
“Basa-basi itu sebenarnya apa?” kata salah seorang author mendongak ke langit.
Saat itu pena yang ada kehabisan tinta. Seseorang author remaja duduk di dekat jendelanya. Menatap langit biru sambil menghentakkan meja merasa kesal. Tampaknya dia kesulitan mencari makna basa-basi yang seringkali dilakukan oleh para tokoh di dalam novelnya.
“Aku tidak bisa menulisnya lagi.”
Pemuda—sang author itu cukup tidak ingin melanjutkan cerita miliknya.
Di dekat dirinya ada sebuah ponsel. Pesan chat dari aplikasi hijau berdering, begitu mengganggu aktivitas seorang author pemula yang sibuk mempelajari diksi.
Pepohonan harapan yang ditanam melalui catatan tak begitu memuaskannya. Catatan kecil dihamburkan, berserakan.
Dia kebingungan, ingin pindah ke alam catatan lain tidak bisa. Cerita ini dihentikan saja, begitu gumamannya.
“Mungkin saat aku menyerah itu lebih baik daripada harus menyambung semua cerita ini.” Rasa sesal di dadanya masih mengembara.
Mempelajari diksi tak semudah melipat kertas menjadi pesawat. Lumrah kelelahan dan merasa semua ini adalah tong kosong melompong.
__ADS_1
Kelelahan yang dirasanya hampir membuat kepalanya berdenyut. Hampir lupa membuka aplikasi hijau tersebut. Satu pesan dengan kalimat menjengkal terbaca olehnya.
Akma Jaya: Kenapa kau tidak menulis ceritaku lagi, itu menyebalkan.
Author membalas: Alur Cerita ini membuatku tidak bisa tidur nyenyak.
Author itu mematikan ponsel. Menyebalkan rasanya, satu kata yang kini ada di kepalanya. Berhenti menulis cerita.
Dia masih memikirkan judul tulisan. Dan kebingungan. Catatan itu dikatakan olehnya.
Asra Burona bicara pada malam yang kian sunyi. “Bintang-bintang di ufuk langit seraya bernyanyi menemaniku malam ini. Hai, diriku yang terlena akan buaian mimpi berupa awan yang menawan.”
“Apa yang kau inginkan? Menjadi bintang atau rembulan yang terang di atas sana.”
Masing-masing tidak menghiraukannya. Apa yang hari itu dikatakan Asra Burona tentang semua ini? Hah, itu sangat sangat menyebalkan, sih—tidak relevan.
Boba di bawah api unggun berbicara, “Sudahlah, Kalboza. Kau tidak perlu galau. Renungan malam ini mengatakan suatu pertanda akan bagaimana nasib kita, kejahatan akan berbias sama pada akhirnya. Entah pelaku atau perbuatannya. Berbias sama akan ada karmanya. Lihatlah langit malam ini, gelapnya menghiasi dengan awan yang mengkhawatirkan, hawa dingin yang berembus dan bintang gemintang. Cuaca ini terasa amatlah menggambarkan suasana kelam di masa lalu maupun masa kini.”
__ADS_1
“Kau bodoh—” Tabra menyela tidak suka dengan penuturan Boba yang kini berlagak bijak dengan segala perkataannya.
Aisha keburu menyumpal mulut si Tabra yang kelakuannya tidak relevan dengan penuturan sopan santun. Tabra memang begitu, tidak tahu tata krama dan selalu tidak relevan. Ah, itulah kisah ini.
Boba tertawa. “Tiada kebodohan yang kurasakan selain bertemu denganmu, Tabra. Kau terus saja menghalangiku dalam memberi kata seperti itu dan saat kuucap kau selalu menegah dengan mengatakan kalimat yang tak sewajarnya. Apa itu ... kau kini seolah terus menyumbangkan bara api kemarahan dalam dadaku atau mungkin kau sengaja ingin terlihat pandai di mata kami semua!”
“Sudahlah, kalian ini terus terang tiada memang perbedaan yang mencolok, kalian berdua sama saja. Ini terlihat kaku dan tidak mampu kujelaskan.” Kalpra mengikuti arah pembicaraan.
Ikut-ikutan menimbrung berbarengan mereka dan dia cukup merasa tertarik dengan semua pembicaraan tersebut. Tulisan ini dihentikan saja.
Author menghela napas. “Tulisanku sungguh jelek.”
Di suatu waktu, ponsel yang tadi dimatikan olehnya kembali dia hidupkan. Lihatlah, pesan menumpuk.
Astaga! Teman rasa lawan. Temannya mengkritik episode yang sebelumnya. Makin jelas saja Author itu kini semakin memantapkan niat untuk berhenti.
Kembali menghela napas. “Ternyata menulis cerita tak semudah yang selama ini kubayangkan.”
__ADS_1