Bajak Laut Hitam

Bajak Laut Hitam
CH. 94 – Bab Masa Lalu : Kepingan Rindu


__ADS_3

Selepas kepergian Akma Jaya, Kapten Broboros masih saja merangkul sahabatnya, dia tampak tak kuasa melepas kepergiannya. kerumunan pun menatap berurai air mata. Di tempat pemakaman, senyap tanpa suara, damai dalam keheningan.


Di kala itu, seseorang kakek tua berambut putih, jenggotnya pun putih. Dia mengacungkan tangan.


"Kapten Broboros!" Dia berseru, suara serak terdengar, kadang batuk. Wajar saja, dia berusia tua renta.


Kapten Broboros mendengarnya. "Apa yang kau inginkan?" Pertanyaan aneh diucapkannya begitu saja. Entah apa maksud dari Kapten Broboros ini, apa mungkin karena kesedihan menjadikannya linglung atau—ah, sudahlah. Lelah menjelaskannya.


Kakek tua tersenyum seraya mengelus jenggotnya. "Sebenarnya ada sebuah legenda tentang sumber mata air kehidupan, jika seseorang yang telah mati meneguk air tersebut, walaupun sedikit, niscaya dia akan hidup kembali!" Kakek tua menjelaskan detail maksud dari seruannya tentang sebuah sumber mata air kehidupan.


"Di mana tempat sumber mata air itu berada?" Kapten Broboros kembali bertanya, raut wajahnya berubah penasaran.


Kakek tua menggelengkan kepala. "Aku tidak tahu. Tapi, sebuah legenda menyebutkan sumber mata air kehidupan itu ada di Wilayah Valissa, di sana ada sebuah waduk dan konon katanya bersemayam roh ghaib."


"Bahkan, banyak rumor yang beredar, konon katanya lagi, ketika memasuki tempat itu, tidak ada seorang pun yang selamat, roh ghaib yang tadi kusebutkan, ia memakan tumpal, tapi itu hanyalah sebuah rumor!" Kakek tua menjelaskan lagi.


Beberapa dari kerumunan, bulu kuduk mereka berdiri, ada yang menggigit jari, menggelengkan kepala, menutup mulut dan sebagainya, bentuk ketakutannya bermacam-macam.


Kapten Broboros tersenyum. "Menarik!"


"Aku mempunyai akal untuk memerintahkan orang yang telah membunuh Riyuta, mereka akan mendapatkan sumber mata air kehidupan itu, jika mereka mati, aku tidak mendapatkan kerugian apa pun."


"Hahaha... bagus, bagus." Kapten Broboros bergumam panjang lebar. Lantas setelah itu, dia memerintahkan kepada yang lainnya untuk mengambil kertas, lalu dia menulis surat panjang lebar.


Setelah selesai menulis, dia menyuruh kepada yang lain untuk mengirim surat itu menggunakan burung penghantar pesan. Yang lain mengangguk, mereka cepat melaksanakan perintah tanpa sikap bertele-tele.


Burung penghantar pesan itu terbang melintasi cakrawala. Desir angin menyertai gerakan sayapnya, burung yang cukup terlatih melacak dan mengetahui posisi sang penerima pesan.


***


Perlahan matahari hendak benar-benar terbenam, Aisha bergelut di dapur, di situ dia memasak makanan. Sementara, Tabra berada di atas layar, sebuah tempat berbentuk bundar, di sana senyuman merekah seraya melihat panorama indahnya lautan serta sorotan matahari yang perlahan meredup. Sungguh, mendamaikan pikiran.


"Aku telah banyak menjalani peristiwa dalam kehidupan, sesuatu yang telah kulalui bersama kapten, Aisha dan beberapa anak buah, mereka anak buah yang setia. Hari ini, aku sangat bersyukur. Haaah, ini adalah hawa-hawa damai, aku suka kedamaian ...."


Tabra menghela napas. Berbagai masalah yang telah terlewati, mungkin terbenam seperti matahari, hari akan berganti.


Namun, tak berlangsung lama, barisan kapal terlihat dari kejauhan, layar lebar permukaannya terlihat memutih, masing-masing dari lambang bendera kapal menunjukkan, bahwa mereka adalah sekelompok bajak laut.


"Semuanya cepat berlindung, bersembunyi, tutupi wajah kalian, di depannya sana barisan kapal berlayar, kapal kita akan segera berpapasan!" Tabra berseru spontan kepada anak buah. Sementara, Akma Jaya di dalam kabin, mungkin dia sedang tidur, tidak ada tanda-tanda, bahwa dia menunjukkan suara, tidak pula menyahut mengenai seruan Tabra.


Para anak buah mematuhi seruan Tabra, sedangkan Aisha masih memasak santai di dapur, lagi pula di sana terlindung, tak tampak oleh siapa pun. Sekarang, kapal Akma Jaya membelah barisan tersebut, mereka bersembunyi rapi, dari jarak jauh atau dekat, keduanya sama. Dilihat tak ada orangnya.


Salah seorang anak buah berkomat-kamit, dia merasa tidak tenang, Tabra menepuk bahunya. "Tenanglah, kita akan baik-baik saja," ucap Tabra menenangkannya.


Ketika melintasi barisan kapal, ada banyak jumlahnya, betapa perasaan berkecamuk kacau, tetapi kapal bajak laut yang melintas tampak tak menghiraukannya, kemungkinan kepentingan mereka lebih utama daripada mengurus satu kapal.


Uuuhhh, Tabra mengembuskan napas lega, kapal mereka berhasil melewati barisan tanpa diketahui.


Selepas itu pelayaran mereka terus berlanjut hingga waktu malam yang mana matahari berganti bulan. Bintang-bintang memenuhi cakrawala penuh keindahan.

__ADS_1


Akma Jaya masih di dalam kabin, dia beristirahat. Tak lama kemudian, Aisha mengetuk pintu.


"Kapten!" Aisha berseru seraya mengetuk berulang kali.


Akma Jaya mendengarnya. Lantas, membuka pintu, "Ada apa?"


Aisha tersenyum. "Waktunya untuk makan malam, kapten," ucapnya mengingatkan Akma Jaya.


"Baiklah." Akma Jaya berjalan mendahului Aisha.


Tiba di tempat makan, Tabra telah memulainya terlebih dahulu. Lahap sekali, dia makan hampir dua porsi dan yang lain masih menunggu kedatangan Akma Jaya.


"Tabraaa, kenapa kau memulai makan tanpa kehadiran kapten!" Aisha berseru tidak suka.


"Eeh, ini tentang masalah perut, tentu tak bisa kutahan!" Tabra mengucapkan alasan.


"Dasaaar!" Aisha menjewer telinga Tabra, mungkin sakit, dia pasrah menerima jeweran Aisha.


"Kalian berdua, berhenti." Akma Jaya menegahnya seraya berduduk.


"Ba—baik, Kaptan," jawab mereka bersamaan. Mereka semua bersitatap satu sama lain, lalu Tabra mengernyit.


"Sampai kapan kita bersitatap. Ayolah, perutku tak bisa menunggu lebih lama—" Tabra menggerutu.


"Tabraaa!" Aisha kembali berseru.


Akibat dari itu, Tabra bercucuran keringat dingin, dia mengalihkan perhatian Aisha dengan cara meneguk segelas air. Suara tegukkannya terdengar, beberapa anak buah tampak menahan tawa.


Salah seorang mengacungkan tangan. "Saya bisa bersyair, walaupun sedikit dan kadang tidak nyambung, saya bukan ahli dalam bersyair." Orang itu tersenyum.


"Jika begitu, cobalah kau lantunkan, setelah itu baru kita makan."


Orang itu menganguk. "Baiklah, Kapten."


Tabra mengernyit. Astaga, tapi ya, sudahlah. kemungkinan kapten sedang membutuhkan hiburan. Suara bergema di ruangan hati, Tabra menggelengkan kepala, dia tidak kuasa menahan perutnya, tetapi di sisi lain dia berusaha tuk memahami apa yang dibutuhkan oleh sang kapten.


"Andaikan dunia hampa, tanpa raga, tanpa jiwa, tanpa harta, tanpa segala macam tipu daya." Lantunan syair-syair dibawakannya sedikit mengherankan.


Tabra bergumam, "Sebenarnya apa maksud dari syair ini, apakah mempunyai makna yang mendalam?" Tabra merenungkannya.


"Di kegelapan malam, sunyi senyap tanpa bintang, tanpa bulan, semuanya hilang, terbenam." Lanjutan syair berkumandang.


"Lapangkan hati, syukuri, nikmati, dunia bukan sebatas mimpi, melainkan kenyataan yang harus dijalani."


Di lain keadaan. Tabra semakin mengernyit. "Nada syair apa ini? Kenapa awal dan lanjutan seperti berbeda. Ada yang aneh!" Tabra berseru memberi tahu.


Sementara, orang itu asyik bersyair, Tabra ayal mengucapkannya, seketika Aisha mencubit sedikit geram. Tabra menunduk pasrah.


Akma Jaya menyimak betul, hanya saja benar. Syair itu dilantunkan seperti bualan saja dan di awal pun dia hanya bisa bersyair sekadar kemampuan yang bisa dibilang belum profesional.

__ADS_1


Orang itu sejenak terdiam setelah mendengarkan ucapan Tabra. Ada sedikit rasa tak nyaman melanjutkannya, di sisi lain ada benarnya. Walaupun suaranya bagus, bisa dibilang nyaman tuk didengar.


Orang itu menerima lapang dada, betul dia mengakui kesalahannya. Akan tetapi, Akma Jaya tampak tersenyum.


"Lanjutkan," ucap Akma Jaya menyuruhnya melanjutkan, santai tanpa mencela.


Orang itu mengangguk dan melanjutkan syairnya:


"Ini tentang kepingan rindu yang ingin kuberi tahu, tentang ikatan yang bersambut tangan, bertatap wajah tanpa lapisan, bertemu dalam ikatan persahabatan, berbagi senyuman."


R iuh kapal melintasi samudera


A da beberapa raut wajah terpesona


M eraih jiwa menatap tak berkedip mata


A langkah senang kurasa


D esir angin yang membelai sukma


A lunan syair ikut bergema


N uansa kedamaian begitu terasa


P andangan mata tampak bahagia


E ntah kapan kurasa derita


N ada syairku telah meleburkannya


U ntaiannya kusebut penuh cerah ceria


H afalan yang rutin kulantunkan sederhana


B intang di ujung jari


E mbusan napas terurai


R anting pohon melambai


K ayu dan api


A ku dan kita menyingkirkan duri


H idangan malam tersusun rapi


"Dengan gembira, tanpa berduka, tanpa memikirkan dukacita, kita memakan segenggam nasi tuk jadi tenaga, bergerak tangan memakannya ...."


Syair telah usai dilantunkan. Lantas, mereka berdoa dan memulai makan malam. "Aaah, syukurlah. Syair itu telah dilantunkan!" Tabra bergumam seraya mengembuskan napas lega.

__ADS_1


Ombak kala itu menerpa kapal, deru angin menyertai dinginnya malam. Cakrawala memenuhi keindahan, warna kehitaman bertabur kerlap-kerlip yang tampak berbentuk kerikil. Saat selesai makan, rasa kenyang dan syukur bersahutan. Tenang dan damai.


__ADS_2