
Tabra tersenyum tipis seraya melirik dengan mata yang tak berkedip. Dia mulai menunjukkan ekspresi heran.
"Aisha, sebenarnya untuk apa kita membicarakan masa lalu?" Tabra melontarkan pertanyaan.
"Kenapa kau bertanya? Bukankah kau yang memulainya?" Aisha menyahut dengan suara yang nyaring.
Walau demikian, Tabra mendekatkan telinga, dia menggaruk kepala.
"Haaah, apa yang kau bilang? Aku tidak mendengarnya."
Tabra berusaha menahan tawa, kemungkinan dia bermaksud untuk bercanda.
Akan tetapi, sepertinya Aisha tidak ingin bercanda, dia pergi menjauh dari Tabra, tanpa sepatah kata, tak ada jawaban dan tanggapan, dia beranjak masuk ke dalam kapal, meninggalkan Tabra yang masih betah berdiam, bahkan berlama-lama memperhatikan Pulau Andaba.
Tabra melamun
Diam terpaku
Tidak bergerak
Membisu
Mematung
Segalanya
Tak lama, terdengar suara yang berkumandang, suara itu menerobos masuk ke lubang telinga.
"Tabraaa!" Akma Jaya berseru.
Tabra terkejut, tersentak lamunan, dia langsung bergegas menghampiri Akma Jaya, entah apa yang ada di benak pikirannya, jelas itu membingungkan, tetapi ekspresi menunjukkan, betapa nostagia berdatangan, seolah mencegahnya untuk jangan pergi dari Pulau Andaba.
Setelah Tabra memasuki kapal, mereka semua berlayar meninggalkan Pulau Andaba, layar kapal yang besar terbentang dengan lebar, angin itu berembus meniup layar, kapal itu melaju mengarungi lautan.
"Kapten, kemana arah tujuan yang akan kita tuju?" Tabra bertanya dengan sikap hormat.
"Kita akan pergi ke Desa Buana." Akma Jaya menunjukkan peta.
"Apa? Desa Buana?"
"Kapten, rumor yang beredar di Desa Buana itu cukup mengerikan."
"Beberapa orang yang berlayar ke Desa Buana, rumor itu mengatakan tak pernah ada yang kembali, ada yang mengatakan mereka sudah dibunuh atau disiksa habis-habisan."
"Itu hanyalah sebuah rumor, kita akan membuktikannya!" Akma Jaya memalingkan wajah kemudian beranjak pergi dari hadapan Tabra.
Di sisi kanan, Aisha berada. Tepatnya di samping Tabra, dia tersenyum.
"Tabra, kau tak perlu khawatir, jika ada bahaya jangan ragu meminta bantuan kepadaku." Aisha menepuk bahu Tabra.
Tabra mengangguk, mengiakannya, walaupun jelas Tabra mengetahui bahwa sang adik hanya berlagak berani, walhal Aisha belum pernah menemui yang namanya pertarungan.
***
Pelayaran mereka semua berjalan lancar hingga kapal itu berada di tengah lautan yang sunyi, tetapi tak disangka, benar tidak disangka, sebuah kapal terlihat dari kejauhan.
__ADS_1
"Kapten, kapal itu seperti mendekat ke arah kita."
"Benar, kapten. Kita harus bersiap siaga!"
Tanpa berbicara, Akma Jaya mengambil sebuah teropong, melihat dari kejauhan, sebuah kapal berlambang tengkorak dengan pedang berbalut darah yang menyilang di bawahnya. Dapat dilihat dari sebuah lambang, kapal itu adalah kapal bajak laut.
Berkesiur, angin membawa tiupan yang sedang, cuaca cerah dengan terik matahari di atas ubun-ubun, waktu tengah hari.
Perlahan kapal itu mendekat dengan jarak yang lumayan jauh kalau dipandang dengan kedua mata.
Akma Jaya beserta anak buah bersiap sedia menanti kedatangan mereka.
"Apa yang–"
BUUUM!
Perkataan Tabra langsung terpotong dengan suara dentuman meriam yang meluncur cepat, untung saja meriam itu meleset jauh, walau demikian, suara dari meriam itu sukses membuat sekumpulan anak buah ketakutan.
Tembakan meriam menyebabkan lautan berombak tak beraturan, kapal bergoyang, lautan seakan pecah, berhamburan air naik ke atas permukaan.
"Kapten, ini bahaya, mereka melontarkan serangan berupa meriam!" Salah satu anak buah berseru ketakutan.
Berkali-kali meriam itu meleset, seperti yang diduga oleh Akma Jaya, meriam itu hanyalah sebuah nada peringatan.
"Ka–kapten, ba–bagaimana ini?" Anak buah itu terbata mengucapkannya.
Kapal itu semakin dekat hingga kedua mata saling bertatapan.
"Hei, kalian!" Pemimpin kelompok dari bajak laut itu berkata, menatap dengan pedang yang sudah terhunus.
"Serahkan semua barang kalian punya!"
"Kalau begitu, serahkan nyawa kalian!"
Tabra mengernyit kesal.
"Apa yang kau pikirkan hingga kau menginginkan nyawa?" Tabra menonjolkan diri, mempertanyakan dengan tangan yang menggenggam kesal.
"Aku suka pertumpahan darah, Aku menyukainya, sangat menyukainya."
"Hahaha ...."
Bajak Laut itu terbahak, mulut yang terbuka lebar, Aisha terlihat geram.
"Tawamu sungguh menjijikkan!" Aisha berkata dengan dipenuhi kemarahan.
"Kau cantik, tenang saja. Aku tidak akan membunuh sebelum mencicipi tubuhmu!"
Bajak Laut itu kini terkekeh kecil, dia mulai menggoda Aisha.
Bajak Laut itu bernama Ranjaya, pemimpin dari kelompok yang bernama Autra, dia terkenal di sekitaran Desa Buana dan sekitaran wilayah Daulisa sebagai orang yang suka mempermainkan wanita, haus darah, merampok, berjudi, mabuk-mabukan serta berbagai hal keji lainnya.
"Dasar! Kau lelaki jalang!" Aisha berujar dengan nada yang keras, menatap tajam ke arah Kapten Ranjaya.
"Sebutlah begitu, kau akan merasakan kenikmatan setelah kucicipi!"
__ADS_1
Semakin lama, suasana semakin memanas, ujaran dari Kapten Ranjaya membeludak, emosi bertambah, kekesalan bertingkat, amarah meluap.
"Hei, kau.. berani sekali kau berkata seperti itu memandang ke arah adikku!" Tabra berkata dengan ekspresi yang dipenuhi emosi.
Tabra menghunus pedang, sedangkan sedaritadi Akma Jaya tetap berdiam.
"Kapten, apa yang Anda pikirkan? Apakah boleh saya melawan?" Tabra meminta izin, memberi hormat.
Akma Jaya bergeming.
"Apa yang Anda pikirkan, Kapten? Apakah boleh saya melawan?" Tabra mengulangi ucapan.
Akma Jaya tetap bergeming. Tabra berwajah heran, sedangkan Kapten Ranjaya kembali tertawa.
Kapten Ranjaya meloncat ke dalam kapal Akma Jaya dengan pedang yang sudah terhunus.
"Kalian banyak bicara, waktu berharga milikku terbuang sia-sia!"
Kapten Ranjaya berujar dengan tangan yang memutar-mutar kumisnya.
"Hei, nona cantik! Kemarilah, aku akan mencicipi tubuhmu." Kapten Ranjaya menggoda Aisha.
Tanpa pikir panjang, Aisha langsung menghunus pedang. Akma Jaya tidak bersuara, dia tetap diam. Sebenarnya apa alasan dibalik diamnya Akma Jaya, beberapa anak buah sudah mengernyit ketakutan.
Aisha berlari menyerang, hampir dekat, dia langsung meloncat, pedang terarahkan dengan baik, tertuju tepat ke arah dahi.
Kapten Ranjaya menahannya, pedang mereka saling bertemu.
"Siapakah namamu, wahai wanita yang kupuja!" Kalimat puitis terkeluar dari mulut Kapten Ranjaya dengan raut wajah yang menunjukkan pesona yang dipenuhi hawa kejalangan.
Aisha langsung meloncat mundur.
"Aisha, biar aku yang menghadapinya!"
Tabra berbicara seraya melindungi Aisha yang berada di belakangnya.
"Seperti yang kulihat, kau penikmat wanita. Aku tak akan membiarkannya, aku akan melawanmu!" Tabra berujar dengan air mata yang berlinang panas, emosi itu meluapkan air yang berada di dalam tubuhnya.
"Aku bukan penikmat wanita. Kau salah menyebutkannya, aku adalah kebanggaan wanita."
Kapten Ranjaya tersenyum sinis.
"Tabra." Akma Jaya menepuk bahu Tabra.
"Kapten?" Tabra berwajah heran.
"Kau beristirahatlah, tenangkan emosimu!"
"Dia adalah lawan yang sesuai untukku, kau bukan tandingannya!" Akma Jaya berucap sambil menghunus pedang.
Perlahan langkah kaki itu maju, setapak demi setapak, dia berhenti sejenak, menatap dengan raut wajah tenang.
Akma Jaya melanjutkan berjalan pelan seraya memegang topi bundar.
Angin berembus meniup kain jubah kehitaman yang dikenakan oleh Akma Jaya, jubah itu berkibar ditiup angin.
__ADS_1
Suara kibaran menegangkan suasana, Kapten Ranjaya memainkan lidah, berdecak kagum dengan memperlihatkan decakan yang sinis. Kedua kapten itu saling bertatapan seraya memegang pedang yang mengkilat tajam.
Suasana berubah hawa, dimana matahari tampak bersinar cerah, sekarang menggelap dengan hawa dingin yang mencekam.