Bajak Laut Hitam

Bajak Laut Hitam
CH. 101 – The Story Of Atlana: Dalam


__ADS_3

Di kala itu, gelak tawa yang semula terkeluar, kini sembunyi dengan hening seakan pecah suasana, deru angin melambung di dalam pikiran, bersatu dalam kelipatan dua dikali dua, lantas dibagi dua dan seterusnya. Seseorang yang tadinya menaiki menara, dia telah mencapai puncaknya. Di mana dia melihat detail kerusakan. Parah sekali.


Ke tujuh bola lampu, semuanya pecah, tidak ada yang tersisa, di dalam benak pikirannya sekilas ucapan mengatakan bisa untuk diperbaiki, tetapi tak lama, dia melihat inti menara, benda keramat yang begitu dibanggakan, bahkan diagungkan, tidak ada di tempatnya, hilang entah kemana.


"Apa? Ti—tidak mungkin?" Dia berucap tidak percaya melihat semua itu. Kosong melompong sudah, perkaranya hilang seperti tenggelam di dasar lautan kosong, tak ada apa-apa lagi di sana.


Tangannya mengepal, pikirannya kacau.


"Biadab!" Teriakan lantang terucap, bagaimana saat itu perasaan, tidak bisa dijelaskan. Ini lebih sulit dari apa yang dipandang mata, lebih berat dari segudang beban atau apalah yang nyaman tuk diumpamakan.


Tepat di bawah menara, seseorang yang tadi berkenalan dengan Kapten Atlana, dia menyebut dirinya 'Katak Dalam Tempurung' dan memang itulah namanya, dia menunjukkan gaya pongah.


"Atlana, bagaimana jika kita bertarung?" pintanya percaya diri seolah-olah menawarkan roti kering tuk berubah menjadi serbuk-serbuk tak bersisa.


Dia cukup berani berucap demikian, meminta dirinya tuk bertarung, mungkin pongah melambung tinggi ke awan atau sebatas ucapan tanpa ada pembandingan.


Kapten Atlana cukup menggeleng. "Kau tidak pantas," ucapnya tenang tak panjang lebar, ucapannya menusuk ke dalam, lalu kembali berucap, "Apakah kau pernah sejenak tuk berpikir mengenai jabatanmu, apa kemampuan yang kau miliki, sungguh kesombongan telah membutakan pandangan matamu, jika kau mendongak ke arah cakrawala, di mana langit membubung tinggi, tak sampai di situ, merenunglah, engkau akan melihatnya nyata tanpa dusta, terkecuali engkau mengingkarinya."


"Jika kau pernah berpikir, gunakanlah pemikiran sebagai jendela kehidupan. Dunia ini tercipta dengan penuh perumpaman, pemikiran yang dapat diambil pelajaran, betapa kesombongan tidak pantas bagi orang sepertimu!"


Kapten Atlana mendramatisir, sedikit mengenai ucapannya tertampak sangar. Namun, orang yang mendengar geleng-geleng kepala. Ada ketidaknyambungan antara ucapan dan perbuatan.


Ketika seseorang berucap, orang lain memandang sisi balik dari sang pembuat kata, tidak serta merta soal hikmah, tetapi lebih dari itu, sesuatu yang ada dan dia pun melakukan hal demikian, perbuatan sesuai dengan apa yang dia katakan.


Kapten Atlana menipiskan bibir. "Bahkan, seseorang hidup menempuh pelayaran, jauh berlayar mengarungi lautan, melalui ombak besar, dia banyak mengambil hikmah dari pelayaran, bukan sekadar berlayar tanpa arah tujuan, melainkan ada beberapa butiran renungan yang terpendam." Kapten Atlana melanjutkan ucapan, sedangkan Katak Dalam Tempurung berdiam, tak menjawab sepatah kata pun.

__ADS_1


Kala itu, banyak orang di sekeliling mereka memandang dan mendengarkan fokus.


Sementara, Ajadala tampak berjauh diri karena dari dulu hingga sekarang dia tidak menyukai kebiasaan Kapten Atlana, pada saat dia kesal sebuah tuturan kata akan berjatuhan begitu saja, terbuang berserakkan seolah-olah kertas yang tercetak secara ketikan cepat.


Namun, jauh sekali dari pemahaman orang lain, selisih paham atau paham salah. Di perputaran jam yang berlalu, bumi memiliki rotasi, ia berputar, di malam hari, suasana gelap, di belahan bumi sana, seseorang sedang terlelap, terbuai akan dunia mimpi nan nyaman.


Berbeda kondisi di Wilayah Nanaina, di sini mereka berwajah tegang dan fokus mendengarkan tuturan kata dari Kapten Atlana.


Mereka ingin membantah, tetapi apa daya tak berani, ingin beranjak pergi tak bisa karena ada sesuatu yang mereka tunggu.


Seseorang itu, dia yang menaiki menara tuk mengetahui detail kerusakannya, dialah yang mereka tunggu.


"Atlana, sudahi omong kosongmu!" jawab Katak bersuara pelan dengan senyuman sinis yang mengembang di wajahnya.


Seketika wajah Kapten Atlana berubah sangar, semakin sangar, bahkan tatapan matanya menajam penuh hawa dingin mencekam.


Padahal, Katak terdiam menyimak dan mengucapkan sesuai apa yang dia rasa, dipandangnya dari bentuk perbuatan. Dia cukup mengenal bagaimana karakter dari Kapten Atlana.


Semua itu baginya terbilang omong kosong, dalam sudut pandangnya, tepat di akhir kalimat, baginya kata itu terucap tidak baik.


Kehidupan berkembang dari waktu ke waktu, setiap manusia memiliki akal pikiran, hanya saja berbeda pemikiran, pandangan, renungan, semua itu tidak bisa dipaksakan dan menghina, jelas terpandang sedikit keterlaluan. Itulah sekilas sudut pandang Katak, tentu ada hal yang janggal di dalamnya.


Sementara, dalam sudut pandang Kapten Atlana, dia tidak menghina, sama sekali tidak. Justru Kataklah yang terlebih dahulu menyebut perkataan Kapten Atlana adalah sebuah omong kosong.


Jadi, asal masalah dari semua ini adalah Katak yang terlebih dahulu menghinanya.

__ADS_1


Lantas, seorang kapten gagah perkasa. Dia tak tinggal diam, seketika menepisnya dengan ucapan yang menggelegar. Keduanya mempunyai alasan kuat, tak bisa dibantah oleh siapa pun.


Katak hanya tersenyum. "Atlana, sejatinya aku sedang berpikir, apa yang kau katakan terbilang benar, tapi kau telah memutuskan suatu hal secara sepihak tanpa penjelasan utuh dariku." Dia berucap santai, raut wajahnya biasa, tak ada cela di sana. Yatama menatap bergeming, mereka berdua menunjukkan sorotan mata, saling pandang seraya mengangguk.


Dari itu, sepertinya ada sebuah kerja sama yang kuat antara Katak dan Yatama.


Kapten Atlana mendengus kesal. "Heh, penjelasan? Aku tidak butuh!" Kapten Atlana menjawab cepat tanpa bertele-tele.


Yatama tampak menyimak, tepat berada di belakang Katak. "Kadang, Atlana. Apa yang terucap begitu saja terdengar telinga, tetapi di lain hal dari itu, ada hal yang berbeda, tak bisa kau sebutkan tanpa ada keterangan lengkapnya!" Katak memperdalam ucapan.


"Keterangan lengkap dari semua itu ada di dalam bait syairku, bahkan lebih dalam. Jika kau mendengarkannya, dunia ini akan terasa tidak berarti lagi, semua kehidupan ini fana dan penuh tipu daya." Kapten Atlana menjelaskan sekilas pandang.


"Kau ingin aku melantunkan syair?" lanjut Kapten Atlana bertanya penuh kesal seperti sebuah tantangan yang akan disanggupinya dengan segenap kemampuan dan keyakinan.


Sesaat Katak terdiam, hening. Dari sorotan mata orang-orang pun tampak menyimak, tak ada kesan hebat atau mantap. Tidak, justru bagi mereka yang mengetahui jelas permasalahannya, terpandang tak penting karena ini hanyalah perdebatan mengenai kehebatan ucapan semata, tidak penting.


Akan tetapi, seru untuk didengarkan, disimak sembari menunggu orang itu turun dari ketinggian menara.


Sejenak lirikan mata mereka tertuju ke arah Asgaha yang tampak berbeda dari raut wajah lainnya. Entah apa, mungkin dia berbeda jenis dan bukan termasuk golongan bajak laut, melainkan hanya seorang penjual minuman di kedainya.


Minumannya juga kadang tidak terlalu laku, pembeli ada, hanya saja kurang peminatnya. Akan tetapi, di balik itu semua, dia enggan meninggalkan lapak begitu saja, menjalani keseharian dan hidup damai.


Alasan dan motivasi yang kuat hingga membuat dirinya memilih tuk menjual minuman adalah sekadar mengisi keseharian, waktu luang dan memenuhi kebutuhan selama itu ada.


Sementara, Ajadala dari kejauhan, sebelumnya dia perlahan menjauh, sekarang memandang sedikit santai ke arah mereka, tak tampak ekspresi takut.

__ADS_1


"Syair apa yang akan kau lantunkan?" Yatama bertanya sedikit kesal. Kali ini, Katak ikut menyimak.


Kapten Atlana tersenyum sinis. "Lupakan saja, aku telah kehilangan nafsu tuk bersyair, bahkan menatap kalian, aku merasakan akan muntah!" Kapten Atlana berucap keras dengan tangan mengepal.


__ADS_2