sering dilakukan pelaut seperti mereka memanglah menikmati aroma angin dan merasakan bagaimana hawa pelayaran yang teramat damai itu. Lihatlah, lautan ini sekali lagi, teman.
Lautan ini bersih. Biru cahaya airnya persis seperti warna langit di pagi ini yang seolah-olah memberi kabar gembira kepada mereka di sana.
“Aku ingin mengucapkan terima kasihku kepadamu, Glosia. Sepertinya selaku temanku kau selalu mengkhawatirkan keadaanku. Kalau kau bertanya bagaimana keadaanku sekarang, tentulah aku baik-baik saja.” Jalbia melanjutkan bicara.
Glosia hanya nyengir dan mengatakan. “Terima kasih kembali, Jalbia. Kau satu-satunya temanku di kelompok ini yang bisa kupercaya berbagi cerita.”
Kalimat terima kasih mereka saling bersambut. Kasih diterima, lemparkan lagi kasih itu lantas diterima.
Terima kasih atas segala apa yang ada. Terima kasih atas segala yang kau adakan dalam kebersamaan.
Terima kasih dan terima kasih banyak yang melimpah. Limpahan kasih saling diterima. Kedua teman itu kini di buritan kapal menatap cahaya pagi.
__ADS_1
Matahari di langit sana dengan cahaya yang terlihat damai. Hati ini dengan kekosongan dari hawa kesedihan membawa rasa tentram. Setenang pagi ini, sedamai pagi ini, senyaman pagi ini.
Terima kasih atas segala yang kau berikan dalam lantunan syair yang sengaja engkau sembunyikan. Begitu katanya dalam uraian, tak ingin dilantunkan.
***
Pagi itu, Tabra berjalan-jalan di geladak kapal tak sengaja menatap perkumpulan Aswa Daula yang usai di sana bercerita tentang masa lalu antara dia dan masa lalu Kapten Zaiya bertempur di laut Farida. Tabra melihat dan perlahan menghampiri.
“Ekheem. Sedang apa kalian berkumpul di sini, seperti tengah membicarakan sesuatu yang amat penting saja.” Tabra ikut nimbrung duduk bersila.
Mereka semua menatap Tabra. Salah seorang memberi tanggapan akan itu dengan tertawa. “Kami sedang bersantai di pagi ini. Kau sendiri tahu tentang ini, seperti kue lapis yang dicampur donat dan krim pasta yang bentuknya oval di kedua ujungnya pisang.”
“Astaga.”
“Gurauanmu sungguh tidak lucu.”
“Tertawa saja, tidak akan membuatmu sakit perut.”
“Siapa yang akan tertawa mendengar lawakan tidak lucu seperti itu. Kulihat hanya kalian saja yang menyukainya dan bisa tertawa saat mendengarnya. Ya, aku sepertinya terlalu ikut campur dalam hal ini.”
Tabra bertingkah sok elite di hadapan mereka. Gaya yang ditampakkan seperti tengah berada di alam ghaib. Dengan nada-nada absurd dikeluarkan.
Padahal, dia juga sering menuturkan lawakan konyol yang sejatinya tidak lucu. Mereka kini menertawakan Tabra. Aswa Daula hanya tersenyum saja, dia juga padahal hendak tertawa cuma dia tahan.
“Astaga. Jangan sembarang menyebut tentang seseorang. Kau katakan Raja Hurmosa itu munafik, darimana kau dapat buktinya kalau hanya menuduh saja itu semua tidak bisa dijadikan alasan kau berani menyebut seseorang berbuat munafik.”
“Ini hasil pengamatanku saja.” Tabra menjawab ringkas. Dengan pengamatan yang tentu berdasar baginya. Amat aneh, dia tidak percaya dengan pertemuan hari itu yang membuatnya tidak percaya.
Adalah dibalik senyum Raja Hurmosa yang terlihat menyembunyikan sesuatu. Wajar saja, mereka adalah buronan selama hampir puluhan tahun. Kemana saja mereka selama ini, ke segala teluk dan pulau yang tak berpenghuni menjadi tempat pelarian selama puluhan tahun. Tidak ada misi, tidak ada apa-apa.
“Kau buruk sangka hanya dari penglihatan saja. Eh, kau tahu mata bisa salah melihat. Otakmu kotor memandang orang lain dengan sebelah mata seperti itu.” Salah seorang bicara ketus.
“Ya, sudahlah. Aku mau ke atas layar. Melihat latihan Kalboza. Kalian lebih baik berlatih saja, daripada berdiam diri dan tidak berbuat apa-apa.” Tabra beranjak berdiri sambil menuturkan apa yang hendak dia katakan. Dia tidak ingin menjelaskan banyak hal.
Tentang puisi yang hendak dia katakan tertegah dari waktu kemarin sore. Tentang perut lapar apalagi.
“Ya, ya, ya. Kau berlatihlah yang rajin dan teruskan latihan itu. Kami hendak bersantai dulu.”
Tabra tak kisah apa lagi yang mereka tuturkan usai itu. Entah apa yang membuat mereka menjadi seperti itu? Tabra menggumam di batinnya memperhatikan tawa yang semakin nyaring. Mungkin, mereka sedang mabuk laut atau terlalu banyak minum.
Dia menghela napas dan berkata, “Ingin rasanya kubuang mereka ke laut. Heeh, tidak mungkin.”
Kepalanya beredar ke atas layar usai mengatakan hal demikian. Menatap Kalboza di sana berlatih dengan riang gembira wajahnya mengembang kempes. Bukan main, bukan pula riang gembira, maksudnya gagah perkasa. Eh, atau apalah itu namanya—Author kekurangan kata dalam hal mendeskripsikannya.
__ADS_1
“Hahaha.. kau dengar si Tabra tadi dia itu terlalu buruk sangka terhadap orang lain.” Salah seorang berniat melakukan ghibah di sana.
Aswa Daula lantas bertindak. “Hal itu cukuplah menjadi perkara yang sudah lewat. Di sisi positifnya Tabra punya alasan yang menjadikan semua itu sebagai sikap kewaspadaan di dalam dirinya, bukan berarti dia buruk sangka akan sangkaan yang jahat. Akan tetapi, dia hanya khawatir. Lihatlah bagaimana sikapnya dan latihannya selama ini, dia terus berlatih hanya untuk melindungi kelompok ini.”
Dia menghela napas. “Di antara perkataan kadang di sana ada terdapat kesalahan. Entahlah, aku juga tidak ingin terlalu ikut mencampurinya.”
Itulah perbincangan mereka. Tabra sudah tidak di sana. Dia berteriak. “Hei, Kalboza. Berapa lama kau ingin terus berlatih di atas sana?”
“Kau mau apa, Tabra? Pernyataanmu sedikit ambigu dan sulit kupahami.” Kalboza balas berteriak.
Kalau tidak berteriak tidak akan terdengar. Tabra kembali berteriak menjelaskan, “Maksudku santai saja, ini masih pagi. Turunlah dan beristirahat.”
Bagi Kalboza kata-kata itu semakin ambigu. Dia tidak bisa mengerti bagaimana pagi bisa membuat orang bersantai, bagaimana pagi bisa membuat orang beristirahat. Justru bagi Kalboza pagi adalah tempatnya untuk melakukan hal-hal hebat, membakar kalori dalam tubuh dan berolahraga.
Nanti saja membahas tentang itu. Lihatlah, perkumpulan Aswa Daula di sana. Yang lainnya memang menganggap apa yang diceritakan Aswa Daula itu memang membosankan, cerita yang tak bisa dirasakan oleh mereka bagaimana kharisma Kapten Zaiya.
Akan tetapi, usai beberapa perbincangan mereka satu per-satu mengucapkan kalimat terima kasih. Banyak kasih dilimpah dan diterima. Pagi ini, pagi ini kita berterima kasih atas apa yang telah dilakukan seseorang. Entah itu baik atau buruk, terima kasih.
“Kalau saja kau tumpahkan tinta ke lautan lepas. Lantas tinta itu kau ambil kembali. Apa bisa kau meraup semua tinta itu ke dalam wadah kembali?”
“Katamu membingungkan, Aswa.” Salah seorang menggaruk kepala. Seperti mendapatkan rasa gatal yang menganggu pagi hari ini, dia menggaruknya.
“Tinta itu bagiku adalah cerita yang tadi kuceritakan. Lautan lepas bagiku bisa kujelaskan adalah kalian bertiga yang mengharapkan sesuatu yang besar. Sesuatu yang melebihi apa yang telah kuceritakan. Bagaimanalah mungkin tinta itu memenuhi lautan, malah akan hilang dan tidak akan dianggap. Meraupnya ke dalam wadah tanpa bercampur air juga suatu hal yang kurasa tidak mungkin. Wadah dalam hal ini adalah benak kalian. Ceritaku tidak bisa membuat kalian merasakan hal yang seru, bahkan memang membosankan seperti yang kalian maksud.”
Mereka bertiga mangut-mangut kini tahu artinya. Mereka tidak pernah menyangka Aswa Daula tersinggung ceritanya dikatakan membosankan.
“Perumpamaan itu maksudku untuk apa kalian berterima kasih, bukankah ceritaku membosankan?”
Alamak! Mereka bertiga kompak merasa bersalah usai mendengar penuturan Aswa Daula akan hal itu.
“Maafkan kesalahan kami, Aswa. Kami hanya ingin berterima kasih kepadamu atas apa yang telah kau ceritakan. Mau seberapa membosankan cerita itu dan walau bagaimanapun, kau telah meluangkan waktu menyampaikan cerita itu kepada kami dan kami amat berterima kasih kau telah menceritakannya.”
“Benar, kami berterima kasih pagi ini, kau telah bercerita. Eh, salah. Seperti katamu pagi ini, kita bercerita.”
Hendak ngelawak. Aswa Daula cukup tertawa pelan.
Kalimat terima kasih itu disambut Aswa Daula usai mengetahui alasannya dari mereka. Terima kasih untuk waktu yang telah diberikannya kepada kami. Bercerita walau membosankan itu bagi mereka tidak apa, yang penting adalah kebersamaan yang sekarang mereka rasakan.
Terima kasih yang bagaikan hujan, mencurahkan hati dengan limpahan kasih di pagi ini. Pagi yang indah.
Pagi yang diucapkan kalimat terima kasih. Terima kasih, pagi ini kau bercerita. Eh, katanya begitu terima kasih yang sama dalam hari mereka. Terima kasih yang di dalamnya usai itu bergembira bersama.
Hanya Kalboza yang masih bingung dengan kalimat yang diucapkan Tabra. Nasi itu belum juga menjadi bubur, nanti akan dibahas pada kesempatan yang mungkin besok lusa akan libur. Terima kasih.
__ADS_1