
"Kamu harus percaya itu, Akma Jaya ... janji, ya jangan pernah kamu lupakan aku dan adikku," kata Tabra melanjutkan bicaranya.
Akma Jaya tersenyum. "Janjiku, Janji seorang Bajak Laut, karena Bajak Laut tak pernah mengingkari janjinya," kata Akma Jaya untuk menyakinkan janjinya terhadap Tabra.
"Ibu .... Ibu percaya 'kan sama Akma?" tanya Akma Jaya menatap Haima dengan tatapan yang berkaca-kaca.
"Ibu percaya sama kamu, kamu pasti bisa!"
"Akma akan berusaha, Bu! Demi membuktikan kepada ayah, bahwa suatu saat nanti, Akma akan bisa menjadi seorang Bajak Laut," kata Akma Jaya dengan keyakinan nya yang membara.
Haima tersenyum. "Akma ... dengarkan Ibu, ayahmu melakukan ini, semua itu demi kebaikanmu, bukan dia tidak menyayangimu, melainkan dia menyayangi dengan caranya sendiri," jawab Haima seraya mengusap kepala Akma Jaya.
Akma Jaya mengangguk dan mengiakan saja, padahal di lubuk hatinya masih mengganjal rasa yang membuatnya bertanya-tanya.
"Kamu seorang pemimpin, Akma. Kenapa malah takut?"
"Siapa bilang? Aku bukan pemimpin."
"Setiap kali aku katakan begitu, kenapa kamu sering menyangkalnya, Akma?"
"Bukan menyangkal, Tabra! Akan tetapi kamu benar-benar seolah tidak mengerti keadaanku."
"Akma, jika suatu saat kamu menjadi seorang kapten, kuharap jangan pernah lupakan kami berdua," kata Tabra dengan perasaannya yang tulus, Akma Jaya hanya diam, tidak menjawabnya ....
"Hei, kamu dengar tidak? Apa yang kukatakan tadi?" Lanjut Tabra karena merasa Akma Jaya tidak menghiraukannya.
"Hah ... Akma, Kamu begitu mengalah!"
"Sudahlah, Tabra. Obati lukamu dulu!"
"Akmaaa ... ada apa? Kenapa seluruh badanmu jadi memar begini?" tanya Haima memeluk anaknya yang malang.
"Tidaklah mengapa, ibu. Ini hanyalah luka kecil, jangan terlalu mengkhawatirkannya," ucap Akma Jaya tersenyum menatap ke arah Haima.
"Ibu, jangan menangis. Akma baik-baik saja," ucap Akma Jaya menenangkan Haima.
"Baiklah, kita saling minta maaf dan saling memaafkan satu sama lain," kata Akma Jaya mengulurkan tangannya.
Tabra mulai melebarkan senyumannya. "Apakah kamu takut dengan bahaya, Akma?" tanya Tabra sambil tertawa menatap Akma Jaya. "Ayolah, Akma! Suatu saat kamu akan menjadi seorang Kapten, kamu harus belajar menjadi dewasa." Lanjut Tabra dengan tawanya.
"Hei, Tabra. Tunggu aku ...."
"Cepatlah, jalanmu lambat sekali, Akma. Apa itu cara jalan seorang kapten?" tanya Tabra seolah bercanda dengan Akma Jaya.
"Kamu yang meninggalkan aku duluan, mana mungkin jalanku lambat."
"Hehehe ... benar juga. Sudahlah jangan dibahas lagi," kata Tabra sambil tertawa.
"Akma, apakah dia mempunyai nama?" tanya Tabra sambil menatap burung itu.
"Apakah itu perlu? Aku belum memberikan nama untuknya."
__ADS_1
"Baiklah, kalau begitu mulai sekarang kamu harus memberikannya nama."
"Tapi aku bingung untuk mengasih burung ini dengan nama apa?"
"Aku punya ide, Akma. Kasih saja nama gabungan dari nama kita berdua,"
"Baiklah, menurutmu jika nama kita digabungkan akan jadi seperti apa?"
Tabra sedikit berpikir sejenak kemudian dia pun mengucapkannya, "Bagaimana kalau kita beri nama burung ini dengan Takma?"
Mendengar itu, Akma Jaya melebarkan senyumannya seraya berujar, "Bagus juga, aku suka nama itu!"
Tabra mendahului Akma Jaya dalam berlari, dia sampai lebih dulu dari Akma Jaya. "Akma ... akan aku habiskan makanannya kalau kamu lambat!" teriak Tabra dengan nyaringnya.
"Hei, Tabraaa ... jangan mulai tanpa aku!" kata Akma Jaya sambil mempercepat larinya yang sudah tergopoh itu, akhirnya dia pun sampai, ternyata Tabra hanya bercanda bahkan dia belum memakannya.
Akma Jaya melihat Tabra dengan wajah datarnya. "Kamu membohongiku, Tabra."
Tabra tertawa mendengarnya. "Aku hanya bercanda, Akma. Mana mungkin aku menghabiskan ini, perutku tidak akan muat," kata Tabra sambil memutar-mutar perut dengan telapak tangannya.
"Baiklah, aku juga bercanda. Mana mungkin aku termakan candaanmu itu." balas Akma Jaya.
Tabra membelalakkan matanya dan mendekatkan wajahnya ke wajah Akma Jaya seraya berkata, "Apa benar begitu, Akma?"
Akma Jaya menghela napas. "Ya, begitulah ...."
"Aku tidak percaya denganmu, buktinya kamu berlari sampai tergopoh begitu." jawab Tabra menjauhkan wajahnya dari wajah Akma Jaya.
"Itu artinya kamu yang termakan candaanku," ketus Akma Jaya.
"Sepertinya cuaca hari ini cukup nyaman untuk bersantai!"
"Benar sekali, Akma. Bahkan aku akan tertidur kalau tidak kubawa kaki ini berlari!"
"Bicara tentang lari, mengapa kita berhenti?"
"Bukankah ini semua karena masalah awan yang kamu bilang adalah bulan sabit, sedangkan menurutku itu adalah ombak, karena itulah kita berhenti berlari!"
"Apakah memang benar begitu? Aku baru mengingatnya!"
"Apakah kamu lupa secepat itu, Akma. Ini pasti akibat dari racun yang mengenaimu waktu itu!"
"Tidak tahu, tetapi racun itu hanya melumpuhkan kekuatanku, tidak tahu dengan ingatan dan isi kepalaku, tetapi aku tidak memiliki kemampuan memainkan pedang, rasanya tangan ini tak bisa untuk mengangkatnya!"
"Sepertinya kalau masuk akademi, kamu akan kalah dariku!"
"Kamu mengalah saja, demi kemenanganku!"
"Tidak, aku tidak ingin mengalah darimu!"
"Baiklah, aku akan berlatih dari tahap satu hingga melebihimu, lihat saja nanti!"
__ADS_1
"Aku sudah berada ditingkat sepuluh, Akma. Kamu perlu sembilan tingkat untuk menyamaiku dan sebelum itu aku pasti sudah berada jauh diatasmu!"
"Baiklah, aku akan berusaha untuk menyusulmu, Tabra!"
"Coba saja, aku akan menunggumu, tetapi jangan lambat, aku akan meninggalkanmu dengan jarak yang begitu jauh dan kalau aku sudah berada jauh darimu, kamu tak akan bisa menyusulku!"
"Benarkah? Aku akan menunggu masa itu!"
"Kenapa kamu menunggu masa dimana tingkatan pedangku meningkat?"
"Bukankah kemampuan seseorang ada batasnya, aku ingin tahu seberapa tinggi tingkatan pedangmu nanti!"
"Tunggu dan Lihatlah, Akma. Kamu pasti akan berdecak kagum kepadaku!"
"Hahaha ... Tabra, aku percaya kepadamu, berlatihlah dengan sungguh-sungguh, aku pun juga akan berlatih dengan sungguh-sungguh dan aku pun percaya suatu hari, kita akan bisa mengalahkan para Bajak Laut itu!"
"Benar sekali apa yang kamu bilang, Akma. Akan tetapi bermodal percaya saja tidak akan cukup, kita perlu berusaha untuk menggapainya!" Tabra mengangkat kedua bahunya.
"Bukankah aku sudah mengatakannya, sepertinya kamu tidak menyimak perkataanku dengan jelas!"
"Memang benar, sepertinya aku kurang menyimak perkataanmu!" Tabra tertawa dengan ekspresi canggung sambil menggaruk-garuk kepalanya.
Akma Jaya menutup mulutnya seolah sedang menahan tawa. "Sudah pasti, itulah dirimu, Tabra!"
"Hahaha ... sudahlah, kamu keseringan begitu, Akma!"
"Kenapa? Apa itu salah buatmu?"
"Tidaklah salah, tetapi kamu membuatku tertawa dengan ucapanmu itu."
"Janganlah menyalahkan dirimu begitu, justru akulah yang bersalah, andai aku tidak begini, aku akan bisa melindungi ibuku, tetapi saat kejadian itu terjadi aku malah tidak bisa bergerak dan tidak bisa berbuat apa-apa."
"Kaiza, apa mereka sudah habis kau bunuh?"
"Tidak, anak Kapten Lasha yang bernama Akma Jaya berhasil melarikan diri!" jawab Kapten Kaiza.
"Bukankah dia sedang sakit?"
"Kemungkinan ada orang yang membawanya."
"Apakah mungkin Akma Jaya akan menjadi ancaman buat kita?"
"Kau terlalu khawatir ...."
"Bagaimana selanjutnya? Apakah kita akan mencari Akma Jaya sampai ke ujung benua?"
"Tidak perlu, kemungkinan dia akan mati karena racun yang dideritanya."
"Bukankah ada seorang tabib yang menyembuhkannya?"
"Iya, kedengaran itu akan sulit, tetapi dia hanya seekor nyamuk, tidak usah kau khawatirkan!"
__ADS_1
"Harapan Kapten Lasha tertuang kepadanya, aku sangat penasaran apakah yang dia harapkan akan sepenuhnya berhasil."
"Hahaha ... Bajak Laut tua itu sering mengada-ada, harapannya hanyalah omong kosong belaka."