
Tiada kebencian yang datang. Hai-hai kebaikan.
Sapaan yang ramah. Teduh wajah itu menunjukkan rasa suka rela terhadap api unggun di malam hari.
Gelap juga sama, terang juga sama. Dalam arti yang sebenarnya saling melengkapi di antara keduanya.
Menerangi sementara hidup di alam dunia. Padam sendiri atau dipadamkan. Kebencian akan mereda.
Musuh akan berbelok arah.
Hai-hai kebaikan. Sudahkah menemukan jalan?
__ADS_1
Salam, titipkan salam.
Di hari yang lama termenung dalam angan yang berbisik mengucapkan kata perpisahan pada tungku api yang kini basah. Api itu tak akan menyala.
Hai-hai kebaikan. Sudahkah menemukan jalan?
Bimbang? Nanti, ada saatnya.
Jalan hidup ini kalau dipikir masih panjang, tetapi memang tidak terasa karena banyak hal yang menghibur dan melalaikan dari sekadar canda tawa hingga permusuhan yang dilibatkan dalam perasaan.
Terlebih dari sebuah kata bisa terjadi kesalahan.
__ADS_1
Saat diri itu menulis. Inilah sebuah catatan.
Menginginkan kalimat manis diutarakan.
Duhai masa lalu yang kadang datang tak diundang, pulang tak diantar. Duhai masa lalu yang tertinggal bekasnya dalam kenangan.
Padanya waktu berganti dan padanya hari berlalu. Lirih juga dalam pengucapan yang tiada ingin dilantangkan.
Selamat tinggal.
Ingin rasanya menulis kalimat pemanis, apalah yang hendak ditulis, kala diri itu merasa bimbang.
__ADS_1
Begitulah sekalimat ini. Semoga bisa dimaafkan.