Bajak Laut Hitam

Bajak Laut Hitam
CH. 35 – Kota Taiya


__ADS_3

Pelayaran Altha bersama para kru kapal telah tiba dengan selamat, seperti yang dikatakan olehnya sendiri.


Selama dalam pelayaran menuju ke kota Taiya tak ada bajak laut yang berkeliaran di kawasan laut menuju ke kota Taiya karena kota yang tengah mereka pijak terbilang sangat terkenal di kalangan para bajak laut sebagai kawasan miskin.


Para bajak laut berpikir untuk apa datang ke sana? Sementara di sana tidak ada satu pun yang bisa dibajak oleh mereka. Tidak ada satu pun yang bisa diperoleh.


Kawasan yang di dalamnya tidak ada satu pun orang berbaju indah, juga tidak ada satu pun orang berumah megah.


Saat tiba di sana para kru kapal menelan ludah. Wajah getir berselera kurang nyaman, rasanya ada sesuatu yang tidak bisa diungkapkan lebih panjang. Ini teramat sulit dari kebiasaan sewajarnya.


Di dalam suatu bentuk kalimat tanpa ujung sesuatu yang bisa diartikan. Rasanya ternampak sulit, sangat sulit dipandang melalui goresan tinta.


Altha berseru kepada para kru kapal. Wajahnya ternampak mantap. Senyuman sederhana menatap ke sekeliling dermaga, tempat sekarang mereka singgah.


Dengan perlahan melangkah keluar kapal. Para kru kapal ikut bersamanya menemani turun dari kapal. “Adakah yang hendak kalian tanyakan kepadaku?” Altha menoleh sepintas, tangannya mengusap jenggot.


“Ada. Aku ingin bertanya kepadamu.” Salah seorang dari para kru kapal menyahut. Beberapa dari mereka menoleh, menatap seseorang yang tadi berucap.


“Silakan. Kau tanyakan itu kepadaku.” Altha menjawab ringan, wajahnya biasa dengan senyuman yang sama seperti sebelumnya.


“Selama ini aku tidak pernah berlayar ke wilayah ini, juga tidak pernah tahu ada kota yang seperti sekarang kulihat.” Salah seorang itu mengatakan apa yang dia tidak ketahui. Dia benar-benar tidak tahu.


Jauh di dalam pikirannya membayangkan bagaimana mungkin ada kawasan yang seperti itu, ternampak dipandangan mata saja menyedihkan, lebih merasakan iba dan sedih mendalam di dalam hatinya.


Kapal berukuran besar, berlambang tengkorak dengan bendera merah itu telah terikat di dermaga. Beberapa orang-orang di sana menatap bukan main-main, melainkan terpancar pandangan mata sekilas menyelidik dan tidak suka terhadap Altha, juga para kru kapal bersamanya.


Jauh di dalam benak Altha hendak menjawab ucapan salah seorang kru kapal yang tadi ingin bertanya, tetapi terdengar ucapannya seperti hanya bentuk curhatan.


Terdengar suara nyaring memecahkan isi benak pikiran Altha. Mereka semua menatap berpaling ke sumber suara.


“Kalian siapa?” tanya salah seorang di sana tampak mengepal tangan, melantangkan suara. Dengan elusan jenggot. Altha tersenyum menatapnya. “Kami hanyalah seorang yang suka berpergian. Adapun lambang dan kapal ini supaya para bajak laut tidak curiga kepada kami, juga untuk menakuti mereka semua.”


Altha memberikan alasan sederhana. Kapal kapten Lasha yang selama ini berlayar, alangkah tidak pernah sosok kapten itu singgah di kawasan kota Taiya.


Itulah mengapa orang yang mendengar penjelasan Altha tampak tidak curiga lebih banyak. Dia tidak lagi bertanya. Lantas pergi dari hadapan mereka.


Beberapa yang lain pun sama. Mereka kini tampak acuh tak acuh menatap ke arah Altha dan para kru kapal yang bersamanya.


Sebelum mereka semua pergi. Jelaslah terjadi percakapan panjang sebelumnya. Yang kalau dituliskan akan memakan banyak tulisan. Altha cukup lihai memainkan drama keahliannya.


Di dermaga itu terdapat kapal yang bisa dibilang rongsokkan. Eh, bukan melainkan kurang nyaman dilihat dari bagian bawah sampai kiri kanan dan permukaan layar.


Rasanya kurang nyaman. Benarlah, tidak nyaman ditatap. Altha memaklumi, menghela napas.


Mereka lanjut berjalan menelusuri kawasan kota Taiya, kawasan kota yang sekilas terlihat bangunan kono dan para penduduknya memakai pakaian sederhana, bahkan ada yang hanya memakai celana saja, tidak memakai baju.


Sungguh kasihan. Para kru kapal bergumam menatap mereka. Altha berdehem membisikkan peringatan soal tata krama, sopan santun bersinggah di negeri orang.


Altha tidak ingin bersinggah ke kedai-kedai. Tatapan para penduduk seakan menatap mereka fokus, tidak teralihkan kemana pun.


Rasanya berjalan sambil ditatap orang-orang yang berbisik itu kurang nyaman. Para kru kapal kompak acuh tak acuh walaupun di dalam benaknya masing-masing merasa kesal.


Pun Altha, dia berjalan tak hirau suasana. Bagaimanapun orang-orang menatap mereka, bagaimanapun itu semua tidak ada hubungannya. Hanya saja, kurang nyaman.


Kota Taiya dipimpin oleh seorang wanita bernama Kaira. Dialah seseorang berjiwa kesatria yang memimpin kota, mengatur perkotaan yang seakan menjadi miliknya.


Persediaan pangan, juga ekonomi berada di tangannya. Sebenarnya kota Taiya termasuk kota yang kaya raya, hanya saja pemimpin mereka mengekang rakyat untuk tidak menampakkan kekayaan karena suatu alasan yaitu bisa mengundang para bajak laut ke wilayah mereka.


Tidak peduli kelaparan. Demi kepentingan itu Kaira merugikan banyak pihak yang sebetulnya hasil pribumi yang dijual diserahkan ke Kaira. Dia berpoya di dalam ruangannya dengan berbagai macam kesenangan, menghamburkan uang-uang rakyat dengan sekali tegukan anggur yang diberikan para lelaki jalang.


Kota Taiya berada di negara Uyana menjadi satu-satu kota yang dikucilkan. Kendatipun demikian, pemimpin kota Taiya yang bernama Kaira itu tidak menghiraukan kotanya dikucilkan, baginya keselamatan penduduk lebih berharga dibandingkan keindahan penampilan.


Itulah alasan yang terucap dari mulutnya saat ditanya orang, padahal dia hanya memikirkan dirinya sendiri. Dirinya yang tiap hari berpoya dengan para lelaki jalang. Anehnya dia sendiri malah membayar akan hal itu, bodoh bersulam sulam dengan ketebalan bertingkat tinggi.


Mulai dari jalanan kota Taiya terlihat begitu memprihatinkan, penuh lubang dan apabila hujan, air itu menggenang, jalanan pun kotor dipenuh air lumpur.


Kalau seorang putri kerajaan lewat di kota Taiya, mereka akan terus mengoceh karena jalanan yang dilewati begitu mengguncangkan isi kereta kudanya.


Begitulah ringkasnya mengenai kota Taiya yang sekarang Altha bersama para kru kapalnya yang sedang mendatangi sebuah akademi senjata.


Akademi itu berada jauh dari pusat keramaian kota Taiya. Tepatnya di ujung sungai, penghabisan tempat penduduk, termasuk kawasan terakhir di kota Taiya.


Akademi itu bernama Daida, seorang lelaki berusia 45 tahun mengelola tempat itu, walaupun sekarang tidak ada murid yang belajar di sana, tetapi orang yang mengelola tempat itu percaya pada suatu hari nanti akan ada seseorang yang masuk ke akademi tersebut.

__ADS_1


Lelaki itu bernama Qaisha. Dialah orang yang telah lama mengelola tempat Akademi tersebut. Akademi yang terbilang luar biasa luasnya.


Dulunya, kota Taiya didirikan atas dasar kesepakatan antara Qaisha dan Kaira. Mereka berdua adalah dua orang kekasih, saling menyayangi satu sama lain.


Terciptanya sebuah nama kota didasari mereka atas nama cinta, mereka saling menyatukan jari telunjuk, melakukan ikrar—sebuah janji membangun sebuah kota.


Kota diberi nama. Mereka saling sepakat memberikan nama Ta.i.y.a (Takdir Ikatan yang Abadi) hingga pada suatu hari Qaisha dan Kaira memfokuskan diri pada bidang kepemimpinan, meninggalkan ikatan janji tersebut.


Qaisha sibuk mengajar, mengurus akademinya agar dari ke hari menjadi lebih baik lagi, tetapi sekarang akademi itu kosong tak ada murid yang mau belajar pedang, entah mengapa alasannya.


Sementara Kaira terlalu sibuk memimpin, mengurus kotanya, tetapi sekarang kota itu terbengkalai. Ada banyak rakyat yang malah dikekang hingga kotanya menjadi bahan ejekan kota-kota lain.


Sekarang, kota Taiya sangat berbeda dari semula pertama kali mereka bersama. Dulu mereka saling menjalin kerukunan dengan hubungan yang baik. Tidak pernah disangka hal itu bisa terjadi kepada mereka.


Keduanya memiliki nasib yang sama. Apa hendak dikata? Tidak ada, kesemuaannya sama saja. Tidak ada bedanya.


Altha bersama para kru kapal terus berjalan melewati banyak tempat. Sejauh ini tidak ada keluhan lelah yang terdengar dari telinga mereka.


Detik memelesat ke menit hingga jam. Altha menoleh ke arah mereka. “Berbahagialah. Kita akan sampai sebentar lagi.”


Mereka masih saja berjalan. Saat itu jelas terasa lelah menghirup napas pun terasa berat. Beberapa para kru kapal sedang tidak minat berucap. Beberapa lagi bergumam.


Altha masih ternampak kuat, berjalan tanpa keluhan sedikit pun.


“Haaah ... Kenapalah tempat itu sangat jauh sekali?” Salah seorang kru kapal mengatakannya. Dia telah merasa kelelahan, mengeluh dengan helaan napas panjang tetap berjalan.


Altha tertawa mendengarnya. “Kalian ini harus bersabar sebentar lagi. Mengenai orang yang memimpin akademi itu bernama Qaisha, seseorang yang telah lama mengelola tempat itu. Aku pun tidak pernah bertanya mengapa dia membangun akademinya di tempat yang terpencil, jauh dari keramaian kota Taiya. Rasa lelah sudah pasti, tetapi yakinlah kita akan sampai sebentar lagi.” Altha menjelaskan dengan pelan sambil berjalan. Dia benar-benar tidak tahu alasan Qaisha yang sebenarnya.


“Mungkin dia melakukan semua ini ada alasannya, tetapi aku tidak mengetahuinya!”


Altha mengatakan lanjutan ucapannya. Perasaan yang begitu terasa mengacaukan pikiran masing-masing. Perkataan Altha yang jelas terasa sangat tidak nyaman didengarkan di telinga.


Mereka tidak berani protes menyuarakan ketidakpekaan dirinya terhadap rasa lelah yang mereka alami.


Salah seorang kru kapal yang tadinya menanyakan akan hal itu tampak mengangguk, tidak mengatakan apa pun lagi yang hanya akan menambah kekesalan para kru kapal lainnya.


Saat ini mereka terus berjalan menelusuri jalanan yang berdampingan dengan aliran sungai, sedangkan Akademi Daida berada di ujung sungai, sungai itu sangat panjang dengan jalanan yang berbelok-belok.


Angin berembus sepoi. Enak dan terasa kenyamanannya. Luar biasa, sangat tidak mudah menemukan tempat di dunia ini yang seperti sekarang mereka rasakan penuh kedamaian, gumaman salah seorang kru kapal yang berjalan melamun, menatap arah sekitaran.


Derap langkah terus terdengar dari masing-masing mereka. Setelah berjam-jam melewati waktu, kini Altha dan para kru kapal telah tiba di Akademi Daida.


Altha sejenak mendongak, menatap bangunan akademi. Para kru kapal sama diamnya. Lihatlah, betapa luar biasanya akademi tersebut.


“Inilah akademi itu yang telah kubicarakan sebelumnya kepada kalian!” Altha berucap memandang ke sekeliling mereka.


Dia menatap dengan decak kagum, juga senyuman yang menyertainya. Terlihat jelas, tampilan akademi. Dari dinding, kaca dan berbagai lainnya sama seperti pada saat pertama kali mereka berjumpa seolah-olah tak lekang oleh waktu.


Mereka semua berdiri di depan akademi. Saat itu secara tidak langsung Qaisha keluar ruangan. Jelaslah saat itu dia menatap ke arah mereka.


Qaisha sejenak menatap heran ke arah Altha, juga para kru kapalnya karena melihat rombongan mereka yang bisa dibilang dalam jumlah banyak. Lebih tepatnya baru pertama kali ini dia melihat ada orang yang berkunjung. Terlebih lagi, itu adalah Altha.


Sosok orang yang berada di depannya. Altha tersenyum lebar. “Qaisha, bukankah kamu mengenaliku?” Altha menatap Qaisha, mengucapkan kata ramah yang sejak hari itu mereka berjumpa dalam suatu waktu yang kalau disebutkan akan memakan banyak kertas.


“Kamu? Altha?!” Qaisha tercengang dengan raut wajah bahagia. Dia pun teramat senang sampai menghampiri, lalu memeluk Altha dengan tepukan di punggungnya.


Mereka berdua sudah lama tidak bertemu satu sama lain, baru hari ini perasaan senang menyelimuti sekitaran mereka.


Itulah suatu tanda yang menunjukkan rasa kebahagian yang begitu mendalam, sulit dijelaskan lebih rinci lagi. Pelukan yang dia berikan hangat dalam bentuk persahabatan yang telah lama tidak berjumpa.


“Altha, sudah lama kita tidak berjumpa. Bagaimana kabarmu selama ini?” Qaisha bertanya senang. Mereka berdua saling melepaskan pelukan.


“Aku baik-baik saja. Oh, ya alasanku kemari adalah karena suatu keperluan. Sahabatku, Qaisha kau telah lama berada di akademi bukan?”


“Iya. Keperluan? Bisakah kamu jelaskan mengenai keperluan apa yang membawamu datang ke akademi ini?” tanya Qaisha lagi dipenuhi rasa penasaran.


Jauh di dalam lubuk perasaannya merasa bahwa ada hutang yang harus dibayar. Di mana saat itu dia sedang terluka. Altha membantunya, mengobati luka yang berderai ke hamparan tanah.


Sekilas dugaan Qaisha mengatakan bahwa Altha ingin menagih suatu keperluan darinya. Itulah dia bertanya mengenai keperluan apa yang akan dimintai Altha.


“Qaisha, sebenarnya aku memerlukan bantuanmu untuk melatih ketiga orang anak di pulau Butariya. Mereka semua perlu berlatih untuk mengalahkan para bajak laut, lalu menciptakan lautan dengan penuh kebijakan dan keadilan.”


“Apakah kamu bersedia ikut bersamaku ke pulau Butariya?” Altha menjelaskan panjang lebar, memintanya ikut pergi bersama, tetapi Qaisha tampak diam tak menjawabnya.

__ADS_1


Para kru kapal terdiam menyimak. Beberapa ada yang asyik bermain tangan, berbisik-bisik dan lain sebagainya.


Qaisha mempersilakan mereka untuk duduk terlebih dahulu. Di sana ada bangku sebagai tempat duduk mereka. Di bawah naungan jejeran pohon hawa sejuk menembus ke dalam sanubari. Perasaan tenang menghampiri masing-masing diri.


Setelah duduk damai. Altha kembali mempertanyakannya. Qaisha masih tidak menjawab. Di lain keadaan, Qaisha enggan menolaknya karena Altha adalah orang yang sangat berjasa dalam hidupnya.


Di lain keadaan lagi, Qaisha terikat janji dengan Kaira. Sosok wanita yang teramat membuatnya tak berdaya akan janji tersebut. Rasa yang teramat tidak mampu dia jelaskan lebih terang lagi.


“Baiklah, sebelum itu tunggulah di sini, aku akan pergi ke tempat Kaira untuk meminta izin darinya karena ikatan itu masih lekat padaku.” Qaisha mengatakan suatu isyarat bahwa dia setuju ikut bersama Altha dengan meminta izin terlebih dahulu.


Dia lanjut menjelaskan perihal percintaan miliknya. Panjang ucapan memakan waktu bermenit-menit lamanya.


Mendengar itu, Altha pun mengangguk, memaklumi. Qaisha bersegera dengan kendaraan kuda miliknya mendatangi Kaira supaya meminta izin kepadanya.


Saat itu Altha bersama para kru kapal terdiam menunggu kedatangannya. Diam tak ada suaranya lagi.


Sesampainya Qaisha ke tempat Kaira, terlihatlah wanita itu sedang duduk di kursi pemerintahannya dengan sebuah apel di tangannya dan pisau. Dia gerakan tangan perlahan mengupas kulit apel tersebut.


Qaisha menghadap mantap. “Kaira, aku akan pergi dari kota ini. Salah seorang yang telah berjasa dalam hidupku meminta keperluannya, aku pun enggan menolaknya. Maka berikanlah izinmu dan tentang ikatan itu, apakah akan terus kita satukan?”


Dengan santai Kaira duduk sambil mengupas apelnya. Dia tak menghiraukan Qaisha yang berada di depannya, Qaisha pun mengulang perkataan hingga Kaira berucap dengan santai.


“Lakukanlah apa pun yang kamu sukai, aku ingin memutuskan ikatan itu denganmu!”


Bagaikan ditusuk jarum. Perkataan itu membuat jantung Qaisha seakan merasakan sakit. Kekuasan dan tingkat kepimpinannya telah membutakan hati nuraninya. Qaisha berusaha menguatkan hati, menatap tidak sedih.


“Baiklah. Terima kasih, Kaira.” Qaisha tak banyak ucap setelah itu dia langsung beranjak pergi dengan kendaraan kuda miliknya.


Dia memacu lari kuda. Terus memelesat di jalanan kota, melewati bangunan demi bangunan hingga tiba tempat akademi.


Dia turun dari kudanya, menghampiri Altha dan para kru kapal yang telah menunggu lama. Dengan gurat senyuman rasanya lebih menyenangkan.


“Kabar baik. Kaira telah mengizinkanku untuk pergi dari sini, maka aku akan ikut berlayar bersama kalian,” ucap Qaisha setuju memandang ke semua mereka.


Altha mengangguk, balas tersenyum. “Baiklah, aku senang mendengarnya, sekarang juga kita akan berlayar pergi. Dari dulu, aku tidak suka berlama-lama.”


Qaisha pun tahu sosok Altha yang dari dulu memang tidak suka berlama-lama. Dia sosok orang yang suka gerak cepat, tidak bertele-tele dalam hal apa pun.


“Jika begitu, aku hanya bisa setuju karena kamu telah banyak berjasa dalam kehidupanku, kamu telah mengobati luka yang dulu mungkin kalau tidak ada dirimu, aku akan mati karena kehabisan darah. Maka dari itu, aku akan selalu setuju dengan keputusaanmu.” Qaisha menjawab tak banyak bicara lagi.


Altha sekilas mengernyit. ”Kamu masih mengingatnya?” Dia sedikit tidak percaya dengan apa yang telah didengarnya.


“Benar, aku sangat mengingatnya. Pada waktu itu aku hampir mati, tetapi karena pertolonganmu aku pun bisa bernapas hingga saat ini, itulah jasamu yang akan kukenang selalu.” Qaisha menjelaskannya.


“Kamu terlalu berlebihan, aku hanya sekadar membantu saja dan itulah tugasku sebagai seorang tabib.” Altha tersenyum melangkah sedikit pelan.


Qaisha sekarang hanya sekadar mengiakan saja karena baginya Altha termasuk tipe orang yang suka merendah. Jika dia terus memujinya, kemungkinan Altha akan berpaling darinya.


Menjaga perasaan seseorang itu lebih penting dalam kehidupan ini, lebih dari apa pun. Bentuk perasaan yang tertuang ke dalam kelipatan yang sungguh tidak sanggup dijelaskan satu per satu.


Perlunya memakan lebih lembaran demi lembaran, membalik halaman ke halaman. Begitulah sekiranya waktu berputar.


Hidup di dunia ini bagaikan sekilas daun yang jatuh. Lebih-lebih perasaan sulit diterangkan. Menghargai perasaan orang lain sungguh amat mulia.


Mereka semua berpergian ke dermaga hingga tiba di sana menuju ke arah kapal, sebelum berangkat Altha baru mengingatnya.


Dia lupa membeli keripik ikan tuna. Pesanan Tabra yang sekarang sedang menunggu kedatangannya di sana dengan sebuah titipan yang sebelumnya dia titipkan.


Altha pun kembali ke tempat penduduk. Ditemani sebagian kru kapal. Sementara, Qaisha menunggu di dalam kapal.


Dia bersama kru kapal menuju ke salah satu toko penjual keripik ikan tuna. Di sanalah dia membeli keripik tersebut. Menawarkan harga yang tidak bisa ditawar.


Sang penjual beralasan lebih bijak. Lihatlah, keadaan kami yang miskin melarat. Begitulah ringkasnya masih panjang, Altha sejenak tertawa. Dia membelinya dengan harga yang telah ditetapkan, tidak bisa ditawar-tawar. Beli atau tinggalkan.


Setelah membelinya. Dia bersama sebagian kru kapal kembali ke dermaga. Hingga tiba, mereka memasuki kapal.


Layar pun dibentang. Kapal mereka melaju di permukaan air laut, berlayar menuju arah utara, tepatnya ke arah pulau Butariya.


Qaisha termenung menatap lautan. Dia tidak lagi berada di kota Taiya. Dengan perasaan sedih bercampur suka tanpa disadari dia telah meninggalkan banyak kenangan di kota Taiya, juga Akademi Daida yang telah lama dia mengelola semuanya.


Akan tetapi, Qaisha sekarang tampak begitu senang dari raut wajahnya memancarkan sebuah sinar, sangat jelas seolah-olah dia telah terbang bebas di langit.


Dia yang sekarang bisa bernapas lega, bersyukur karena terbebas dari ikatan yang selama ini seakan membelenggu dirinya.

__ADS_1


__ADS_2