Bajak Laut Hitam

Bajak Laut Hitam
CH. 32 – Tersebarnya Kabar tentang Kematian Kapten Lasha


__ADS_3

Di bagian bumi lain. Tentang seseorang yang sebelumnya pergi berlayar menuju ke desa Muara Ujung Alsa, dia tercengang menatap keadaan pulau, juga menatap penduduknya terbaring menjadi bangkai.


Dia terus menatap, menginjak daratan sejenak, berjalan hingga menatap jasad Kapten Lasha yang terbaring di permukaan pasir. Dia gemetar bersimbah peluh, bergegas pergi menjauh dari desa tersebut.


Kejadian itu terjadi di waktu yang sama dengan waktu pelayaran Akma Jaya menempuh lautan di samudra Albamia. Orang itu pulang ke tempat asalnya, dia gemetar. Di dalam kapal, rasa berkecamuk menghantui benak pikirannya.


“Kapten Lasha?! Diii–diaaa ....”


Orang itu gagap mengatakannya, rasa tak sanggup. Ya, begitulah. Seperti orang yang terkena lem super lengket.


“Diaaa sudaaahhh maatiii!” Dia berteriak nyaring. Suara menggema ke jagat angkasa. Di tengah lautan, tenang pelayaran dari terpaan ombak. Dia memekik sehabis suara.


***


Di suasana pasar, di pusat kota dari benua Maura Hiba, banyak orang berduit di sana. Dengan tempat megah, gedung-gedung pencakar langit. Kota itu bernama Kaidan bernegara Auramania. Di sanalah orang itu tinggal. Dia menceritakan tentang apa yang sudah dilihatnya.


Dari situlah, kabar itu seakan memelesat, mencuat tajam dari ke mulut ke mulut. Beberapa anak buah dari Kapten Gaiha mendengarnya. Mereka membawa kabar itu kepada Kapten Gaiha.


“Kapten, saat berlayar menuju ke kota Kaidan. Ada kabar cukup mencengangkan.” Salah seorang anak buah datang melaporkan beritanya.


Kapten Gaiha memandang serius. “Katakan itu kepadaku.”


“Kabar itu mengatakan bahwa Kapten Lasha telah mengembuskan napas terakhir. Dia dikabarkan telah wafat karena dibunuh oleh salah seorang.” Anak buah itu berucap sopan, tidak menyebutkan kata mati atau kata meninggal. Secara logika, jika napas berhenti berembus lagi—napas terakhir. Itu artinya, berhenti dunia berputar dalam benaknya. Dia telah hilang kesadaran, tidak ada kehidupan lagi di sisinya.


Kapten Gaiha cukup tidak percaya. “Apa benar kabar yang kau dengar itu?” Dia bertanya memastikan. Sebelumnya, kabar kematian Akma Jaya tersebar dari mulut ke mulut, tetapi semua itu ternyata hanya kabar yang miring. Isu yang salah dari mulut yang tidak sengaja atau mereka sengaja berkata demikian. Jika lebih dari seratus orang mengatakannya akan menjadi doa yang mungkin mereka harap terkabul.


Itulah orang-orang yang semasa hidupnya berlanglang dengan kabar menyesatkan. Kabar yang miring. Mereka mengatakan kejadian buruk tanpa kepastian yang akurat.


“Salah seorang penduduk dari kota Kaidan sendiri. Dia berlayar ke desa Muara Ujung Alsa, menyaksikan sendiri keadaan di sana.”


“Apa? Itu jelas tidak mungkin. Rasanya baru saja aku bertemu dengannya waktu itu. Dia sehat, mati dibunuh rasanya tidak mungkin.” Kapten Gaiha benar-benar tidak percaya dengan kabar tersebut.


“Begitulah, kenyataannya kapten. Bahkan seluruh daratan pulau mereka telah hancur dan tidak tersisa apa pun.” Anak buah itu menjelaskan, walaupun tidak tahu siapa yang melakukannya. Dia hanya tahu kabar tersebut, sebelumnya sudah dipastikan.


Kapten Gaiha cukup menelan ludah, rasa kekhawatiran pun muncul. “Tabra?! Bagaimana dengan Tabra?”


“Siapa itu Tabra? Apa kapten mengenalnya?”


Kapten Gaiha memandang ke atas. Dia masih mengkhawatirkannya. Sejenak menghela napas, menatap anak buah yang tengah menghadap, berdiri di hadapannya.


“Itu tidak penting memberitahumu, beritahukan kepada seluruh anak buah, besok hari kita akan berlayar menuju ke desa Muara Ujung Alsa.” Kapten Gaiha memberikan perintah tegas.


Anak buah itu mengangguk, beranjak pergi memberitahukan seruan itu kepada yang lainnya.


***


Kapten Gaiha duduk di tempatnya, merenungkan ingatan dulu saat bersama seorang bocah yang dia kagumi hingga dia pun menulis surat.


Dengan surat itu rencananya dia hendak mengirimkannya ke tempat Kapten Makya selaku sahabat dari Kapten Lasha.


Tangannya pun mengepal, perasaan yang bertumpuk dengan pikiran.


Dipanggillah salah seorang anak buah untuk mengirim surat tersebut. Surat dikirimkan melalui burung penghantar pesan. Burung itu terbang memekik di permukaan cakrawala.


Tiba di desa Anmala. Burung itu hinggap di pohon yang berada di depan rumah Kapten Makya. Lalu, terbang sepintas, surat jatuh tergeletak di bawah teras rumah.


Saat itu, Kapten Makya sedang keluar rumah. Bertepatan dengan burung tersebut. Dia mengambil, membacanya.


Dia membaca kabar yang mencengangkan, tetapi Kapten Makya seakan tidak percaya dengan kesemuaan kabar tersebut, dia pun juga sama seperti Kapten Gaiha.


Kapten Makya berseru lantang memerintahkan anak buahnya untuk mempersiapkan diri. Pada besok hari, rencanannya mereka akan berlayar menuju ke desa Muara Ujung Alsa.


Berbeda tempat lagi. Di pentas bumi yang bulat, salah seorang anak buah dari pencuri pergi melapor kepada bosnya. “Bos, baru beberapa hari berlalu, tetapi kabar kematian Kapten Lasha dan desa Muara Ujung Alsa melesat dari apa yang kita duga. Pulau yang berubah menjadi bangkai tersebar cepat dari mulut ke mulut.”


Bos penculik tertawa. “Bagus, ini sungguh kabar yang sangat bagus!” Dia bertepuk tangan dengan senyuman sinis.


Beberapa dari bajak laut yang tidak mengetahui akan hal ini, mereka turut berduka dan mereka juga berencana besok akan pergi ke desa Muara Ujung Alsa untuk melihat secara langsung.


“Lasha, aku mengira kau akan hidup lebih lama, bahkan dulu aku mengira akulah yang akan mendahului kematianmu.”


“Sekarang, tentang kabar ini benar-benar tidak kusangka, bahkan seluruh desamu mengalami kehancuran.”


Itulah kata sebagian bajak laut yang turut bersedih mendengar kabar kematian Kapten Lasha. Mereka mendongak, menatap kesekumpulan awan bergeremet mendung.


***


Keesokan hari, Kapten Gaiha meluncur menggunakan kapal besar. Banyak kru kapal yang ikut bersamanya, anak buahnya juga sama. “Jika kabar itu benar, kalian semua akan menguburkan jasad-jasad mereka.”


Di dalam kapal. Kapten Gaiha menuturkan seruan perintah. Para kru kapal, juga anak buahnya mengangguk.


Kapten Gaiha seperti orang yang memiliki hati nurani. Kelanjutan nadanya mengungkapkan bahwa sesama manusia, hidup menggunakan akal, berdampingan pergaulan, bahkan bersanda bicara.

__ADS_1


Mereka bukanlah sekelas binatang yang hanya tahu melawan kemudian mati, melainkan manusia yang mengetahui duka dan bahagia. Bentuk perasaan lainnya bercampur di dalam sanubari.


Itulah Kapten Gaiha. Walaupun perkataannya sedikit terdengar aneh.


Di bagian bumi sana, ada rumor binatang bisa berbicara dan mengungkapkan perasaan. Binatang itu hidup sebagai penjaga wilayah dan lain sebagainya.


Intinya perasaan, selama perasaan itu masih merasa. Tertancap iba, bagaimanapun kiranya, rasa sedih, bahagia, kesal atau marah. Semua itulah bentuk perasaan. Begitu pun dengan Kapten Makya, dia memerintahkan seluruh anak buahnya yang berjumlah 780 orang bersiap berlayar.


Mereka semua pun menuju ke desa Muara Ujung Alsa. Dia membawa enam kapal dengan masing masing muatan 130 orang per-kapalnya.


Mereka pun sama-sama berlayar dari tempat mereka. Kapten Makya dari desa Anmala dan Kapten Gaiha dari desa Enla.


Beberapa bajak laut lainnya dari desa mereka masing-masing juga bertolak di pagi hari itu menuju ke satu tempat yang sama. Lautan beriak ombak pelan menerpa kapal. Di hari itu tampak sibuk keseluruhan.


Jiwa-jiwa yang haus kabar terkini memelesat pergi. Orang yang pertama tiba di desa Muara Ujung Alsa adalah Kapten Makya bersama kelima kapal bersamanya.


Kapten Makya menuruni kapal, menatap daratan pulau yang benar adanya. Pulau itu porak poranda tak bersisa apa pun lagi.


Di sekelilingnya tampak jasad-jasad memenuhi sekitaran, menambah rasa kasihan. Kapten Makya tercengang menatap sekitaran. “Lasha?! Pulau ini ... ternyata kabar itu benar adanya.”


“Kaliaann semua. Cepat gali tanah!” Kapten Makya berseru memerintah anak buahnya.


Seluruh anak buah Kapten Makya pun menggali tanah, bahu membahu mengubur para penduduk, sedangkan untuk Kapten Lasha tidak boleh dilakukan anak buahnya.


Proses penguburan Kapten Lasha dilakukan oleh Kapten Makya sendiri. Dialah orang yang menguburkannya, mengungkapkan kalimat terakhir perpisahan.


Tak lama dari proses penguburan, Kapten Gaiha tiba di desa Muara Ujung Alsa, dia tampak loncat dari kapalnya, bergegas menghampiri Kapten Makya.


Tiba keduanya saling berdekatan. Kapten Gaiha menyapa sekilas langsung ke inti permasalahan. “Makya, apakah kau melihat jasad seorang anak lelaki bernama Tabra?”


Satu pertanyaan itu cukup membingungkan bagi Kapten Makya. Bagaimana mungkin dia tahu, bahkan dia sendiri tidak mengenalnya, menatap wajahnya apalagi, tidak pernah.


“Aku tidak mengenalinya, cukuplah pertanyaanmu, sekarang aku sibuk mengubur sahabatku.” Kapten Makya tak ingin banyak ucap, terlebih itu buang tenaga, perkataan yang tidak berfaedah.


Kapten Gaiha menatap heran. “Makya, bukankah kau berlayar ke sini membawa banyak anak buah, kau malah memilih menguburkan Lasha dengan tanganmu sendiri.”


Kapten Makya tersenyum. “Aku memilih menguburkannya karena dia adalah sahabatku, tidak pantas orang lain menguburkannya.”


Setelah mendengar itu Kapten Gaiha berhenti berucap, dia seakan tidak ingin mendengar kata-kata itu. Entah bagaimana rasanya kurang nyaman di dengar olehnya.


Waktu berlalu, proses pemakaman selesai. Salah seorang anak buah Kapten Makya datang melapor.


“Kapten, kami menemukan jasad istri Kapten Lasha, tetapi kami mencari dari sudut ke sudut, tidak menemukan jasad Akma Jaya. Dia sepertinya meninggalkan pulau ini di saat penyerangan itu terjadi.” Anak buahnya mengatakan laporan dan dugaan.


“Begitukah? Kalau begitu bawalah jasad istri Kapten Lasha itu ke mari, aku mengerti sahabatku sangat mencintai istrinya, jadi aku akan menguburkan mereka berdampingan. Dengan begitu, cinta mereka akan terus kekal abadi selamanya.” Perkataan Kapten Makya terucap tulus memandang anak buahnya.


Anak buah itu mengangguk, beranjak pergi melaksanakan seruan tersebut. Sementara, Kapten Gaiha tampak senang mendengar jasad Akma Jaya tidak ditemukan di sudut mana pun, juga dugaan yang disampaikan anak buah Kapten Makya. Dia seakan bersorak dalam hatinya.


“Itu berarti Tabra masih hidup. Akma Jaya sedang terbaring lemah, dia tidak mungkin bisa kabur melarikan diri. Bahkan, Tabra pernah bilang Akma Jaya adalah sahabatnya, kemungkinan besar dia sedang membawa Akma Jaya ke suatu tempat, tetapi entah di mana dia berada sekarang. Semoga senantiasa baik-baik saja.” Kapten Gaiha berbicara di dalam hatinya, menatap ke arah cakrawala menggumpal awan.


***


Di bagian bumi lain. Di pulau Butariya. Tabra bersin berulang kali tak henti-henti. Terlihat Akma Jaya masih sibuk membangun kerangka rumah.


Tabra masih terdengar bersin. Akma Jaya menatapnya. “Tabra, bangunlah. Jangan berbaring di situ. Kemungkinan saja, kau terhirup serbuk bunga itu sehingga membuatmu bersin-bersin.” Dia menegurnya. Tabra mengusap hidung, cairan lendir lengket keluar pelan.


Tabra sejenak berpikir mengenai ucapan Akma Jaya, mungkin saja itu benar. Dia pun menatapnya. “Baiklah, Akma. Sepertinya kau benar, kupikir lagi daripada berbaring lebih baik aku membantumu.” Tabra tertawa, lekas menghampiri sahabatnya.


Akma Jaya menggeleng. “Ah, tidak usah. Istirahat saja, tadi katanya kelelahan.”


Tabra tetap memaksa. Dia tidak peduli dengan tuturan Akma Jaya, kali ini pun dia mengatakan sejujur-jujurnya bahwa perkataan sebelumnya itu hanyalah sekadar alasan agar tidak mengangkat daun kelapa.


Akma Jaya diam. Menyisakan Tabra yang tetap bersikeras ingin membantu. Dengan sikap sahabatnya yang tampak ingin sekali membantu dirinya. Akma Jaya pun akhirnya mengangguk, mereka pun bersama-sama membangun kerangka rumah.


***


Anak buah yang tadinya pergi untuk melaksanakan tugas, membawakan jasad Haima ke hadapan Kapten Makya.


Anak buah itu sekarang datang menghadap. Ternampak jasad tanpa kepala ditandu, jasad yang semula ditebas tanpa balas kasihan oleh sekelompok pembunuh.


Kapten Makya tak kuasa menatap, menelan ludah. Begitu pun Kapten Gaiha, mereka semua tak tega menatapnya.


Kapten Makya pun tak banyak suara. Dia menguburkan Haima berdekatan dengan kuburan Kapten Lasha, mereka berdua kini sudah tenang di alam sana, berdampingan terbujur di dalam liang lahat.


“Syukurlah, Lasha dan istrinya sekarang sudah beristirahat dengan tenang dan kita sudah membuatkan rumah untuk mereka.”


Kapten Makya tersenyum. Kapten Gaiha menatap sebentar ke arah kuburan. Baru kali ini, dia menatap seluruh pulau hancur dan penduduknya habis terbunuh.


Di saat semua proses penguburan selesai, sekelompok bajak laut lainnya pun berdatangan, tetapi seluruh jasad penduduk yang ada di pulau itu telah dikuburkan oleh anak buah dari kedua bajak laut yang lebih dahulu tiba dan menambatkan kapal.


Mereka pun yang datang terlambat hanya sekadar melihat-lihat kuburan yang tampak bertebar memenuhi seisi pulau. Kabar itu bukan semata palsu, melainkan benar adanya. Kabar kematian Kapten Lasha.

__ADS_1


Kini desa Muara Ujung Alsa itu menjadi pulau kosong dengan dipenuhi kuburan dari sudut ke sudut. mereka para bajak laut memberikannya nama pulau itu dengan nama Kubsa.


Setelah mereka mengetahui, melihat sendiri mengenai kebenaran kabar tersebut, mereka pun akhirnya pulang beramai-ramai, tidak butuh waktu lama bersinggah, sekarang hanya tersisa Kapten Gaiha dan Kapten Makya yang belum beranjak pergi dari pulau tersebut.


Mereka terus menatap, merasa enggan pulang ke tempat asalnya. Sementara, matahari mulai menunjukkan cahaya redup, mereka berdua tetap berdiam di pulau tersebut.


“Makya, apakah semua ini adalah takdir yang menimpa Kapten Lasha, bahkan takdir kehancuran pulau beserta penghuninya?” Kapten Gaiha bertutur, bersitatap dengan raut wajah sedih.


Kapten Makya menggelengkan kepala, mengucapkan dia tidak mengetahui akan hal itu. Takdir atau bukan, itu adalah suatu peristiwa yang membuatnya tak nyaman, perasaan sedih di dalam hatinya menggumpal hitam bagai sekumpulan awan mendung menyelimuti alam semesta.


“Lasha dan istrinya, semoga mereka berdua tenang di alam sana, aku turut berduka atas apa yang telah menimpa mereka.” Kapten Makya mendongak, menatap ke arah cakrawala yang menunjukkan cahaya petang membayang. Kapten Gaiha berada di sisinya, mengaminkan doa Kapten Makya.


Usai berdoa, Kapten Makya meneteskan air mata. Dia tak sanggup menahannya. Dengan semua kenangan yang membekas, juga apa pun yang mereka telah lalui bersama dulu saat menjadi sahabat, mengarungi lautan bersama-sama.


“Makya, janganlah kau bersedih atas peristiwa yang kau tatap ini, mereka sudah berbahagia di alam sana.” Kapten Gaiha mengelus punggung Kapten Makya, dia pun juga merasakan hal yang sama.


“Tiada yang lebih besar, Makya. Perasaan tercipta dari relung ruangan tersembunyi. Hakikatnya kau hidup memang begitulah. Kematian itu pasti terjadi, tiada orang yang tidak menemuinya.” Kapten Gaiha lanjut mengatakan hakikat hidup.


Di mana semua orang pasti akan merasakan kematian, siapa pun dirinya, tak memandang tua atau muda, bocah atau bayi yang belum lahir ataupun yang baru lahir dan sebagainya dan sebagainya.


Setelah itu Kapten Gaiha berpamitan kepada Kapten Makya. Dia sudah tahu kejadian sebenarnya dari kabar yang semula dia dengar itu ternyata benar. Hari pun sudah petang mendekati malam. Dia ada keperluan lain, di samping itu dia pergi untuk memberikan waktu kepada Kapten Makya berdiam diri menenangkan perasaan dan jiwanya.


Kini di pulau itu, hanya ada Kapten Makya dan sebagian anak buahnya yang tetap berada di dalam kapal, sebagiannya lagi menemani, berada di sisi Kapten Makya.


Salah seorang anak buah menghampirinya. “Kapten, sepertinya air laut mulai menunjukkan pergerakan surut, lebih baik kita bergegas menuju arah pulang.”


Kapten Makya tahu, tetapi dia merasa tak bisa meninggalkan sahabatnya. Perasaan itu bertentangan dengan fakta. Jika air laut surut, mereka tidak bisa masuk ke desa mereka. Hal itu menjadi pilihan Kapten Makya.


“Baiklah. Kalau begitu, kita akan pulang.” Dia pun memilih keputusan untuk pulang ke desa mereka.


Sebelum dia berlayar pergi dari desa Muara Ujung Alsa, Kapten Makya meletakkan sebuah kalung yang selama ini menjadi simbol persahabatan di antara mereka berdua. Kalung itu diletakkan di atas kuburan Kapten Lasha.


Hari pun sudah berganti malam. Mereka satu per satu menaiki kapal. Jangkar yang semula bertambat ke pasir, kini diangkat.


Layar pun dibentang, kapal mereka melaju disentuh angin. Riak ombak ternampak di keremangan malam.


Di dalam kapal, Kapten Makya masih kuat menatap ke arah pulau, menyisakan gemuruh angin, juga ombak menerpa kapal.


Lasha. Dirimu telah tiada


Pergi ke alam nan jauh dari dunia


Salamku teruntukmu bahagia


Kau dan istrimu senantisa tenang di sana


Kau adalah sahabat lama


Nanti saatnya tiba


Aku juga akan menyusul ke alam sana


Kapten Makya


***


Di penjuru tempat berbeda, ada yang siang bergelayut panas. Di belahan bumi sana, cuaca dan suasana berbeda. Di pulau Butariya. Hari pun tengah malam.


Akma Jaya dan lainnya sudah selesai membangun rumah yang cukup untuk sesaat tidur. Beberapa alat masakan, juga dapur khusus tempat makanan. Rumah sederhana beratapkan daun kelapa yang dianyam melalui keterampilan tangan.


“Hei, Tabraaa. Jika kau mau ingin, kau bisa tidur di tempatku. Di sini tempatnya lumayan luas!” Akma Jaya berseru, melambai-lambai ke arah Tabra yang sedang ada di luar.


“Aku akan tidur di dalam kapal, sepertinya rumahku besok akan jadi. Aku tak ingin tidur di rumahmu.” Dia balas berseru kencang.


Akma Jaya kembali berseru, menanyakan kenapa dia tak ingin tidur di rumahnya. Perkataan itu membingungkan sekaligus sedikit aneh.


“Tidak apa-apa, Akma. Aku hanya ingin tidur di dalam kapal. Kau tahu, selama ini aku tidak pernah tidur di dalam kapal.” Tabra menyahut berseru kencang. Dari jarak jauh mereka saling berseru suara. Altha mendengarkan, yang lainnya juga sama, bahkan heran tidak mengerti ada apa sebenarnya.


Bukankah selama berlayar, dia sudah tidur di dalam kapal, hal itu terlalu mudah ditebak. Tabra tidak pandai mencari alasan.


Kendatipun demikian, Akma Jaya memaklumi, mungkin saja selama berlayar itu suasananya berbeda dengan kapal yang bertengger di bibir pantai, tidur di dalamnya mungkin sama saja tidur di rumah.


Begitulah sekilas dugaan dirinya. “Baiklah, kalau kau tidak ingin. Aku tidak akan memaksamu.” Akma Jaya berseru, “Ingatlah, jangan mengingau!” Dia tertawa.


Tabra balas tertawa, beranjak ke arah kapal. Dia pun tidur di dalam kapal itu bersama sebagian kru kapal.


Sementara, Aisha tidur di rumahnya yang juga selesai di bangun. Begitu pun Altha yang tidur di dalam rumahnya.


Dari kesemuaan itu, hanya Tabra dan sebagian kru kapal yang belum mempunyai rumah karena pembuatan rumah mereka belum selesai. Mungkin, besok akan dilanjutkan pembangunannya.


Mereka tidak terlalu mempersalahkan akan hal itu, bahkan mereka telah bahu membahu dalam membangun, tetapi hasilnya hanya mendapat tiga bangunan rumah saja.

__ADS_1


Cukup melelahkan hingga waktu tengah malam, mereka beristirahat tidur di tempat yang mereka pilih sendiri.


__ADS_2