
Di tengah kebingungan sebagian orang akan sosok Ashraq, tidak bisa dimungkiri, Ashraq menyimak dan ajaib, tidak diketahui sama sekali. Gaya keren, dia tunjukkan.
Tersenyum manis. "Sepertinya mereka buta akan rupa, mereka tidak bisa mengenaliku, hanya karena rambut yang kuikat ke belakang dan pakaian berubah warna." Ashraq hanya menyimak, mengeluarkan suara dalam pusaran waktu yang melambat—analisis.
Perlahan, mereka melupakan perbincangan mengenai sesuatu yang tidak ada faedahnya, membahas sesuatu yang tidak ada kaitannya, mubazir. Kata salah seorang dari mereka, bergumam.
Tak lama, damai berbincang. "Cepat, ambil pistol. Aku ingin segera menembak mereka berdua!" ucap salah seorang bersuara lantang, dia memberi perintah kepada yang lainnya.
Orang yang mendengarnya sedikit ragu. "Apa ini pantas untuk dilakukan, melihat dia adalah korban, jika tidak melawan dan menusuk, dia akan terbunuh, bukankah itu adalah bentuk membela diri?" Pertanyaan mungkar dilontarkan.
"Tidak ada yang dinamakan membela diri, membunuh tetaplah membunuh, tanyakan saja kepada orang di sekelilingmu!" Keras kepala, mengatakan hal yang aneh. Di mana dia berpendapat 'tidak ada yang dinamakan membela diri'. Sungguh argumen yang jelas sekali salah. Menyebalkan.
"Kau memungkari apa yang kukatakan, apakah kau berani menerima hukuman dari kami semua!" Bentaknya penuh amarah. Orang itu menunduk dan bersegera pergi untuk mengambil pistol di salah satu kedai—tempat dia berjualan.
Dia bernama Asgaha, seorang penjual minuman, jika orang meminumnya seolah pikiran akan melayang, terbang, memelesat dan pergi, bahkan imajinasi terbentang luas. Seteguk, katanya tak apa, tetapi seratus teguk bisa membuat kehidupan pupus—mati seketika.
Kadang di setiap malam, banyak bajak laut di kedainya hingga ada yang terlewat batas melakukan perampokan pada kedainya karena hal itu dia mempunyai pistol, bahkan senjata tajam, mungkin dia adalah reinkarnasi seorang pendekar pada masanya, tetapi sekarang masa itu telah berlalu, di mana bajak laut berkuasa. Dengan wajah garang, sangar, seorang bajak laut gagah perkasa, otot kekar dan mempunyai kekuatan mistik yang tak bisa dijelaskan secara gamblang, nanti perlahan.
Asgaha mengambil pistol, perlahan tangan itu memegang permukaannya.
"Dalam jarak 145 meter, pistol ini tidak akan bisa menjangkaunya, orang yang menyuruhku mengambil pistol ini betapa idiot sekali orang itu, tidak berpikirkah dirinya betapa pistol adalah senjata api kecil dan kadang tidak akurat penembakkannya!" Dia bergumam mencela orang yang telah menyuruhnya.
"Ah, salah seorang sahabatku, tak jauh dari sini, dia mempunyai senjata tembak yang lebih besar dan panjang, ini pemikiranku yang bagus. Aku akan ke sana!" Asgaha berucap sendiri seraya menatap pistol kemudian bersegera cepat meletakkannya, tetapi itu salah. Itu adalah kesalahan kata, tepatnya dia melempar ke arah dinding.
Asgaha memacu kaki, menuju ke tempat sahabatnya bernama Asdama. Mereka mempunyai nama hampir sama, bahkan dari pakaian pun sama, ikatan mereka terlalu kuat, persahabatan dari kecil hingga sekarang, betapa seorang sahabat adalah pengejuk di kala keadaan memanas, memuncak kekesalan, curhat adalah jalan yang sering dia pilih.
Sebenarnya Asdama mengganti namanya semenjak bertemu dengan Asgaha, nama pertama adalah Aga dama. Asdama di ambil dari As—nama awal dari Asgaha dan dama—nama akhir dari namanya, Itulah sekilas alasan.
__ADS_1
Tiba di tempat. "Asdama!" Asgaha berseru, berlalu hitungan detik, terbentuk garis lurus di area bibirnya—sekilas senyuman yang menghiasi permukaan wajahnya.
Akan tetapi, siapa sangka. Asdama sedang fokus membaca buku, tak hirau seruan Asgaha, mungkin dia tidak mendengarnya.
"Asdama, berikanlah aku senjata tembakmu!" Asgaha berucap to the point—tidak bertele-tele.
Asdama masih sibuk membaca, membuat Asgaha sedikit risih. Dia cepat mengambil buku tersebut. "Heee!" Asdama terperanjat dari dunia bacaan.
"Kembalikan buku itu, kau sedang menghancurkan imajinasiku, cepat kembalikan!" katanya seraya berusaha mengambilnya, Asgaha tak membiarkan itu mudah.
"Asdama, dari dulu hingga sekarang kau suka membaca cerita."
Asdama tersenyum. "Kau perlu tahu, Asgaha. Di kala membaca dijadikan hobi, ada banyak hal yang tidak kau ketahui menjadi kau tahu, buku bagaikan jembatan buatmu untuk menyebrangi sungai, melesat dan menggapai apa yang kau inginkan, di buku ini, aku membaca kisah seorang sederhana, tak banyak bicara. Dia berusaha dan terus berusaha, betapa rasanya membaca adalah keseharian yang tak bisa kutinggalkan!" Asdama menjelaskan panjang lebar.
Asgaha mengangguk. "Jadi, begitu?"
"Dan, ya. Kau tidak perlu bosan, jika begitu. Carilah tempat yang sejuk, di mana pohon rindang, hawa sejuk dan nyaman. Siapkan segelas kopi hangat beserta cemilan snack, kadang bagiku cara itu adalah yang terbaik." Panjang lebar dia menjelaskan, mengikuti ucapan dengan pergerakan tangan.
Usai menjelaskan, "Teman, kembalikan buku itu!" Asdama meminta, Asgaha menyerahkannya.
"Kau lihat sampul buku ini, membosankan, terkesan kurang diminati, tetapi isi di dalamnya yang penting, pernah seseorang berkata 'jangan pernah menilai buku dari sampulnya' apa kau tahu itu?" Asdama mendramatisir sedikit saja senyuman yang terpampang.
"Astaga, kau membuang waktuku!" Asgaha sedikit melantangkan suara, sedangkan Asdama tertawa mendengarnya.
"Sebenarnya apa alasanmu datang ke sini? Berceritalah, aku menyukai cerita."
"Hei, bukankah sudah kukatakan. Kau tak menyimaknya. Astagaaa!" Asgaha memelotot penuh ketus.
__ADS_1
"Bukan begitu, tadi aku sedang fokus membaca, kau berbicara di kala pikiranku melalang buana, kau tidak mengerti semua itu selama kau tidak membaca buku." Asdama menambahkan penjelasan sebelumnya.
"Berikan aku senjata tembakmu, di tempat menara sudah terjadi peristiwa pembunuhan, di tempatku memang ada senjata tembak, tapi senjata itu kecil dan tak akan mungkin bisa mencapai ke puncak menara!"
"Puncak menara?" Asdama tercengang, ekspresi bercampur bingung.
"Benar, di puncak menara, pembunuh itu bertengger, dia belum turun, sedangkan temannya masih sibuk bergelayut hingga kami di bawah menara melakukan perbincangan dan sepakat untuk menghukumnya, sebuah cara terbesit dalam benak salah seorang." Asgaha menuturkan penjelasan, Asdama menyimak santai.
Matanya tertuju fokus ke arah buku yang baru saja dikembalikan oleh Asgaha, sepertinya dia seorang kutu buku, tetapi dalam hal ini, kutu buku juga manusia.
"Salah seorang telah memberi saran untuk membuatnya turun, kami perlu menembaknya, dia akan terjatuh dari ketinggian menara laksana burung yang jatuh tertembak, saat itu kami semua akan menikam bertubi-tubi pada sekujur tubuhnya." Ucapan menyeramkan, dia berucap seolah apa dan Asdama mengernyit karena mendengarnya.
"Sebenarnya ada apa, teman. Apa kesalahan yang dia lakukan?" tanya Asdama menyorotkan mata berbentuk penasaran.
"Dia telah membunuh Kapten Riyuta." Asgaha mengucapkannya sedikit dibumbui nada seram, drama dalam sebuah lagu bercampur ucapan. Dahsyat sekali, bahkan itu begitu luar biasa, tidak bisa diterima.
Asdama menggeleng tidak percaya, Kapten Riyuta seorang petarung, pemimpin kelompok bajak laut Jimaya, bagaimana mungkin bisa dikalahkan begitu saja, keheranan akan peristiwa, tetapi itu nyata, tak bisa disanggah.
"Bicara diawal, kau ingin meminjam senjata dariku, tapi bukankah kau sudah mempunyainya?" Asdama berucap to the point, sorotan matanya masih tetap ke arah buku.
"Pistolku tidak bisa mencapai jarak ketinggian menara, tingginya 145 meter. Aku merasa pistolku kecil, bahkan untuk mencapai jarak setinggi itu tidak mungkin." Asgaha menjawab apa yang dia ketahui.
Asdama tersenyum. "Teman, jangan pernah memandang pistol remeh dan menganggapnya senjata kecil, nyatanya salah satu merek diluncurkan beberapa waktu lalu, jarak tempuh mencapai 400 meter, apa kau tidak pernah membaca?" Asdama mengejek seraya tertawa.
"Ituuu berbeda, kau sedikit keterlaluan karena menyebutku tidak membaca!" Asgaha membantah ucapan yang dilontarkan Asdama.
"Apa kau pernah mencobanya?" Asdama memberi pertanyaan singkat yang membuat Asgaha terdiam, seperti tidak bisa menjawabnya.
__ADS_1