Bajak Laut Hitam

Bajak Laut Hitam
CH. 66 – Bab Masa Lalu : Duel Sengit


__ADS_3

Kapten Atlana berhenti mengucapkan kata, sedangkan Akma Jaya masih menunggu ucapan yang dilontarkan oleh Kapten Atlana.


"Apakah kau sudah puas?" Kapten Atlana bertanya setelah beberapa saat berdiam, mata menyipit kemudian dia menggerakkan bibir, membentuk senyuman yang diikuti tatapan sinis.


Kapten Atlana melangkah maju perlahan, pedang terhunus tajam mengarah ke hadapan Akma Jaya.


Sementara itu, Akma Jaya menunggu dengan posisi tegak, bersiap sedia menunggu serangan.


Akma Jaya tidak melangkah maju untuk melawan, membiarkan Kapten Atlana maju untuk menyerang.


"Atlana, apa yang kau kira tentang diriku, apa pun itu, aku bukan orang seperti itu!"


Akma Jaya berucap lebih tegas, Kapten Atlana menggelengkan kepala kemudian menertawakan ucapan Akma Jaya.


"Ha ha. Kau mengatakan omong kosong!"


"Duel ini akan membuktikan segalanya, maka dari itu tutuplah mulutmu!"


Kapten Atlana berbicara sambil menunjuk dengan jari telunjuk, setelah itu dia tertawa nyaring, sangat nyaring, mereka bertatap muka sedikit saja senyuman, setinggi mana batas kemampuan Kapten Atlana, belum ada catatan yang menunjukkan batas tersebut.


Akan tetapi, dia berhasil memegang gelar ke enam di Pilar Tujuh Lantai. Sosok yang disegani oleh pemimpin dari Kelompok Bajak Laut Alysha.


"Apa yang kau maksud omong kosong, aku tidak mengatakan omong kosong!"


"Aku mengatakan sesuatu atas kepribadianku sendiri, aku menolak tuduhan yang kau berikan kepadaku, kau berkata seolah mengetahui segalanya!"


"Atlana, sebenarnya kaulah yang mengatakan omong kosong tentang kelompok kami!"


Akma Jaya menjawab panjang lebar, perkataan demi perkataan, kata itu diucapkan penuh wibawa seorang pemimpin, nada yang menggetar, ujaran keras untuk membalas semua kata yang dilontarkan Kapten Atlana.


Namun, siapa sangka. Kapten Atlana terkekeh dahsyat, nada yang merendahkan kemampuan Akma Jaya terdengar semakin memuncak, setelah itu dia bergerak cepat ingin melancarkan serangan.


"Akma Jaya, kau pasti akan mati!" ujar Kapten Atlana sambil memelesat, pedang tajam penuh hawa membunuh.


Akma Jaya berwajah santai dengan posisi siap untuk membalas serangan.


Kapten Atlana menebaskan pedang, sedangkan Akma Jaya juga menebaskan pedang, mereka berdua memelesatkan serangan, saling bertatapan, pedang mereka membentuk huruf silang, saling menebas dengan kecepatan tebasan maksimal.


Mereka berdua terus menebaskan pedang, Kapten Atlana begitu bersemangat, ekspresi wajah yang mengernyit ingin segara membunuh Akma Jaya.


Akan tetapi, Akma Jaya tak membiarkannya menjadi mudah, dia menahan tebasan, melancarkan serangan, kedua pedang yang bertabrakan menyebabkan suara pedang berdencang-dencang.


Lagi-lagi, Kaptan Atlana menebaskan pedang dengan cepat, tertuju ke arah kepala. Bersegera Akma Jaya menunduk cepat, untung saja tebasan tersebut tidak mengenainya.

__ADS_1


Akma Jaya menebaskan pedang dari arah bawah, membuat Kapten Atlana meloncat.


"Kau cukup mengesankan!" Kapten Atlana berucap sambil melangkah mundur.


Kapten Atlana berdiam sejenak, dia menarik napas, mengambil oksigen pernapasan.


"Akma Jaya, kuakui kau memang hebat, tetapi aku lebih hebat darimu!" Kapten Atlana berujar setelah beberapa saat berdiam.


Tak lama dari itu, dia kembali memelesat dengan cepat menuju ke arah Akma Jaya.


Sementara itu, Akma Jaya bergeming, tidak menunjukkan pergerakan sama sekali, dia cukup santai menghadapi Kapten Atlana.


Terkadang kesombongan menghampiri, menganggap dirinya tinggi dan mempunyai kemampuan yang tak bisa ditandingi, Akma Jaya berdiam karena dia menyakini bahwa kesombongan Kapten Atlana akan mengakibatkan kematian yang mudah baginya.


"Akma Jaya, sepertinya kau sadar akan mati ditanganku." Kapten Atlana semakin berkata seolah mengetahui segalanya.


Akma Jaya hanya membalikkan ucapan dari apa yang dilontarkan Kapten Atlana. Lantas, kemarahan memuncak karena mendengar apa yang dikatakan oleh Akma Jaya.


Kapten Atlana melancarkan serangan, habis-habisan tenaga, mereka berdua bertanding pedang bermenit-menit dengan kecepatan yang melebihi kebiasaan, suara embusan napas lelah terdengar jelas ditelinga.


Akma Jaya juga sama, rasa lelah, tangan yang memegang pedang, keringat dingin membanjiri area pelipis.


Desiran angin yang bertiup, keringat itu tetap jatuh walaupun hawa dingin menyertai, keadaan penuh mencekam, Kapten Atlana berubah membalik arah pandangan. Menoleh cepat ke arah kiri kemudian menoleh cepat ke arah kanan. Gerakan memutar dilakukan Kapten Atlana.


"Bagaimana rasanya, Akma Jaya?" Kapten Atlana berujar keras, dia menunjukkan ekspresi wajah, tatapan ingin membunuh.


Akma Jaya tidak menjawab, dia hanya berdiam dan tak memperdulikan apa yang dilontarkan oleh Kapten Atlana, betapa goresan pedang itu telah menembus pakaian yang dia kenakan, Akma Jaya terselamatkan dari tebasan tajam karena tebalnya pakaian tersebut.


Akma Jaya memegang dada, terlihat darah mengalir keluar, Kapten Atlana melihat semuanya.


"Itu baru permulaan!" Kapten Atlana berucap, bernada sedang dengan suara khas darinya, terdengar sedikit menyeramkan.


Aisha dan Tabra, hanya bisa menyaksikan, mereka berdua tidak dapat ikut campur karena ini adalah duel yang sudah disepakati, terbunuh dalam duel, tidak ada yang bisa mencegahnya. Begitu pun cakrawala, ia di atas permukaan terbentang menyaksikan, menatap hangat duel antara Akma Jaya dan Kapten Atlana.


"Akma Jaya, hari ini adalah hari kematianmu!" Kapten Atlana menyipitkan mata, berujar keras seraya menunjuk dengan jari telunjuk.


Akma Jaya tersenyum.


"Takdir." Akma Jaya berucap ringkas.


Kapten Atlana berubah ekspresi, dia melongo tidak bisa memahami apa yang dimaksudkan oleh Akma Jaya.


Setelah itu, Kapten Atlana mengucapkan ujaran kemarahan, dia berdecak kesal karena mendengarnya. Kekesalan melanda karena tidak bisa memahami perkataan tersebut.

__ADS_1


Betapa saat itu, deburan ombak menggema, sekitaran mereka dikelilingi hawa yang sama, dingin penuh mencekam, Tabra menelan ludah, Aisha mulai gemetar. Aisha begitu mengkhawatirkan kondisi Akma Jaya.


Aisha memahami apa yang dimaksudkan Akma Jaya, jika itu terucap dari mulutnya, kematian yang ada di depan matanya akan ditrobos, entah dia akan benar-benar mati atau takdir berkata lain. Aisha tidak mengetahui detail semuanya, hanya berupa tebak-menebak.


Kapten Atlana masih sama, tetap menghina terus-menerus.


"Akma Jaya, kau beserta anak buahmu adalah sampah, bahkan sebagian dari mereka lari ketakutan!"


"Duel ini sudah membuktikan, aku adalah yang terkuat, kau hanyalah bidak sampah, pantas untuk kutebas kemudian aku akan membakarnya!"


Kapten Atlana menatap tajam, Akma Jaya mendengarkan, dia memegang luka goresan di dadanya.


Perlahan kaki Kapten Atlana bergerak maju, masih dengan tatapan yang sama.


"Akma Jaya, matilah dan damailah untuk selamanya!"


Kapten Atlana berlari menuju ke arah Akma Jaya yang sedang memegang luka, Kapten Atlana berlari dengan pedang terhunus. Dia berseru menunjukkan keinginannya untuk menebas—membunuh Akma Jaya.


Keinginan membara


Gejolak ombak bersuara


Kapten Atlana melancarkan serangan, tebasan pedang yang dia lancarkan, semua itu dia lakukan secara bertubi-tubi.


Akma Jaya membela diri, menguatkan pijakan, mereka saling melawan, saling menebas, luka yang tergores di dada Akma Jaya, sepertinya cukup menyusahkan bagi dia untuk bergerak, kemungkinan rasa sakit itu jelas terasa.


***


Kapten Atlana cukup menyakinkan, kemampuan yang tidak bisa dianggap remeh, tetapi kendati demikian Akma Jaya hanya bisa menelan ludah, setiap serangan itu dilakukan, Kapten Atlana terus saja mengoceh, menyebutkan kata diluar keinginan.


"Akma Jaya!"


"Aku akan membunuhmu!" Kapten Atlana menebaskan pedang ke sebelah kanan, sedangkan Akma Jaya berusaha menghindarinya.


Akma Jaya bergerak cepat, dia menghindar ke sebelah kiri, perputaran waktu terasa melambat, kala itu dedaunan di tiup angin, riuh suara di sekitaran mereka, pertanyaan bergema disetiap pasang mata, siapa yang akan benar-benar mati ataukah ini adalah duel yang seimbang, Aisha menatap cemas, diam membisu, tak mengucapkan sepatah kata pun.


Sementara itu, Tabra meremas tangan, dia sangat ingin menebas kepala Kapten Atlana, hanya saja dia tidak bisa ikut campur dalam duel tersebut. Akma Jaya sungguh terdesak.


Dalam pertarungan duel sengit mereka, Akma Jaya menerjang penuh, menghabiskan tenaga yang dia miliki, penerjangan tanpa henti.


Dikala itu, Kapten Atlana melakukan hal yang sama, pertarungan sekilas mata, pergerakan kian cepat mencepat, suara dari kibaran jubah menghiasi suasana.


Entah siapa yang akan menang, tetapi dari pergerakan mereka berdua, dari cara bertarung, dari tebasan hingga tangkisan, keduanya berbanding sama—seimbang.

__ADS_1


__ADS_2