
Di ujung batas kemampuan, sebuah kalimat tertutur begitu buruk, tidak dapat dicerna, didengar oleh telinga, bahkan sanubari terkikis perih, otak membeku, terdiam menyaksikan. Hari tak dapat lukiskan warna, terjatuh, terhempas.
Maaf atas segala hal yang bagi seseorang, bernuasa sekadar menyapa. Bentuk angin yang tak kasat mata, ia membelai, kekecewaan mungkin saja terjadi. Apa benar? Tidak, mungkin tidak. Linglung, lesu, sendu, segala perasaan tak bertuan. Ia mengingkari apa yang ada di hadapan.
Sementara, dia terkekeh, bahkan menatap dipenuhi celaan yang tak mempunyai makna apa pun, ucapan kasar tak bermoral.
Akma Jaya tersenyum. "Riyuta, kau mengingatkanku pada seseorang yang beberapa bulan lalu kutemui."
"Kau mempunyai kesamaan dengannya." Lanjut Akma Jaya menyampaikan ucapan, sebuah anggapan mengenai akan kesamaan.
Kesamaan dalam bentuk pandangannya bukan sesuatu yang samar—entah bagaimana cara menjelaskannya.
Tak disangka, ucapan Akma Jaya membuat Kapten Riyuta menggertakkan gigi penuh kekesalan. "Kau mengada-ada, mengatakan sesuatu yang kau lihat, belum tentu sama, kau benar benar ingin mati!" Intonasi keras, nyaring. Sungguh, luar biasa, bergetar mulutnya menyertai ucapan yang terlontarkan.
"Benar, aku tidak salah melihatnya, kau mirip dengan Atlana." Akma Jaya berucap menjelaskan lebih detail.
"Atlana? Kau bilang aku mirip dengan Atlana, berani sekali kau menyamakan aku dengan musuh besarku!" Kapten Riyuta bertambah marah.
Tabra menyimak penuh membisu, bergeming—tidak menunjukkan pergerakan. "Tenanglah, Riyuta. Mengenai Atlana, aku tidak tahu dia adalah musuh terbesarmu." Akma Jaya menjawab santai, menenangkan emosi orang yang sedang ditatapnya.
"Berpikirlah sebelum kau berucap!" Kapten Riyuta bersuara lantang.
"Aku tak ingin berlama-lama, berbincang denganmu begitu membosankan, semakin lama berbincang, ada banyak omong kosong terkeluar dari sebuah mulut durjana sepertimu!" Lanjut Kapten Riyuta.
Akma Jaya kembali tersenyum. "Aku juga merasa, perbincangan ini membosankan."
"Kalau begitu, kita akhir saja!" Akma Jaya menyambung ucapan.
Kapten Riyuta mengangguk, dia kembali meluruskan pedang, kerumunan di bawah menara kembali menyorakkan, memberi semangat kepada Kapten Riyuta.
Eh, ada-ada saja. Bagaimana mungkin dia begitu. "Aku yakin, Kapten Riyuta pasti akan menang!" Bukan sorakan, tetapi ucapan.
Salah seorang lelaki beramput jambul, disebut pada episode sebelumnya dan sebelumnya, dia kembali berucap.
"Lihatlah, gaya Kapten Riyuta begitu keren, dia melesat dengan ketampanan yang tidak ada bandingnya!" Pujian, mengagungkan segala hal tentang Kapten Riyuta.
Sementara di puncak menara, mereka saling berpacu kaki penuh hawa membunuh. Tebasan dilakukan, berdencang suaranya.
__ADS_1
Lagi-lagi kerumunan bersorak. Suasana ricuh penuh riuh, keduanya disebut karena kata itu berbeda, kehilangan huruf c di antara huruf i dan u. Itu amat berbeda. Pada saat tebasan, Kapten Riyuta mengangkat bahu sedikit saja senyuman.
"Matilah, kau! Ha ha ha ...."
Tebasan bercampur gelak tawa, begitu. Seseorang yang berbangga diri, berpuas dengan segala kekuasaan yang dia miliki, di samping itu, ada banyak pendukung.
"Uwuwu, idamanku!" Teriakan seorang wanita penuh cinta, walau tak kenal. Hanya melihat tanpa bisa menilai.
Berbanding terbalik dengan posisi Akma Jaya. Dia seorang yatim piatu, berkutat hari-harinya, berjuang penuh menghadapi hari dengan hukum rimba, memakan apa yang ada untuk dimakan seperti tanaman berjenis merayap, ikan-ikan di luatan, pohon kelapa dijadikan minuman, bahkan berburu ayam hutan, salah satu benih tanaman wortel pemberian Haima, dia tanam, rawat dengan teratur hingga di pulau Andaba memiliki kebun wortel, selama pelayaran berlangsung, kehidupan yang berbeda.
Bahkan, jalan yang dia pilih begitu berbeda dari kebanyakan bajak laut lainnya.
Kapten Riyuta berdecak kesal karena tak bisa mengenai Akma Jaya dengan pedang.
"Daritadi kau hanya menangkis dan menghindar, apakah kau seorang pengecut?" Kapten Riyuta berucap kesal.
Tidak ada jawaban. Mereka berdua saling bertatapan, kerumunan di bawah kecewa, mereka berteriak, berseru ingin melihat pertarungan.
Akma Jaya mendengus.
Puncak menara, tinggi. Bagi orang yang tidak terbiasa, belum membiasakan diri, itu luar biasa. Dari atas ke bawah berjarak pandangan mata sejauh 145 meter. kehidupan di lautan berbeda dengan daratan, saat seorang pelaut berada di puncak menara, atas daratan, jelas sekali, baginya daratan bukan kehidupan.
Untungnya, puncak menara berbentuk segi empat memanjang, mereka bertiga berdiri saling memandang.
Mendehem bangga. "Apa kau iri?" Kapten Riyuta balik bertanya.
"Dan kau mengatakan sesuatu yang tidak ada faedahnya, layak memang sampah yang terbuang." Lanjut Kapten Riyuta tersenyum sinis.
"Tutup mulutmu!" Tabra penuh kesal.
Tabra menghunus pedang. Dia memelesat, menggerakkan tangan menebaskan pedang, memacu pergerakan dengan cepat, Akma Jaya tak dapat menegahnya. Pelesatan pedang ditebasan, betapa saat itu, kerumunan di bawah menara, mereka semua menatap penuh takjub, pertarungan Tabra dan Kapten Riyuta menjadi sorotan orang-orang.
Pedang panjang, sekelas logam yang dibuat dan didesain begitu mudah digenggam, ditebaskan oleh Kapten Riyuta.
Sayatan pedang melukai pergelangan tangan Tabra. Cairan darah memercik keluar memenuhi area tangan.
Kelima jari di bagian kanan berlumuran darah. "Tabraaa!" Akma Jaya berseru.
__ADS_1
Tabra menatap ke arah Akma Jaya, tersenyum, sekilas bahagia. "Tak apa, Kapten. Saya—"
BUUK!
Lengah, Kapten Riyuta meninju, Tabra terpental—ke luar batas pijakan. Akma Jaya menatap jatuhnya Tabra disertai senyuman seperti perpisahan.
Detik-detik dia terbaring di sekitar permukaan udara, tak ada kasur, bahkan melayang. Tidak, bukan begitu. Di sela-sela jatuhnya Tabra, kesenangan yang melanda orang-orang, kerumunan di bawah menatap penuh senyuman.
Tabra terjatuh memejamkan mata.
"Hahaha, Selamat tinggal, harapanmu, perjuanganmu begitu berarti." Kapten Riyuta berujar puas memasang senyuman sinis, telinga yang memerah berangsur-angsur memudar, rasa puas membuat kemarahannya mereda.
"Lemah!" Kapten Riyuta mengucapkan cela merendahkan.
"Oh, ya ampuuun! Dia terjatuh." Salah seorang wanita bergumam iba.
Belum mencapai tanah, beberapa kerumunun di bawah menduga dia akan mati, beberapa menatap senang, beberapa menatap kasihan, bercampur semuanya di dalam kerumunan, masing-masing punya alasan tersendiri, tak bisa dibantah. Mereka semakin memberikan semangat kepada Kapten Riyuta, berbangga diri penuh pujian bertebaran di sekeliling tempat.
Tabra membuka mata. Dengan cepat dia menggerakkan tangan, mengeluarkan tali panjang, ujung tali adalah besi tajam bercabang empat. Tabra melemparkan tali tersebut. Lemparannya tepat. Besi tajam tertancap kuat pada dinding menara.
Tabra berayun-ayun mengikuti pergerakan tali, setelah tali berpuas, ia bergelayut di dinding menara—untungnya dia selamat dari maut.
Akma Jaya tersenyum menatap penuh takjub, aksi mendebarkan, sangat mendebarkan, bahkan menakjubkan, di setiap pasang mata melihat semuanya.
Dugaan mereka semua salah. Tabra menghela napas, menelan ludah, keringat setitik embun bertebaran, berjauhan ke bawah, beberapa titik keringat berkumpul di area pelipis.
Kapten Riyuta berdecak kesal. "Sial, bagaimana mungkin dia bisa melakukan hal gila seperti itu!" Lebih ke takjub, hanya saja dia enggan mengakuinya.
"Bangsat!" Kapten Riyuta tidak terima.
Akma Jaya menggeleng pelan, ucapan yang terlalu kasar, tidak bermoral. tingkah laku bajak laut, hidup dalam pelayaran, tetapi Akma Jaya mengerti sopan santun yang diajarkan oleh Haima. Sementara, Kapten Riyuta tidak, dia tidak mengerti semua itu.
"Riyuta, kau mengatakan sesuatu yang kurang pantas!" Akma Jaya berucap.
Kapten Riyuta menoleh. "Apa kau bilang? Kau menganggapku kurang pantas mengatakannya, apa jabatanmu hingga berani menegurku?" Mendelik. Bahkan, menunjuk dengan sebatang pedang penuh tajam.
Akma Jaya membalas hal yang sama—menunjuk dengan sebatang pedang, tapi tersenyum. "Riyuta, majulah!" Tawaran sederhana untuk memulai pertarungan.
__ADS_1